
Sabrina menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Hanya untuk mengedipkan mata saja rasanya berat saat membaca pesan singkat dari Camelia yang sangat menusuk. Tapi saat itu ia juga tak mau mengorbankan kebahagiaan suami dan putranya demi orang lain.
Maafkan aku Mel. kali ini aku tidak bisa membantumu.
Setelah mengirim sebuah jawaban Sabrina memblokir nomor istri kedua suaminya.
Hari ini adalah sidang pertama perceraian suaminya dengan Camelia. Sabrina yang ada di rumah berharap semua diberikan kelancaran. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, namun belum ada tanda-tanda Mahesa datang. Sabrina yang dari tadi berada di kamar akhirnya keluar dan menghampiri yang lain, menghilangkan rasa cemas yang mulai menerpa.
Sebuah pesan dari Mahesa masuk. Dengan antusias Sabrina membuka lalu membacanya.
Dan akhirnya sebuah senyuman terbit dari sudut bibir Sabrina. Sontak ia memeluk Bi Mimi dan yang lain secara bergantian.
Semua bingung melihat tingkah aneh Sabrina yang nampak kegirangan.
"Ada apa, Non? Apa Non menang hadiah undian?" tanya Bi Asih.
"Alhamdulillah,Bi. Sidang mas Mahesa berjalan lancar."
Seketika semua pembantu berpelukan, saking senangnya bi Asih memeluk lemari pendingin yang ada di sampingnya.
"Akhirnya den Mahesa lepas dari jeratan nenek sihir."
Sabrina kembali ke kamarnya, merapikan penampilannya, dan kembali menebalkan make up yang sedikit luntur.
Suara klakson menggema, jantung Sabrina tiba tiba saja berdetak dengan kencang, ia meletakkan kedua tangannya untuk menghentikan dadanya yang tak karuan.
Setiap hari aku bersama mas Mahesa, tapi kenapa kali ini rasanya beda, gumamnya kecil.
Sabrina mengingat ulah lembut Mahesa tadi malam. Sepertinya saat ini hanya ada bahagia yang mengelilinginya.
Sabrina keluar dari kamarnya. Saat ini yang ia tuju adalah pintu depan.
Disaat Sabrina membuka pintu, ia terkejut dengan tiga buket bunga yang ada di depan pintu. Hatinya berdebar-debar saat mencium wangi mawar yang sangat ia sukai.
Ini bunga untuk siapa, kenapa nggak ada nama pengirimnya juga?
Sabrina mengedarkan pandangannya, tak ada mobil di halaman, dan tak ada siapapun di sana selain pak Udin yang sedang menyiram bunga.
"Pak," panggil Sabrina sedikit meninggikan suaranya.
Pak Udin mematikan kran air lalu berlari kecil menghampiri Sabrina.
"Iya Non," kata pak Udin ramah.
__ADS_1
"Ini siapa yang kirim, kok nggak ada namanya?"
"Maaf Non, waktu bapak keluar tadi bunga itu sudah ada di meja, dan bapak juga tidak tahu siapa yang membawanya ke sini."
Sabrina hanya menganggukkan kepalanya.
Kira kira ini untuk siapa dan dari siapa?
Sabrina mengembalikan bunga itu di atas meja, takut salah terima.
Di saat Sabrina membalikkan tubuhnya, tiba-tiba saja ada tangan yang menutup matanya dari belakang.
Tak perlu ditebak itu siapa, dari wangi parfum yang ia hirup, Sabrina sudah tahu jika suaminya lah pelakunya.
Sabrina tersenyum. "Mas jangan bercanda, aku tahu kalau ini ulah kamu."
Sabrina mengulurkan tangannya ke belakang lalu mencubit perut sispek Mahesa yang masih tertutup kemeja yang berwarna putih.
Aawww
Mahesa meringis kesakitan dan akhirnya melepaskan tangannya.
"Sayang, kalau mau nyubit jangan perut," pekik Mahesa seraya mengelus perutnya yang masih terasa nyeri.
Sabrina memeluk suaminya dengan erat. Mengucapkan ucapan selamat lewat bahasa kalbu, semua doa nya membuahkan hasil seperti yang diinginkan.
Setelah Sabrina mengendurkan pelukannya, Mahesa mengambil bunga yang beberapa menit menjadi tanda tanya.
"Ini untuk kamu."
