
Ruas ruas jalan nampak begitu indah dilengkapi dengan lampu penerang. Begitu juga dengan hati Camelia, sekian lama berkutat dengan hobi masing-masing kini ia bisa berkumpul lagi bersama sahabatnya, Ia adalah Aya.
"Dari mana kamu tahu alamat rumah mas Mahesa?"
Camelia terus mengajukan pertanyaan, apa lagi Aya sekalipun tak pernah menelpon dan tiba-tiba saja datang ke rumah.
"Dari Randu, sekarang dia kan pacarku."
Aya memamerkan statusnya yang entah apa. Yang pastinya hatinya selalu berdebar-debar saat berada didekat pria itu.
"Kapan kalian jadian?" heran.
Camelia kembali memakai lipstiknya yang menurutnya kurang tebal, lalu menyempurnakan bedaknya dan merapikan rambutnya.
"Tadi siang," jawab Aya seraya membelokkan setirnya.
Melihat perjuangannya di jaman dulu, tak asing bagi Camelia jika Aya mendapatkan Randu.
"Restoran, roman-romannya mau merayakan hari jadi," celetuk Camelia.
Keduanya tertawa terbahak bahak sebelum keluar.
Dengan langkah gontainya Camelia dan Aya memasuki tempat yang sudah diramaikan para pengunjung. Dengan kehamilannya yang sudah membesar Camelia itu menyangganya dari bawah, rasanya sangat mengganjal dan tak bisa bebas selayaknya Aya yang kesana kemari tanpa beban.
"Sudah berapa bulan?"
"Masuk ke tujuh, sebentar lagi kamu akan dipanggil onty."
Aya duduk di samping Camelia dan mendengus, disaat sahabatnya sudah hampir mempunyai anak, dirinya masih sibuk dengan pekerjaan.
Hening, keduanya menunggu makanan yang dipesan seraya mengamati pengunjung yang lain. Namun tidak untuk di belakangnya yang saling beradu punggung.
"Itu anak kamu saat kejadian malam itu?"
Aya menyungutkan kepalanya ke arah perut Camelia lalu menatap wajahnya dengan lekat, memulai misinya.
Camelia menggeleng tanpa suara. Bibirnya enggan untuk terbuka mengingat kejadian malam yang sudah silam.
"Lalu?" tanya Aya menyelidik.
"Ini anak Mas Mahesa, tapi kami melakukannya setelah menikah," jawabnya sedikit ragu, bahkan wajah nya yang tadi ceria berubah sedikit suram.
"Berarti anunya Mahesa kurang tokcer malam itu, padahal kamu kan sudah memberikan obat yang melebihi dosis."
Aya memulai basa basi dengan pembicaraanya. Namun itu menciptakan tawa kecil di balik penyamaran Randu, tidak untuk Mahesa yang hanya bisa diam.
Camelia mendaratkan jari telunjuknya di bibirnya, berharap Aya diam.
"Tapi aku penasaran dengan malam itu?" bisik Aya, mendekatkan kursinya hingga keduanya tak ada jarak.
Aya adalah sahabatku, nggak apa apa aku cerita ke dia tentang malam itu.
"Malam itu aku gagal," ucap Camelia berbisik.
__ADS_1
"Kok bisa?" ucap Aya lantang.
Seketika Camelia menarik lengan Aya dan keduanya kembali mendekat.
"Aku juga nggak tahu, saat aku datang ke apartemen mas Mahesa, tiba-tiba saja sudah ada perempuan lain, dan aku kaget saat aku melihat mas Mahesa sudah melakukan itu dengannya."
Tak hanya Aya yang bermain dengan jantung dan hatinya, namun pria yang memakai baju hitam yang ada di belakang Camelia itu terbakar emosi.
"Kamu lihat mereka,___
Aya memperagakan adegan dengan kedua tangannya.
Camelia menggeleng.
"Sudah selesai, mas Mahesa sudah ambruk di samping perempuan itu, dia terlihat puas dengan gadis di sampingnya."
"Lalu, apa yang kamu lakukan selanjutnya?"
Aya melirik ke arah belakang Camelia, di mana Randu yang sedang mengangkat kedua jempolnya.
"Terpaksa aku masuk untuk memakaikan baju. Aku tarik perempuan itu, berharap dia pergi, tapi ternyata dia pingsan."
"Apa?!"
Jangan bilang kalau itu Sabrina, lirih hati Mahesa.
"Iya, aku lihat ada memar di jidatnya, dan aku rasa dia tidak tahu apa yang dilakukan mas Mahesa. Aku bawa dia pergi dari apartemen dan aku yang menggantikan posisinya."
