
"Apa, Arum jatuh di kamar mandi?" Sabrina menjatuhkan ponsel di tangannya lalu ambruk di lantai. Seketika perutnya terasa nyeri saat mendengar ucapan bi Nori lewat sambungan telepon. Jantungnya seakan berhenti berdetak, kedua tangannya mencengkeram sprei, air matanya terus jatuh bercucuran membasahi pipi.
Bi Mimi dan Bi Asih masuk tanpa permisi menghampiri Sabrina dan membawanya ke atas ranjang. Mereka mendapat telepon dari Mahesa yang ada dalam perjalanan pulang untuk menemani Sabrina, karena ia tahu pasti Sabrina sok mendengar berita yang tak terduga di pagi hari itu.
Sabrina terisak, ingin rasanya ia berlari memeluk sang sahabat, namun apa daya tubuhnya terasa lemas tak berdaya.
"Aku mau menemui Arum." Sabrina merengek, menggoyang goyangkan lengan Bi Mimi yang memeluknya, sedangkan Bi Asih mengambilkan air putih untuk Sabrina.
"Sebentar lagi Den Mahesa pulang, Non yang sabar, pasti non Arum baik baik saja." Bi Mimi terus mengelus kepala Sabrina yang tertutup hijab, menenangkannya untuk tidak histeris.
"Tapi dia butuh aku, Bi. Aku nggak mau di sini, sedangkan Arum harus kesakitan," ucap Sabrina di sela-sela tangisnya, bahkan Sabrina menepis gelas dari bi Asih hingga jatuh dan pecah.
Bi Asih ikut memeluk Sabrina dari belakang. "Kita berdoa saja, semoga Non Arum dan bayinya baik-baik saja."
Sabrina mendaratkan kepalanya di pangkuan Bi Asih. Benar apa kata mereka, jika ia runtuh siapa yang akan menjadi penyemangat Arum nantinya.
Selang beberapa menit, akhirnya pintu kamar terbuka, dengan nafas ngos-ngosan Mahesa menghampiri Sabrina yang masih sesenggukan.
Bi Asih dan Bi Mimi turun dari ranjang memberikan ruang Mahesa untuk memeluk sang istri.
"Mas, bagaimana keadaan Arum?" tanya Sabrina.
Mahesa mensuplai oksigen dari rongga hidungnya yang hampir habis. Mendengar suara Randu pun ia tak kuat, apalagi Sabrina.
"Aku juga belum tahu, tapi kabar yang terakhir Arum harus operasi demi menyelamatkan bayinya."
Getaran punggung Sabrina semakin hebat, dadanya semakin sesak, ia tak sanggup lagi untuk menahan tubuhnya yang semakin melemah.
Ya Allah, selamatkan Arum dan bayinya, jangan ambil dia dengan cara seperti ini. Biarkan dia merawat anaknya seperti janji kita bertiga.
Beberapa tahun yang lalu.
Angin malam yang dingin ditemani dengan bulan sabit, beberapa bintang bertaburan menghiasi taman. Tiga gadis itu tertawa lepas setelah tadi siang melepas seragam abu-abu mereka.
"Tak kuliah tak apa, yang penting menjadi ibu rumah tangga sukses," celetuk gadis yang berkerudung berwarna hitam dengan baju putih itu, dia adalah Arum yang sudah membawa ijazahnya untuk melamar kerja besok.
"Kalau wanita karir bisa sukses, aku mah sempat dengar, lalu bagaimana ibu rumah tangga yang sukses?" tanya Sesil yang belum paham akan pernikahan. Bahkan ia belum perpikir ke sana.
Sabrina yang duduk di samping Arum hanya tersenyum. Ia tak mau berkomentar apapun dengan kelanjutan hidupnya.
__ADS_1
"Ibu rumah tangga yang sukses itu bisa memberikan apapun yang suami kita mau, termasuk anak dan kasih sayang juga kesetiaan. Dan yang paling penting kita bisa menemaninya disaat suka maupun duka sampai tua. Bukankah begitu, Sabrina?"
"Mungkin, karena aku juga belum tahu, nanti aku tanya Ibu."
Arum berdecak, itu jawaban yang tak asyik baginya.
