
"Jangan-jangan kamu hamil?" tanya Randu keceplosan, sebenarnya ia tak ingin mengatakan itu, entah kenapa bibirnya tak bisa di rem.
Aya menunjuk perutnya yang ia rasa masih rata, lalu tertawa lepas meninggalkan Randu yang masih berada di depan kamar mandi. Kedatangan Raisya membuatnya bisa bangkit dan tak selemah dua hari ini. Apalagi terkaan Randu sangat tak masuk akal baginya.
"Nggak mungkin," jawab Aya santai, Aya beralih ke dapur membuatkan kopi untuk Randu.
"Kenapa nggak mungkin? Kalian suami istri. Bukankah itu hal yang wajar?"
Tak ada jawaban. Aya menyodorkan kopi hitam di tangan Randu, baginya semua tak perlu dijelaskan pada orang lain. Untuk apa, toh semua itu juga bukan urusan Randu.
Suara mobil berhenti di depan rumah, Randu meletakkan kopinya dan membuka pintu depan. Ternyata Dokter Harun yang datang.
"Siapa yang sakit, Mas?" tanya Dokter Harun. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang amat sederhana.
"Teman aku, silahkan dokter duduk dulu, biar aku panggil dia."
Dokter Harun duduk di ruang tamu, Randu kembali ke belakang menghampiri Aya yang masih berada di dapur .
Bukan hanya Mahesa, Aya pun enggan berurusan dengan Dokter, hanya saja rasa pusing dan mualnya tak bisa ditahan lagi hingga ia mengalah dan tetap mau diperiksa.
Aya membaringkan tubuhnya, mengatakan semua keluhan yang dirasakan selama beberapa hari ini.
Setelah menjalani pemeriksaan selama beberapa menit, Dokter Harun memasukkan kembali peralatan medisnya dan keluar menghampiri Randu. sedangkan Aya mengintip di balik pintu kamarnya ingin mengetahui kondisinya dari bibir Dokter itu.
Aya mendaratkan jarinya di bibir saat Raisya yang mulai merengek lalu menggendongnya.
"Mbak Aya terkena asam lambung, mungkin karena makannya nggak teratur, banyak pikiran, dan makanan yang dimakan kurang terjamin," ucap Dokter Harun.
"Jadi Aya nggak hamil?"
Aya yang ada di dalam kamar hanya bisa berdecak, tangannya sudah gatal ingin memukul Randu yang hanya nampak punggungnya saja.
"Nggak! Memang ciri-cirinya orang hamil dan orang yang terkena penyakit itu hampir sama, mual dan pusing, aku sarankan Mbak Aya makan yang teratur, tidur secukupnya dan kurangi beban pikiran. Pokoknya Mas harus mengawasi Mbak Aya, mungkin kedengarannya remeh, tapi ini bisa fatal jika dibiarkan."
Setelah mendengar penjelasan Dokter Harun, Randu menerima selembar kertas yang bertuliskan resep obat yang harus ditebus.
"Terima kasih, Dok. Maaf ganggu."
Masih duduk saling berhadapan, Dokter Harun langsung memesan obat yang dibutuhkan Aya, bukan hanya itu, Dokter meminta penjaga apotik miliknya itu untuk mengantarnya segera.
__ADS_1
Setelah urusannya sudah beres, Randu mengantar dokter Harun keluar dari rumah hingga mobil Dokter Harun menghilang ditelan kegelapannya jalan, Randu kembali masuk menemui Aya yag duduk di ranjang bersama Raisya.
"Apa kamu masih mau bilang kalau aku hamil?" cetus Aya tanpa menatap.
Randu menyandarkan lengannya di pintu seraya cekikikan melihat wajah merengut Aya.
"Mana resep dari Dokter Harun?" Aya menengadahkan tangannya tepat di depan Randu yang mematung di samping ranjang.
Randu memberikan kertas itu di tangan Aya.
"Sebanyak ini? "
Aya hanya geleng geleng, ia tak menyangka kalau beberapa hari ia akan mengkonsumsi beberapa obat yang dibencinya.
"Demi kesembuhan kamu. Aku akan ke sini sampai obat itu habis."
