
"Ayah, aku nggak bisa membuat kalimat ini." Devan datang menghampiri Mahesa dengan membawa buku tulis serta perlengkapannya. Terpaksa Mahesa menutup laptop yang ada di depannya.
Baru saja Mahesa meraih buku Devan, nampak dari jauh putri kecilnya itu berjalan ke arahnya.
"Ayah mainanku bajunya lepas?" Syakila merengek dengan dua buah boneka barbie di tangannya.
"Bentar ya, Sayang." Mahesa mengacak rambut putrinya dan membawanya ke dalam pangkuannya.
"Mas, tolong ambilkan handuk! Aku tadi lupa membawanya," teriak Sabrina dari balik kamar mandi.
"Kakak, ayah tinggal sebentar ya, nanti ayah ajarin."
Setibanya di depan pintu kamar si kembar, suara tangis kedua bocah itu menggema dan saling bersahutan.
Mahesa yang masih menggendong Syakila itu berlari kecil menuju lemari mengambilkan handuk untuk Sabrina.
Nampak kepala sang istri menyembul dengan rambut basahnya.
"Kasih hadiah dong." Menunjuk pipinya.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Mahesa. Disaat genting dengan anak-anak masih saja menyelipkan sedikit waktu untuk menggoda istrinya. Setelah itu Mahesa ke kamar Daffa dan Daffi membantu Mbak Inul memasang popok, dua pekerjaan kelar, Mahesa kembali menghampiri Devan yang nampak merengut.
"Mana tadi, Kak?" tanya Mahesa. Satu persatu Mahesa menjelaskan cara membuat sebuah kalimat seperti yang dicontohkan.
Usai memberi penjelasan pada Devan, kini beralih membantu Syakila memakaikan baju. Meskipun di kantor sudah sangat sibuk, Mahesa tetap berperan menjadi ayah yang baik untuk anak anaknya. Menepati sebuah janji pada sang istri, bahwa dirinya tak hanya bisa membuatnya, tapi juga bertanggung jawab penuh atas mereka.
"Ayah, katanya Raisya juga mau punya adik." Devan menutup bukunya beralih duduk di samping Syakila.
"Kata siapa?" tanya Mahesa, seharian penuh ia tak mendapat kabar apapun dari rumah.
"Kata Bunda."
Mahesa mengelus rambut Devan yang mulai gondrong. Masa lalu yang tak akan bisa diulang kembali, hadirnya Devan adalah jalan Mahesa dan Sabrina bersatu. Sebuah ikatan cinta yang hadir tanpa disadari, dan kini sudah tumbuh menjadi cinta yang sejati antara kedua makhluk yang berbeda.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Mahesa yang terus mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Mahesa menatap ke arah Bi Asih yang membuka pintu.
Seorang wanita cantik mematung di sana.
Aida, ngapain dia datang ke sini?
Pak Udin menghampiri Mahesa dengan wajah yang terlihat menahan ketakutan.
"Maaf Den, non Aida memaksa masuk ___"
Mahesa mengangkat tangannya setinggi dada menghentikan ucapan Pak Udin.
"Jaga anak-anak sebentar! Aku akan temui dia."
Baru saja Mahesa beranjak dari duduknya, Sabrina keluar dari kamarnya dengan wajah yang sangat cantik, melahirkan empat anak, nyatanya tak menyurutkan kecantikan wanita tersebut. Apalagi umurnya masih sangat muda dan itu yang membuat Mahesa tak bisa berpaling darinya.
__ADS_1
"Aida," seru Sabrina.
Dadanya tiba tiba saja terasa sesak melihat saudara kembarnya. Buliran air mata jatuh membasahi pipinya, hatinya bercampur aduk, di satu sisi Sabrina rindu dengannya, namun di sisi lain ada kemarahan besar, karena sudah berani mencemarkan nama baik orang tuanya dengan kelakuannya.
Mahesa mendekati Sabrina dan menggenggam tangannya. "Dia tidak akan bisa melakukan apa apa, ada aku." Mahesa meyakinkan Sabrina untuk tetap tenang.
Sabrina mengangguk, memantapkan hatinya untuk menemui saudaranya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Mahesa dengan nada datar.
Dengan jarak tiga meter mereka saling bicara.
