Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Tuntas


__ADS_3

Belanja baju gamis. Sepertinya kebiasaan Sabrina mulai melekat kembali. Terakhir kali  baju yang dibelinya hilang musnah gara-gara malam itu. Model dan tipe baju semakin keren dan modern, tak seperti yang ia pakai setiap hari.  Beberapa kali  Sabrina mencoba baju yang ia pilih, namun tak ada satupun yang ia sukai hingga Mahesa memilih untuk menjadi penonton. Tak mengajak siapapun, Mahesa sengaja pergi berdua dengan sang istri setelah Bu Risma menodong Devan untuk tetap di rumah. 


Sabrina menatap Mahesa dari jauh lalu melambaikan tangannya. Setelah sang suami mendekatinya, Sabrina malah tersenyum cengengesan sembari berbisik. 


"Mas lebih suka aku pakai baju yang mana?" 


Mahesa mengedarkan pandangannya ke arah lain. Satu pun tak nampak yang ia cari,  Akhirnya Mahesa meninggalkan Sabrina dan masuk ke toko sebelah. 


Mas Mahesa mau kemana, ditanya nggak dijawab, malah main pergi saja. 


Sabrina mengembalikan baju yang sudah berada di tangannya dan memilih diam. 


Beberapa pegawai mall hanya tersenyum saat melihat kejengkelan Sabrina. Selang beberapa waktu Mahesa kembali dengan menyembunyikan kedua tangannya di belakang. 


"Mas dari mana?" tanya Sabrina ketus. Bahkan Sabrina menatap ke arah lain. 


Lagi-lagi Mahesa tak membuka suara. Pria itu menarik lengan Sabrina menuju ruang ganti. 


"Tadi kan kamu nanya, lebih cantik pakai yang mana."


Sabrina mengangguk, ia menatap curiga saat Mahesa terus tersenyum jahil. 


"Sebenarnya kamu lebih cantik pakai ini." Mahesa menjewer lingerie berwarna hitam tepat di depan Sabrina.


Sabrina hanya menelan ludahnya dengan susah payah, kedua matanya membulat sempurna menatap baju yang menurutnya sangat aneh. 


"Nggak! apa Mas mau membuatku malu dengan memakai begituan." Menyungutkan kepalanya ke arah baju yang masih menggantung di tangan suaminya. 


"Ini hanya untuk di kamar Sayang, bukan untuk di luar," jelas Mahesa.


"Sama saja, intinya mas menyuruhku memakai baju yang kekurangan kain, aku nggak mau, mau ditaruh di mana wajahku." Sabrina meninggikan suaranya. Kesal dengan Mahesa yang terus menggodanya. 


"Tapi aku akan tetap beli, dan kamu akan berdosa jika tidak mau menurut."


Jika di fase seperti ini Sabrina kalah jauh dan memilih diam daripada harus ribut di depan umum.


Keduanya kembali keluar.  Beberapa baju gamis sudah terbungkus rapi tanpa persetujuan dari Sabrina.


Nggak bingung sih, hanya mendesah geram dengan kelakuan Mahesa. 


Sabrina terus menatap suaminya dari samping, itu hari libur Mahesa yang artinya hari dia dengan kebahagiaannya. Sabrina  tak ingin mengganggunya dengan urusan perceraian. 


"Kita kemana lagi?" Mahesa memasukkan ponsel ke dalam saku kemejanya dan menggandeng tangan Sabrina lalu keluar.


"Makan, perut aku lapar."


Keduanya berjalan menuju parkiran,  namun saat keduanya sudah berada di samping mobil, tiba tiba saja Mahesa menghentikan langkahnya saat ada yang memanggilnya dari belakang. 

__ADS_1


"Mas,"  Itu suara yang ketiga kalinya. Sabrina dan Mahesa menoleh. 


Nampak seorang laki-laki berseragam biru muda  mematung di belakangnya. 


"Kamu kenal dia?" tanya Mahesa dengan nada pelan. 


Sabrina mengamati wajah yang menurutnya sangat asing. 


"Nggak,  itu kayaknya supir taksi." 


Pria yang sudah paruh baya itu menghampiri Sabrina dan Mahesa,  ada senyum yang terbit saat pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet yang berwarna hitam.


"Ini kartu identitas Mas kan?"


Mahesa mengambil kartu yang ada di tangan pria itu lalu membacanya.


"Benar," Mahesa menatap pria itu dengan penuh kecurigaan. 


