
Randu terpaku, ia tak menyangka jika Mahesa akan mengambil langkah yang mempertaruhkan rumah tangganya. Sang asisten terus menggeleng menatap Mahesa yang nampak pasrah. Semburat putus asa nampak jelas menghias wajah Mahesa, namun ia bisa apa, semua sudah terlanjur diucapkan.
Sabrina pun terkejut, langit bagaikan runtuh menimpa kepalanya, ini semua seakan adalah mimpi, apalagi ucapan Mahesa sangat serius dan menyangkut pernikahannya. Pilihan yang sangat sulit bagi Sabrina, hingga ia harus berpikir jernih.
"Tenang, Mas. Aku tahu siapa yang akan dipilih Sabrina," bisik Aya di telinga Randu. Diantara semua yang ada di ruangan itu, hanya Aya yang nampak santai.
Randu menoleh menatap Aya yang menaikkan turunkan alisnya seraya cengar cengir.
Hadiah apa yang harus aku beri padamu kalau sampai tebakanmu benar, Ay.
Aida pun hanya diam menanti jawaban Sabrina, ia sangat percaya diri dengan pilihan sang kakak yang akan memilihnya.
"Aku tanya sekali lagi! Kamu pilih Aida atau aku dan anak-anak?"
Lolos sudah air mata Sabrina, otaknya semrawut seakan memenuhi dan menutup jalan pikirannya.
"Mas, kenapa harus seperti ini sih? Apa nggak ada pilihan lain," ucap Sabrina di sela-sela tangisnya.
Aya semakin yakin dan tidak diragukan lagi dengan apa yang ia terka, meskipun menurutnya jalan yang Mahesa pilih sedikit ekstrim, tapi Aya suka itu.
"Nggak ada Sayang, karena aku nggak mau kamu terus diperalat sama orang yang ingin menghancurkan kebahagiaan kita."
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Sabrina memutuskan untuk memilih, ia menatap Mahesa dan Aida bergantian.
Ya Allah, apapun yang aku pilih semoga ini yang terbaik untuk semuanya, dan aku pasrahkan semua ini kepada Engkau yang Maha Kuasa atas segala-galanya.
Sabrina menarik tangannya dari genggaman Mahesa, lalu beralih menggenggam tangan Aida.
Mahesa menggeleng, hatinya bergemuruh dan ingin meraih tangan Sabrina kembali. Akan tetapi itu tak dapat ia lakukan demi harga dirinya, dan Akhirnya Mahesa menggenggam tangannya sendiri.
"Sampai kapanpun kita adalah saudara, Tapi,__ ucapan Sabrina mengambang, dan tiba tiba saja Sabrina mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi Aida. Itu adalah simbol kemarahannya atas pengkhianatan sang adik.
Aida mengelus pipinya yang memerah, ia masih belum mengerti dengan maksud Sabrina yang menamparnya. Bukankah Sabrina membelanya? Itu pikirnya.
"Aku tidak bisa memilihmu,"
__ADS_1
Mata Mahesa berkaca, apa yang baru saja didengarnya itu adalah sebuah tanda di mana cinta yg sudah di bangun kokoh tidak akan bisa runtuh meskipun badai menerpa.
Alhamdulillah ya Allah, istriku memang yang terbaik diantara perempuan yang Engkau ciptakan di akhir Zaman.
Tak hanya Mahesa yang terharu, Randu pun ikut merasa bahagia, akhirnya semua bisa dikupas tuntas tanpa kesulitan.
"Selama ini aku sangat menyayangimu. Tapi apa yang kamu lakukan, kamu menusukku dari belakang. Kamu tak hanya merendahkan diri kamu sendiri, tapi kamu juga sudah mempermalukan orang tua kita. Seharusnya anak perempuan itu bisa menjunjung tinggi martabat orang tua meskipun sudah meninggal, tapi apa, justru dengan kelakuanmu seperti ini, mereka sangat tersiksa.
Aida terus menggeleng, kini tak ada yang bisa ia lakukan selain mendengarkan ceramah dari Sabrina.
"Sekarang kamu pergi dari sini! Aku tidak sudi punya saudara yang ingin menghancurkan hidupku."
Dengan wajah yang kesal Aida beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamarnya.
Saat punggung Aida menghilang di balik tangga, tangis Sabrina pecah, air matanya tumpah ruah membasahi pipinya.
