Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Pulang ke panti


__ADS_3

Sebuah kata-kata romantis yang sudah disiapkan masih tertahan di ujung lidah. Sekuat apapun  bukti yang dibawa Mahesa, Sabrina tetap ingin pulang ke panti. Itu keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. 


Mas Imran, nama itu masih saja melekat di otak Sabrina, menyingkirkan nama Mahesa yang berstatus suaminya. 


Mahesa terdiam, seluruh organ tubuhnya bekerja dengan sia sia,  oksigen yang keluar masuk dari rongga hidungnya mulai berkurang hingga ia harus men suplainya kembali. 


"Tapi tidak apa-apa kalau mas Mahesa mau tinggal di sana," kata itu mengakhiri larikan ucapan Sabrina. 


Plong, dada Mahesa lega, bahkan kali ini ia kewalahan harus menerima sejuknya angin yang menerpa. Tapi ini bukan waktunya Mahesa untuk menggombal, ia harus serius dengan keadaan yang mengiris hatinya. 


Diperbolehkan pulang dengan mewanti-wanti menjaga Sabrina dengan baik, dan tidak menekankan dengan perkara yang bisa mengganggu otaknya, Mahesa merasa itu adalah pekerjaan yang lebih sulit daripada harus menandatangani setumpuk dokumen. Ya, Sabrina kini menempati jajaran yang tinggi bersanding dengan sang mama di hati Mahesa.


Suasana di dalam mobil sangat hening. Mahesa masih sangat canggung untuk berbicara, apalagi Sabrina terus menyibukkan tangannya menyusuri setiap jengkal wajah Devan yang tak kalah tampan dengan pria yang ada di sampingnya. 


Ehem 


Deheman Randu sukses mencairkan suasana, sepasang suami istri menatap punggung Randu yang nampak konsentrasi dengan setirnya. 


"Kamu keselek?" tanya Mahesa. 


Sabrina hanya menahan tawa dan memalingkan wajahnya ke arah luar. Tak menyangka jika suaminya itu bisa membuat lawakan.


"Biasanya Mas Mahesa dan Mbak Sabrina saling pelukan, rangkulan,  ciuman, kenapa ini pada diam?"


Mahesa melirik sekilas ke arah Sabrina yang tersenyum simpul. Asistennya itu memang cerdik bisa membuka lubang sandiwara. 


"Dia lagi ngambek," jawab Mahesa. 


Kalau tahu begini mendingan aku ikut mobil Ibu. 


Sabrina semakin tak nyaman berada di antara kedua pria yang tak dikenalnya. Devan membuka mata tiba tiba,  bayi itu terus menjulurkan lidahnya dengan sempurna. 


Sabrina panik saat Devan mulai memasukkan kepalan tangannya ke mulut. 


"Mas, ini Devan kenapa?" tanya Sabrina, ia lupa segalanya termasuk Devan saat lapar. 


"Dia haus," jawab Mahesa menegaskan. Kakinya menendang botol susu hingga masuk di bawah kolong kursi yang ia duduki. 


Lengan Sabrina menengadah tepat di depan Mahesa.


"Apa?" pria itu pura-pura bodoh.


"Botol susu," jawab Sabrina lugu, detakan jantungnya tak karuan, apalagi tatapan Mahesa semakin tak di mengerti. 


Mahesa celingukan ke kanan kiri, wajahnya ikut serius meskipun dalam hati menggelitik. Membuka tas baju milik Devan lalu merogoh saku celana dan kemeja beralih membuka tas kecil  milik Randu. 


"Nggak ada Sayang, mungkin ada di mobil Ibu."

__ADS_1


Sabrina mendesah, hidungnya terus menyengir saat Devan Mulai merengek.


"Lalu Devan bagaimana,  sedangkan panti masih jauh?"


Sabrina semakin kebingungan dan menoleh ke belakang, ternyata mobil yang ditumpangi Bu Yumna tak nampak. 


"Sayang,  kamu kan bisa kasih Asi."


Sabrina mengernyitkan dahinya, keringatnya mulai bercucuran, merinding, antara malu mendominasi dengan ragu. 


"Tapi,__ ucapan Sabrina bahkan mengambang saat Mahesa mendaratkan jarinya di bibirnya. 


"Kasihan Devan, dia haus. Apa kamu tega melihatnya menangis seperti itu?" Mahesa menyungutkan kepalanya ke arah bayinya. 


Sabrina menelan ludahnya, memegang dadanya yang tertutup hijab lalu menatap Devan yang sudah semakin memerah seraya menangis kecil. 


