Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Lebay


__ADS_3

Ruangan VVIP


Hahahaha


Semua hanya bisa tertawa dalam hati saat melihat ketakutan Mahesa, seminggu dirawat, namun sekali pun pria itu tak ingin minum obat, menolak jarum untuk menyentuh tubuhnya, yang dilakukan berhari hari hanya rebahan dan bermain ponsel. Disaat matanya terpejam Randu harus berada di dekatnya takut kecolongan Dokter Ridwan yang sudah mengintip ingin memasang selang infus. 


Waktunya makan siang,  seperti hari kemarin, Mahesa kembali protes saat makanan yang disuguhkan tak sesuai dengan selera. 


Mahesa mengerutkan alisnya, perutnya tiba tiba saja mual saat satu mangkuk bubur tawar tersaji di sampingnya.


"Apa nggak ada makanan yang lebih enak?"


Kembali terbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. 


"Ini untuk orang sakit," jawab suster dengan ramah. 


Dokter Ridwan ikut mendekat dan  memegang jemari kaki Mahesa yang sangat dingin.


"Mas,  dipasang infus ya, sehari aja. Keadaan Mas semakin tidak baik." 


Masih membujuk,  bagaikan anak kecil Mahesa hanya menggeleng, kepalanya hampir meledak saat mendengarkan kata suntik, infus, obat. ah itu adalah benda yang harus dibuang jauh jauh darinya. 


Gantian Randu,  yang mematung di tengah tengah dokter dan suster. Randu hanya tersenyum. 


"Apa yang Mas inginkan?" tanya Randu pelan, namun pertanyaan itu sudah mewakili semuanya. 


"Sabrina, aku hanya ingin dia ada di sini,  tapi ya sudahlah, itu tidak mungkin. Dia masih marah padaku, dan aku nggak mau membuatnya lebih marah lagi."


Sebuah ungkapan yang menyentuh hati.


Satu satunya yang bisa menyembuhkan mas Mahesa hanya mbak Sabrina. 


Dokter Ridwan mengacak rambutnya semakin kesal dan merasa tak berguna hingga pria itu meninggalkan kamar Mahesa dengan perasaan jengkel. 


Mendengar dentuman sepatu dan lantai yang semakin menjauh, Mahesa membuka  selimutnya lalu menatap sekelilingnya. 


"Mana Dokter Ridwan?" 


Randu hanya menyungutkan kepalanya ke arah pintu ruangan. 


"Jangan suruh dia ke sini lagi, dan jelaskan padanya, jangan buang waktu melayaniku, masih banyak pasien yang membutuhkannya."


Suster yang ada di samping Randu mengangguk dan ikut pergi. 


Suasana kembali hening, hanya ada Randu dan Mahesa yang berstatus pasien yang menjengkelkan para tim medis.


"Kamu ngapain pindah tidurnya di sini? Mendingan di hotel berbintang," celetuk seorang wanita cantik nan anggun yang baru saja membuka pintu. 


"Mama."


Mahesa terkejut.


Randu memilih mundur daripada harus terkena tendangan Mahesa, karena ia yang membocorkan rahasianya. 


Mahesa nampak kesal, namun tetap memeluk Bu Risma dengan erat bergantian dengan pak Yudi.


"Berapa hari kamu di sini?" tanya Pak Yudi. 

__ADS_1


"Dua hari," jawab Mahesa asal. 


Randu yang berada di pojokan hanya terkekeh melihat tingkah anak Mama yang manja. 


"Sekarang makan!" 


Bu Risma mengambil buburnya dan mulai menyuapinya. 


"Nggak, Ma. Aku nggak mau makan begituan."


"Selama di sini kamu makan apa?"


Mahesa membuka laci dan membongkar makanan ringan yang ada di sana, beraneka cemilan dan kue yang Ia simpan diam diam. 


Ini pasti ulah Randu.


Pak Yudi mendekati Randu dan menepuk bahunya mengucapkan terima kasih atas kesetiaannya yang sudah rela menghadapi sifat kekanak kanakan Mahesa. 


Baru satu suap, Mahesa sudah menyengir dan meneguk segelas air putih. 


"Itu makanan kucing Ma, buang saja!" cecarnya.


Siapa yang tidak ingin tertawa, bahkan Dokter Ridwan yang sudah berada di ambang pintu ikut  tersenyum tipis melihat reaksi Mahesa. 


"Dokter yang sabar punya pasien seperti ini."


Bu Risma sebagai orang tua ikut angkat tangan dan tak sanggup untuk membujuk putranya. 


