
Mahesa terus tertawa memeluk dokter yang ada di hadapannya, menepuk nepuk bahunya. Melepasnya lalu mendekati dokter yang satunya lagi, seorang pria yang menunduk dengan tangan saling terpaut. Semua nampak diam hanya suara tangis Arum dan Sesil yang menggema.
"Ini bukan lelucon, Dok."
Lalu memamerkan gigi putihnya lagi, kembali menuju ambang pintu menatap ke arah luar kakinya terasa lentur dan akhirnya Mahesa ambruk, menggunakan lututnya untuk menopang tubuh kekarnya.
Nggak mungkin nggak mungkin.
"Kamu dengar sendiri kan?" Air matanya mulai berlinang, menatap Randu dengan penuh harapan.
"Mereka bilang apa?"
Tak ada kata yang bisa Randu ucapkan, lidahnya kelu, ingin rasanya marah seperti Mahesa, namun itu hanya akan memperkeruh suasana.
Sabrina nggak mungkin meninggal.
Mahesa kembali bangkit lalu melangkahkan kakinya menuju brankar, menarik selimut yang menutupi sekujur tubuh Sabrina. Menggenggam tangannya lalu menciumnya.
"Mereka itu sangat bodoh dan nggak bisa membedakan antara tidur dan mati."
Mahesa mengelus pipi Sabrina lalu menciumnya, membelainya.
Randu menarik lengan dokter yang hampir saja memegang pundak Mahesa, membawanya keluar.
"Mas,"
Seketika Mahesa mendorong tubuh Randu hingga jatuh tersungkur.
"Kalau kamu berani bilang Sabrina meninggal, aku tidak akan memaafkan kamu." Tatapannya setajam busur panah yang siap meluncur, seraya tangan yang menunjuk ke arah Randu. Menegaskan untuk tidak ikut campur.
Mahesa membalikkan badan dan kembali memeluk istrinya yang nampak tenang.
"Sayang, buka mata kamu, biar mereka percaya kalau kamu masih hidup," bisiknya.
Beberapa suster menggeleng dan menunjuk jam yang melingkar di tangannya. Akhirnya Dokter Agung yang bergantian mendekati Mahesa.
"Hes, ikhlaskan Sabrina, mungkin dia lebih senang seperti ini."
Sebuah tonjokan mendarat di perut dokter Agung, pria yang masih memakai jas putih itu meringis dan membungkuk menahan sakit.
"Sabrina masih hidup!" teriak Mahesa, menjambak rambutnya frustasi.
Semua dokter masih dengan kebingungannya dan mereka memilih mematung di antara sudut ruangan.
Terdengar suara dentuman sepatu dan lantai itu mendekat, Mahesa masih dengan posisinya yaitu mematung di samping brankar dan menyusuri pipi Sabrina.
"Hes," Itu adalah suara pak Yudi.
"Papa tahu, lepaskan Sabrina, ikhlaskan dia."
Mahesa hanya menggeleng, matanya masih fokus menatap wajah cantik Sabrina.
"Tidak Pa, Aku tidak akan melepaskan istriku, bagaimana bisa aku hidup tanpa dia."
__ADS_1
Dengan jalan tertatih tatih Bu Risma menyusul lalu memeluk tubuh Mahesa yang sangat terpukul.
"Jangan Seperti ini, kamu harus bisa, mama juga merasa kehilangan, masih ada Devan yang membutuhkanmu."
Mendengar nama Devan, Mahesa menyeka air matanya dan berjalan mundur lalu berlutut di samping brankar.
"Sekali lagi aku mohon, bangunlah! Setidaknya untuk putra kita."
Ya Allah, aku bukanlah orang yang taat pada-Mu, tapi hari ini aku meminta ke Agungan-Mu, kembalikan istriku.
Mahesa mendaratkan kedua telapak tangannya di lantai dan menundukkan kepalanya, rasanya tak sanggup untuk menerima kenyatan yang hadir.
Merasa sangat lama akhirnya suster dan Dokter kembali menutup tubuh Sabrina dan mendorongnya.
Sadar akan hal itu, Mahesa beranjak dan menghalangi brankar yang hampir saja keluar dari ruangan.
"Pasang kembali alat alatnya! Istriku butuh oksigen, dia butuh bernafas, kenapa kalian tega menyakitinya?"
Mahesa mendorong brankar itu kembali masuk dan mengembalikan di tempat semula.
Arum dan Sesil masih saling berpelukan, tak hanya melihat tubuh yang terbujur di atas brankar namun mendengar suara Mahesa membuat keduanya terenyuh.
"Tapi Mas," Mahesa menepis tangan Randu.
