Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Nasib Aya


__ADS_3

Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, akhirnya nenek Aya yang bernama Aminah itu bisa tersenyum saat membuka mata. Pertama kali yang dilihat adalah Aya yang selalu menemaninya. 


Aya meraih tangan neneknya dan menciumnya. "Nenek cepat sembuh ya,  Aya kangen sama Nenek. Aya janji, setelah ini Aya akan tinggal sama Nenek,  dan aku nggak akan ninggalin nenek lagi."


Nenek Aminah menitihkan air mata, akhirnya di masa tuanya ia kembali tinggal bersama cucunya yang sekian lama menjauh darinya. 


"Jangan bohongi nenek lagi," ucap nenek Aminah lemah, teringat dengan kejadian waktu itu. Aya membohonginya dan kabur dari rumahnya demi bisa ke kota. 


Cici yang dari tadi duduk di sofa ikut mendekat. 


"Kalau Aya kabur lagi, biar Cici yang mengikatnya, Nek."


Nenek Aminah bergelak tawa  saat mendengar ucapan Cici. 


"Ya," Nenek Aminah kembali meraih tangan Aya. 


"Kapan kamu menikah? Umur kamu sudah dua puluh enam tahun, apa kamu belum punya pacar?" tanya Nenek Aminah serius. 


Aya menunduk sejenak lalu menoleh menatap Cici yang ada di sampingnya, masih bingung, mau jujur takut Nenek Aminah marah, kalau bohong, mau sampai kapan Aya menutupinya. 


Aya tersenyum kecil, jika biasanya ia sangat santai menjawabnya, kali ini Aya nampak gusar dengan pertanyaan itu. 


"Nek, jodoh itu datang dari Allah, meskipun aku pacaran lama, kalau dia nggak jodoh pasti juga nggak akan sampai ke jenjang pernikahan. Tapi dimanapun dia berada, kalau jodoh pasti lambat laun akan dipertemukan." Entah dari mana semua itu, yang pastinya Aya merasa itulah jawaban yang tepat untuk neneknya.


"Tapi sampai kapan?" tukas nenek Aminah seraya melengos, jengkel dengan Aya yang tak mau menikah dengan pria pilihannya. 


"Sampai umurku sudah tiga puluh tahun aku akan menikah, kalau aku belum menemukan laki-laki pilihanku, aku akan menikah dengan laki-laki pilihan, Nenek." 


Nenek Aminah terbangun dan duduk lalu merentangkan tangannya. 


"Jika kamu memeluk nenek, itu artinya kamu  sudah berjanji dan tidak akan mengingkarinya lagi."


Terpaksa Aya memeluk nenek Aminah,  meskipun ia belum pasti untuk melabuhkan hatinya pada laki-laki lain, setidaknya dengan begitu nenek Aminah lega.


Maafkan aku, Nek. Dan semoga Allah menjawab doaku selama ini, lirih hati Aya.


"Ci, kamu yang menjadi saksi ucapan Aya ya, kalau nanti dia ingkar kamu ingatkan," tegas nenek Aminah. 

__ADS_1


Cici tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. 


"Baik, Nek."


Cici merapikan baju Nenek Aminah, karena hari itu juga sudah diperbolehkan pulang. Aya merogoh uang yang ada di tasnya, dan itu hanya cukup membayar biaya rumah sakit nenek Aminah. 


Uang bisa dicari, yang penting nenek sembuh dan bisa pulang. 


"Ci, tungguin nenek ya, aku bayar biayanya dulu." 


Aya keluar dari ruangan nenek Aminah menuju ke resepsionis.


"Mbak, saya mau bayar biaya administrasi pasien yang bernama nenek Aminah." 


Salah satu  resepsionis yang bertugas itu menyodorkan selembar kertas di depan Aya, itu adalah surat rincian perawatan nenek Aminah selama seminggu. 


Alhamdulillah


Aya tersenyum lalu mengambil uangnya dan membayarnya. 


Hanya tinggal dua lembar uang  pecahan lima puluh, dan itu lumayan buat makan dua hari bersama nenek Aminah.


