
Randu membaringkan tubuhnya menatap langit langit kamarnya, ucapan Cici masih terngiang ngiang di telinganya. Meskipun ia belum tahu siapa yang dimaksud, namun nama Ayana yang menjadi incarannya kali ini.
"Jika sahabat Cici adalah Aya, kasihan dia," gumamnya.
Randu terbangun dan duduk ditepi ranjang, setiap ada masalah Randu tak bisa membiarkan begitu saja, apalagi menyangkut orang yang ia kenal, termasuk Aya. Pasti Randu tak bisa mengabaikannya dan ingin ikut campur. Namun kali ini ia harus bicara dengan Mahesa sebelum mencari tahu lebih dalam.
Setelah beberapa jam bergelut dengan otaknya, Randu keluar dari kamarnya, takut jika Sabrina harus memanggilnya untuk makan malam.
Sabrina dan para pembantu menata makanan, sedangkan Mahesa dan anak anak sedang berada di ruang tengah, Randu turun menghampiri Mahesa yang nampak sibuk memasang baju boneka milik Raisya. Suasana malam yang masih sangat ramai, keluarga hangat yang Sabrina ciptakan empat tahun silam itu sukses dan membuat jiwa emak iri.
"Ayah, besok kita main lagi sama Alvino ya," pinta Raisya menghampiri Randu yang baru tiba di bawah tangga. Pertemuan yang kedua kali membuat Raisya mulai akrab dengan Alvino. Bocah yang lebih banyak diam dan tak se jahil Devan.
Devan melipat kedua tangannya dan memanyunkan bibirnya, beralih mendekati Mahesa dan menjauhi Raisya.
"Tapi kan ayah nggak tau rumah Alvino?" Randu mengangkat tubuh Raisya, "di rumah kan sudah ada kak Devan."
Raisya menatap Devan yang duduk di samping Mahesa. "Aku nggak mau sama kak Devan, dia nakal. Aku maunya sama Alvino."
Devan semakin merengut, wajahnya ditekuk dan melengos, sedikitpun tak ingin melihat Raisya yang sudah berani mengatai nya. Dalam hatinya terus menggerutu tak jelas.
Akhirnya Mahesa memanggil Bi Mimi untuk membawa anak anak pergi, daripada urusannya tambah runyam.
Setelah memastikan putra putrinya menjauh dari ruangan itu, Mahesa meringsuk duduknya mengikis jarak keduanya.
"Memangnya tadi siang kamu ketemu sama Aya?" tanya Mahesa antusias.
Randu menggeleng. "Mas sebenarnya Alvino bukan anak Aya."
Mahesa menyemburkan kopi yang baru saja masuk di mulutnya.
"Maksud kamu apa? Kemarin kamu bilang Alvino anak Aya, kenapa sekarang tidak?"
Randu menceritakan pertemuannya dengan Cici secara detail. Ia mengatakan apa yang Cici ucapkan padanya, meskipun wanita itu tak menyebut nama Aya, Alvino adalah kunci utama Randu menerka.
"Cici bilang kalau Aya tidak bahagia, suaminya tidak mencintainya, Mas."
Sekarang tak hanya Randu, Mahesa ikut gelisah setelah tahu kenyataannya.
__ADS_1
Ayana Mira. Gadis yang sangat tak asing di telinga Mahesa dan Randu. Dengan percaya dirinya Aya berani bergabung dengan Mahesa saat kuliah. Beberapa kali ditolak tak menyurutkan Aya untuk bisa menjadi bagian dari club yang didirikan Mahesa. Saat biaya menjadi kendala, Aya memutuskan untuk keluar ditengah jalan, dan disaat itu ia bekerja di klub malam membanting tulang untuk kehidupan sehari hari. Meskipun banyak cemooh dari tetangga, Aya tak peduli, baginya, ia harus bisa berdiri tanpa mengandalkan siapapun.
"Lagi bicara apa sih, kok serius banget?"
Sabrina datang membawa David yang sedang minum susu.
Mahesa menggeser duduknya memberi tempat untuk sang istri.
"Kami bicara tentang Aya," jelas Mahesa.
Sabrina melepas dot dari bibir mungil David dan meletakkannya di meja. Sepertinya nama itu pun pernah melintas di telinga Sabrina, namun ia tak begitu mengenalnya.
