Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Kasus


__ADS_3

Hampir dua bulan lamanya, Sabrina menyibukkan dirinya dengan berbagai acara, seperti dipernikahan sahabatnya dan acara sumbangan di yayasan yang diadakan suaminya. Belum lagi beberapa hari yang lalu acara tujuh bulanan kehamilannya. Dan itu sangat menguras tenaga. Di usia kehamilannya yang menginjak delapan bulan, tak menyurutkan semangat Sabrina untuk beraktivitas, apalagi menyangkut anak anak yang pernah ia bimbing dari dulu,  pastinya lebih antusias dari aktivitas yang lainnya. 


Namun hari ini Sabrina tak bisa apa apa, ia harus istirahat total seperti saran sang dokter yang memeriksa kondisinya. Sabrina terkapar di atas ranjang dengan kaki yang sedikit membengkak dan wajah yang pucat. 


Seperti biasa, Mahesa lah yang heboh dengan keadaan Sabrina, padahal sang empu pun masih bisa tertawa, tapi Mahesa malah tampak gelisah. 


Sabrina menatap Mahesa yang mondar mandir di samping ranjang, persis setrikaan yang sedang bekerja.


"Mas, kamu nggak bisa duduk, kalau kayak gini kepalaku yang pusing," kata Sabrina, tangannya meraih tangan Mahesa yang melenggang.


Mahesa duduk di tepi ranjang tepat di samping Sabrina yang berbaring. Ia menempelkan punggung tangannya di kening Sabrina yang terus mendesis.


"Mana yang sakit?"


Mahesa membantu Sabrina bangun lalu menata bantal untuk Sabrina bersandar. 


"Nggak ada yang sakit, tapi perutku sering kram, mungkin karena aku kurang gerak," jawab Sabrina singkat mengambil ponselnya yang ada di nakas.


Sebuah berita heboh lagi-lagi ia lihat di Sosmed. Dan itu sepertinya menjadi trending topik saat ini.


Apa mas Mahesa tahu kalau Camelia terkena kasus pencemaran nama baik. Kasihan dia jika sampai di penjara, terus anaknya gimana, siapa yang merawatnya.


Sabrina meletakkan ponselnya kembali dan meringsuk duduknya mendekati Mahesa.


"Kemarin aku lihat Camelia tampil di tv lo, Mas. Dia sangat cantik." Sabrina melirik ke arah Mahesa. Sabrina mengalihkan pembicaraan.


"Apa hubungannya denganku?" Mahesa nampak cuek, semenjak resmi bercerai, Mahesa tak pernah peduli dengan mantan istrinya.


Sepertinya mas Mahesa memang nggak tahu keadaan Camelia saat ini.Ya Allah, semoga anak Camelia baik baik saja. Dan semoga ia jera dengan kasusnya kali ini.


Mahesa meninggalkan Sabrina membuka pintu kamarnya, di saat itu kebetulan Devan yang belajar berjalan melintas di depan kamarnya. 


"Sayang lihat deh!" Mahesa membuka pintunya lebar-lebar lalu melambaikan tangan nya ke arah Devan. Sedangkan Sabrina turun dari ranjangnya menghampiri Mahesa yang berjongkok di ambang pintu.


"Masya Allah Devan," Sabrina terkejut, ini pertama kalinya ia melihat putra pertamanya itu menapakkan kakinya di lantai. Dan itu kemajuan yang sangat luar biasa.

__ADS_1


Sabrina menitihkan air mata, rasanya masih tak percaya, berjalannya waktu  membuat putranya itu semakin pintar saja. 


"Nda," kata itu mengiringi Devan saat  menghampiri Mahesa, kepalanya terus mendongak ke atas menatap Sabrina yang mematung di belakang suaminya. Menyisihkan Mahesa yang jelas-jelas ada di depannya. 


Sabrina ikut berjongkok di samping Mahesa. 


"Mbak, kapan Devan sudah mulai bisa jalan?" tanya Sabrina, matanya masih fokus dengan Devan yang menyuapinya biskuit. 


"Baru tiga hari yang lalu, Non. Den Devan juga sudah mulai banyak bicara, bisa memanggil Bunda dan sesekali Ayah."


Mahesa  menggendong Devan dan menggandeng tangan Sabrina, keduanya berjalan menuju ruang keluarga, ia ingin dengar sendiri suara Devan bisa memanggilnya seperti yang diucapkan Mbak Inul. 


"Sekarang Devan panggil ayah," ucap Sabrina dengan lembut. 