"Mas, ada tamu yang ingin bertemu dengan Mas Mahesa," ucap Randu setelah membaca sebuah pesan yang diterimanya. 


"Tapi tamunya bening, sayang kalau ditolak."


Seketika otak Mahesa traveling, namun ia tak bisa menebak orang yang dimaksud Randu. 


"Terserah, tapi aku nggak mau kedatangannya semakin membuatku sakit." 


Randu membungkuk ramah lalu keluar dari ruangan. 


Selang beberapa menit dua suster membuka pintu ruangan. 


Apa dia tamunya, bukankah suster itu sudah merawatku dari kemarin, terka Mahesa dalam hati.


 


Setelah suster masuk, disusul Dokter Harun.


Kok dokter Harun juga ke sini? Masih dalam hati


Mahesa semakin bingung dengan tamu bening yang dimaksud Randu. 


"Mana tamunya?" tanya Mahesa, pria itu sedikit panik saat dokter Ridwan dan dokter Harun sibuk menyiapkan jarum suntik dan beberapa obat. 


"Kalian mau apa?" sentak Mahesa dengan lantang, pria yang masih betah di atas ranjang itu menggenggam kedua tangannya dan menutupnya dengan selimut.


"Assalamualaikum." 


Semua menjawab serempak kecuali Mahesa yang masih tercengang.

__ADS_1


Suara yang sangat lembut menyapa,  Mahesa kenal suara itu, namun pandangannya masih juga belum teralihkan dari dokter Ridwan. 


Nggak, ini pasti mimpi. 


Mahesa mengusap wajahnya dengan kasar lalu menepuk pipinya. Dan menjawab salam dengan pelan. 


Semua penghuni hanya diam menatap ekspresi Mahesa.


"Mas,"  sekali lagi suara itu menembus gendang telinga.


Terpaksa Mahesa menoleh ke arah sumber suara yang begitu menyejukkan. 


Mahesa menitihkan air mata saat wanita yang dirindukan itu mendekatinya, hatinya terasa sejuk  seperti tersiram bongkahan es balok. 


Keduanya saling pandang, Mahesa merentangkan tangannya saat wanita itu mematung di samping brankarnya. 


Akhirnya drama pelukan terjadi kala Mahesa merengkuh tubuh wanita itu, mencium pucuk kepala dan pipinya berulang kali tanpa menghiraukan penghuni yang  lainnya. 


Jantung keduanya saling berdegup dengan kencang  dan saling mengungkapkan kerinduan lewat bahasa kalbu. 


"Kamu datang sama siapa?" 


Mahesa menangkup kedua pipi Sabrina menatap matanya yang begitu indah. 


"Mas nggak perlu tahu,  yang terpenting sekarang Mas harus mau dipasang infus, dan Mas harus minum obat supaya cepat sembuh."


"Sontak dahi Mahesa dipenuhi dengan keringat. Ketakutannya kembali melanda mendengar ucapan Sabrina. 


"Nggak! Aku sudah sembuh,  kalau kamu nggak percaya pegang ini!" Menempelkan tangan Sabrina di dadanya yang masih terasa panas. 


"Kalau mas nggak mau nurut, lebih baik aku pulang." 


Apaan pulang, baru juga sampai, kesal dalam hati. 


Akhirnya Mahesa mengalah, pria itu menjulurkan tangannya ke arah Dokter Ridwan yang sudah memegang jarum hantu. 


Mahesa melirik ke arah tangannya lalu menariknya kembali. 


"Mas,"  rengek Sabrina ikut gedeg dengan suaminya. 


Akhirnya Mahesa mengulurkan tangannya tanpa menatap, satu tangannya mencengkeram erat selimut dengan kepala yang bersandar di dada Sabrina. 


"Pejamkan mata, Mas." Seketika Mahesa memejamkan matanya. 


"Anggap saja ada semut yang menggigit punggung tangan, Mas."


Sabrina memeluk erat tubuh kekar Mahesa dan terus mengucapkan kalimat yang menenangkan. 


"Dasar bayi tua, lebay," gerutu Bu Risma.


Hampir lima belas menit, akhirnya selang infus itu  menghiasi tangan Mahesa  dengan rapi. 


"Terima kasih Mbak Sabrina, diantara kami semua hanya Anda yang bisa meluluhkan hati harimau ini." Menunjuk kepala Mahesa bagian belakang. 


Sabrina menerbitkan senyum dan mengangguk.


Dan Allah mengirimkanmu sebagai obat yang bisa menyembuhkanku, timpal Mahesa dalam hati. 

__ADS_1


__ADS_2