
Aya dan Randu menjenguk Sabrina di rumah sakit hanya satu jam. Setelah itu keduanya langsung pulang. Mereka saling membisu, acara makan Sukiyaki di restoran jepang gagal. Perut Aya sudah penuh dengan tanda tanya dari Randu. Jika diingat-ingat dirinya sangat tak berarti di mata Randu, sedikitpun tak ada bedanya sebelum menikah atau sudah.
Randu turun dari mobil, berjalan lenggang masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Raisya yang masih tertidur di jok belakang.
"Dasar tu aki-aki, maunya apa sih, anak sendiri diabaikan, awas kamu ya, jangan panggil aku Aya kalau nggak bisa menaklukan kamu," ucap Aya kesal sembari menatap punggung Randu berlalu.
Jika sebelum menikah Aya memilih untuk menghindar, tidak untuk sekarang, ia harus membuat Randu luluh lantah dengan cintanya.
Aya membuka kaca mobilnya tanpa keluar, melambaikan tangan ke arah supir yang berada di garasi.
"Ada apa, Non?"
"Pak, bawa Raisya masuk ke kamarnya, ayahnya lagi kumat. Setelah itu bapak kunci pintunya dari luar, jangan sampai ada yang datang."
Pak Didin membantu Aya membuka pintu mobil lalu mengangkat tubuh mungil Raisya. Siap menjalankan perintahnya.
Di ruang tengah, Randu menghempaskan tubuhnya dan menatap layar ponsel yang ada di tangannya, sedangkan Aya melewatinya begitu saja tanpa permisi, wajahnya tampak datar mengalahkan Randu.
"Bibi tolong jaga Raisya dan David," teriak Aya.
Bi Nori melepas pekerjaannya dan berlari mengikuti langkah Aya menuju kamar Raisya.
"Non, mau ke mana?" tanya Bi Nori.
"Mau keluar sebentar, Bi. Ada yang perlu dikasih pelajaran biar kapok, kalau perlu di oles sambal biar lidahnya lemes."
"Siapa, Non?" tanya Bi Nori antusias.
"Ayahnya anak-anak, masa dari tadi aku di diemin, kan nggak enak, Bi."
Bi Nori mengangkat kedua jempolnya. Siap mendukung Aya dari belakang.
Itulah Aya, ia nggak mau pakai drama nangis atau tutur lembut, dalam sejarah hidupnya masalah tidak akan selesai kalau hanya dipendam saja, harus diuraikan segera supaya tidak larut.
Sebelum keluar dari kamar, Aya melepas hijabnya, membuka kancing bagian atas dan menampakkan dadanya yang sangat putih.
Dengan langkah lebarnya Aya menghampiri Randu. Meraih ponsel yang ada di tangan suaminya dan meletakkannya di atas meja.
Randu menelan ludahnya dengan susah payah, melihat penampilan Aya yang sangat aduhai.
__ADS_1
Ia mengusir rasa gundahnya yang sudah mulai tergoda. Egonya harus menang.
"Mas kita harus bicara?"
Randu masih diam dan mengambil kembali benda pipihnya.
Aya berdecak lalu berkacak pinggang. Kembali meraih ponsel Randu dan meletakkan di dadanya, tepatnya di tengah-tengah dua gunung kembarnya.
"Berani ambil aku bayar."
Randu diam dan menunduk. Saat ini dia lagi marah, nggak mungkin mau menyentuh sesuatu yang sensitif, apalagi bagian itu yang membuatnya candu.
Aya tersenyum renyah, ia merasa memenangkan peperangan itu.
"Nol satu. Sekarang katakan! Kenapa dari tadi kamu diam?"
Randu berdiri tepat di depan Aya. Matanya menatap ke bawah di mana benda pipihnya itu nampak bagian atasnya.
Jangan tergoda Ndu, Aya sudah membuat kamu kecewa. Masa kamu kalah sama istri kamu si. Menggerutu dalam hati.
"Apa maksud kamu minum pil kb?" tanya Randu dengan nada datar.
