
Empat orang yang berada diatas panggungan ialah, pangeran Trenggono, ki tumenggung Suranata, ki panji Reksotani yang memegang rontek dan seorang prajurit pemukul tambur. Dengan suara lantang pangeran Trenggono memperingatkan pasukan lawan supaya menyerah, agar tak ada korban bertambah banyak.
"Wahai senopati bang wetan ! Aku peringatkan sekali lagi, sebaiknya kalian menyerahkan diri !"
Tentu saja seruan itu membuat telinga senopati lawan memanas, karena di dalam hati mereka tertanam sebuah sumpah prajurit yang harus dipegang teguh dan erat.
"Kami pantang menyerah hai orang Demak ! Bila mukti susah dicari tentu lebih baik kami mati berkalang tanah !" seru tumenggung Plangkrongan, yang masih diatas kudanya.
"Oh kau sungguh perwira, kisanak. Namun pikirkanlah engkau bersama ribuan nyawa yang berada dalam kandang macan !" balas pangeran Trenggono, yang masih memberi kesempatan.
Tapi panglima pasukan bang wetan yang berada di kademangan Trucuk ini, seorang yang keras kepala. Tangan kanannya semakin erat memegang pedang berdaun lebar. Sekali gebrak kaki ke tubuh kuda, telah mengisyaratkan perlawanan dimulai. Demi melihat itu, pangeran Trenggono memberi isyarat anggukan kepala kepada ki panji Reksotani, yang ditanggapi dengan menggerakkan rontek sebagai isyarat kepada semua kesatuan.
Kesatuan pertama yang mengurung para senopati utama terbuka, memberi jalan kepada lima perwira Demak yang salah satunya ki rangga Gajah Sora.
"Kau lawanku kisanak !" seru ki rangga Gajah Sora, seraya meloncat ke arah tumenggung Plangkrongan.
"Uh kau hanyalah seorang rangga, tak sepadan melawan kakang tumenggung." seorang meloncat menghadang pergerakan dari rangga Gajah Sora.
Terpaksa rangga Gajah Sora mengisar kakinya demi menghindari pukulan lawan yang menimbulkan desiran angin.
Begitu pun dilingkaran yang lainnya pertempuran mulai terasa mendebarkan. Erangan, rintihan dan jeritan ngeri mulai terdengar menyayat hati. Darah dari sayatan maupun goresan telah membasahi tanah lapang dekat gumuk Watujajar. Penerapan gelar Cakra Byuha dengan polesan cangkang bulus penuh dengan jebakan mematikan bagi lawan yang terkurung dalam gelar tersebut. Musuh dalam lingakaran terluar terkejut manakala saat kurungan terbuka, berganti dengan pasukan jemparing yang menghujami mereka dengan puluhan anak panah. Lingkaran selanjutnya saat segerombol pasukan bang wetan akan bergerak menyerang, tiba - tiba dari sela - sela barisan pengurung, muncul tombak - tombak panjang melebihi tombak biasa, yang mengakibatkan dada dan tubuh mereka bagai daging dalam tusukan panggang. Disisi lain segerombolan pasukan bang wetan tak berkutik dengan adanya seutas tali panjang dan kuat yang dilapisi tajamnya besi pipih memanjang, memotong kaki mereka.
Teriakan pilu itu memang dahsyat akibatnya, sebenarnya pasukan Demak tak menginginkan ini terjadi, namun bagaimana lagi. Lawan yang sudah diperingatkan tak mengindahkan sama sekali, bahkan dengan dada membusung mereka tetap bergerak. Bisa dibayangkan lautan manusia di tanah lapang itu laksana birunya samudra yang tercemar buih berwarna merah darah nan mengerikan.
Sementara itu ki Pracona yang menghadapi ki rangga Gajah Sora, terkejut dengan tandang perwira itu. Kekuatannya laksana gajah yang mampu menghempaskan tingginya pohon sampai ke akar - akarnya. Tak jauh darinya ki tumenggung Plangkrongan melawan dua orang lurah yang mampu bekerja sama dengan serasi, walau keduanya hanya memiliki kemampuan kanuragan lebih rendah dari tumenggung Plangkrongan, namun atas kerjasama yang serasi itu mampu mengimbangi dan menutupi kelemahan masing - masing.