"Ayo,  panggil Ayah!" pinta Mahesa lagi. Devan yang membuka mulutnya malah sibuk mengunyah cemilan yang baru saja dimasukkan ke dalam mulutnya. 


"Kalau begitu, Bunda," ajar Sabrina. Memancing Devan untuk segera fokus padanya.


"Nda,"  jawab Devan seketika. 


Mahesa merasa iri,  dan mendudukkan Devan di sampingnya. "Silahkan peluk Bunda!" ucap Mahesa sewot.  


Sabrina tersenyum dan terus menunjukkan pada Devan punggung Mahesa  yang ada di depannya. 


"Ayah." Sabrina mencoba membuka mulut tanpa suara, mengajarkan Devan untuk bisa mengucap kata itu. 


Beberapa kali Sabrina mengucap, namun nihil,  Devan masih sibuk dengan jajanan di tangannya,  akhirnya Mahesa memilih pergi meninggalkan Sabrina dan Devan. Laki laki itu menuju kamar dan membaringkan tubuhnya, matanya terus menatap langit-langit kamarnya, namun otaknya traveling. Memikirkan hatinya yang sedikit cemas,  entah, ia berpikir jika Devan balas dendam padanya, karena saat Devan dalam kandungan, sedikit pun Mahesa tak ikut andil mengurusnya. 


Suara ketukan menggema, membuyarkan lamunan Mahesa. Ia mengusap kasar wajahnya dan berusaha berpikir positif. 


"Masuk!" sahut Mahesa, masih bergeming di tempat tanpa ingin bangun. 


"Yah," suara cempreng bersamaan pintu yang terbuka. 


Mahesa tercengang tanpa menoleh, hatinya merasa terenyuh mendengar panggilan itu,  sekujur tubuhnya terasa sejuk bagaikan tersiram air es. 

__ADS_1


Mahesa duduk di tepi ranjang dan merentangkan kedua tangannya ke arah si kecil yang masih berada di ambang pintu. 


Seperti ada sebuah dorongan, Devan melangkah dengan pelan menghampiri Mahesa dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang ayah. 


Akhirnya Mahesa merasakan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya, dipanggil dan di peluk seperti keinginannya. 


Itu adalah pemandangan di sore yang sangat indah, mengalahkan semburat jingga yang terpancar di ujung kulon.


Mahesa mengangkat tubuh Devan dan mendekati Sabrina. Memeluknya dengan erat dan mencium keningnya. 


"Terima kasih untuk semuanya, tanpa kamu, aku bukan siapa-siapa, dan hanya dipandang orang dengan kesuksesan dan harta yang aku miliki. Tapi sekarang aku juga bisa menjadi seorang ayah untuk putraku."


"Assalamualaikum…." Lagi lagi suara yang sangat familiar menembus gendang telinga Mahesa.


Setelah menjawabnya, Mahesa dan Sabrina keluar dari kamarnya menemui Bu Risma dan Pak Yudi yang baru saja tiba. 


Suasana rumah semakin ramai kala Devan menerima beberapa hadiah dari  Bu Risma dan Pak Yudi. Sebagai cucu satu-satunya, mereka sangat memanjakan Devan dengan berbagai fasilitas termasuk menyiapkan mobil khusus untuk bocah itu.


"Kok mainannya banyak banget,  ini mau di jual ya, Bu?" tanya Sabrina seraya membantu Mbak Inul merapikan mainan itu di tempatnya. 


"Ini semua untuk Devan, Sab. Sudah lama dia nggak beli mainan."


"Habis berapa, Ma?" goda Mahesa.


"Gaji kamu satu bulan, dan mama sudah habiskan dalam waktu satu jam."


Sabrina hanya menganga, karena ia tahu perincian uang gaji suaminya setiap bulan. Dan itu melebihi dosis untuk membeli mainan.


Sabrina menoleh menatap Mahesa  dan beralih menatap kamar Devan yang sudah dipenuhi dengan barang barang tersebut. 


"Tapi kan mainannya sudah banyak, Bu.  Apa nggak sebaiknya,__ 


Mahesa melingkarkan tangannya di pinggang Sabrina, menghentikan ucapannya yang hampir keceplosan. 


"Diam, nanti mama marah," bisik Mahesa. 

__ADS_1


"Kamu kayak nggak tau ibu kamu saja, Sab. terima saja!" timpal pak Yudi. 


Sabrina mengangguk, apapun yang ia katakan pasti akan sia-sia saja jika Nyonya besar sudah bertindak lebih dulu. 


__ADS_2