Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Ngebut


__ADS_3

Mahesa dan Randu serta Pongki bergelak tawa saat mendengar cerita Agung. Ketiganya merasa unggul dibandingkan dengan dokter yang duduk di hadapannya itu. Kendatipun berhasil menjebol gawang dengan durasi hampir satu jam,  Agung tetap menjadi bahan olokan ketiga sahabatnya, belum lagi ditambah Pongki yang menganggapnya banci. 


"Kamu kan belum menikah, jadi jangan ngetawain aku." Agung menonjok lengan Pongki yang duduk di sampingnya. Di sebuah Cafe milik Randu, mereka berkumpul. Menyambung kembali tali persahabatan. 


"Memangnya kenapa? Bulan depan aku nikah. Lihat saja! Dalam waktu satu jam aku sudah bisa gol dua kali," seru Pongki dengan kesombongannya.


Mahesa sampai menutup mulut, menyembunyikan tawanya yang tak bisa ditahan lagi. Beberapa tamu yang berkunjung sampai heran dengan mereka, belum lagi Agung begitu menghebohkan seluruh ruangan. 


Kembali ke topik malam pertama, Pongki menyenggol lengan Dokter Agung. 


"Terus gimana dengan Sesil? Apa dia nggak pingsan setelah merasakan tongkatmu?"


Mahesa dan Randu geleng geleng mendengar pertanyaan Pongki yang lebih konyol lagi. 


Agung menghela nafas panjang lalu menyeruput kopi hitamnya hingga tinggal ampasnya.


"Nggak lah, emang tongkatku sebesar apa, sampai membuat istriku pingsan. Aku juga punya perasaan, nggak mau dia tersakiti, karena itu bukan untuk sekali dua kali, tapi untuk selamanya."


Agung bagaikan terhipnotis,  ia selalu menjawab semua pertanyaan konyol sahabatnya. 


"Hari ini jadwal Sabrina dan Arum periksa, kalian ingat nggak?" menatap Mahesa dan Randu bergantian.


Mahesa melihat jam yang melingkar di tangannya lalu beranjak.


"Aku pulang dulu." Mahesa menyambar ponselnya dan berlari menuju pintu depan. 


"Kenapa dia?" tanya Agung seraya menyungutkan kepalanya ke arah Mahesa yang sudah melewati pintu. 


"Biasanya kalau buru-buru gitu ada janji, dan kayaknya Mas Mahesa lupa." 


Pongki manggut manggut, itu pun juga menjadi pelajaran baginya yang akan menikah dalam waktu dekat. 


Pertemuan yang mengundang tawa itu berakhir saat Randu juga pamit ingin menjemput Arum. Setelah menikah Mahesa  memutuskan pada Randu untuk lebih fokus pada Arum daripada dirinya. 


Mahesa menarik tangan pak Udin dan mendudukkannya di jok samping setir lalu memasangkan seatbelt dengan benar. 


"Bapak tenang ya, pegangan yang kuat!" pesan Mahesa sebelum ia duduk di depan setir.


"Biar bapak yang setir, Den." Tak ada jawaban, Mahesa menyalakan mesinnya, tanpa aba-aba Mahesa  keluar dari gerbang dan mulai menerobos jalan raya. 


Baru lima menit membelah kendaraan yang berlalu lalang, Pak Udin sudah gemetaran. Ac nya seakan tak berfungsi. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. 


Ya Allah, jika aku mati sekarang, aku pun siap,  tapi selamatkan Den Mahesa. Doa pak Udin dalam hati.


Pria yang sudah berumur lima puluh tahun itu memejamkan matanya dengan kedua tangan berpegangan erat. 


Ssstttt

__ADS_1


"Apakah aku sudah berada di alam fana, rasanya sangat tenang, Ya Allah ampuni dosa dosa hamba," gumamnya.


Pak Udin memegang dadanya,  detakan jantungnya masih terasa jelas, dan itu artinya masih hidup. 


Mahesa menoleh menatap pak Udin lalu tersenyum tipis lalu menggoyang goyangkan lengan pak Udin. 


"Bapak nggak kenapa napa kan?" tanya Mahesa. 


Perlahan pak Udin membuka matanya lalu menghela nafas panjang,  sekarang ia percaya kalau dirinya masih berada di dunia nyata. 


Pak Udin mengambil tisu dan mengelap wajahnya yang basah. 


"Nggak apa apa, Den. Hanya jantung bapak yang capek. Kenapa berhenti?"


Pak Udin bernafas dengan lega saat Mahesa Menyodorkan sebotol air mineral.


"Ini lampu merah, Pak. Sebagai warga yang baik aku harus berhenti." 


Setelah meneguk air itu, Pak Udin mengedarkan pandangannya ke arah luar. Tanpa ia sadari mobil Mahesa kembali melaju, bahkan kali ini lebih cepat dari yang tadi. 