Di panggungan panglima utama Demak semakin yakin sekejap lagi pasukannya mampu menguasai kademangan Trucuk. Dan kenyataanya memang demikian yang terjadi, pasukan lawan yang mampu berpikir jernih dan membaca keadaan, telah melemparkan senjata mereka tatkala ada seruan untuk menyerah.
"Pengecut kalian !" teriak ki tumenggung Plangkrongan, saat melihat disekelilingnya para parjuritnya banyak yang menyerah.
"Bukannya begitu, tuan senopati." tukas salah satu lurah prajurit yang melawannya, "sebaiknya tuan senopati mengikuti langkah mereka."
"Tutup mulutmu !" bentak tumenggung dari Lasem yang menjadi nayaka praja di Tuban, seraya menerapkan ilmunya.
Ilmu andalanya menyeruak melibas lawannya, aji Rog Rog Asem membuat lurah prajurit itu mencelat dan tewas.
"Oh... " kejut lurah prajurit satunya.
"Majulah agar kau ikut menyusul kawanmu itu !" sumbar tumenggung Plangkrongan.
Disisi lain rangga Gajah Sora yang sempat melirik kearah dimana tumenggung Plangkrongan mampu menghempaskan prajuritnya, membuat rangga itu mencemaskan keadaan lurah satunya.
"Dia lawan yang kuat..." desisnya.
"He lawanlah aku jika kau sendiri tak mau mengalami keadaan seperti lawan kakang tumenggung !" seru ki Pracona, sambil meluncurkan pukulan sama seperti tumenggung Plangkrongan.
"He... " kejut rangga Gajah Sora, namun dirinya mampu menghindari terjangan aji Rog Rog Asem.
Kesiur pukulan aji Rog Rog Asem terasa tajam menusuk kulit rangga Gajah Sora, untung saja nalurinya bekerja cepat dan dengan cepat melenting kesamping sejarak beberapa depa, untuk selanjutnya bersiaga penuh.
Sementara itu lurah yang menghadapi ganasnya tumenggung Plangkrongan semakin terdesak hebat. Walau banyak prajurit ikut mengerubut tumenggung itu, tiada hasil merubah keadaan, malah korban bertambah banyak dari ganasnya tumenggung Plangkrongan. Hingga suatu saat seorang pemuda yang memakai pakaian biasa muncul menyambar tumenggung senopati bang wetan. Hal itu membuat semua orang heran, bagaimana mungkin seseorang dengan gampangnya memasuki lingkaran demi lingkaran gelar Cakra Byuha.
"He siapa kau anak muda ? Tahukah kau ini medan perang ?" seru tumenggung Plangkrongan kepada pemuda yang baru muncul itu.
Di depan, seorang pemuda berbadan tegap dengan wajah tampan menatap tajam kearah tumenggung dari Lasem.
"Hamba Windujaya, tuan. Hamba mengerti tanah ini menjadi gelanggang tempur antara pasukan bang wetan dan Demak." jawab pemuda itu.
__ADS_1
"Hm.. Lalu mengapa kau ikut campur dengan urusan kewirayudaan ini ? Menyingkirlah sebelum aku berubah pikiran."
"Tuan senopati Tuban, aku akan menyingkir setelah tuan mau bertanggung jawab atas kematian paman Wirajaya." seru pemuda yang menyebut dirinya Windujaya, murid dari Begawan Jambul Kuning.
Rona merah membias di wajah tumenggung Plangkrongan, dada berdetak kencang akibat ucapan yang terucap dari pemuda didepannya.
"Huh, si bangsat Wirajaya !" maki tumenggung Plangkrongan, "Apa hubunganmu dengan demang Lasem itu ?"
"Memang benar dugaan kami selama ini, ternyata kau serigala berbulu domba !" kata tajam meluncur dari Windujaya.
"Jaga bicaramu anak ingusan ! Atau ku robek mulutmu !" bentak tumenggung Plangkrongan.