"Aya yang waktu itu,__
Sabrina menghentikan ucapannya saat Mahesa mengangguk.
"Kenapa dengan dia, apa ada masalah?"
Mahesa menatap Randu sejenak lalu kembali menatap Sabrina.
'Sepertinya persahabatan mas Mahesa dan Aya sangat dekat, sampai sekarang pun mas Mahesa masih peduli padanya,' lirih hati Sabrina.
"Mas, Mbak, besok aku mau mulai kerja, aku hanya mau bilang sama, Mbak. Titip David dan Raisya."
Mata Sabrina berkaca, setiap kali nama kedua bocah itu disebut relung hatinya ikut teriris dan perih.
"Tidak kamu minta pun aku akan merawat mereka, jangan khawatir, kehidupan Raisya dan David akan tetap bahagia, mereka tidak akan haus kasih sayang Bunda. Anggap saja aku dan Mas Mahesa ini keluargamu."
Hanya rasa syukur yang bisa diucapkan Randu, setidaknya masih banyak orang yang menyayangi putra putrinya seperti ibu kandungnya sendiri.
"Kebetulan sekali, kemarin ada beberapa orang yang melamar kerja, kamu urus semuanya, dan aku percayakan toko emas yang ada di jalan XX itu untuk Raisya dan David, anggap saja itu hadiah dariku untuk mereka."
"Tapi mas, toko itu terlalu besar, dan bagi aku ini berlebihan."
"Tapi bagiku nggak!" tukas Mahesa, "pengorbanan kamu mengembangkan beberapa usahaku lebih berat, dan itu belum seberapa. Kamu terima dan kelola atau kamu pergi dari kehidupanku!" ancam Mahesa.
Skak
__ADS_1
Randu tak bisa berbuat apa apa selain menerima, karena pilihan yang kedua tak mungkin ia ambil.
"Baik, Mas."
Mahesa menepuk bahu Randu tiga kali. Lalu beranjak menuju ruang kerja. Beberapa menit Mahesa keluar membawa beberapa map di tangannya. Ternyata ia mengambil beberapa beberapa dokumen yang tadi siang ia bawa pulang.
Mahesa tersenyum saat melihat wajah perempuan yang Bernama Aida Safitri. Sekelebat fhoto gadis berjilbab itu seperti Sabrina, hanya saja gambar itu mempunyai tahi lalat di bibir, sedangkan istrinya tidak.
"Sayang, lihat deh! Dia mirip kamu ya?"
Mahesa menunjuk gambar yang tertera. Randu ikut mengamati fhoto itu lalu melirik ke arah Sabrina sekilas.
Benar apa kata Mahesa, Randu pun melihat beberapa kemiripan antara keduanya.
Sabrina merebut map itu dan menatapnya dengan lekat.
"Tapi dia lebih cantik dariku," ucap Sabrina pelan, namun masih bisa di dengarkan Sabrina dan Randu.
Mahesa hanya mencubit pipi Sabrina yang menggemaskan.
"Apa jangan jangan dia kembaranmu?" tanya Mahesa penyelidik. Seperti ada sebuah keyakinan kalau Sabrina dan orang yang ada di balik fhoto itu punya hubungan darah.
Sabrina tertawa pelan, takut mengusik David yang mulai terlelap.
"Aku nggak punya saudara, dari kecil aku hidup bersama ayah dan ibu sendiri, setelah mereka meninggal aku di titipkan bibi di panti asuhan."
"Bibi," seru Mahesa.
Sabrina mengangguk.
"Kamu punya bibi?"
Sabrina mengangguk lagi.
"Waktu itu aku belum tahu pasti saudara dari mana dan siapa, yang aku tahu dia aku panggil bibi, tapi sayangnya dia nggak mau membawaku pulang, sampai pada akhirnya terpaksa aku ikut Ibu, dan aku besar di sana. Dan sampai sekarang aku pun nggak tahu bibi ada dimana," ungkap Sabrina panjang lebar.
Selama ini yang Mahesa tahu hanya Sabrina, gadis kampung yang hamil di luar nikah dan tak patut cintai. Tanpa ia tahu perjalanan hidupnya sangat pahit dan itu dirasakan dari kecil.
__ADS_1