Hampir saja Mahesa Menggebrak meja, Randu segera meraih tangannya yang mengepal lalu menggenggamnya.
Suasana restaurant semakin ramai, pengunjung kembali berdatangan semakin membuat Mahesa dan Randu aman.
"Siapa dia? Apa kamu mengenalnya?"
Camelia mengangguk dan itu langsung tertangkap oleh Mahesa yang sedikit menoleh. Detik-detik itulah yang di tunggu seorang Mahesa Rahardjo, untuk sebuah fakta.
Camelia mengedarkan pandangannya ke arah lain lalu lebih mendekatkan kepalanya ke arah telinga Aya.
"Sabrina, istri pertama mas Mahesa," bisiknya.
Mahesa yang ada di belakang Camelia masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Seketika tubuhnya terasa lemas tak berdaya, tulang-tulangnya terasa lentur, hanya matanya yang membulat sempurna. Hati dan pikirannya bertolak belakang antara percaya dan tidak. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk yang melanda.
Mahesa Hanya bisa beristighfar dalam hati.
Ya Allah, jadi orang yang aku setubuhi malam itu adalah Sabrina, itu artinya Devan adalah putraku, dan orang yang aku sia-siakan selama ini adalah perempuan yang sudah mengandung anakku.
Sebagai seorang laki laki Mahesa tetap rapuh saat dihadapkan dengan kenyataan yang amat pahit. Pria itu terus menumpahkan air matanya, bayangan semu terus melintas, apalagi Mahesa selalu teringat dengan ucapan Sabrina, bahwa ia tak akan memaafkan orang yang sudah menodai nya.
Bagaimana jika dia tahu kalau aku pelakunya, apakah dia juga tidak akan memaafkanku?
Nyalinya menciut dan tak ingin menceritakan itu semma.
__ADS_1
Aya masih menatap Randu yang terus tersenyum ke arahnya.
"Apa kamu tahu bagaimana Mahesa bisa bersama perempuan itu?"
Camelia mengangkat kedua bahunya.
"Nggak ada yang bisa aku tanya, Supir Taksi sudah pergi dari sana, dan aku pun tidak mau melibatkan orang lain dalam masalah ini."
Camelia menerima suguhan yang baru saja datang, berbagai makanan favorit siap untuk dieksekusi.
"Kamu yakin itu anak Mahesa?"
"Yakin," jawabnya, mulai memegang garpu dan sendok.
"Bukan dari laki laki lain?"
"Kamu itu lama lama seperti reporter saja. Ini anak mas Mahesa, bukan anak Andre."
Camelia sangat yakin dengan itu.
Mahesa mengusap air matanya lalu merapikan kaca mata nya serta topinya, tanpa kata pria itu keluar dari pintu belakang tanpa harus melewati Aya dan Camelia, begitu juga dengan Randu yang mengikutinya dari belakang.
Aya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal saat melihat punggung Randu menghilang.
"Aku keluar sebentar," pamit Aya meletakkan tas dan ponselnya di samping Camelia.
Tak ada sedikitpun rasa curiga, Camelia malah terlihat biasa saja saat menatap Aya yang tiba tiba saja keluar dari restoran.
Aya menghampiri Randu yang masih mematung di samping mobil, sedangkan Mahesa sudah duduk manis di jok belakang.
"Terima kasih."
Randu meraih tubuh Aya dan memeluknya. Memegang pundaknya yang terekspos.
"Besok kalau pakai baju lebih tertutup lagi, aku nggak mau Randu punya pacar yang terlalu seksi," sahut Mahesa yang sedikit melirik ke arah Aya.
Siapa yang pacaran siapa yang memilih.
Randu hanya memberi kode dengan anggukan kepalanya, supaya Aya menyetujui titah Mahesa.
"Iya, mulai besok aku akan memakai baju kurung," ucap Aya sewot.
"Aku pulang dulu, kamu temani Camelia sampai dia kenyang."
Aya melambaikan tangannya saat Randu sudah mulai menancap gasnya.
"Hati hati!" teriak Aya.
Randu hanya tersenyum tipis sebelum menutup kaca mobilnya.
Setelah menerobos jalanan yang gelap, Mahesa membuka matanya dan menatap wajah Randu dari pantulan spion.
''Jangan bilang pada siapapun tentang ini, aku belum siap kehilangan Sabrina dan Devan," ucapnya pelan.
__ADS_1
Randu hanya menanggapi dengan anggukan kepalanya.