Pembicaraan yang tak berujung itu telah menarik semua prajurit disekitar kalangan tersebut, termasuk lurah yang baru saja melawan kekuatan tumenggunh Plangkrongan. Oleh karena itu, lurah prajurit itu mendekati Windujaya dan membujuk agar pemuda itu sebaiknya menyingkir dari tempat itu.
"Anak muda, aku yakin engkau memiliki ilmu kanuragan yang hebat, tapi sebaiknya engkau menyingkir dari medan tempur ini."
"Mohon maaf, tuan. Ijinkanlah aku menghadapi orang ini, soal bahaya dari akibatnya akan aku tanggung sendiri." pinta Windujaya.
Lurah itu tampak berpikir dan menimbang sejenak, walau berat akhirnya lurah prajurit itu meluluskan kemauan dari pemuda yang ia rasa ilmu kanuragan yang dimiliki pemuda itu berada di atasnya.
"berhati - hatilah, ngger."
Anggukan diunjukan oleh Windujaya yang kemudian menghadap kearah tumenggung Plangkrongan. Sementara lurah prajurit tadi menerjunkan diri menghadapi senopati lainnya.
Dari panggungan pangeran Trenggono sempat memperhatikan pemuda yang dengan ringan meloncat dari tubuh prajurit satu ke lainnya dan menyambar tumenggung Plangkrongan. Hatinya berkenan dengan kemampuan yang ditunjukan oleh pemuda yang tak dikenal itu dan ini menguntungkan pihak Demak, walau tanpa kehadirannya pun pihak Demak mampu menggilas pasukan bang wetan yang dipimpin oleh tumenggung Plangkrongan.
"Ki tumenggung Suranata, perintahkan prajuritmu untuk mengawasi pemuda itu."
"Sendiko pangeran."
Kejadian seru terjadi manakala tumenggung Plangkrongan menghadapi lawan yang hanya seorang pemuda. Ternyata kemampuan dari pemuda yang menyebut dirinya Windujaya itu, memiliki kemampuan meringankan tubuh luar biasa. Tubuhnya seakan - akan tak berbobot dan menyatu dengan pergerakan angin.
"Hm, inilah ilmu sesungguhnya dari perguruan Cakra Ningrat, jika kau menghadapi paman Wirajaya dengan jantan !" balas Windujaya.
"Apa maksudmu ?!"
"Huh.. Dasar manusia setan, dengan liciknya engkau meracuni paman Wirajaya sehari sebelum perang tanding, sehingga dengan mudahnya paman Wirajaya kau tundukan hingga kematiannya !" geram Windujaya.
Merahlah wajah tumenggung Plangkrongan, kini aibnya yang tersimpan rapat telah berhasil dibongkar seorang pemuda yang berada di depannya. Maka ia berpikir untuk melenyapkan pemuda di depannya demi rahasianya.
"Bagus anak muda, sudah sepantasnya kau mendapat ganjaran berupa kenikmatan di alam kelanggengan. Oleh karena itu aku akan membantumu dengan melepas nyawa dari ragamu !" seru tumenggung Plangkrongan.
Usai berkata tandang dari tumenggung Plangkrongan meningkat tajam, kesiur angin yang ditimbulkan mengakibatkan prajurit disekitarnya menyibak memberi ruang tersendiri. Pukulan demi pukulan meluncur menggedor tubuh lawan. Namun lawan kali ini seorang yang digodok oleh sesepuh kanuragan yang mempunyai watak angin - anginan. Latihan yang diterapkan sangat berat dan ganas, bahkan nyawa pemuda itu hampir melayang tatkala dilatih di puncak gunung Bancak yang berada timur gunung Lawu.
Ilmu warisan panji Bancak saudara panji Asmoro Bangun luluh dalam diri pemuda itu. Sebuah ilmu yang berlandaskan inti angin menyatu dengan jiwa raga yang membuat pergerakan anggota tubuh, selaras dengan ayunan angin.
"Bangsat ! kau hanya terayun - ayun saja !" bentak tumenggung Plangkrongan.
"Baiklah jika itu mau mu !" sahut Windujaya seraya melancarkan serangan keras ke tubuh lawan.
"Dessss !"
