
Sehabis melempar pisau belati berturut - turut, orang itu bergegas beranjak dari tempat menyelinapnya meninggalkan rindangnya pohon juwet, dan mendekati tanah lapang. Jalannya sangat tenang seolah tiada sesuatu yang terjadi dan merasa tak bersalah terhadap empat nyawa yang terkapar di tanah lapang. Seringai mulutnya bagai anjing liar terangkum jelas seakan puas menikmati sisa - sisa bangkai mangsa yang habis digerogoti tinggal tulang belulang, tak perduli dengan keadaan disekitar, padahal di situ berdiri sang raja rimba.
Dialah Soca Welirang, lelaki beringas dan keji, pembunuh berdarah dingin tak memandang mangsanya lelaki atau perempuan, dewasa atau kecil, kawula alit atau orang ningrat, golongan hitam atau putih, semuanya dia babat sesuai orang yang memerintahkan. Maka tak heran jika namanya mencuat menggegerkan tanah Jawa bagian tengah dan wetan. Bahkan orang ini merupakan buronan kesultanan Demak dan beberapa kadipaten. Tetapi karena kedigdayaan dan berbagai ilmu yang ia miliki, selama ini ia dapat melenggang bebas menjelajahi rimba dan padukuhan.
Kedatangan Soca Welirang di tanah lapang itu menjadikan ki Panji Tohjaya semakin meyakini kalau dirinya adalah sasaran utama pihak tertentu, yang mengharapkan meruncingnya hubungan kadipaten Jipang Panolan dan Demak. Sejenak ki Panji Tohjaya meregangkan kelopak matanya lebih lebar manakala melihat adanya lambang bulan sabit dalam lingkaran, menandakan lambang perguruan Candra Bumi di telatah Jipang.
"Pusaka itu... " desis ki Panji Tohjaya.
Desis lirih itu terdengar oleh ki Soca Welirang, yang menanggapi dengan mempermainkan senjata di tangannya. Seolah memamerkan pusaka yang sepertinya dikenali oleh ki Panji Tohjaya. Kemudian ki Soca Welirang tertawa datar sembari berkata.
"Orang yang memiliki senjata ini lumayan tangguh hingga membuat keringatku terperas. Namun, aji yang bersumber dari Candra Bumi tak dapat sejajar dengan kerasnya kehidupan gunung Welirang."
"Atau mungkin karena umurnya semakin tua, tulang - tulangnya menjadi keropos ? Hahaha.. Nasibnya memang na'as. Muridnya durhaka dan memintaku membungkamnya selamanya." sambung ki Soca Welirang.
"Hm... Lalu apa maksud Kisanak yang ringan tangan dan membunuh mereka ?" tanya ki Panji Tohjaya.
"Cecurut tak tahu diri. Setelah mendapat seikat kepeng malah ingin berkhianat. Jadi pantaslah jika mereka terkapar.. " sahut ki Soca Welirang seraya tertawa.
"Kau salah, Kisanak. Tidak seharusnya nyawa seseorang dengan mudah dan enteng kau binasakan. Betapa beratnya tanggung jawab kelak yang kau hadapi dihadapan Sang Pencipta." sanggah ki Panji Tohjaya.
Telinga ki Soca Welirang cukup tebal mendapatkan nasehat dari ki Panji Tohjaya, ia hanya menanggapi dengan gelak tawa saja. Bagi pembunuh berdarah dingin ini, nasehat - nasehat yang memperingatkan pertanggung-jawaban di alam langgeng sudah sekian kali ia dengar dari mangsa atau korbannya. Dan semuanya berakhir sia - sia kecuali terenggutnya nyawa para orang - orang yang memperingatkan ki Soca Welirang.
__ADS_1
"Hahaha... Dari sekian murid Sekar Jagat yang aku temui, kau-lah satu - satunya yang berbeda, Tohjaya. Mulutmu masih dapat menyebut ucapan - ucapan anak polos. Lain halnya dengan saudara - saudara seperguruanmu yang terpikat kemilaunya gemerlap harta dan jabatan." kata ki Soca Welirang, bergemuruh.
"Bicara apa kau ini ?"