Tak ada pilihan lain, Mahesa benar-benar sukses menyudutkan Sabrina sampai tak bisa berkutik sedikitpun.


Mahesa menarik tirai yang ada di depannya, menjaga pandangan Randu dari benda antik istrinya. 


"Mas juga nggak boleh menghadap sini!"  pinta Sabrina dengan manja.


Mahesa menutup matanya, tak mau membuat Sabrina jengkel meski kepalanya ngebul, otaknya  sudah traveling dengan apa yang dilakukan Sabrina, pria itu menahan matanya untuk tidak jelalatan.


Ting tung


Mahesa tersenyum licik. Ternyata si pengirim pesan tak lain adalah orang yang ada di belakang tirai. 


Tak sengaja Mahesa menangkap sesuatu ganjil yang ada di depan mata,  suguhan yang luar biasa. Berusaha sekuat apapun, yang namanya laki-laki tak akan sanggup jika melihat sesuatu yang menonjol. Ah, meskipun Sabrina sudah menutup wajah Devan menggunakan hijabnya, namun Mahesa masih bisa menangkap bagian yang ia rindukan selama sebulan lebih. 


Lidah Mahesa terasa kaku, kerongkongan mengering, ada sesuatu yang tiba-tiba menyerangnya, apalagi ia sudah puasa  cukup lama. 


Sabrina menunduk,  belum sadar akan harimau yang sudah mengintainya dari samping hingga tak sengaja menyibak hijabnya saat Devan kesulitan bernapas. 


Ya Allah ini ujian, ini ujian. Berikanlah hamba kekuatan untuk bisa bertahan. 


Ekspresi wajahnya semakin geregetan kayak kadal kecebur got,  engap, dadanya terasa sesak.


Mahesa memilih untuk memejamkan matanya, imannya yang sangat tipis tak mampu untuk menahan hasrat yang menggebu. 


"Sudah kenyang ya, Sayang?" Suara itu menggugah lamunan Mahesa,  entah otaknya sudah mendidih geli, seraya berjoget dansa. 


"Mas,  tolong ambilkan tisu!"


Mahesa menoleh menatap Sabrina, ternyata wanita itu sudah menutup dadanya dengan rapat. 


Mahesa menarik tirainya kembali dan mengambil kotak yang ada di samping Randu. 

__ADS_1


"Habis ke lelep ya, Mas?"  goda Randu seraya cekikikan kecil. 


"Iya, tenggelam di kolam susu."


Sabrina mengambil selembar tisu, matanya mulai menatap Mahesa dengan tatapan curiga. Lalu beralih ke arah Randu yang masih tersenyum simpul. 


Mereka kenapa sih? Apa  ada yang aneh denganku. Apa sebelumnya mas Mahesa memang selalu becanda seperti ini? 


Tanpa keduanya sadari tiba tiba saja mobil sudah berhenti di depan halaman panti. 


Mahesa keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Sabrina dan mengambil alih Devan.


Sedangkan Randu menata kursi roda. 


"Aku mau jalan saja," ucap Sabrina.


"Tapi sayang,__


"Aku bisa kok."


Belum juga melangkahkan kakinya, mata Sabrina menangkap siluet seseorang yang masih bersemayam di hatinya. 


"Mas Imran," panggil Sabrina dengan suara lantang. Diiringi sebuah senyuman manis khas. 


Imran yang melintas terpaksa mendekati Sabrina. Memenuhi panggilannya.


Seketika wajah Mahesa berubah pias. Pria itu meninggalkan Sabrina yang masih mematung di samping mobil. 


"Sabrina, apa kabar?" tanya Imran. 


Sabrina menautkan kedua tangannya malu, apalagi seingat Sabrina Imran adalah calon suaminya. 


"Alhamdulillah, aku baik."


Mahesa menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. 


Hatinya semakin tersayat melihat istrinya tampak bahagia saat bertemu dengan laki-laki lain. 


"Mas, tidak apa apa?"  tanya Randu. 


Mahesa hanya menggeleng tanpa suara  seraya mendengarkan percakapan ringan antara Sabrina dan Imran.


Mungkin ini yang kamu rasakan dulu, dan sekarang aku tahu, sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan. 


Dari jauh Sabrina menatap punggung Mahesa yang menghilang di balik pintu.


Kenapa mas Mahesa meninggalkan aku, apa dia cemburu melihatku bicara dengan mas Imran?

__ADS_1


__ADS_2