Aya maju satu langkah mengikis jarak antara keduanya. Randu tak diam saja, Ia pun mundur satu langkah demi menghindari sesuatu yang membuat bagian bawah itu menegak, hingga kakinya menabrak sofa yang ada di belakangnya.
Skak
Randu tak bisa menghindar dari Aya yang terlalu cerdik.
"Ternyata itu yang membuat kamu diam kayak orang bisu, bahkan kamu tidak membelikan aku sukiyaki, dan mengabaikan aku saat masuk lift, tak membantuku keluar mobil, oke."
Ucapan Aya tak begitu lantang dan membentak, namun menusuk ke jantung hati Randu.
"Aku memang minum pil kb, tapi semua itu ada alasannya, Mas. Satu yang perlu kamu tahu, aku tidak bisa mengasuh tiga anak sekaligus, meskipun kamu bisa membayar seorang baby sitter, aku tetap tidak bisa. Yang kedua, David masih sangat kecil, dia membutuhkan kasih sayang seorang ibu, dan aku nggak mau terlena dengan anak kandungku sendiri. Dan yang ketiga, aku ingin menikmati masa pengantinku, kalau kamu memang nggak setuju, seharusnya kamu bilang, nggak diam seperti anak kecil yang kehilangan mainannya." Aya merasa lega, ia sudah meluapkan uneg-uneg yang dari tadi menyesakkan dadanya.
Randu diam, ia meresapi setiap inci kalimat yang diucapkan istrinya, selama ini pemikirannya tak seluas Aya dan itu yang membuat dirinya salah jalur. Tapi Randu masih ada alasan untuk membela diri.
"Kenapa kamu tidak izin dulu, seharusnya semuanya itu dibicarakan dengan suami," bantah Randu dengan suata pelan.
"Pil kb itu ada di laci, Mas. Dan aku pikir kamu sudah tahu. Setiap aku mau tidur selalu meminumnya, kamu juga lihat kan kalau aku tidak pernah menutupinya dari kamu."
__ADS_1
Randu mengingat-ingat semuanya, dan ternyata benar, setiap sebelum tidur ia selalu melihat Aya meminum pil itu yang ia kira vitamin.
"Sekarang diresapi, dipahami dan diingat, kalau nggak setuju ke kamar, bilang ke aku. Kalau masih nggak mau bicara, oke aku akan tidur di kamar Raisya."
Aya mengambil ponsel Randu dan meletakkannya di saku kemeja suaminya. Meninggalkannya tanpa pamit.
Aya menutup pintu kamarnya dengan keras, menandakan kalau saat ini ia juga bisa marah dan tak hanya bisa mendapat pelampiasan saja.
Randu hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Aya tak bersalah, hanya saja ia yang terbawa suasana dan mengira Aya tak mau mengandung anaknya, ternyata niat Aya jauh dari terkaannya yang berbelok.
"Aku harus minta maaf, aku sudah mengabaikannya dari pagi."
Randu mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telepon.
"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang wanita dari seberang sana.
"Kamu bilang sama Chef Junia, suruh datang ke rumahku, istriku ingin makan sukiyaki. Sekarang juga!"
Tanpa menunggu jawaban, Randu menutup teleponnya lalu berlari menuju kamarnya.
"Beb, buka pintunya!" teriak Randu.
Aya yang sedang menyisir rambut hanya cekikikan. Dengan sengaja ia tak menggubris Randu yang sudah menggedor-gedor pintu dari luar.
Sudah hampir lima belas menit kuping Aya terasa panas. Randu tak lelah juga malah suaranya semakin keras. Terpaksa Aya membukanya selebar wajahnya.
"Ada apa?" tanya Aya ketus.
Tanpa aba-aba, Randu mendorong pintu nya hingga terbuka lebar dan memeluk Aya dengan erat.
"Aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Randu tanpa melepaskan pekukannya.
Aku nggak tahu kenapa bisa jatuh cinta sama orang seperti kamu, Mas. Padahal kamu sering ngeselin, emosian, nggak peka.
Aya kesal, tapi ia tidak bisa marah sama Randu yang sering membuatnya naik darah.
Yang suka bengek silakan mampir Author Muh Iqram Ridwan
__ADS_1