
Mahesa terus cekikikan saat beberapa kali Agung mengirimkan pesan padanya. Mahesa hanya membacanya tanpa ingin membalasnya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, itu artinya setelah pesta selesai beberapa menit yang lalu. Mahesa dan Sabrina dalam perjalanan pulang, karena lelah Bumil itu membaringkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan Mahesa, sedangkan Devan pulang bersama dengan Bu Risma dan pak Yudi.
Suara dering ponsel kembali menggema, kali ini Sabrina merasa terusik dan membuka mata, ia meraih ponsel yang ada di tangan suaminya. Meletakkannya di jok depan samping pak Udin yang sibuk dengan setirnya.
"Dari siapa sih, Mas. Kok malam malam begini ngebut. Apa sangat penting?"
Mahesa mengelus kening Sabrina, seperti di rumah, sebelum itu dilakukan Sabrina tidak akan bisa memejamkan matanya.
"Dari Agung, dia tanya, Bagaimana cara nya malam pertama."
Sontak Sabrina terbangun dan duduk, mengambil ponsel milik Mahesa kembali dan membaca pesan absurd dari Dokter kandungan itu.
Benar apa yang dikatakan Mahesa, sepuluh pesan yang isinya sama.
"Bagaimana bisa, bukankah dia sudah dewasa? Kenapa harus minta ajarin kamu?"
Sabrina kesal dengan Dokter Agung yang nggak peka.
Mahesa mengangkat kedua bahunya, ia pun heran, Dokter yang hampir tiap hari menyuntik bumil itu malah bingung saat akan menyuntik istrinya sendiri. Bukankah itu hal yang paling mudah, dan Mahesa saja sudah jago hanya beberapa kali praktik.
"Aku balas ya, Mas."
Hemmm, hanya itu jawaban Mahesa yang sudah mengantuk.
"Pertama kali ucap Bismillah dan berdoa, dan setelah itu nggak usah minta ajarin lagi, ponsel ini akan segera di nonaktifkan."
Setelah mengirim pesan singkat dengan bentuk teks, Sabrina mematikan ponsel milik suaminya demi kenyamanan bersama.
Di seberang sana, Dokter Agung menggigit ponselnya, ternyata saat berada di dalam kamar bersama Sesil yang sudah sah menjadi istrinya lebih menegangkan daripada harus menghadapi ibu hamil yang mengalami kontraksi.
Hahaha
Sabrina tertawa pelan namun terlihat sangat bahagia.
"Bagaimana dengan Sesil ya, Mas? Pasti dia merasa aneh dengan dokter Agung.
Sabrina meraih tangan Mahesa meletakkan di perut buncitnya yang sudah mulai aktif. Bayi yang berjenis perempuan itu terus menendang perut Sabrina hingga terkadang meringis.
__ADS_1
"Biarin saja Sesil menganggap dokter Agung spesies langka." Keduanya kembali bergelak tawa di atas penderitaan dokter Agung.
"Mas, dulu yang memberi nama Devan itu ayah, dan Mas yang harus memberi nama untuk putri kita nanti saat lahir."
Sabrina menyandarkan kepalanya di dada Mahesa.
"Siap, Nyonya," kata Mahesa seraya mengangkat tangannya, hormat.
Di kamar hotel itu, Agung terus mengetuk ngetukkan jarinya di dagu dengan mata terus tertuju ke arah pintu kamar mandi. Suara gemericik air terus terdengar menghiasi telinganya, dadanya terasa berdebar-debar, namun juga mengendap sebuah kegugupan.
Agung beranjak dari duduknya lalu mondar-mandir mengabsen lantai, tak tahu lagi siapa yang harus ia hubungi, nomor Mahesa pun sudah mati.
"Katanya sahabat, tapi kalau pas susah gini nggak mau bantu," gumamnya kecil.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka.
Sorot mata Agung terpana saat melihat Sesil hanya memakai jubah mandi, rambutnya yang basah itu nampak jelas, leher jenjangnya menyilaukan matanya.
Otak Agung traveling, membayangkan bagaimana jika Sesil tak memakai baju sama sekali. Ah, ini gila, baru pertama kali Agung benar benar merasa terhanyut dan terpesona oleh seorang wanita, dan dia adalah istrinya sendiri.