Mahesa menahan tawa saat melihat wajah Pak Udin yang tampak pucat. 


"Bapak jangan hiraukan mobil lain, anggap saja ini sirkuit, dan kita lagi balapan." 


Dengan entengnya Mahesa membahayakan nyawa pak Udin, kali ini bukan kecelakaan masalahnya, namun pak Udin harus sport jantung untuk melawan ketakutannya. 


Sebelum keluar, Mahesa menggaruk kepalanya saat menatap sang Nyonya yang sudah cantik itu mondar mandir di teras depan.


"Bapak jangan bilang kalau aku yang nyetir ya!" pinta Mahesa. 


Pak Udin ikut menatap Sabrina, bukan hanya majikan yang bisa menindas bawahan, kali ini Pak Udin tidak mau berkompromi dengan tuannya. 


"Nggak bisa, Den.  Jantung bapak sudah nggak normal lagi gara gara Aden,  itu artinya, bapak harus balas."


"Ada ya sopir berani sama majikan." Itu hanya diucapkan dalam hati karena pak Udin sudah keluar.


"Siap siap, Hes. pasti nyonya berceramah."


Mahesa hanya  menggerutu seraya memukul setirnya. 


Dengan wajah lesu Mahesa turun dari mobil mengikuti langkah pak Udin.


"Dari mana saja, Pak?  Kok lama?" tanya Sabrina dengan sopan, mendekati Pak Udin yang masih tampak lelah, lalu menatap Mahesa yang rambutnya sedikit berantakan. 


Pak Udin menoleh kebelakang sejenak menatap Mahesa. 


"Maaf Non,  tadi Den Mahesa dari cafe, karena terlambat pulang, Den Mahesa yang nyetir, Non harus marahi den Mahesa karena  sudah membahayakan nyawa bapak."

__ADS_1


Mahesa tak bisa berkutik lagi, apalagi wajah Sabrina sudah berubah datar. 


"Terima kasih ya Pak," ucap Sabrina. 


Pak Udin hanya membungkuk ramah sebelum meninggalkan Mahesa dan Sabrina 


"Maaf Den, demi keselamatan aden, terpaksa bapak mengadu. 


Setelah pak Udin menghilang dibalik garasi,  Mahesa menghampiri Sabrina lalu  tersenyum renyah saat memegang tangannya. 


"Sayang, tadi aku pelan kok,  pak Udin bohong,"  cicit Mahesa dengan wajah memelas. 


Tapi Sabrina tidak seperti dulu yang polos dan selalu percaya dengan bibir manis Mahesa, kini ibu hamil itu lebih pintar dalam menghadapi setiap ucapan suaminya. 


"Jangan berkilah, nggak mungkin pak Udin bohong, lagipula aku sangat mempercayai pak Udin daripada, Mas. Sekarang jawab yang jujur! Apa yang dibilang pak Udin itu benar?"


Mahesa sudah merasa tersudut, jika seperti ini tak mungkin ia membuat alasan lain, karena ujung ujungnya ia juga yang kalah. 


"Aku minta maaf. Aku yang salah, tapi aku nggak bisa mengemudi seperti pak Udin, kayak siput."


Sabrina hanya geleng geleng kepala melihat tingkah suamiya. 


"Mau sampai kapan kamu kekanak-kanakan, sebentar lagi anak kita sudah tiga, ingat umur. Mas mau bikin aku  darah tinggi terus stroke dan meninggal karena ulah Mas yang seperti ini."


Seketika Mahesa membungkam Mulut Sabrina dengan bibirnya. 


Setelah hampir sepuluh detik, Mahesa melepaskan pagutannya. 


"Jangan bicara seperti itu,  nggak baik. Oke, aku nggak akan mengulanginya lagi,  sekarang kita pergi, Agung sudah menunggu."


Mahesa meraih tangan Sabrina dan menggiringnya ke mobil. 


Setelah Sabrina masuk dan duduk di jok depan,  Mahesa melambaikan tangannya ke arah supirnya.


Pak Udin bersiap dan menghampiri Mahesa. 


"Biar aku yang antar, Bapak di rumah saja. Aku minta maaf kejadian yang tadi, sebagai ganti seharian ini bapak istirahat saja."


Baru saja pak Udin membuka mulut, Mahesa sudah meninggalkannya masuk mobil. 


Ada rasa takut, sekian lama menikah, Sabrina belum pernah melihat Mahesa mengemudi secara langsung, dan itu perdana baginya naik mobil hanya berdua. 


"Pelan pelan, Mas!" Suara itu mengiringi saat mobil Mahesa keluar dari gerbang. 


Aku juga datang membawa cerita menarik punya Kak Dhevis juwita. Silahkan mampir!


__ADS_1


__ADS_2