
"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar." Tak ubahnya Randu, Sabrina dan Sesil mengucap syukur setelah mendengar penuturan sang dokter. Kedua wanita itu memeluk suami masing-masing sebagai luapan rasa bahagianya
"Apa aku bilang, Arum pasti baik baik saja." Membanggakan diri dengan dugaannya, Mahesa menepuk-nepuk bahu Randu yang sudah lebih tenang.
Randu mengangguk tanpa suara. Ucapan selamat bertubi tubi ia terima. Baik langsung maupun lewat pesan. Penantian yang tak sesuai jadwal tiba, dan itu di luar ekspektasinya.
Pintu ruangan terbuka, karena keadaanya membaik, Arum langsung dipindahkan ke ruang rawat inap.
Hampir dua jam berlalu setelah operasi, Randu menyeret kakinya yang masih lentur. Ia mendekati brankar tempat Arum terkapar. Dengan tangan yang masih gemetar Randu memegang tangan Arum dan menciumnya.
"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan putri yang sangat cantik. Dan dia sudah aku beri nama sesuai keinginan kamu," ucap Randu dengan suara lirih.
Sabrina ikut menghampiri Randu dan mematung di sampingnya. Rasanya ia tak sabar melihat sahabatnya itu membuka mata dan kembali tertawa.
"Kalau aku jadi ratu sihir, aku akan sulap kamu membuka mata. Tapi sayang, itu hanya ada di dunia dongeng."
Mahesa hanya menahan tawa saat menghampiri Sabrina yang berkata konyol, beberapa suster yang ada di dalam ikut cekikikan karena ucapan Ibu hamil tersebut.
Takut sang ratu tersinggung, akhirnya Mahesa menoleh dan mendaratkan jarinya di bibir, memberi kode semuanya untuk diam.
"Arum, kenapa kamu lama banget sih tidurnya, aku sudah nggak sabar mau peluk kamu."
Mahesa hanya bisa menatap tanpa ingin berbicara, karena itu pun seperti yang dilakukan Arum saat Sabrina koma.
"Aku juga," sahut Sesil yang baru saja masuk bersama dokter Agung.
Randu memilih mundur membiarkan Sabrina dan Sesil yang menguasai istrinya.
Setelah berkali kali mendapatkan omelan dari bibir Sabrina dan Sesil, akhirnya Arum menggerakkan jari lentiknya. Wanita itu juga mulai menggerakkan kepalanya.
"Mas Randu, Arum sudah sadar," seru Sabrina dengan lantang.
Randu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju brankar. Benar apa kata Sabrina, Arum mulai membuka matanya dengan pelan.
Sebuah pelukan dan hujaman ciuman dari sang suami menyambut Arum yang baru saja membuka mata. Jika beberapa jam yang lalu Randu dipenuhi dengan ketakutan, kini Randu dihujani dengan beribu kebahagiaan.
Masih tak ada senyuman yang terbit dari bibir Arum, ia sadar betul jika sebelum berada di atas brankar itu ia terjatuh dan mengalami pendarahan.
Arum menggerayangi perutnya yang terasa perih dan juga enteng.
__ADS_1
"Mas, di mana anak kita?" tanya Arum dengan pelan, menatap lekat wajah Randu. Namun Arum tak begitu takut saat melihat suaminya itu terus mengulas senyum.
"Dia aku culik untuk aku jadikan menantu."
Sabrina dan Sesil tak henti-hentinya mencari bahan lawak.
Mahesa hanya bisa tertawa, merasa terharu dengan persahabatan trio kerudung yang ada di hadapannya.
"Nanti saja kalau sudah dewasa. Sekarang biarkan aku dan Mas Randu yang membesarkannya," jawab Arum.
"Dia ada di ruangan bayi, kamu jangan khawatir, bayi kita baik baik saja," timpal Randu.
Alhamdulillah, ya Allah, akhirnya aku menjadi seorang ibu, terima kasih atas Anugerah-Mu yang luar biasa, batin Arun.
Arum menitihkan air mata saat menatap kedua sahabatnya yang ada di sampingnya, ketiganya saling bicara lewat bahasa kalbu yang tak dimengerti semua orang.
