
Randu keluar dari ruangannya, sudah setengah hari ia menjalankan pekerjaannya dengan baik, terdengar keributan dari depan. Namun Randu masih diam saat melihat beberapa satpam yang berjaga itu masuk, beberapa karyawan juga ikut berkerumun di sana.
"Sini kamu!" Randu melambaikan tangannya ke arah Aida yang baru keluar dari toilet.
Aida menghampiri Randu yang masih mematung di depan pintu ruangannya.
"Ada apa di sana?" tanya Randu, menunjuk kerumunan pengunjung yang semakin ramai.
"Sepertinya tadi ada laki-laki yang kepergok dengan selingkuhannya, Pak. Istrinya marah dan mereka berantem."
Randu mengernyitkan dahinya, kejadian ini mengingatkan pada Agung yang suka ketahuan menggoda wanita lain, hanya saja Agung menganggapnya hiburan saat dinas. Dan Sesil tak pernah menganggapnya serius karena Agung berani blak-blakan di depannya. Ia tak pernah memasukkan ke dalam hati kelakuan suaminya.
Saking penasarannya, Randu melangkahkan kakinya mendekati tempat kejadian perkara, terdengar dengan jelas seorang wanita saling adu mulut dan sesekali suara seorang pria menyelak pembicaraan keduanya.
Randu membelah kerumunan. Matanya terbelalak saat melihat seseorang yang ia kenal itu sedang menjambak seorang wanita yang berambut panjang.
"Aya," seru Randu, ia membantu seorang laki laki yang sedang mencoba melepaskan cengkraman tangan Aya.
"Ay, lepasin!" teriak Randu, mencoba membuka jari jari Aya yang menggenggam rambut wanita itu dengan erat.
"Nggak!'' geram Aya, "dia harus mendapatkan ganjaran karena sudah berani menggoda suami orang," sergah Aya.
Ini bukan pertama kali Randu melihatnya, bahkan dulu Randu sering melihat Aya bertengkar dengan anak lain gara-gara seorang laki-laki, Aya gadis pemberani itu menunjukkan jati dirinya yang tak suka ditindas.
Terpaksa Randu merengkuh tubuh Aya dan mendorongnya ke belakang. Setelah rambut wanita itu terlepas, Randu menatap laki laki yang sedang memeluk wanita di sampingnya.
"Ini bisa dibicarakan baik baik, bukan dengan keadaan emosi."
Randu memegang kedua lengan Aya.
Bibir Aya bergetar menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk ingin luruh. Bagaimanapun juga ia tak mau lemah dan menangis, apalagi di depan Randu, laki laki yang pernah bersemayam dalam hatinya.
Randu tidak boleh tahu keadaan rumah tanggaku, lebih baik aku pergi.
Saat Aya beberapa langkah menjauh, Randu menarik tasnya dari belakang.
"Jangan pergi! Semuanya harus diselesaikan disini." Melirik ke arah laki laki yang hanya diam sembari mengelus punggung wanita tadi.
Terpaksa Aya menghentikan langkahnya, setidaknya ada Randu yang mungkin bisa menolongnya.
Suasana kembali stabil saat Randu membubarkan semua pegawainya, Randu membawa Aya ke ruang tamu dan menyuruh Aida mengambilkan air minum, begitu juga dengan pria yang bersangkutan dengan kejadian itu.
"Sekarang katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Randu dengan lembut.
__ADS_1
Aya menahan dadanya yang sudah meletup letup ingin mencakar wajah yang saat ini memamerkan kemesraanya dengan wanita lain dan menyisihkan dirinya yang statusnya sebagai istri.
"Semua sudah jelas, aku tidak mencintainya, kami menikah hanya karena paksaan. Kamu," Pria yang ada di sebarang meja menunjuk wajah Randu, "orang lain, jadi jangan ikut campur urusanku," cetus pria itu.
Randu menatap wajah Aya yang tampak suram dan mengusap air matanya yang berhasil lolos.
"Siapa dia, Ay?" tanya Randu antusias.
"Namanya Robi, dia suamiku."
"Lalu wanita itu?" tanya Randu lagi, seraya menatap wajah Aya.
"Selingkuhannya," jawab Aya singkat.
"Astagfirullah…" Randu memegang dadanya yang terasa sesak, bagaimana bisa Aya tahan dengan kelakuan yang jelas-jelas menusuk dadanya.
