
Diatas ranjang itu, Mahesa menggeliat saat sayup sayup mendengar suara Adzan. Entah jam berapa ia tidur, yang pastinya menjaga permaisurinya sangat melelahkan.
Mahesa membuka mata, mengumpulkan nyawanya dan menyusuri setiap sudut ruangan lalu berhenti pada wajah yang ada di sisinya.
Perlahan Mahesa memiringkan tubuhnya. Menopang kepalanya dengan satu tangannya, sedangkan yang lainnya meraba perut rata Sabrina.
Terkadang Mahesa juga tak percaya dengan takdir Allah yang sangat jauh berbeda dari ekspektasinya.
Mahesa membelai pipi Sabrina. Jika biasanya dirinya yang selalu di bangunkan, pagi itu Sabrina nampak terlelap dalam mimpinya.
Masih tak ada pergerakan, Mahesa kembali mendekatkan bibirnya di telinga Sabrina.
"Sayang bangun, sudah Subuh."
Sedikitpun Sabrina tak merespon dan nampak menikmati mimpinya.
Mahesa menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuhnya lalu duduk. Ia mulai panik saat menatap wajah Sabrina yang sedikit pucat.
"Sayang." Terpaksa Mahesa menepuk nepuk pipi Sabrina.
Engh
Terdengar suara lenguhan Sabrina, Mahesa bernapas dengan lega saat Sabrina membuka matanya. Kejadian koma kala itu seakan menghantui Mahesa dan takut itu akan terulang lagi.
''Mas, kamu sudah bangun?'' Suara serak Sabrina menyapa.
Mahesa mengangguk membantu Sabrina untuk mengangkat kepalanya.
"Aku mau ke kamar mandi."
Dengan cekatan Mahesa turun dari ranjang dan mengangkat tubuh mungil Sabrina, tak hanya mengantarkannya Mahesa membantu Sabrina saat berada di dalamnya.
Mahesa menguncir rambut Sabrina lalu membantunya mengisi bak mandi dengan air hangat.
"Aku mandiin." Jika sudah seperti ini Sabrina tak bisa berbuat apa apa selain patuh. Apalagi Sabrina Merasa tubuhnya sangat lemas.
"Kamu nggak apa apa kan?" tanya Mahesa. sembari merengkuh tubuh Sabrina yang sedikit terhuyung.
Sabrina hanya menggeleng menerima perlakuan lembut Mahesa. Ah, Sabrina merasa seperti tuan putri saja, sampai mandi pun harus Mahesa ikut campur.
Tak hanya membantunya mandi, Mahesa juga menyiapkan segala keperluan Sabrina setelahnya.
Sholat berjamaah sudah menjadi rutinitas harian Mahesa dan Sabrina, sebisa mungkin mereka terus istiqomah menjalankannya, kecuali Mahesa tidak bisa pulang saat bekerja. Keduanya terpaksa melakukannya sendirian.
__ADS_1
Usai salam, Sabrina memegang kepalanya yang terasa pusing, tak lagi fokus dengan doa yang dipanjatkan Mahesa. Pandangannya terasa gelap, tubuhnya lemah, dan tiba tiba saja Sabrina menyandarkan tubuhnya di punggung Mahesa.
Mahesa Membulatkan matanya merasakan benturan dari belakang.
Pria itu perlahan menggeser tubuhnya dan melempar pecinya.
Ditatapnya Sabrina yang masih memakai mukena itu runtuh di pangkuannya.
Tanpa suara Mahesa mengangkat tubuh Sabrina dan membawanya ke ranjang. Se panik apapun itu Mahesa tetap berpikir jernih. Orang yang di hubunginya pertama kali adalah Dokter Harun, dan setelah itu Mahesa menghubungi Randu lalu kedua orang tuanya.
Mahesa terus mendekap tubuh Sabrina, sedikit pun tak melepaskannya, dalam hatinya terus berdoa untuk wanita yang ada di sampingnya, rasa takut terus merayap mengendap memenuhi dadanya hingga terasa sesak. Air mata jatuh dari sudut matanya membasahi pipi Sabrina.
Jangan Siksa aku seperti ini, aku akan memberikan apapun yang kamu mau, asalkan buka mata kamu.
Setelah beberapa menit menunggu, Mahesa merasa lega saat mendengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" sahut Mahesa tanpa ingin pindah dari tempatnya.