Tubuh ki tumenggung Plangkrongan mencelat bagaikan layang - layang putus dari talinya. Tapi dengan cepat tumenggung Plangkrongan melenting berdiri sambil mengibas - ngibas dadanya bekas pukulan lawan.
"Hanya ini sajakah kemampuanmu !" sumbar tumenggung Plangkrongan.
"Hm... Aji Tameng Waja tuan mampu menahan pukulan Serat Bayu tingkat pertama."
__ADS_1
"Hiaaat !" kembali Windujaya menyerang.
Kini serangan yang dilakukan setahap demi setahap, tangan menjulur lurus mengarah dada. Tapi lawan dengan cepat akan menangkis, karena akan ditangkis dengan cepat tangan ditarik mundur sambil mengisarkan kaki kesamping dengan memutar tubuh melakukan tendangan memutar.
"Oh... " desuh tumenggung Plangkrongan, saat punggungnya terkena sapuan lawan walau tak merasa sakit, namun itu merupakan hal yang memalukan bagianya. Sudah dua kali lawan berhasil mengenainya.
Seleret warna merah membias diwajah tumenggung dari Lasem, yang merasa dihinakan dihadapan prajuritnya oleh seorang pemuda biasa. Rasa itulah yang mengakibatkan nyala api membara dihati seorang tumenggung membuncah mencari sasaran yang harus diluapkan sesegera mungkin. Kakinya menotol tanah dengan dua kali pantulan mengangkasa setinggi tiga tombak, langsung menukik deras dengan kepala dibawah kaki diatas menggebrak kepala lawan.
Serangan itu tiada menyurutkan Windujaya, dengan tatag gebrakan tangan lawan ia hadapi dengan pukulan juga. Sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi, telah membuat mata para Perwira meregangkan lubang mata dan memelototkan bola mata demi menyaksikan pemandangan didepan mereka. Dimana tubuh tumenggung Plangkrongan mengambang dengan kaki diatas tegak lurus kepala dibawah membenturkan kedua tangannya dengan tangan Windujaya. Udara menyibak terhempas oleh getaran dari pertemuan gempuran dua tenaga aji Rog Rog Asem dan aji Serat Bayu.
Sejenak kemudian tubuh tumenggung Plangkrongan membal ke atas dan dengan susah payah ia berusaha mendaratkan tubuhnya ke tanah untuk berpijak kembali. Sedangkan akibat lain juga dialami oleh Windujaya, kakinya ambles ketanah sampai lutut, walaupun pemuda itu mampu mencabutnya dan telah siap siaga.
Di lain tempat nampak ki rangga Gajah Sora tertumbuk dengan kerasnya tangan ki Pracola, dimana aji Tapak Waja yang diterapkan ke sepanjang tangannya. Meskipun begitu adik seperguruan dari tumenggung Plangkrongan sempat mendesis merasakan lapisan ilmunya tertembus walau hanya seujung jari.
Rupanya ki rangga Gajah Sora juga tak segan - segan menerapkan aji Tapak Liman, yang ia yakini mampu menghadapi ilmu lawan. Sekali gerak langkah kakinya meloncat kembali mengatah dada lawan yang masih termangu. Kembali benturan terulang lebih dahsyat dari sebelumnya. Tubuh ki Pracola surut dua depa dan mengunjukan rasa sakit diderita melanda dadanya, padahal ia mampu menahan dengan kedua tangan didepan dada dengan menerapkan aji Tapak Waja.
"Uaaag... " darah segar menyembur dari mulut ki Pracola.
Sebaliknya dengan Rangga Gajah Sora, rasa sesak menggerogoti dadanya akibat pantulan tenaga lawan, dan iapun melelehkan darah dari sela sela bibirnya.
"Tangkap orang itu !" seru ki rangga Gajah Sora, memberi perintah kepada prajuritnya.
Tanpa diulang prajurit yang berada disekitar kalangan langsung melakukan penyergapan. Tentu saja ki Pracola tak mau begitu saja menyerahkan dirinya, dengan sekuat tenaga ia melakukan perlawanan, namun karena wadagnya sudah demikian lemahnya maka ia pun akhirnya dapat ditangkap dan diikat oleh prajurit Demak.