"Selamat ya, Rum. Sebentar lagi kita bertiga akan menjadi ibu rumah tangga yang sukses."
Lagi-lagi Mahesa harus mengocok perutnya, sementara Randu hanya gigit jari seraya traveling menerka maksud kata yang diucapkan Sabrina, sedangkan Agung mengacak rambutnya mendengar istri Mahesa, karena yang mereka tahu wanita yang sukses adalah wanita karir yang bekerja di kantor, bukan yang seperti Sabrina ucapkan.
"Kamu dengar Randu, tak hanya kita yang sukses, tapi istri kita juga orang yang sukses." Mahesa mengangkat kedua jempolnya. Setelah beberapa kali berpikir dengan logika, Mahesa membenarkan ucapan Sabrina, Bahkan ibu rumah tangga jauh lebih mulia dibandingkan dirinya yang hanya bisa mencari uang saja.
"Kenapa sayang?" tanya Randu antusias. Yang lain juga ikut panik saat Arum mendesis.
Arum menggeleng dan melepaskannya, seperti saat datang mendadak, rasa nyeri itu menghilang begitu saja.
"Kamu nggak apa-apa Rum?" tanya Sabrina.
Arum menggeleng lagi. "Mungkin ini efek dari melahirkan saja."
"Assalamualaikum " suara uluk salam menggema. Semua menjawab dengan serempak. Mahesa sudah tak heran lagi dengan suara itu, seseorang yang pasti datang dengan membawa kado. Dan benar, tebakan Mahesa sedikitpun tak melesat, sang mama datang dengan membawa buah-buahan dan alat make up, diikuti sang papa yang membawa beberapa paper bag di tangannya juga dua pembantunya yang berbondong-bondong membawa beberapa boneka.
"Nggak tokonya di bawa sekalian?" cetus Mahesa yang bersembunyi di belakang Sabrina.
Bu Risma meletakkan buah-buahan dan alat make up nya di atas meja lalu menghampiri anaknya yang sedikit durhaka padanya.
"Tadinya mama mau bawa, tapi mobilnya nggak muat." Bu Risma tak kalah absurd nya menanggapi ucapan Mahesa.
Setelah memeluk sang menantu dan Sesil, bu Risma menghampiri Arum.
__ADS_1
"Selamat ya, Ning. Sekarang cucu ibu bertambah lagi."
"Terima kasih, ibu sudah menyempatkan datang kesini hanya untuk menjengukku."
Arum merasa nggak enak dengan kedatangan Bu risma.
Bu Risma mengelus lengan Arum. "Kalian itu sudah ibu anggap sebagai anak sendiri, jadi jangan sungkan-sungkan curhat, dan jika suami kalian berbuat salah, bilang saja, biar ibu yang kasih pelajaran."
Mahesa mendelik, kali ini ia kalah telak dengan istrinya yang dengan jelas mendapat dukungan dari mamanya, hingga sekarang posisi Sabrina menggeser dirinya sebagai putranya.
"Mana anak kamu, Rum?" Bu Risma celingukan mencari sosok makhluk yang beberapa jam lalu hadir ke dunia.
"Ada di ruang bayi Bu, dia masih dalam perawatan karena lahir prematur," jelas Randu.
"Siapa namanya?"
"Raisya Laksana Putri," jawab Randu.
Ya Allah semoga anakku kelak menjadi wanita yang solehah seperti impianku.
Aaaww
Tiba tiba Arum kembali meringis dan memegang kepalanya seperti tadi, semua mengalihkan pandangan ke arah Arum yang mengeratkan giginya.
"Panggil dokter!" teriak Mahesa
Agung yang masih ada disana memencet tombol darurat.
"Mana yang sakit?" tanya Randu.
Sabrina dan Sesil pindah paling ujung dekat kepala Arum.
Arum melepaskan tangannya, entah rasa sakit itu seperti mempermainkannya seperti jelangkung.
"Sekarang sudah nggak sakit lagi, Mas."
"Tapi kamu harus tetap diperiksa, aku nggak mau ada apa-apa sama kamu," ucap Randu dengan tegas.
"Nggak usah, Mas. aku yakin sudah nggak kenapa napa." Arum meyakinkan semua orang dengan tawanya.
__ADS_1