Ternyata Dokter Harun yang datang, diikuti Randu dari belakang.
"Kenapa bisa sampai pingsan, Mas?" tanya dokter Harun. Awalnya dokter Harun sudah was was karena Mahesa tak mengatakan kalau Sabrina yang pingsan, ia hanya menyuruhnya datang. Dan Dokter Harun sempat enggan datang, takut Mahesa yang harus menjadi pasiennya, mengerikan.
Mahesa hanya menggeleng, pandangannya kosong, harapannya saat ini adalah melihat kornea mata indah istrinya itu menatapnya.
Saat Dokter Harun memeriksa, pintu kembali terbuka, kali ini Bu Risma dan Pak Yudi yang datang.
"Tiba tiba saja tadi pingsan, Ma," jawab Mahesa.
Ada senyuman yang terukir dari sudut bibir Bu Risma saat melihat penampilan Mahesa, putra semata wayangnya itu terlihat tampan dengan baju koko dan sarung yang melekat di tubuhnya.
Sabrina benar benar mengubah Mahesa, Ya Allah, semoga anak menantu serta cucuku terus di beri kebahagiaan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Mahesa antusias, membenarkan letak kepala Sabrina yang sedikit melenceng.
"Tidak ada penyakit yang serius, Mbak Sabrina hanya kecapekan saja, aku sarankan mas Mahesa bawa Mbak Sabrina ke dokter kandungan."
Bu Risma yang dari tadi duduk terhenyak menghampiri Dokter Harun yang masih mematung di samping ranjang.
"Menantuku hamil?" tanya Bu Risma.
Dokter Harun menatap pak Yudi yang ada di belakang Bu Risma lalu tersenyum.
"Semoga begitu."
__ADS_1
Dokter Harun sedikit ragu, takut terkaannya itu salah, karena ia bukan dokter kandungan yang bisa menentukan yang sebenarnya.
Dengan sigap Randu merogoh ponselnya menghubungi Dokter Agung, di saat pria itu membuka pintu, tiba tiba ada benda keras yang menabrak dada bidangnya.
Randu menatap seseorang yang sangat familiar di depannya itu mengusap keningnya. Dia adalah Arum calon istrinya dan Sesil di sampingnya.
"Lain kali kalau jalan lihat kedepan, bukan ke bawah," ucap Randu dengan pelan.
Randu menunjuk lantai yang di injaknya.
"Maaf, aku tadi buru buru, jadi nggak lihat," jawab Arum.
"Bagaimana keadaan Sabrina?" imbuhnya.
"Jangan masuk, sudah terlalu banyak orang di dalam, lebih baik nunggu di luar saja."
Idih, bilang saja kalian mau berduaan dan pamer ke aku.
Arum dan Sesil duduk di ruang tamu. Setelah menghubungi dokter Agung, Randu menghampiri Arum dan Sesil yang sedang berbincang.
Semenjak dari rumah sang kakek, Arum dan Randu semakin dekat, apalagi lampu hijau sudah menyala dari keluarga Randu, dan itu membuktikan jika keduanya sudah resmi tunangan.
"Mas, memangnya tadi Sabrina kenapa bisa sampai pingsan?"
Randu hanya mengangkat kedua bahunya, suaranya masih tetap mahal jika ada orang lain.
"Calon suami kamu bisu," bisik Sesil sambil cekikikan.
Randu hanya melirik sekilas saat Arum dan Sesil saling berbisik. Sedikitpun ia tak berpengaruh dengan sekelilingnya.
Bi Asih datang membawa tiga minuman di depan Randu dan yang lain.
"Bagaimana Non Sabrina, Den?" tanya bi Asih yang duduk di samping Randu.
"Mungkin mbak Sabrina hanya kelelahan olahraga malam, Bi," ceplos Randu.
Sesil yang baru saja meminum teh kembali menyemburkannya ke arah belakang mendengar kata mesum Randu.
Sedangkan Arum memilih menutup wajahnya dengan kerudung yang di pakainya. Bi Asih sudah merasa tak asing lagi, sebagai perempuan yang pernah bersuami sudah pasti itulah yang dimaksud Randu.
"Mas," rengek Arum. Ia merasa malu dengan ucapan Randu.
"Apa?" tanya Randu pura pura bodoh.
__ADS_1
"Aku dan Sesil masih polos, jangan bicara seperti itu di depanku."
Randu tertawa lepas saat Arum menepuk tangannya.