Mahesa membawa Sabrina ke dalam dekapannya, ia tahu apa yang dirasakan Sabrina saat ini, pasti sangat sakit, hatinya bak dihujam seribu pedang.
"Mas atas nama adikku, aku minta maaf," ucap Sabrina di sela-sela tangisnya.
"Sudah, nggak perlu dibahas lagi, yang penting kamu tahu, meskipun satu rahim belum tentu hatinya sama, meskipun seseorang menutup aurat dengan rapat, belum tentu juga hatinya selembut sutra. Jadikan ini pelajaran, dimanapun kamu berada, harus tahu seluk beluk seseorang yang ada di dekatmu."
"Bagaimanapun juga Aida adalah adikku, apa aku boleh minta tolong?"
"Katakan saja! Asalkan kamu tidak menyuruhku menikahi dia, karena aku tidak bisa."
Disaat suasana masih genting, Mahesa sudah memulai bercanda.
Sabrina menepuk lengan Mahesa. "Aku ingin mas terus memantau Aida, jangan sampai dia salah jalan, dan aku nggak mau apa yang di lakukan padaku itu dilakukan pada orang lain."
Mahesa mengangguk lalu merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. Sesuai dengan permintaan istrinya, Mahesa mengerahkan anak buahnya untuk tetap bisa mengawasi Aida dari jauh.
Aya geram. Wanita itu mencengkram paha Randu yang duduk di sampingnya.
"Sakit Ay," keluh Randu.
__ADS_1
"Kamu kenapa, sih?" imbuhnya.
"Aku juga ikut terbawa emosi, seharusnya tadi aku yang menampar Aida, biar Sabrina nggak usah mengotori tangannya."
Sabrina beranjak lalu berhamburan memeluk Aya. Ia bersyukur masih dikelilingi orang yang baik seperti sahabat suaminya itu.
"Jadi setiap hari mbak ke sini hanya untuk melindungiku?" tanya Sabrina dengan polosnya.
"Bukan," jawab Aya singkat.
"Lalu?" tanya Sabrina penasaran.
"Aku juga mau perhatian suami kamu, siapa tahu aku di jadikan istri kedua."
Mahesa dan Randu menahan tawa saat mendengar ucapan Aya.
"Kamu nggak pantes lembut Ay, yang ada semut ikut tertawa melihat kamu."
Semua hanya bergelak tawa termasuk Sabrina.
Aya mengeluarkan ponsel dari saku tasnya.
"Bi, semua bukti kejahatan Aida ada disini. Silahkan kamu lihat!"
Sabrina menatap layar ponsel yang mulai memutar sebuah video yang berdurasi lima belas menit. Aida sedang menghancurkan foto pengantinnya, lalu menciumi foto Mahesa yang tertinggal. Setelah itu Sabrina mematikannya, ia tak sanggup jika harus melihat yang lebih pasti hatinya akan semakin hancur berkeping-keping. Baginya itu sangat menjijikkan dan tak patut ditiru.
Aida turun dari tangga membawa tas besar dan koper, sebenarnya Sabrina masih tak tega melihat adiknya harus berjuang sendiri di luar sana, namun ada seseorang yang harus ia jaga kehormatannya. Dan itu lebih penting dari apapun.
"Kamu tenang saja, di depan sudah ada mobil yang menjemputnya, dan dia tidak akan tahu kalau rumah yang nanti ia tinggali adalah rumahku.
Sabrina tak tahu, harus dengan cara apalagi ia mengucapkan terimakasih atas apa yang dilakukan suaminya, akhirnya ia mencium pipi Mahesa dengan kerudungnya sebagai satir supaya Randu dan Aya tak melihat adegan itu.
"Ndu, Ay, sekarang kalian jemput anak anak!" titah Mahesa.
Aya hanya berdecih, karena ia tahu otak mesum Mahesa yang akan menggunakan kesempatan itu untuk bermesraan dengan Sabrina, apalagi kejadian Aida sangat menguras emosinya, dan inilah saatnya pelampiasan hasratnya.
__ADS_1
Setelah punggung Randu dan Aya berlalu, Mahesa mengelus perut Sabrina yang mulai membuncit. Merabanya hingga membuat Sabrina geli.
"Sepertinya si kembar minta ditengokin, kita ke kamar yuk!" ajak Mahesa.