Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Terjebak lift


__ADS_3

Ucapan syukur berulang kali dipanjatkan para tim medis, bahkan salah satu suster ada yang bersujud di lantai. Menurut mereka pulangnya Mahesa membawa berkah, dan satu-satunya yang diucapkan adalah Mahesa sehat dan tidak pernah mengunjungi rumah sakit lagi. 


Hahahaha 


Lucu bukan, Semua bisa bernapas lega setelah sepuluh hari bermain dengan jantung  kini mereka harus mengurus pasien yang jauh lebih normal. 


"Kayaknya kita harus merayakan hari bahagia ini,"  saran salah satu suster yang paling terkena mental karena yang bertugas  penuh untuk Mahesa.


Semua hanya bisa tersenyum setuju. 


Randu menahan tawa lalu berdehem,  meskipun Mahesa sudah hengkang dari rumah sakit, tidak bagi pria itu yang mengurus segala sesuatu. 


"Merayakan apa, Sus?" celetuknya dari arah belakang. Tanpa seutas senyum Randu mendekati dokter Harun yang ada di depan pintu. 


Semua menoleh lalu saling pandang, berbeda beda ekspresi, ada yang kabur,  dan ada yang cengengesan dan sambil garuk garuk kepala. Ada pula yang menunduk.


"Merayakan sembuhnya mas Mahesa."


Akhirnya ada juga yang cerdas untuk menjawab,  mewakili semuanya.


Randu hanya manggut manggut lalu mengulurkan tangannya. 


"Terima kasih karena dokter sudah dilapangkan kesabaran untuk merawat Mas Mahesa."


Keduanya bersalaman sedikit lama. 


"Sama sama."


Setelah urusannya selesai, Randu kembali ke mobil,  berulang kali pria itu menatap ke dalam  dan sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya. 


"Kemana sih tu anak lama banget," gerutunya.


Randu terus memainkan ponsel di tangannya, menghilangkan kejenuhan yang mulai merayap di hatinya, namun tetap benda pipih itu tak bisa melenyapkan kebosanan yang sudah mengendap.  Akhirnya Randu kembali turun dan masuk.  Tak seperti tadi saat keluar, suasana di dalam sangat gemuruh. Semua penghuni berhamburan kesana kemari. 


Randu sedikit panik lalu menghampiri resepsionis.  "Ada apa ini?"  tanya Randu.


 "Ada lift macet di lantai 3, dan katanya ada tiga orang yang terjebak di dalamnya."


Randu membulatkan matanya.


Arum


Entah kenapa Randu  teringat pada gadis itu. Gadis yang di marahinya beberapa menit yang lalu gara-gara menabraknya dan sengaja ia tinggalkan di kamar Mahesa sendirian. 


Randu berlari menyusuri tangga darurat menuju lantai tiga kamar Mahesa,  namun di sana sudah kosong, hanya ada beberapa Suster dan OB yang sedang membereskan ruangan.


"Maaf Sus, Tadi ada seorang gadis memakai hijab warna maroon kemana ya?"


"Sudah pergi, Pak," jawab Suster dengan lantang.


Jantung Randu mulai tak beraturan rasa cemas mulai menyeruak ke dalam dada. Pria itu sejenak menyandarkan punggungnya di tembok dan berpikir positif.

__ADS_1


Mungkin Arum sudah di bawah. 


Randu kembali turun, namun saat tiba di lantai dua ia berpapasan dengan Agung.


"Kamu kenapa?" tanya Agung. 


"Apa  kamu tadi melihat Arum?" 


 Dokter Agung menggeleng, pasalnya ia pun pergi lebih dulu mengantar Sesil.


Tak menunggu waktu lagi, akhirnya Randu menuju parkiran, namun di sana tak ada orang yang dicarinya. 


Ya Allah, apa Arum yang terjebak di dalam lift. Nggak mungkin kan dia pulang sendirian. 


Randu menatap sekelilingnya lalu kembali masuk,  kali ini feelingnya begitu kuat jika Arum adalah salah satu orang yang ada di dalam lift. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Randu hanya bisa menatap pintu lift yang tertutup rapat,  ia tak bisa berbuat apa apa selain menunggu teknisi itu  bekerja. 


Hampir dua puluh menit,  Randu semakin panik  dan tak bisa bersabar lagi. Pria itu menarik kerah pria yang ada di hadapannya. 


"Kamu becus nggak sih? Kapan lift nya bisa di buka?" teriak Randu dengan wajahnya berapi api.


"Sabar Pak, kami juga berusaha."