"Semoga setelah ini aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,  dan aku akan tinggal bersama nenek. Semangat, Ya. Semua akan indah pada waktunya." Aya hanya bisa menyemangati dirinya sendiri.  Meskipun butuh sandaran, Aya tetap kuat menghadapi kerasnya dunia. 


Aya membuka pintu lalu mendekati nenek Aminah. "Sekarang nenek sudah boleh pulang, dan Aya akan merawat nenek di rumah."


Tak hanya Aya, dan Nenek Aminah, Cici ikut lega mendengar ucapan Aya. 


Dirumah reyot yang jauh dari kata layak itu Aya kini tinggal. Tak ada pilihan lain dan tak mungkin ia seperti dulu, membangkang pada sang nenek. Hati Aya berdenyut nyeri, ia tak bisa membahagiakan nenek seperti keinginannya dulu.


"Andaikan aku bisa bantu Ya, maaf aku sendiri juga kerja serabutan nggak punya gaji."


Aya tertawa lepas seraya membuka pintu rumahnya. "Aku nggak butuh bantuan, Ayana masih bisa hidup tanpa bantuan orang lain."


Nenek Aminah ikut tertawa, ternyata cucunya itu tidak bisa berubah, tetap bangga meskipun susah.


"Masuk dulu, Ci."

__ADS_1


Aya menggandeng tangan nenek Aminah dan membawanya ke kamar, sedangkan Cici meraih kemoceng membersihkan meja yang sudah berdebu. 


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang,  itu waktunya nenek Aminah minum obat, sedangkan di rumah tak ada makanan sedikitpun. Aya keluar meninggalkan sang nenek yang sedang berbaring,  ia menghampiri Cici yang masih merapikan buku. 


"Ci,  aku keluar sebentar, mau beli makanan, kasihan nenek."


"Biar aku saja," sahut Cici.


Aya menyodorkan uang  lima puluh di depan Cici. Namun gadis itu melihatnya tanpa ingin menerima. 


"Aku tahu kalau uangmu habis," ceketuk Cici. 


Aya tersenyum, masih tak menampakkan wajah sedih sedikitpun.


"Kata siapa? Aku masih ada uang, kalau hanya untuk makan sebulan masih cukup." Aya mengalihkan pandangannya, takut kalau Cici melihat kebohongan di matanya.


"Kalau begitu mana uangmu? Aku mau lihat!"  Cici menengadahkan tangannya di depan Aya. 


"Ngapain lihat, nggak usah," jawab Aya ketus. 


Cici menatap nenek Aminah yang memejamkan matanya lalu menarik tangan Ayana menuju dapur. 


"Ya,  aku tahu kamu itu bohong, sekarang kamu di rumah, jaga nenek, biar aku yang beli makanan."


Ayah memeluk Cici, di saat dirinya terpuruk Cici adalah sahabat terbaiknya, 


"Terima kasih, Ci. Aku banyak berhutang sama kamu, dan hanya Allah yang bisa membalasnya." 


"Kamu tenang aja, aku nggak berharap balasan, aku hanya ingin kamu tetap seperti dulu, bisa melewati semuanya." 


Setelah Cici keluar dari rumahnya, Aya mengambil ponselnya dan duduk di ruang tamu yang sempit, baginya waktu adalah uang, dan Aya sudah mulai mencari pekerjaan yang pas untuk dirinya. 


Tak sengaja Aya melihat photo Randu yang belum ia hapus, itu bukan gambar Randu yang sudah sukses, namun itu gambar Randu dengan Mahesa saat masih kuliah. Keduanya masih nampak polos saat merangkul dirinya yang berada di tengah.


"Semoga kamu dan Arum bahgaia, dan aku akan mencari kebahgaianku sendiri, dengan siapapun kita berjodoh, pasti Allah sudah memilihkan jalan yang terbaik untuk kita."


Tak terasa Aya meneteskan air mata yang langsung jatuh di layar ponselnya, berusaha sekuat apapun Aya hanya seorang perempuan yang akan merasakan sakit jika patah hati. Tak hanya photo yang Aya hapus, Aya juga melepas cincin yang pernah di sematkan di jari manisnya.

__ADS_1


Sampai kapan pun, kamu dan Mahesa tetap sahabatku yang paling baik.


__ADS_2