
Ruangan kamar itu sangat hening, pertama kalinya Randu menjadi imam sholat bagi Aya, beberapa doa keduanya panjatkan kepada sang Ilahi Robbi, rasa syukur atas nikmat yang seharian ini meliputinya, bukan itu saja, semua berjalan lancar dan sesuai harapannya.
Aya melepas mukenanya saat Randu melakukan Shalat sunnah dua rakaat, melipatnya dan mengembalikannya di lemari, dia bingung harus melakukan apa, mondar-mandir dan menggigit jari pilihan utama.
Alasan lapar basi, baru beberapa menit ia selesai menghabiskan dua burger dan segelas susu. Alasan menstruasi lebih nggak lagi, baru saja ia shalat, alasan Raisya nangis, Randu lebih tahu daripada dirinya.
Randu melepas baju kokonya, nampak dengan jelas tubuh kekarnya. Hanya memakai sarung saat mendekati ranjang.
Aya membaringkan tubuhnya, menutup wajahnya dengan bantal. Tak ada suara apapun, tapi guncangan ranjang menunjukkan kalau Randu sudah berada di sampingnya.
Sebuah tangan mendarat tepat di atas perutnya, helaan nafas menerpa bawah telinganya, jantung Aya semakin tak bisa dikondisikan, kedua tangannya mengepal erat, takut, itulah Aya saat ini.
Perlahan Randu mengambil bantal itu dan melemparnya dengan asal.
Mata Aya terpejam, namun bulu matanya masih bergerak. Randu tak sebodoh Raisya yang bisa ditipu begitu saja.
"Katanya kamu sudah siap," berbisik.
Cegeluk
Aya menelan ludahnya dengan susah payah, tangan Randu sudah mulai nakal, menggerayangi kancing piyamanya, bibirnya sudah mulai menelusuri leher jenjangnya.
Aya tertawa, ia tak bisa menahan rasa geli yang diciptakan Randu.
"Mas, jangan gini dong!" Aya berusaha menyingkirkan tangan Randu yang hampir memegang buah dadanya.
"Kenapa, bukankah __"
Randu tak melanjutkan ucapannya, takut Aya tersinggung jika dirinya membahas mantan suami Aya.
Aya memiringkan tubuhnya memunggungi Randu.
Lagi-lagi otaknya terus berkelana mencari cara untuk bisa mengulur waktu.
Randu mengecup bahu Aya dan sedikit demi sedikit melepas piyama dia.
Aku harus bisa
Tak ingin membuat Randu marah, Aya kembali menghadap ke arah suaminya. Keduanya saling bertukar pandangan lalu saling mendekatkan wajahnya.
Randu mencium ubun ubun Aya, setelah itu beralih di mata istrinya dan seterusnya. mengalihkan posisi nya, bertumpu di atas, kedua matanya terpejam, hanya tangan dan bibir nya yang hidup mengabsen setiap jengkal wajah Aya.
Merasa tak ada penolakan, Randu terus melanjutkan aksinya, menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Aya merasakan benda yang keras nan panjang di bawah sana menyenggol pahanya.
Kalau seperti ini mendingan tadi aku tidur saja.
__ADS_1
Sedikitpun Randu tak merenggangkan tubuhnya, ia terus menikmati apa yang ia miliki sekarang. Momen yang baginya sangat istimewa di malam yang indah. Rugi jika di lewatkan, apa lagi satu miliar sudah berada di tangan istrinya.
Aya semakin merinding kala Randu melepas semua bajunya, kini hanya selimut yang menjadi tameng keduanya.
Randu kembali menyatukan bibirnya saat ia ingin menerobos sebuah gawang milik Aya.
Mata Randu membulat sempurna, ia menghentikan aktivitasnya sejenak saat Aya meringis dengan kedua tangan mencengkram bahunya.
Ini aneh sekali
Kali ini Aya yang meraih ceruk leher Randu dan kembali menyatukan bibirnya, menghilangkan rasa nyeri yang menyeruak saat senjata Randu itu menerobos pintu masuk.
Aya tak hanya meringis, ia menjerit saat merasakan perih yang luar biasa, Ia merasa sesuatu telah melukai dirinya.
Meskipun Randu masih melakukannya dengan baik, matanya terus menyapu wajah Aya, tangannya mengusap air mata yang membasahi pelipis Istrinya.
