
"Mas harus jaga jarak dengan Yeni. Aku percaya Mas tidak akan melebihi batasan, begitu juga dengan Yeni. Tapi setan ada di antara kalian, dan jika lengah sedikit dia akan menghancurkan semuanya, termasuk Iman."
Mahesa memeluk putra-putrinya bergantian dan yang terakhir istri tercinta lalu mencium bayi yang masih ada di dalam kandungannya.
"Kamu tenang saja, hari ini aku akan pindahkan dia."
Setelah mempertimbangkan secara matang, akhirnya Mahesa mengganti posisi wanita itu daripada harus ada drama yang tak diinginkan, apalagi ia juga sudah trauma jika harus ada masalah dengan rumah tangganya.
Sabrina tersenyum mencium punggung tangan suaminya. "Hati hati!" teriak Sabrina seraya melambaikan tangan ke arah Mahesa yang baru saja masuk mobil.
Seperti ucapannya tadi malam. Pagi yang cerah itu Randu mulai menata lembaran baru dengan bekerja kembali. Satu mobil lagi dengan Mahesa bukan hal yang tabu, namun kali ini Mahesa terus menciptakan tawa antara keduanya, memecahkan derajat yang sedikit beda.
"Siap bertemu dengan janda muda?" goda Mahesa.
Randu berdecak, dalam benaknya sedikitpun belum ada niat untuk menikah lagi, apalagi ada dua anak yang harus ia tanggung kebahagiaannya.
"Belum."
"Kenapa? Apa kamu nggak ingin menikah lagi?"
Randu menerbitkan senyum. Nama Arum masih terpahat di dadanya dan tak bisa diganti dengan siapapun. Apalagi sekarang Randu harus berpikir dengan jernih dengan seseorang yang akan mengganti posisi almarhumah istrinya.
"Bukan tidak ingin, sebelum Arum meninggal dia pernah berpesan kalau aku harus mencarikan ibu yang baik untuk anak anak, jadi aku akan menikah dengan perempuan yang memang mau menerima anak anakku," jelas Randu.
Mahesa kembali membuka map yang tadi malam menjadi tanda tanya, rasa penasarannya semakin besar pada gadis yang bernama Aida Safitri. Bukan hanya nama, ternyata hari dan tanggal kelahiran dan tahun keduanya itu sama, dan itu yang membuat Mahesa keukeuh ingin interview wanita itu sendiri. Hanya saja tempat lahir mereka berbeda.
"Kalau menurutmu Sabrina Salsabila dan Aida Safitri itu hanya kebetulan mirip atau mereka memang kembar?" tanya Mahesa serius. Pandangannya terus tertuju pada sosok yang ada di surat lamaran kerja.
Bahkan Mahesa sengaja mensejajarkan foto Sabrina dan poto gadis itu.
Randu hanya mengangkat kedua bahunya, ia pun merasa ada yang ganjil dan ingin segera bertemu wanita itu.
Tiga puluh menit menerobos jalanan yang sangat padat, Randu memarkirkan mobilnya di depan tempat kerjanya, itu adalah sebuah toko sekaligus tempat desain berbagai perhiasan yang di pesan pelanggan yang sekarang menjadi milik Raisya dan David.
Mahesa memakai jasnya sebelum ia turun.
"Ingat, Mas! Meskipun wajahnya sama, dia bukan mbak Sabrina."
Mahesa berdecih menatap sinis Randu yang meremehkan kekuatan cintanya untuk sang istri.
"Siapa tahu saja Mas khilaf dan mengajaknya ke kamar."
Mahesa menoyor jidat Randu yang bicara asal. "Aku masih waras, jadi jangan asal jeplak."
Keduanya turun dari mobil, Randu berjalan sedikit di belakang Mahesa, seperti biasa Mahesa langsung menuju ruangannya.
__ADS_1
Randu menghampiri tiga orang yang ada di ruang tunggu.
"Apa dia belum datang," terka Randu seraya menilik jam yang melingkar di tangannya.
Baru saja memutar tubuh, tiba tiba ada benda keras menghantam dada Randu dengan kerasnya.
Randu memejamkan matanya menahan rasa nyeri yang menyeruak.
"Ma----maaf pak," ucap seorang gadis yang ada di depannya dengan membungkuk.
Randu menatap kepala gadis itu yang bertutup hijab.
"Kalau jalan pakai mata," cetus Randu.
