
Baru saja semilir angin dengan lembut mengusap permukaan tepian kali Brantas, sekelompok orang turun dari atas tanggul. Orang paling depan seorang lelaki dari kalangan bangsawan dengan ikat kepala hijau muda yang diapit oleh dua orang. Di susul sepasang suami istri naga dari gunung Walirang. Di belakangnya seorang pemuda yang tak kalah tampan dari bangsawan pertama, yaitu Raden Sanjaya beserta kelompoknya. Juga tidak ketinggalan ki Sardulo Liwung dari pantai Prigi dan Ra Srimpang dari Paciran.
.
Sontak saja kedatangan orang - orang ini membuat debar tiga pemuda yang sejak pertama sudah di tepian kali, kaget. Tidak disangkanya kalau kemunculan orang - orang itu akan cepat. Tentu kedatangan mereka setelah mendengar suara gemuruh dari luapan ilmu Arya Dipa dan Jati Pamungkas.
.
Orang paling depan memberi isyarat agar mereka menjaga jarak. Kemudian katanya.
.
"Akhirnya kita berjumpa lagi, anak muda." kata orang itu yang ditujukan kepada Arya Dipa dan Windujaya.
.
"Oh tuan masih mengingat wajah - wajah kami rupanya. Ini merupakan suatu keberuntungan bagi kami." sahut Windujaya sambil mengangguk hormat.
.
Raden Sajiwo tertawa pelan, "Hahaha... Seorang pemuda yang pemberani. Kuharapkan kalian menyingkir dari tepian ini jika kalian ingin menatap indahnya sinar mentari di esok hari."
.
Sebelum Windujaya menjawab, Arya Dipa menggamitnya dan bersuara, "Baik tuan. Kami bertiga sudah berniat meninggalkan tepian ini, sambil membawa kedua orang itu."
.
"Bertiga... Mengapa bertiga, anak muda ?" tanya Raden Sajiwo, "Cukuplah kalian berdua saja, biarkan dua orang yang kau ikat dan orang bertopeng itu tetap tinggal."
__ADS_1
.
Sekilas Arya Dipa menoleh ke arah Jati Pamungkas. Senyum di bibirnya mengembang seraya menggelengkan kepala, "Keinginan kisanak sudah lebih dari ketamakan. Harta yang kisanak inginkan, haruskan ditambah dengan kawan ku itu ?"
"Tidak, ia datang atas undanganku. Sudah seharusnya sebagai tamuku, ia akan pergi bersamaku juga." sambung Arya Dipa tegas.
.
Ucapan Arya Dipa membuat seorang lelaki berjambang menggeram. Tak dinyana kalau ia akan berjumpa lagi dengan pemuda ini di tepian kali Brantas. Perlahan ia menyibak orang di depannya dan berdiri sejajar dengan Raden Sajiwo.
.
"Raden, perkenankan hamba untuk mengurus pemuda satu ini." ucap orang itu.
.
Raden Sajiwo tersenyum, "Apakah ki Pandak Wengker, mengenalinya ?"
.
.
"Tobil - Tobil... Tidak di Ponorogo tidak ditepian kali Brantas, lagi - lagi wujud Pandak Wengker masih belepotan kotoran... !" tiba - tiba sebuah seruan menggema disusul dengan munculnya begawan tua.
.
Mata ki Pandak Wengker melotot, begitu juga dengan ki Widarba dan Gonggang Keling. Sosok musuh bebuyutan mereka membuat mereka geram bukan main.
.
__ADS_1
Orang yang baru tiba itu mendekati Arya Dipa dan memandangi ketiga pemuda di dekatnya. Arya Dipa dan Windujaya langsung mengangguk hormat kepada Begawan Kakrasana atau Raden Branjang Mas. Kemunculan begawan satu ini menentramkan hati kedua pemuda tersebut. Sedangkan Jati Pamungkas, meskipun belum mengenalnya tapi dilihat dari sikap kedua sahabatnya, ia bergegas mengangguk hormat.
.
"Hehehe.. Terima kasih, angger. Meskipun kau menutup wajahmu, aku yakin kau muri orang bercambuk trah Wilwatikta." desis Begawan Kakrasana.
.
Hati Jati Pamungkas tercekat. Siapa sebenarnya orang tua ini, yang bisa menebak dengan tepat jati dirinya ?
"Sudahlah, kita dapat berbicara setelah mengurus orang - orang ini. Mudah - mudahan, rombongan kakang Begawan Bancak dan kakang Resi Puspanaga cepat datang." lanjut Begawan Kakrasana.
.
Merasa tidak dihiraukan, Raden Sajiwo dan pengiringnya mengkal. Mereka bagai tidak dipandang sebelah mata. Karenanya, semua orang bergerak semakin mendekat dan melebarkan barisan, sekan mengepung empat orang yang berada ditengah.
.
Keadaan mulai hangat. Sepertinya tepian itu sekali lagi akan menjadi saksi terjadinya perkelahian seru. Tetapi sejenak kemudian, dari atas tanggul muncul dua pemuda. Tak hanya itu saja, dari arah hilir dua orang tua berjalan dengan tenangnya.
.
"Bangsat... Siapa mereka ini !" seru Ra Srimpang agak uring - uringan.
.
Belum habis rasa keheranan, dari arah seberang kali seorang lelaki tua berdiri menaiki pelepah pisang sebagai piranti menyeberangi derasnya aliran kali Brantas. Sebuah pertunjukan ilmu tingkat tinggi membuat beberapa orang menganga.
.
__ADS_1
"Guru... " desis Raden Sanjaya lirih, mengenali orang yang berdiri diatas pelepah pisang.