 "Kenalkan, saya Supriyono,  supir taksi yang waktu itu mengantarkan Mas pulang."


Dengan percaya dirinya pria itu mengulurkan tangannya. 


Tak ada tanggapan dari Mahesa, otaknya berkelana mengingat kapan dia naik taksi dan sampai meninggalkan kartu identitasnya.


"Mas," Sabrina menyenggol lengan Mahesa hingga tersadar dari lamunannya. 


"Lho, ini juga mbaknya yang waktu itu kan?"


Sambil menunjuk ke arah Sabrina, Supriyono semakin berseri-seri, apalagi tangan keduanya masih saling terpaut memamerkan kemesraanya. 


"Ternyata kalian berjodoh." 


Mahesa dan Sabrina semakin tak mengerti kemana arah pembicaraan pria di depannya itu. 


"Tunggu tunggu!" 


Mahesa mengangkat tangannya. 


"Bapak tolong jelaskan! Apa maksud bapak? Apa kita pernah bertemu? Dan dari mana bapak mengenal istriku?" 


"Waktu itu ada teman Mas yang meminta saya untuk mengantar ke apartemen. Saat itu mas mabuk berat, dan tiba di tengah jalan yang sangat sepi, saya lihat ada mbak ini sedang tergeletak di pinggir jalan. Kasihan, karena sepertinya ada orang jahat yang mau memanfaatkan mbak saat pingsan."


"Lalu?" tanya Mahesa antusias. 


"Lalu saya tolong mbak ini," pria itu menggaruk kepalanya. 


"Dan setelah sampai di depan apartemen, Mas. Saya bingung mau bawa kemana, semua identitas mbak ini hilang." Pria itu menjeda ucapannya. 

__ADS_1


Mahesa melingkarkan tangannya di pinggang Sabrina. Berharap wanita itu tak goyah setelah mendengar penjelasan pak Supri. 


Itu masa lalu  yang tak perlu disesali lagi. 


"Terus Mas nya bilang, bawa masuk.  Jadi saya bawa mbak ke kamar mas," jelas pria itu dengan gamblang. 


"Terus?"


"Ya, saya pikir tugas saya susah selesai, dan saya pulang. Setelah beberapa hari saya menemukan itu di bawah kursi belakang," menunjuk ke arah kartu yang masih dipegang Mahesa. 


"Awalnya saya cari Mas di klub untuk mengembalikannya, tapi Mas tidak ada,  dan saya juga cari sahabat Mas yang meminta bantuan, dia juga tidak ada. Saya bingung mau kasih siapa,  akhirnya saya simpan."


"Mas aku ke mobil dulu ya."


Mahesa mengangguk tanpa suara. 


Sabrina memilih masuk ke dalam mobil meninggalkan Mahesa yang masih berbincang.


Ya Allah, seandainya pak Supri tidak menolongku, itu artinya aku juga akan ternodai,  bahkan dengan berandalan.


Pak Udin hanya menatap Sabrina dari pantulan spion.


Mendengar cerita pak Supri, Sabrina pun ingin melupakan sepenuhnya malam kelam itu dan ingin memulai hidup barunya bersama suami dan putranya. 


Mahesa tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. Tak lupa Mahesa memberikan beberapa lembar uang karena sudah jujur padanya. Dan memberikan barang miliknya.


"Doakan aku dan istriku bahagia ya, Pak." 


Pak Supriyono mengangkat kedua jempolnya.


Setelah pak Supriyono pergi, Mahesa menghampiri mobilnya. Rasanya lega fakta tentang malam itu seratus persen sudah diketahui. 


"Jalan, Pak!" titah Mahesa. 


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mahesa.


Sabrina menyandarkan kepalanya di pundak Mahesa. 


"Kamu sudah dengar kan kejadiannya? Malam itu aku benar-benar nggak sadar,  aku mabuk dan di bawah pengaruh obat perangsang, dan aku nggak bisa melihat dengan jelas siapa perempuan yang ada di kamarku."


Sabrina mengelus punggung tangan Mahesa lalu menciumnya. 


"Jangan dibahas lagi, itu hanyalah masa lalu," ujar Sabrina. 


Luasnya samudera saja tak akan mampu menandingi kesabaranmu, dan menikahimu adalah takdir terbaik dalam hidupku. 


Pak Udin hanya tersenyum,  karena ia pun pernah merasakan momen seperti Sabrina dan Mahesa, dan baginya melihat mereka adalah bernostalgia kembali. 

__ADS_1


__ADS_2