Tinggallah satu kalangan saja yang masih menyisakan pertempuran yang menyerupai perang tanding. Dimana sodokan keras melancar ke ulu hati Windujaya, yang membuat pemuda itu bergerak maju menyambut sodokan tangan lawan, namun ketika jarak semakin dekat pemuda itu menangkap sodokan itu seraya mengisar tubuhnya kesamping dan menelikung tangan lawan.
"Oh... " kejut menghujam hati pemuda itu, saat lawannya dengan cepat mampu melepaskan tangannya seraya mendepak tubuh Windujaya.
Tapi kejelian dan naluri Windujaya mampu menghindari depakan lawan sehingga depakan itu hanya mengenai udara kosong.
Tumenggung Plangkrongan kemudian mencabut keris berdaun lebar dengan lekukan sebelas. Bersamaan dengan keluarnya pusaka berjenis keris, udara disekitar terasa panas menyengat bak lautan api.
"Keluarkan senjatamu anak muda, jika kau tak menyesal berhadapan dengan keris kyai Samudra Geni milikku." seru ki tumenggung Plangkrongan.
"Huh... Pusaka itu bukan milikmu ki tumenggung." kata Windujaya, "Kau rebut pusaka itu dari paman Wirajaya, oleh karena itu aku akan merebutnya kembali dari tangan yang tak seharusnya memegang."
"Rebutlah jika kau mampu domba kecil !" tantang tumenggung Plangkrongan seraya menghujamkan keris pusakanya.
Ayunan tangan yang memegang pusaka tersebut cepat mengarah tubuh Windujaya, yang berusaha berkelit menghindari tusukan dan sabetan keris yang mempunyai pamor merah menyala menimbulkan udara panas. Hanya seujung rambut pusaka itu hampir menggores tubuh Windujaya, murid dari Begawan Jambul Kuning menitik beratkan aji Serat Bayu dan Bayu Mandala di kedua tangannya untuk memapaki pusaka itu.
"Cessss !"
Panasnya Bilah keris kyai Samudro Geni pudar terhembus tenaga inti Serat Bayu dan Bayu Mandala. Tak hanya itu saja, tendangan telak melemparkan tubuh tumenggung Plangkrongan dengan kerasnya.
Dada terasa sesak, urat bagaikan putus dan melumpuhkan tenaga dari tumenggung Plangkrongan, yang hanya mendesuh saat memandang lawannya yang telah memegang keris kyai Samudro Geni. Tubuhnya lemah lunglai tak berdaya dan menanti lawannya menghujamkan keris yang dahulu pernah ia gunakan untuk membunuh pemiliknya.
"Apakah ini karma yang pernah aku lakukan ?" batin tumenggung itu.
Penantian itu terasa lama, seakan - akan malaikat maut mempermainkan dirinya dan bahkan menertawakannya. Bayang - bayang orang yang pernah ia bunuh muncul satu demi satu, menagih hutang dengan bayaran nyawanya. Namun sekian lama tiada rasa hujaman maupun tikaman yang mengarah tubuhnya. Malah sebaliknya pemuda yang berhasil merebut kerisnya hanya berdiri dan mengambil warangka dari balik pinggangnya.
"Aku tak akan membunuhmu, ki tumenggung. Ilmumu sudah tiada dan aku rasa itu sebuah hukuman yang harus engkau terima." kata Windujaya.
Tanpa menunggu jawaban pemuda itu lantas bergegas meninggalkan tempat itu dengan cepat dan mudahnya. Walau seoarang prajurit berusaha menghentikannya, tapi tak dihiraukan sama sekali hingga pemuda itu berhasil menjauhi medan tempur dan berhenti dilebatnya pepohonan.
"Kau terlalu lembek Windujaya." tegur seorang kakek yang menyangga tubuhnya dengan sebatang tongkat dari bambu kuning.
"Ah aku rasa itu sudah cukup untuk menghukum tumenggung itu, guru."
__ADS_1
"Huh... sudahlah mari kita pergi dari tempat ini." ucap kakek itu yang kemudian melangkahkan kakinya ke arah barat.
Dan Windujaya terpaksa mengikuti langkah gurunya itu sambil menyelipkan keris kyai Samudro Geni diikat pinggangnya.