
Sabrina membuka pintu kamar Raisya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, sinar matahari sudah mulai menyeruak di sela-sela tirai. Namun dua bocah cantik itu masih terlelap di balik selimut ditemani dengan beberapa boneka di sampingnya.
Semenjak Arum meninggal, Raisya tinggal di rumah Sabrina karena di rumah merasa kesepian, begitu juga dengan Randu dan David yang kini ikut tinggal di rumah itu.
Sabrina membuka tirai jendela lalu menghampiri ranjang. Menyibak selimut yang menghangatkan tubuh kedua putrinya semalam. Menyingkirkan boneka yang memenuhi ranjang.
"Sayang, ayo bangun!" Sabrina mengusap kening Syakilla dan Raisya bergantian. Bukan hanya mereka, masih ada banyak bayi yang harus diurusnya, termasuk suaminya yang tidur lagi setelah Sholat Subuh.
Raisya menggeliat lalu membuka mata, sedangkan Syakilla malah meringkuk memunggungi bundanya. Seperti biasa, setelah bangun Raisya memeluk Sabrina yang sudah dianggap sebagai pengganti bundanya.
"Bunda, aku lapar."
Sabrina kembali menyelimuti tubuh Syakilla dan membawa Raisya keluar. Itu tujuan utama Sabrina membangunkan Raisya, karena ia tahu jika bocah itu melupakan makan gara-gara sibuk dengan kadonya.
Bersamaan dengan Sabrina yang keluar dari kamarnya, Randu juga turun dari tangga dengan penampilan yang sudah rapi.
"Mas Randu mau kemana?" tanya Sabrina seraya menghentikan langkahnya.
"Hari ini aku mau mulai kerja, Mbak. Nggak enak numpang terus menerus. Makan dan tidur gratis."
Sabrina tersenyum kala suaminya juga keluar dari balik kamar. Pahlawannya datang dengan wajah yang sudah fresh. Tampannya overdosis hingga membuat semua laki-laki iri.
"Jangan dulu, Ndu. Kamu temani Raisya, biar pekerjaan menjadi urusanku, lagi pula di kantor banyak karyawan, dan sekarang aku sudah menyuruh Yeni untuk menggantikan posisi kamu, untuk sementara waktu kamu bisa menenangkan diri," tutur Mahesa.
Mahesa tak sekedar sahabat atau atasan bagi Randu, namun keluarga nyata setelah sang kakek. Randu memutuskan tinggal di rumah Mahesa daripada kakek, menurutnya disana jauh lebih nyaman untuk putra putrinya yang butuh sosok Bunda seperti Sabrina dan Sesil.
Di ruang makan, ada pembicaraan kecil antara Randu dan Mahesa, adapula kecurigaan yang mengendap di dada Sabrina saat suaminya pertama kali menyebut nama wanita yang sangat asing di telinganya.
"Mas, siapa Yeni?" tanya Sabrina tanpa menatap, kedua tangannya sibuk menyuapi Raisya.
"Dulu dia bekerja di bagian HRD, tapi sekarang menjadi asisten. Memangnya kenapa?"
Sabrina hanya diam dan sesekali melirik ke arah Mahesa yang tak peka dengan perubahan wajahnya.
__ADS_1
Randu menggigit roti bakarnya, matanya fokus pada Sabrina dan Mahesa bergantian.
'Sepertinya akan ada peperangan kecil, kenapa Mas Mahesa harus menyuruh Yeni, kan yang kerjanya lebih bagus juga banyak. Kalau sampai mbak Sabrina melihat penampilan Yeni, pasti dia akan melarang keras mas Mahesa dekat dengannya. Takut matanya terhipnotis dengan paha mulusnya,' batin Randu.
Terdengar tangisan David dari kamar. Randu beranjak dari duduknya dan berlari kecil menuju ke kamar.
"Nggak ada apa-apa, aku cuma ingin tahu saja."
"Bunda, aku mau mandi sama Bi Mimi."
Usai makan, Raisya berlari menghampiri Bi Mimi yang ada di dapur. Sabrina menatap punggung Raisya hingga menghilang di balik lemari.
'Meskipun bunda kamu sudah nggak ada lagi, bunda akan menjadikan kamu seperti yang diinginkan, dan kamu akan menjadi perempuan yang sukses,' lirih hati Sabrina.