Mahesa menyodorkan bunga itu tepat di depan Sabrina.
"Dalam rangka apa?" tanya Sabrina antusias. Sabrina menerima bunga itu dengan beberapa pertanyaan.
Tiba tiba sebuah nyanyian ulang tahun menggema dari arah garasi mobil, Sesil dan Arum keluar dengan membawa sebuah kue yang sangat besar disusul Agung dan Randu yang membawa beberapa kado.
"Selamat ulang tahun yang ke dua puluh dua, semoga di tahun ini kita bisa menambah momongan," bisik Mahesa yang bisa didengar jelas oleh Sabrina.
Air mata Sabrina lolos membasahi pipi. Jika tahun kemarin Sabrina hanya memberikan nasi kuning untuk pembantu Mahesa, tidak untuk saat itu, bahkan tak hanya dari sahabatnya, pak Udin pun sibuk mengeluarkan kado dari mobil yg terparkir di garasi.
Tak berselang lama, ponsel Sabrina Berdering.
Sabrina menggeser lencana hijau tanda menerima.
__ADS_1
"Pasti ibu mau mengucapkan selamat ulang tahun, kenapa baru sekarang? Biasanya tadi malam," ucap Sabrina tanpa jeda, sedikit kesal dengan Bu Yumna.
"Maaf ya sayang, tadi malam ibu nggak sempat, banyak pekerjaan yang harus ibu selesaikan," alasan. Padahal itu memang siasat Bu Yumna dan Mahesa, "Semoga kamu diberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah."
Sabrina dan yang lain mengamini doa dari Ibu Yumna yang ada di balik telepon.
Ruang keluarga sangat ramai, meskipun hanya sahabat dan suami serta pembantu, Sabrina merasa sangat istimewa. Apalagi kehadiran Devan menjadi salah satu tali untuk mempererat hubungannya.
Di saat semua bercanda riuh, bunyi ponsel Sabrina kembali menggema, kali ini ibu mertuanya yang menelepon dan mengatakan tidak bisa datang karena berada di luar kota.
Sabrina menengadahkan tangan lalu melantunkan doa dalam hati.
Ya Allah, di hari yang sangat spesial ini, aku ingin meminta pada-Mu, semoga aku dan mas Mahesa bahagia, semoga kami selalu di berkahi dengan kesehatan, dan semoga sahabat aku dan sahabat mas Mahesa secepatnya mendapatkan pasangan yang terbaik.
"Selamat ulang tahun ya, Sab," seru Sesil sembari memeluk Sabrina. "Tidak ada doa untuk kamu, karena kamu sudah menguasai semuanya, aku hanya bisa mendoakan semoga kamu panjang umur."
Tak hanya Sesil, Arum pun mengucapkan hal yang sama.
"Sekarang kamu potong kuenya, dan berikan potongan pertama untuk orang yang spesial dihati kamu," ujar Arum.
Setelah memotong kue yang pertama, Sabrina berlutut di depan Mahesa dan meletakkan kuenya yang beberapa saat ada ditangannya.
Sabrina meraih kedua tangan Mahesa dan menciumnya.
Randu memilih untuk pergi, jiwa jomblo nya meronta ronta melihat Mahesa dan Sabrina yang sangat romantis level tinggi.
Tidak dengan Agung yang selalu memotret momen yang menurutnya sangat asik untuk di abadikan.
"Aku minta maaf ya, Mas. Selama kita menikah, aku belum bisa menjadi istri yang sempurna."
Mahesa hanya menggeleng kecil.
"Tapi aku akan berusaha menjadi istri yang lebih baik lagi," imbuhnya.
Itu adalah ucapan Sabrina dari lubuk hati yang paling dalam, namun bagi Mahesa itu adalah gambaran dirinya selama menikahi wanita yang ada di depannya.
Mahesa memegang kedua lengan Sabrina dan mendudukkan di sampingnya.
"Jangan banyak bicara, sekarang cepat aku ingin tahu siapa diantara semua orang yang ada disini itu spesial di hati kamu."
Sabrina meraih potongan kue dan meringsuk duduknya lebih mendekat di samping Mahesa.
"Semua yang ada disini spesial di hatiku, tapi ada satu yang harus aku utamakan, yaitu, Mas, tetaplah menjadi imam yang yang baik bagiku dan ayah yang yang tangguh bagi Devan."
__ADS_1