"Hahaha... Kura - kura dalam perahu. Mulutmu bisa berkata menyangkal, tetapi aku yakin jika hatimu berucap lain jika menilai saudara - saudara seperguruanmu." ki Soca Welirang bergegas berkata lebih lanjut, "Patih Mentahun, Haryo Kumara dan Haryo Sardulo, semakin hari menunjukan biangnya... "
"Cukup... !!" teriak ki Panji Tohjaya.
Tetapi ki Soca Welirang tetap melanjutkan perkataannya, "Dari lima macan, terpaksa dua macan muda harus dibinasakan agar tidak mencakar macan - macan tua. Ah... Senopati andalan Jipang harus meregangkan nyawa karena keserakahan saudara tuanya."
Sebenarnya ki Panji Tohjaya sudah menduga kalau salah seorang saudara seperguruannya adalah orang dibalik kejadian ini. Tetapi saat disebutkan tiga macan tua, ki Panji Tohjaya agak bimbang. Mungkinkah saudara tertua perguruannya juga terlibat ? Meskipun akhir - akhir ini orang yang ia segani itu mulai berubah tindak tanduknya, tetap saja ia ragu - ragu untuk menilainya.
"He, Tohjaya ! Susulah kakak seperguruanmu, ke alam kubur !" tiba - tiba ki Soca Welirang berteriak sembari menjulurkan senjata rampasan.
Tak sanggup ki Panji Tohjaya berangan - angan. Lebih baik ia bergegas melayani sergapan lawan yang bukan sembarang lawan. Untunglah ki Panji Tohjaya sempat bertemu dengan paman gurunya, ki Wijang Pawagal dan mendapat tuntunan lebih mantab bersumber ilmu tingkat tertinggi perguruan Sekar Jagat, dan juga mewarisi salah satu pusaka perguruan yaitu tombak pendek Kyai Giri.
Menggunakan Kyai Giri sebagai piranti memapaki serangan yang diluncurkan oleh ki Soca Welirang, ki Panji Tohjaya dapat mementahkan benturan senjata yang sebenarnya hanyalah tindakan penjajagan dari lawannya. Selanjutnya benturan demi benturan sering bersinggungan menggetarkan udara sekitar tanah lapang. Ilmu keduanya sangat mendebarkan terlukis dari tata gerak juga olah senjata, bagai se-ekor macan melawan kerasnya banteng. Menimbulkan derak tanah, kesiur angin tajam, terkoyaknya udara mengakibatkan rumput rusak parah.
Semakin lama tataran terus meningkat bertambah hebat dan menyeruakan tata gerak rumit penuh tipuan dan kembangan yang sebenarnya mengancam dan mematikan bagi siapa yang lengah. Hanyalah kewaspadaan, ketelitian dan keuletan menyatu bercampur dengan ketangkasan olah pikir, olah rasa dan olah bantin yang kuat-lah akan menjadi pemenang, walau menang di sini tidaklah menang sejati.
Kala itu gada di tangan ki Soca Welirang mengayun keras ke arah kepala ki Panji Tohjaya, hanya saja ki Panji Tohjaya sangat sigap memiringkan kepala, sehingga gada ki Soca Welirang tidak mengenai kepala ki Panji Tohjaya. Kenyataan itu cepat ditanggapi ki Soca Welirang dengan membelokan gadanya mengejar tubuh ki Panji Tohjaya, akan tetapi murid perguruan Sekar Jaga tidak tinggal diam, maka bergegas merendah sembari menusukan tombak pendeknya.
__ADS_1
Hebat benar ki Soca Welirang. Tusukan lawan berhasil dihindari seraya melempar tubuhnya menyamping sembari menggemplangkan gadanya ke kepala lawan. Sekali lagi gadanya menumbuk udara kosong, dan bahkan ia harus melenting karena adanya serangan balasan. Menjadikan perkelahian itu seru dan sengit saling serang menyerang menggunakan jenis senjata yang berbeda. Dari mulai munusuk, memukul dan menyodok disertai tenaga dahsyat.