Ia merasa bersalah melihat Aya yang nampak kesakitan hingga beberapa menit Randu menyemburkan lahar panas di rahim istrinya.
Sebuah kecupan mendarat di kening Aya, mereka bermandikan peluh. Meskipun Randu yang bekerja ekstra, Aya yang lebih nampak lelah, seluruh tubuhnya basah, nafasnya tersengal saat Randu ambruk di sampingnya.
Masih banyak tanda tanya, namun Randu membisu, ia membiarkan Aya untuk memulihkan tenaganya yang hampir terkuras habis.
Aya masih perawan, itu artinya suaminya tak pernah menyentuhnya.
Setelah merasa lebih relax, Randu menoleh menatap Aya yang memejamkan matanya.
Randu melihat bercak darah yang menghiasi sprei putih tepat di bawah tubuh istrinya, ia tak menyangka jika wanita di sampingnya itu adalah korban dari keganasan tongkat ajaibnya yang sudah lama semedi.
Ingin tertawa bangga, tapi Randu juga merasa bersalah sudah merenggut harta Aya yang paling berharga.
Akhirnya ia memeluk Aya, membenamkan wajahnya di leher istrinya.
"Maafkan aku," ucap Randu lirih seraya menciumi pipi Aya dengan lembut.
Aya tersenyum
"Mas, kenapa harus minta maaf, aku ikhlas, tapi kamu harus janji padaku," ucap Aya dengan suara serak. Kerongkongannya terasa kering akibat berteriak. Tapi Aya tetap ingin mengutarakan isi hatinya
"Janji apa?"
"Jangan khianati aku, meskipun aku bukan terbaik, tapi aku tidak aku disakiti."
Permintaan yang menurut Randu sangat enteng, dan dengan mudahnya ia menyanggupi permintaan Aya.
Randu mengangkat kepala Aya dan meletakkannya di atas lengannya.
__ADS_1
"Mas…"
Hemmm
Randu mulai memejamkan matanya, seharian penuh sibuk dengan pernikahannya, dan baru saja menjalankan tugas sucinya membuatnya kelelahan.
"Besok antarkan aku ke makam Arum."
Randu mencium pipi Aya lagi.
"Iya, tadi aku juga punya rencana seperti itu, tapi malah duluan kamu."
Hening lagi
"Mas," entah yang ke berapa kali, Randu merasa Aya terus mengusik jiwanya yang hampir saja tertidur.
"Apa?"
"Mulai besok aku akan memakai hijab seperti keinginan kamu." Satu lagi hadiah yang dipersembahkan Aya untuknya. Ternyata benar, jika berubahnya seseorang itu tak harus dipaksakan, namun dari hati.
Randu sudah kehabisan kata untuk berterima kasih, tak dinyana Aya sudah memberinya bertubi tubi kado yang tak pernah bisa ditebak.
Aya meraba rahang kokoh Randu, menggesekkan wajahnya tepat di dada suaminya, itu menjadi salah satu jalan menuju surga dunia yang beberapa menit mereka lakukan.
Aya terkejut saat Randu memeluknya dengan erat hingga dadanya terasa sesak.
"Mas, aku ngantuk, mau tidur," berkilah.
"Jangan tidur dulu, aku mau sekali lagi."
"Raisya…"
Dalam benak Aya melintas putri kecilnya.
Randu meraih ponselnya yang ada di nakas, mengecek kamar putrinya.
"Lihat saja!" Randu memperlihatkan Raisya yang terlelap bersama David, mbak Inul dan bi Nori.
Sekarang tak ada alasan lagi bagi Aya menolak, meskipun rasa perih itu masih menyeruak, ia tak bisa lari dari kenyataan, bahwa sejak ijab kabul terjadi, ia sebagai pelampiasan hasrat suaminya.
"Aku haus," kali ini Aya serius. Ia tak bisa lagi menahan lidahnya yang mulai mengering.
Randu menyambar sarungnya dan memakainya, mengambil segelas air putih yang ada di meja sofa kamar itu.
"Minum yang banyak, apa kamu mau makan juga?"
Aya menggeleng tanpa suara.
__ADS_1
"Aku nggak mau nanti di tengah tengah pertempuran kita kau bilang, Mas Aku lapar lagi," ucap Randu mengejek.
Aya hanya bergelak tawa melihat tingkah Randu yang sok imut.