Aya mendengus kesal, sekian lama Aya memang tak ingin ada orang lain terlibat dalam hidupnya, namun kali ini Ia mengalah demi penyakitnya.
Seperti saran dokter Harun, Randu pergi ke dapur membuatkan bubur untuk Aya, semenjak Arum sakit, hal itu sudah menjadi tugasnya, dan kali ini ia sudah tidak kesulitan lagi.
Beberapa menit kemudian, Randu kembali ke kamar Aya membawa semangkuk bubur di tangannya, namun ia harus kecewa saat melihat Aya meringkuk, matanya terpejam seraya memeluk Raisya yang ada di sampingnya.
Randu keluar dari kamarnya dan memilih duduk di ruang tamu, karena sepertinya hanya tempat itu yang aman untuk menjaga Aya dan putrinya.
Lagi-lagi suara motor berhenti di depan rumah Aya, Randu membuka pintunya setelah suara ketukan menembus gendang telinganya.
"Selamat malam, Pak. Saya utusan dokter Harun, mau mengantar obat pasien yang bernama Ayana."
"Iya, saya temannya, biar nanti saya yang kasih."
Randu menerima sekantong kresek berbagai sirup dan pil kaplet, malam sudah semakin larut, ia langsung mengunci pintu rumah Aya setelah masuk ke dalam.
Kali ini Randu tak bisa tinggal diam, terpaksa Ia harus membangunkan Aya seperti anjuran dokter Harun.
Dengan pelan Randu menggoyang goyangkan tangan Aya yang sudah terlelap.
"Ay, bangun!" ucap Randu berbisik di telinga Aya.
Aya melenguh dan menggeliat, membuka matanya perlahan dan menatap Randu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Aya.
"Kamu harus makan dan minum obat, aku nggak mau sakit kamu semakin parah.
"Kamu itu lebay banget sih, aku nggak kenapa- napa. Kenapa kau sekhawatir ini?"
Aya menutup tubuh Raisya dengan selimut lalu bangun.
"Raisya sudah tidur. Kapan kamu pulang?"
Randu menatap wajah teduh Raisya lalu menatap Aya sejenak.
"Malam ini izinkan aku tidur disini, aku akan memastikan kalau kamu mau minum obatnya."
Aya menatap lekat wajah Randu, sebenarnya ia tak ingin kembali dekat dengan Randu, takut benih -benih cinta itu hadir kembali dan Aya harus kecewa untuk yang kedua kali. Mencintai tanpa dicintai.
Aya mengambil bubur yang ada di atas nakas, tanpa banyak bicara ia menghabiskan bubur itu, meskipun rasanya sangat hambar, sedikitpun Aya tak protes. Tak hanya makan, Randu juga menyiapkan obat yang harus diminum Aya setelah itu.
"Harusnya kamu nggak usah peduli. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku nggak mau bergantung pada orang lain."
Randu hanya diam, jika ia membantah, pasti yang timbul perdebatan antara keduanya.
Ia memilih keluar dari kamar Aya dan membaringkan tubuhnya di kursi ruang tamu.
Hampir tiga puluh menit, Aya bergulat dengan otaknya, di satu sisi ia senang, masih ada yang peduli padanya, namun disisi lain, Aya tak mau menjadi beban orang lain.
Pun dengan Randu yang masih belum bisa memejamkan matanya, ia berpikir keras dengan situasi yang dihadapinya saat ini.
Randu meraih ponselnya yang berdering, ternyata Mahesa mengirim pesan menanyakan tentang keadaan Aya.
Usai menceritakan kondisi sahabatnya, Randu memberi tahu jika malam ini ia tak bisa pulang, tak tega dengan Aya yang harus melawan dinginnya malam sendirian dengan keadaannya yang lemah.
Bertepatan dengan Randu yang meletakkan ponselnya di atas meja, Aya memanggilnya dari ambang pintu kamarnya lalu menoleh.
"Ini bantal dan selimut untuk kamu." Aya hanya menunjukkan benda itu di tangannya tanpa melangkah.
"Bawa sini!" pinta Randu.
"Nggak mau, kepalaku masih pusing, kamu tangkap saja!"
__ADS_1
Bagaimanapun juga Randu yang mengalah dan menangkap bantal yang dilempar Aya daripada harus kembali adu mulut.