Bertambahnya sang waktu mulai adanya pergeseran nyata tataran yang semakin memuncak mendekati tenaga cadangan, menimbulkan getaran - getaran tajam di sekeliling tubuh keduanya. Udara dibuat bergelora terasa hangat dan lama kelamaan memanas, seiring menguaknya ilmu simpanan yang siap saling dibenturkan. Dari ki Panji Tohjaya, aji Brajadaka manjing dari dalam tubuhnya, sementara lawannya juga mengungkap salah satu ilmu andalannya juga yang bersumber kekuatan panas. Beradu dua ilmu berbeda dalam penyebutan tetapi sebenarnya memiliki kesamaan dari inti sumbernya, menjadikan perkelahian semakin sengit dan seru.
Upaya - upaya mengenai tubuh lawan berbentuk pukulan berlambarkan aji Bajradaka di tangan ki Panji Tohjaya dan aji Tapak Geni di tangan ki Soca Welirang, berjalan alot dan terkesan sulit bagi masing - masing pihak. Itu semua karena adanya bekal dan pengalaman dari keduanya yang cukup untuk mempertahankan anggota tubuh mereka dari cengkeraman ganasnya api. Namun lambat laun, salah seorang terperdaya dalam kelengahan dan harus terbayar oleh ganasnya ilmu lawan.
"Bangsat.... !" teriak ki Soca Welirang, saat pundaknya terhantam pukulan lawan.
Pundak orang itu bagai keselomot bara api, bahkan kain pakaiannya berlubang sebesar kepalan tangan. Meskipun begitu, ki Soca Weliran memiliki daya tahan tubub yang bagus. Tidak terlalu lama sakitnya berangsur hilang dan hanya meninggalkan bekas semata. Dirinya tidak tinggal diam dan untuk mendukung tekadnya, ilmunya semakin ia tingkatkan. Kakinya bagai tergantikan pegas membuat orang itu mudah melenting jauh ke depan, seraya menyongsongkan gada rampasan dari perguruan Candra Bumi.
"Byaaar.... "
Gada itu menumbuk tanah dan membuat tanah berlubang besar. Bisa dibayangkan jikalau gada tadi mengenai ki Panji Tohjaya, yang tubuhnya terdiri dari tulang berbalut daging dan darah, tentu akan ***** bila dipikir secara nalar.
Geleng - geleng kepala ki Panji Tohjaya melihat keampuhan gada berwarna kuning kehitaman itu. Patut diwaspadai jika pusaka ampuh tergenggam ditanggan seorang ki Soca Welirang yang memiliki tenaga dahsyat. Lantas upaya dari ki Panji Tohjaya ialah ikut meningkatkan ilmunya, dan tadu sewaktu melihat adanya gempuran gada, ki Panji Tohjaya telah mengungkap aji Alang - Alang Kumitir dan berhasil nenyelamatkan dirinya.
Sementara itu, dalam diri ki Soca Welirang, timbul rasa kesal terhadap lawan satu ini. Ia tidak menyangka kalau lawannya masih dapat melayaninya sejauh ini. Padahal dirinya mampu mengalahkan Senopati Rakai Wekar, kakak seperguruan ki Panji Tohjaya dengan mudah melalui aji Tapak Geni yang tersalurkan ke gadanya. Dia tidak mengira kalau selama ini lawannya mendapat gemblengan secara langsung oleh ki Wijang Pawagal, murid tertua Panembahan Sekar Jagat Sepuh dan kakak seperguruan ki Danurpati atau Panembahan Sekar Jagat Anom guru ki Panji Tohjaya.
"Setan mana yang manjing dalam tubuh macan muda ini ?" batin ki Soca Welirang, sambil memusatkan nalar budinya.
Licik, kejam dan tak terikat paugeran adalah ciri yang dimiliki ki Soca Welirang. Maka tak heran jika serangan gelap akan ia lakukan untuk meraih kemenangan. Kali ini ilmu hitam ia gunakan dengan sembunyi - sembunyi. Tiada tanda - tanda mengisyaratkan kalau orang ini memiliki ilmu dan akan mempergunakannya di tanah lapang ini.
__ADS_1
"Mati kau.... !" desisnya dalam hati.