Gadis yang ada di depannya menutup mulutnya dengan hijab seraya cekikikan.
"Dimanapun kalau jalan pakai kaki, Pak. Kalau lihat pakai mata," bantah gadis itu.
Randu berdehem menggaruk alisnya yang tidak gatal.
"Itu maksudku," ralat Randu melempar rasa malu yang sudah hampir menampar wajahnya.
"Ngapain kamu berada di sini, ini ruangan khusus untuk pegawai, bukan sembarang orang bisa masuk sini."
"Saya mau melamar kerja disini, Pak. Kemarin berkasnya sudah saya serahkan katanya hari ini adalah penentuannya."
Randu melongo, jika di foto itu sedikit samar, kali ini Randu sampai tak bisa membedakan antara Sabrina dan gadis itu. Kecuali tahi lalat yang berada di bibir bawah gadis itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Randu.
"Aida Safitri," jawab Randu dan Aida bersamaan.
Aida menunjuk dada Randu dengan jari telunjuk. "Dari mana bapak tahu nama saya?" tanya Aida.
"Dari berkas kamu, saya bos di sini. Sekarang kamu ikut saya!"
Aida menyengir menatap punggung Randu berlalu.
"Jadi dia bos di sini," cicit Aida, menepuk jidatnya menyesali kebodohamnya yang sudah berbicara seenak mulutnya.
Dengan hati yang sedikit ketar-ketir, Aida mengikuti Randu menuju salah satu ruangan, sebelum mengetuk pintu gadis itu merapikan hijabnya.
"Permisi," sapa Aida.
"Masuk!" sahut suara berat dari dalam.
__ADS_1
Aida membuka pintunya perlahan, pertama kali ia menatap pria yang duduk di kursi kebesarannya yang nampak sibuk dengan laptop di depannya, dia adalah Mahesa. Lalu beralih menatap Randu yang membungkuk, sama seperti Mahesa, Randu pun sibuk dengan layar di hadapannya.
"Silahkan duduk!" ucap Mahesa tanpa menatap.
Aida duduk di depan Mahesa, hatinya mendadak panas dingin melihat wajah tampan Mahesa dan Randu yang sama sama tampan.
"Nama ka,___
Ucapan Mahesa berhenti saat ia menatap wajah Aida, sama seperti Randu, tiba tiba saja bibir Mahesa terkunci dan tak bisa mengucap.
"Nama kamu siapa?" lanjut Randu.
"Aida Safitri, Pak." jawab gadis itu singkat.
Mahesa mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia merasa wanita di depannya adalah jelmaan istrinya yang saat ini sibuk dengan anak anak di rumah.
"Sebelumnya kamu pernah kerja dimana?" tanya Randu, meskipun sedikit goyah karena kemiripannya dengan Sabrina, Randu masih profesional.
Mahesa kembali fokus dengan layar laptopnya.
"Belum pernah kerja, Pak. Ini pertama kali saya melamar."
"Apa kamu masih punya orang tua?"
Randu membulatkan matanya menyenggol siku atasannya.
"Dia mau melamar kerja, Mas. Bukan melamar di jadikan istri, kenapa nanya orang tua segala," bisik Randu pelan.
"Apa perlu saya jawab, Pak?" tanya Aida. Ia pun sedikit heran dengan pertanyaan Mahesa yamg menurutnya di luar jangkauan.
"Silahkan! Daripada penasaran lebih baik Mahesa mendengarkannya secara langsung.
"Ibu saya sudah meninggal. Satu tahun yang lalu, awalnya kami punya usaha, karena untuk biaya rumah sakit ibu saya, tempat itu saya jual, dan sekarang saya harus bekerja demi kelangsungan hidup."
"Apa kamu punya saudara?" tanya Mahesa, semakin ke sini ia semakin penasaran dengan penjelasan dan asal usul Aida.
Aida menggeleng, "Saya hidup dengan ibu saya setelah ayah meninggal, kata mereka saya anak tunggal."
Mahesa manggut-manggut.
"Sekarang kamu bisa mulai kerja disini, saya harap kamu mematuhi aturan di sini."
Aida menangkupkan kedua tangannya dan mengucapkan terimakasih, setelah itu ia keluar dari ruangan Mahesa.
"Dia benar benar mirip seperti bunda nya anak anak, apa dia adalah kembaran istriku, mungkin saja ada sesuatu yang tidak diketahui Sabrina di masa kecilnya."
__ADS_1