Ditatapnya dari ambang pintu Devan sedang menggoda bayi kecil itu dengan merebut mainan di tangannya.
"Adiknya di apain?" tanya Randu mendekati kedua bocah yang ada di atas ranjang.
Devan hanya cekikikan dan terus memainkan hidung David setelah memberikan mainannya.
Randu tertawa, Meskipun baru empat tahun Devan sudah berpikir luas, bahkan beberapa kali Devan terus berandai-andai saat dia dewasa nanti.
Sama seperti Randu, Mbak Inul hanya bisa geleng geleng, banyak anak yang ia lihat dan asuh, namun Devan satu satunya bocah yang sering menciptakan tawa dengan tingkah lucunya.
"Iya dong, ayah Randu kan lebih ganteng dari Ayah Mahesa, jadi anaknya juga lebih tampan lah."
Bukan hanya Agung yang sering bicara konyol, Randu pun sering menggoda Devan dan terkadang dari kedua pria itu Devan suka menghayal untuk menjadi idola saat besar nanti.
Mahesa yang baru saja menginjakkan kakinya di depan pintu kamar itu merasa geram mendengar ucapan Randu, bagaimana bisa, dilihat dari tingginya dia lebih unggul, dari hidung dia pun lebih mancung, dari kulit ia lebih putih dan dari harta, ia pun lebih kaya. Tapi dengan seenak jidatnya Randu mengatakan kalau ia lebih ganteng dari dirinya.
Masih menguping, Mahesa diam dan menyandarkan punggungnya di tembok. Memasang telinganya dengan benar untuk bisa menyaring pembicaraan Randu dan Devan.
"Tapi ayah kan lebih pintar dari ayah Randu, buktinya dia jadi bos," bantah Devan seraya memeluk David.
__ADS_1
Ini anak nggak salah kalau dia keturunan Mahesa, gerutu Randu dalam hati.
"Jadi bos bukan karena pintar, tapi karena Ayah Mahesa beruntung saja dilahirkan dari keluarga kaya."
Mahesa membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Randu. Ia merasa tersulut emosi saat Randu terus menyudutkan dirinya di depan putranya.
Sabrina membungkam mulut suaminya, ia takut Mahesa akan mengumpat seperti biasanya.
Dengan perlahan Randu mengangkat tubuh mungil putranya dan membawanya turun dari ranjang. Namun langkahnya harus berhenti saat Mahesa mematung di ambang pintu dengan tangan dilipat, tatapannya tajam dan penuh dengan tanda tanya.
"Mas Mahesa!" seru Randu.
Devan berhamburan memeluk Mahesa. Pria yang dianggapnya jagoan.
"Siapa tadi yang bilang kalau aku lebih tampan dari kamu?" tanya Mahesa dengan nada sinis.
Devan menunjuk wajah Randu, begitu juga sebaliknya.
"Maaf Mas, aku kan cuma bercanda."
Sabrina mengambil alih David dari tangan Randu, lalu mematung di tengah-tengah Mahesa dan Randu.
"Mau sampai kapan kalian berantem seperti ini terus, udah pada tua, malu sama umur dan anak, apalagi kamu, Mas. anak kita sudah empat, jangan seperti anak kecil."
Setiap hari mulut Sabrina harus berbusa karena ngomel, tak hanya Devan yang membuatnya jengkel, namun juga suaminya yang semakin hari semakin manja saja.
Tak adil jika hanya Mahesa yang harus terkena luapan amarahnya, kali ini Sabrina juga menatap lekat wajah Randu, yang dianggap sebagai adik iparnya.
"Kamu juga," Seketika Mahesa menjulurkan lidahnya ke arah Randu. yang sedikit menundukkan kepalanya.
"Sudah jelas Mas Mahesa lebih tampan dan sempurna, pakai ngaku-ngaku segala."
Mahesa merapikan rambutnya, kali ini ia merasa menang di atas segala-galanya karena pembelaan istrinya.
__ADS_1
Diumurnya yang menginjak dua puluh lima tahun, Sabrina harus merangkap dengan tugasnya sebagai istri dan ibu serta saudara bagi Randu.