Sesil berjalan pelan menghampiri Agung yang mematung di samping ranjang. Seketika ponsel yang ada di tangannya pun terjatuh.
"Mas, ponsel kamu jatuh." Suara Sesil membuyarkan lamunan Agung. Ia memungut ponsel Agung dan meletakkannya di nakas.
Agung semakin gugup saat tangan Sesil menyentuh tangannya. "Kamu kenapa, Mas? Sakit?" Sesil menempelkan punggung tangannya di kening Agung.
Panas dingin itu memang melanda dokter Agung, apalagi saat nafas Sesil menyapu lehernya, hasratnya semakin menggebu. Dan itu tak bisa di elak lagi.
"Nggak kok, Aku cuma masuk angin saja." Menutupi rasa geroginya.
"Mas nggak Sholat dulu?" tanya Sesil serta membuka kancing baju Agung bagian atas.
"Kamu?" balas bertanya.
"Aku sudah sholat, maunya nungguin Mas, tapi lama."
__ADS_1
Setelah pesta usai, Agung memang berbincang dengan dokter lain dan menyuruh Sesil untuk masuk ke kamar lebih dulu.
Sesil menghentikan aktivitasnya saat tangan Agung menarik ceruk leher nya, pesan dari ponsel Mahesa masih terlintas dengan jelas di otaknya. Ia mencium ubun ubun Sesil lalu mengucapkan lafadz Bismillah, dan itu masih bisa di dengar oleh Sesil.
Seketika Sesil mendorong tubuh kekar Agung hingga terhempas di atas ranjang. Saat Sesil ingin melangkah, tiba tiba saja kakinya tersandung karpet, wal hasil tubuhnya ikut terjatuh diatas tubuh Agung.
Keduanya saling pandang, menyusuri setiap jengkal wajah lawan, posisi yang sangat nyaman dirasakan dokter Agung, meskipun ia berada di bawah, ia merasakan sesuatu yang bergejolak mengenai dadanya, detakan jantung Agung dan Sesil semakin kencang saat Agung melingkarkan tangannya di perutnya, pertanda Agung mencegahnya untuk pergi.
"Aku mau sekarang," ucap Agung dengan suara parau.
Sesil fokus dengan kedua bola mata Agung yang nampak memendam sesuatu.
"Isya' dulu, Mas. Dan setelah itu aku akan melayani kamu."
Agung membalikkan tubuhnya hingga berada di atas, mengukung Sesil yang ada di bawahnya. Ada sesuatu yang semakin mengeras dirasakan Sesil, namun ia hanya diam, sedikitpun tak bergerak takut jika pistol di bawah sana akan semakin meronta dan mengeluarkan pelurunya.
Sebuah ciuman mendarat di bibir Sesil sebelum Agung benar-benar pergi ke kamar mandi.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Sesil memegang bibirnya, ia sudah mendapatkan ciuman pertamanya dan ia bangga karena suaminya sendiri yang melakukannya.
Setelah mengganti bajunya, dan berhias, Sesil naik ke atas ranjang dan itu bertepatan dengan Agung yang keluar kamar mandi.
Kali ini Agung tak mau menatap Sesil takut kembali tergoda dengan penampakan ciptaan Tuhan yang sempurna itu.
Apalagi sekilas Dokter Agung menangkap betis Sesil yang sangat putih rasanya sudah ingin nyaplok saja.
Hampir sepuluh menit, akhirnya empat rakaat terlaksana. Sesil melepas sandalnya, memelankan jalannya dan berjongkok di belakang Agung. Menengadahkan tangannya saat Agung berdoa kepada yang kuasa.
Setelah Agung mengusap kedua tangannya ke wajah, Sesil melingkarkan tangannya di perut Agung lalu menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.
"Malam ini aku siap menjadi milikmu lahir batin." Saklar lampu hijau dinyalakan, Agung menggenggam erat tangan Sesil dan menciumnya.
Semua rasa gugupnya lenyap saat melihat tingkah manja Sesil. Gadis itu tampak sudah siap melepas mahkotanya untuk Agung.
Tahu gini aku nggak usah nanya Mahesa, malu-maluin saja, gerutu Agung dalam hati.
Tanpa aba-aba Agung siap untuk bertempur semalaman dengan Sesil di atas ranjang besar sebuah kamar hotel yang mewah.
__ADS_1