Randu mengepalkan kedua tangannya, jika menyangkut hati seorang wanita, ia tak sanggup lagi menahan amarah, apalagi Aya adalah sahabatnya.
Randu mendaratkan kepalan tangannya tepat di wajah Robi hingga hidungnya berdarah, tak peduli dengan apapun ia merasa ikut nyeri saat melihat keadaan Aya.
"Laki-laki brengsek, pergi kau dari sini! Atau kamu akan habis di tanganku." Randu menunjuk pintu keluar.
Sedikitpun Aya tak ingin mencegah Randu. Hatinya sudah terlalu sakit melihat kelakuan Robi. Dan Aya pun sudah mantap ingin melanjutkan perceraiannya yang sempat gagal.
Aya menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya yang semakin deras membasahi pipinya.
Randu meraih tisu dan menyodorkan nya di pangkuan Aya.
"Usap air mata kamu, mau sampai kapan kamu bertahan dengan laki-laki bejat seperti itu."
"Ini airnya, Mbak." Aida meletakkan segelas air putih di atas meja.
"Minum dulu, mungkin akan membantu kamu sedikit tenang."
Setelah meneguk air putih, Aya meraih tasnya dan memasukkan ponselnya.
"Terima kasih, aku harus pergi."
"Tunggu!" Randu kembali menarik pucuk baju Aya.
"Aku mau bicara sebentar." Aya kembali duduk di depan Randu.
Randu menoleh menatap Aya yang masih sesenggukan. "Sejak kapan kamu mengetahui kalau suamimu selingkuh?" tanya Randu.
__ADS_1
Aya meremas kedua tangannya, di satu sisi ia butuh curhat, tapi di sisi lain ia merasa sungkan dengan Randu yang statusnya sudah beristri.
"Dari awal kita menikah, waktu itu aku memergokinya di sebuah hotel," ucap Aya. Meskipun hatinya tak sanggup mengingat masa lalunya, Aya tetap menceritakan apa yang dialaminya.
"Sudah berapa lama kamu menikah?" Randu terus mengupas sesuatu yang terjadi pada Aya.
"Satu tahun, aku menikah karena memenuhi permintaan nenek sebelum meninggal, dia keluargaku satu-satunya, dan aku nggak mau mengecewakannya."
Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari bibir Randu. Begitu juga dengan Aya yang selalu menjawab pertanyaan Randu dengan jujur meskipun semakin mencabik cabik hatinya hingga berkeping-keping.
Pertahanan Aya akhirnya runtuh, ia meluapkan amarahnya lewat tetesan air mata, kali ini Aya benar-benar rapuh.
"Mungkin ini semua karma bagiku, aku pernah menampar Arum dengan sengaja, padahal waktu itu bukan salah dia."
Aya memegang lengan Randu, "Tolong sampaikan maafku untuk Arum, saat itu aku khilaf, dan aku buta dengan kebaikan."
Randu tersenyum tipis dan mengangguk, ia masih belum menceritakan tentang istrinya yang sudah tiada.
"Apa kamu sudah punya anak?" tanya Randu menyelidik.
Wajah Aya berubah drastis, sepertinya ia memang menyembunyikan sesuatu dari Randu.
"Sudah, kemarin kan kita ketemu waktu di toko kue," jawab Aya gugup.
"Jangan bohong, Ay. Aku tahu kamu nggak pintar menipu, tapi kamu ahli merontokkan rambut orang."
Aya tersipu malu, Randu masih ingat saja dengan kebiasaannya, tapi Aya memang tak puas jika tak membalas orang yang menjahilinya.
"Aku nggak bohong." Aya masih mencoba mengelak.
"Lalu siapa Cici?"
Aya membulatkan matanya.
Dari mana Randu tahu tentang Cici? Apa mereka saling kenal?
Akhirnya Aya menceritakan siapa orang tua Alvino yang sebenarnya. Dan ia juga menceritakan bahwa dalam pernikahannya tak ingin melahirkan anak dari laki-laki seperti Robi, pria yang tak bertanggung jawab padanya.
"Terima kasih hadiahnya, Raisya sangat menyukainya."
Aya beranjak dari duduknya. "Kapan-kapan aku boleh kan bertemu Arum? Aku mau minta maaf secara langsung sama dia, sekalian ngajak Alvino main."
Untuk yang ke sekian kali Randu hanya menjawab dengan sebuah senyuman kecil.
__ADS_1