Aida diam dan terus menatap Sabrina yang memandang ke arah lain. "Aku ke sini ingin meminta maaf pada kak Sabrina. "
Bagaikan diguyur salju, hati Sabrina terasa sejuk, dengan kata itu saja ia tak sanggup menutupi rasa kangen yang ia pendam.
"Aku tahu, pasti sulit bagi kalian untuk menerima. Tapi aku tidak bisa hidup tenang sebelum bertemu dengan Kak Sabrina."
Aida meremas ujung hijabnya dan menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap mata Mahesa yang menyala memendam amarah kebencian.
"Aku kesini hanya ingin pamit."
"Kamu mau kemana?" sahut Sabrina. "Bukankah rumah yang kamu tempati sudah nyaman?" Sabrina tampak cemas dengan ucapan Aida.
"Mas…" Sabrina menggoyang goyangkan lengan Mahesa, membendung sebuah harapan supaya suaminya itu bisa memecahkan masalah, sebenci apapun dengan Aida, ia tetaplah saudaranya, dan Sabrina tidak bisa membiarkan jika Aida harus pergi jauh lagi darinya.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Mahesa, masih dengan nada yang ketus.
Rasa sabar itu kian menghilang. Sabrina berhamburan memeluk Aida, tak peduli dengan jarak yang diatur suaminya, rasa bahagia nya tak bisa dibendung lagi.
"Kamu akan menikah, kenapa nggak bilang?"
Aida membalas pelukan Sabrina dan menepuk punggungnya yang bergetar.
"Ini aku sudah bilang, dia tinggal di luar kota dan aku akan ikut di rumahnya."
"Seharusnya kamu menikah di sini, biar Mas Mahesa yang menyiapkan semuanya."
"Nggak usah kak, aku nggak mau merepotkan kalian."
Sabrina mengedarkan pandangannya ke arah mobil mewah yang terparkir di depan gerbang. Nampak pria tampan yang duduk dibelakang kemudi.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Sabrina menyelidik.
"Calon suamiku, tadinya aku nggak mau diantar, tapi dia maksa."
Dengan sigap pak Udin membuka pintu gerbang atas permintaan Mahesa.
Mahesa menatap lekat pria yang menurutnya sangat tak asing di matanya.
"Andre…!"
__ADS_1
Aida dan Sabrina terpaku saat Mahesa menyebut nama seseorang yang Sabrina tak kenal.
"Mas Mahesa kenal sama Andre?" tanya Aida.
Mahesa hanya mengangguk kecil.
Kejadian malam itu masih tak terlupakan, meskipun bibir Andre harus berdarah, ia tak menyalahkan Mahesa yang saat itu tersulut emosi.
"Apa kabar?" Andre mengulurkan tangannya.
Hampir lima menit Mahesa baru menerimanya. "Aku lebih baik."
Aida dan Sabrina saling pandang, mereka menangkap sesuatu yang sedikit aneh pada Andre dan Mahesa.
Andre mengalihkan pandangan ke arah Sabrina, lalu menatap Aida.
"Kalian kembar?"
Aida dan Sabrina mengangguk bersamaan.
"Iya, Aida ini adikku." Sabrina merangkul pundak Aida.
"Dia istri kamu?" tanya Andre berusaha mengusir kecanggungannya saat di dekat Mahesa.
"Iya."
"Terus __"
Andre menghentikan ucapannya, ia merasa tak semuanya harus ia tanyakan, apalagi saat ini adalah momen penting bisa berkenalan dengan saudara dari calon istrinya.
"Sayang, kamu masuk duluan, aku mau bicara sama Andre sebentar." Seperti perintah Mahesa, Aida dan Sabrina masuk ke dalam.
Mahesa menarik pergelangan tangan Andre dan membawanya ke samping rumah.
"Ada apa?" tanya Andre.
"Apa kamu serius mau menikah dengan Aida. Dia adalah saudara dari istriku, jangan sampai kau macam-macam sama dia."
Andre menepuk lengan Mahesa dan sedikit mengikis jarak antara keduanya.
"Aku tidak pernah main-main dengan perempuan termasuk Camelia, hanya saja kami tidak cocok."
"Baiklah, aku setuju, tapi jangan sakiti Aida, karena aku nggak mau istriku ikut terluka."
Keduanya kembali bersalaman dan berpelukan.
Silakan mampir ke novel yang menarik juga punya Author Tita Dewahasta.
__ADS_1