"Semoga kita bertiga bisa menjadi ibu rumah tangga seperti yang kita harapkan," imbuhnya. Setelah mengucapkan Aamiin, ketiganya berpelukan.
Dalam perjalanan, Sabrina tak henti-hentinya meneteskan air mata, kenangan di masa lalu yang sangat indah seku terkuak terus melintasi otaknya.
"Aku mengerti, bagaimana perasaan kamu, tapi ini adalah takdir Allah, dan kita hanya bisa menerimanya," ucap Mahesa dengan suara lirih.
Mahesa menghembuskan napasnya, tangannya terus menggenggam jemari Sabrina memberikan sedikit kekuatan untuk bisa bertahan.
Mobil yang ditumpangi Mahesa dan Sabrina berhenti di depan salah satu rumah sakit ternama. Sebelum turun Mahesa menangkup kedua pipi Sabrina.
"Apapun yang terjadi, itu sudah kehendak Allah, jadi jangan pernah salahkan diri kamu sendiri dengan musibah ini."
Sabrina mengangguk, meskipun dalam benaknya merasa tersayat, ia juga harus memikirkan kondisi janinnya.
Didepan ruangan ICU, Randu terus nenatap pintu ruangan yang tertutup rapat. Dalam hatinya terus melantunkan doa untuk sang istri dan bayinya. Sesekali Randu mengusap air matanya yang beberapa kali lolos membasahi pipinya.
"Harusnya aku tidak membiarkannya di kamar mandi sendirian, Gung. Aku yang salah."
"Tidak ada yang salah," sahut Mahesa yang baru saja tiba.
Mahesa menghampiri Randu dan memeluknya, sementara Sesil menghampiri Sabrina.
"Anggap saja Arum melahirkan secara normal," lanjutnya.
Waktu yang cukup lama bagi Randu, ia kembali mengintip di balik pintu kaca yang transparan, dan masih seperti tadi, para tim medis berlalu lalang mengerumuni tubuh Arum yang berbaring di brankar.
Hingga beberapa menit berlalu, suara tangisan bayi itu menggema menembus gendang telinga Randu.
"Itu suara bayiku, Mas." Randu terhenyak dari duduknya lalu memegang kedua tangan Mahesa.
"Alhamdulillah, akhirnya bayiku selamat," Seketika Randu merangkul Mahesa, ia bisa bernafas dengan lega. Setidaknya satu harapannya terkabul.
Tak kalah dari Randu, Sabrina dan Sesil ikut meluapkan bahagianya.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, Randu berhamburan menghampiri salah satu dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?" tanya Randu antusias.
"Alhamdulillah, putri mas baik baik saja, hanya saja dia butuh perawatan yang intensif karena lahir secara prematur."
"Lalu bagaimana dengan istri saya?"
Pintu kembali terbuka, seorang suster menggendong bayi cantik dengan berat badan dua kilo gram.
"Ini putri, Mas. Silahkan di Adzani!"
Seketika Randu berlari ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, meskipun hatinya masih gelisah dengan keadaan Arum yang belum diketahui, kini di depannya ada sang putri yang membutuhkan dirinya.
Randu berlari kecil menghampiri suster itu dalam keadaan suci, lalu mengambil alih putrinya. "Kamu sangat cantik seperti bunda," cicit Randu seraya membelai pipi putrinya
Randu mendekatkan bibirnya di telinga bayi mungil itu lalu melantunkan Adzan dengan merdu.
Sabrina mendekati Randu. Ia merasa terharu dengan pria itu. Asisten suaminya yang kini menjadi seorang ayah.
"Siapa namanya, Mas?" tanya Sabrina.
Randu mengingat deretan nama yang di inginkan istrinya tempo hari.
"Raisya Laksana Putri, itu yang diinginkan Arum, Mbak."
"Nama yang cantik, dan aku yakin dia akan seperti bundanya, Sholehah."
Semua menjawab serempak. Mengamini ucapan Sabrina.
Setelah menyerahkan bayinya pada suster, Randu kembali menghampiri dokter yang masih mematung di depan pintu dengan kedua tangan saling terpaut.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya? tanya Randu antusias, dadanya terus berdegup dengan kencang saat melihat wajah sang dokter yang sedikit suram.
Jeng jeng jeng
silakan mampir juga ini punya Kak Kisss
__ADS_1