"Tidak ada yang bisa memisahkan kami, jika Sabrina meninggal itu artinya aku pun tidak akan ada lagi di dunia ini."
Randu kalah, sedikit pun ia tak bisa menyerang ucapan Mahesa.
Mahesa mengusap air matanya dan tersenyum, dalam hatinya terus mengucapkan syukur yang tak terhitung jumlahnya.
Ini bukan mimpi, ini nyata. Meyakinkan dengan apa yang dilihatnya.
Mahesa melambai lambaikan tangannya ke arah belakang.
"Dokter, lihat istriku masih hidup!"
Mahesa memeriksa denyut nadi Sabrina, dan ternyata benar, apa yang ia lihat itu bukanlah sekedar halusinasi belaka, namun nyata.
Masih tak ada pergerakan, semua orang bagaikan patung pajangan yang mengisi ruangan. Masih menganggap Mahesa frustasi.
"Dokter!" teriak Mahesa, bahkan pria itu menghampiri salah satu dokter dan menarik kerahnya ke arah brankar.
"Periksa sekali lagi! Istriku masih hidup." Menekankan dengan tegas menunjuk air matanya yang masih menghiasi pelipisnya dan mengangkat tangan Sabrina.
"Aku nggak bohong," ucap Mahesa serius.
Dokter yang ada di sampingnya meraih tangan Sabrina dan memeriksanya, betapa terkejutnya saat merasakan denyut nadi yang kembali aktif.
"Suster, pasien masih hidup."
Semua tim medis berhamburan dengan tugas masing-masing.
"Silakan semua tunggu di luar!"
__ADS_1
Berjanjilah sayang, kamu akan bertahan, lirih hati Mahesa sebelum meninggalkan ruangan itu.
Ada senyum yang terukir di sudut bibir Bu Risma dan pak Yudi juga yang lainnya.
Randu mendekati Mahesa dan memberikan sebotol air mineral.
"Aku nggak butuh air, aku hanya butuh Sabrina."
Randu merasa terharu, sebuah kekuatan cinta kembali menyatukan keduanya,
Dan itu sebuah misteri yang tak pernah terpikir oleh naluri.
"Setidaknya sedikit saja, supaya kamu bisa memukul wajah Randu seperti kamu memukulku," celetuk Agung, pria itu masih memegang perutnya. Rasa nyerinya masih menyeruak hingga merambat ke seluruh organ tubuhnya.
Mahesa hanya membisu dan sedikit melirik ke arah sahabatnya yang bersandar di tembok.
Suasana kembali stabil, Mahesa jauh lebih tenang dan tak semarah tadi. Begitu juga dengan yang lain, Bu Yumna pun sudah sadar dari pingsannya dan menghampiri Mahesa.
"Bu, Sabrina Masih hidup, dia masih ada disisi kita, dan sebentar lagi dia akan sadar."
Bu Yumna hanya menganggukkan kepalanya bersamaan dengan pintu yang terbuka lebar.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Alhamdulillah, semua kembali normal, dan pasien sudah bisa dijenguk."
Akhirnya Mahesa bernapas dengan lega, udara kali ini sangat menyejukkan hatinya, tak seperti tadi yang memanas.
"Kau masuk duluan, Ibu yakin Sabrina butuh kamu."
Mahesa merapikan rambutnya dan kemejanya lalu melangkahkan kakinya menuju brankar.
"Kau hampir membuatku gila. Jangan ulangi lagi, karena aku nggak akan sanggup membelah dunia tanpa kamu."
Disaat Mahesa mengelap tangan Sabrina, tiba-tiba saja ada sedikit pergerakan dari jemari wanita itu. Hati Mahesa berdebar kedua kalinya momen yang begitu mengejutkannya.
"Sayang, aku di sini, buka mata kamu!" bisik Mahesa.
Seperti sebuah perintah yang harus di patuhi, perlahan Sabrina membuka matanya lalu membuka mulutnya tanpa suara..
"Apa kamu haus?" tanya Mahesa tanpa ingin memanggil dokter.
Sabrina mengedipkan matanya yang artinya iya.
Mahesa mengambil segelas air yang tersaji dan mengambil sendok lalu menyuapinya.
Kini tetesan air mata bahagia kembali luruh di pipi Mahesa saat Sabrina dengan susah payah menelan air yang masuk ke mulutnya.
Selang beberapa menit, Sabrina menatap lekat wajah tampan Mahesa, tubuh kurusnya masih tak bergerak sedikitpun, namun mata dan lidahnya seolah olah mengajaknya bicara.
"Ka---mu si--apa?"
__ADS_1