Sama seperti Randu, salah seorang yang ada disampingnya pun ikut marah-marah. Apa lagi dengan jelas orang itu tahu yang ada di dalamnya adalah keluarganya. 


Randu hanya bisa mengumpat  dalam hati dan mengacak rambutnya, semburat penyesalan mulai terlihat menghiasi wajahnya. 


Jika Arum benar ada di dalam, apa yang harus kau katakan pada Mbak sabrina. Semua ini salahku, kenapa aku harus memarahi dan meninggalkannya. 


"Alhamdulillah." 


Suara itu menggema.


Tanpa aba aba Randu membelah kerumunan, dan betapa terkejutnya saat melihat gadis yang sedang merengkuh lututnya dan membenamkan wajahnya itu sesenggukan. Sedangkan yang lainnya menghampiri keluarga masing-masing.  


"Arum," seru Randu mendekati gadis yang masih bergeming itu. 


Perlahan Arum membuka mata lalu berhamburan memeluk Randu yang ada di hadapannya. 


"Aku takut,  aku takut."


Arum mencengkram erat jas Randu, tubuhnya bergetar hebat menahan takut.


"Jangan takut, aku ada disini,"  bisik Randu.  Mengelus kepala Arum yang berbalut hijab.


Seakan waktu berhenti sejenak,  Arum merasa lebih tenang saat Randu memeluknya. 


"Aku minta maaf,"  suara itu akhirnya membuat Arum sadar, seketika gadis itu mendorong tubuh Randu hingga terjengkang. 

__ADS_1


Kenapa aku memeluk Pak Randu. Apa yang sudah aku lakukan. 


Arum hanya bisa terpaku. Jantungnya sudah meloncat dan tak bisa dikondisikan. 


"Kenapa?" tanya Randu seraya berdiri. 


Arum ikut berdiri dan memungut barangnya yang masih tercecer di bawah.


"Maafkan aku pak,  aku nggak sengaja memeluk bapak, aku kira Sesil. Dan maafkan aku juga tak sengaja mendorong bapak." Sembari menundukkan kepalanya Arum merasa tak sopan sudah berani menyentuh dan mendorong bosnya. 


Randu mengusap kepala Arum berkali kali. 


"Nggak apa apa, kita kan nggak bersentuhan langsung," kilah Randu,  padahal ia masih menginginkan pelukan itu. 


"Sini! Biar aku yang bawa!"  Meraih beberapa tas di tangan Arum.


Arum mengikuti langkah Randu dari belakang tanpa membantah.


Setibanya di parkiran, tiba tiba ada seseorang yang menarik hijab Arum dari belakang. Dia adalah Aya yang dari tadi melihat drama pelukan di dalam lift. 


Plakkk


Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Arum. 


Aawww….Arum memekik kesakitan seraya mengelus pipinya yang memerah. 


"Percuma kamu tutup aurat, kalau masih memeluk laki-laki yang bukan mahram." 


Seketika Arum menggeleng.


Randu yang sudah membuka pintu mobil menoleh, menatap Arum yang memegang pipinya,  beralih Aya yang sedang memaki Arum. 


"Aya, kamu ngapain ke sini?" tanya Randu seraya menghalangi tangan Ayah yang hampir menampar Arum yang kedua kali. 


Aya menyunggingkan bibirnya. 


"Jadi gara-gara dia!" Aya menunjuk ke arah Arum yang menunduk. "Kamu melupakan aku, gara gara dia juga kamu mengabaikan aku selama berbulan bulan," ucap Aya dengan tegas. 


"Ay,  aku bisa jelaskan, ini semua nggak ada hubungannya dengan Arum," ucap Randu meyakinkan.


"Mbak, bukan maksudku memeluk pak Randu, tadi aku nggak sadar, dan aku kira pak Randu adalah Sesil."


Aya melipat kedua tangannya. "Mana ada maling mau ngaku,  aku yakin kamu hanya memanfaatkan keluguan kamu untuk mendekati Randu."


Mau sampai berbusa pun orang macam ini nggak akan percaya dengan penjelasanku. 


Arum memilih pergi daripada harus ribut di depan umum. 


"Kamu sudah keterlaluan, harusnya kamu melihat kalau Arum itu sangat ketakutan terjebak di dalam lift, bukan mementingkan egomu sendiri,  aku malah jadi malas ketemu sama kamu."


Tanpa pamit Randu meninggalkan Aya yang masih kesal, bahkan Aya nampak memendam amarah saat Randu memasuki mobilnya. 

__ADS_1


__ADS_2