
Mata Sabrina nampak sembab. Semalaman penuh ia tak bisa memejamkan matanya, mengingat nasib yang tragis, tak menyangka ia terjerat pada satu laki laki yang membuatnya bahagia, namun juga menghancurkan masa mudanya.
Bu Yumna masuk ke kamar Sabrina dengan menggendong Devan. Tak jauh beda dengan Sabrina, pengasuh itu pun nampak memendam kesedihan yang sama.
"Ning, jangan menangis lagi, kalau kamu seperti ini Ibu merasa bersalah pada orang tuamu."
Sabrina semakin terisak, tanpa melepas mukenanya wanita itu terus bersujud di atas sajadahnya. Mengumpakan dia berada di dasar lautan yang dalam, dan tak sanggup untuk mencapai daratan kebahagiaan.
"Sekarang keputusan ada ditangan kamu, Mahesa menunggumu di luar."
Sabrina melepas mukenanya lalu memeluk Bu Yumna. Reaksi Devan jauh beda dengannya. Bayi itu terus tertawa menggelitik.
Sebagai seorang Ibu, Bu Yumna pun tak bisa berbuat apa apa, apa lagi Pak Yudi terus menghubunginya menanyakan perkembangan kondisi Sabrina.
Sabrina mengambil alih Devan. Mengelus pipi gembulnya lalu mencium keningnya, se benci apa pun, Mahesa tetaplah ayah dari putranya yang sempat menjadi tanda tanya.
Sebuah kata kata pernah diucapkan, jika ia tidak akan memaafkan orang yang merenggut keperawanannya, namun bagaimana sekarang, Sabrina jadi bimbang untuk mengambil langkah.
"Bu, bantu aku!" Merasa terhuyung akan masalah yang terus membelit nya. Dan butuh sandaran untuk tetap berdiri tegap.
Bu Yumna merangkul pundak Sabrina memberikan kekuatan untuk tetap bangkit. Melewati tamparan keras dunia.
"Ibu akan bantu kamu, dan ibu akan dukung apapun keputusan kamu."
Akhirnya guratan senyum indah menghiasi sudut bibirnya saat Sabrina berdiri.
Penampilan yang sangat polos, hanya memakai hijab segi empat dan daster bermotif bunga, make up tipis menutupi matanya yang membengkak, Sabrina keluar dari kamarnya, nampak dari jauh Mahesa duduk di ruang keluarga, pria itu menautkan kedua tangan dan termenung.
Dari lubuk hati yang paling dalam Sabrina merasakan sesuatu yang sangat aneh pada pria itu, namun terkadang tangannya geli dan ingin mencakar wajahnya saat mengingat malam kelam yang tak diketahui kronologinya.
Dengan langkah yang sedikit ragu, Sabrina menghampiri Mahesa menghilangkan kegundahannya yang terus merayap di dalam dirinya.
"Mas." sapanya dengan nada ketus.
Mahesa menoleh lalu tersenyum, sedikitpun tak ingin menyentuh Sabrina, apalagi memeluk dan mencium, dan memilih bergeming di tempat.
"Aku Ingin bicara," lanjutnya. Masih dengan nada tinggi seraya menatap pintu utama yang terbuka lebar, nampak sang asisten mematung di samping mobil sedang berjemur.
Mahesa hanya mengangguk menyiapkan hatinya untuk menerima apa yang akan diucapkan Sabrina padanya.
Rumah sangat sepi, semua anak anak berangkat sekolah. Sedangkan yang lain sudah bergelut dengan kesibukan masing maaing, Sabrina bisa sedikit bebas untuk meluapkan emosinya.
Sabrina duduk didepan Mahesa, meskipun terhalang meja setidaknya Mahesa masih bisa menatap wajah ayu istrinya.
Hening, Sabrina masih menahan lidahnya, padahal rentetan kalimat sudah dia siapkan, namun nyalinya tiba tiba saja menciut saat berhadapan dengan Mahesa yang statusnya adalah suaminya.
"Kamu mau bicara apa?" Akhirnya Mahesa membuka suara mengawali pembicaraan.
__ADS_1
Sabrina menghela napas panjang. Memiringkan duduknya sedikit menyingkur Mahesa yang terus menatap wajahnya.
"Jangan lihatin!" Sabrina jadi salah tingkah, kemarahannya tiba tiba saja menghilang begitu saja.
Masih mengulas senyum. Mahesa sedikit melirik ke arah bibir sabrina yang berwarna pink.
"Aku akan melihat Randu," Mengalihkan pandangannya ke arah yang sama.
"Aku serius, Mas."
"Aku juga serius," ucap Mahesa dengan nada pelan.
"Mulai hari ini aku nggak mau kamu tinggal disini, aku ingin sendiri dulu."
Mahesa langsung mengangguk tanpa suara, tak ingin memperkeruh suasana dengan bantahannya. Apalagi yang ia lakukan selama menikah sudah sangat melukai hati Sabrina.
"Aku akan pulang, jaga diri baik-baik, apa aku boleh bertemu Devan?"
"Silakan!"
Sabrina menatap punggung Mahesa yang berlalu menuju kamar putranya.
Begitu mudahnya kamu menyetujuinya Mas. Aku ingin tahu, apa aku dan Devan sangat penting di hati kamu, atau kamu hanya merasa bersalah dengan kejadian itu.
Selang beberapa menit, Mahesa keluar dari kamar Devan dan kembali menghampiri Sabrina. Wajahnya nampak pucat dan tak bergairah.
Sabrina hanya memandang mobil yang mulai menghilang, sedikit menangkap keanehan sikap Mahesa, wanita itu malah semakin ragu untuk terus mempertahankan rumah tangganya.
"Kenapa, Ning?"
Sabrina terkejut dan menoleh.
"Bu, apa mas Mahesa sangat mencintaiku?"
Bu Yumna mengangguk. Tak perlu menjelaskan dengan kata kata. Kesetiaan Mahesa sudah tak perlu diragukan lagi.
"Tapi kenapa dia menyetujui keputusanku? Kenapa dia nggak berjuang untuk mendapat maafku. Dan kenapa dia langsung pergi begitu saja."
Sabrina semakin sewot dengan Mahesa yang nampak santai.
"Mungkin ada pekerjaan yang sangat penting, jadi dia buru-buru."
Tiba tiba saja hati Sabrina gelisah saat mengingat nama Camelia.
Hampir sepuluh menit melintas di jalanan. Mahesa Merasa tubuhnya semakin lemah, pria itu terus menyadarkan punggungnya dan memejamkan matanya.
"Mas kenapa? tanya Randu.
__ADS_1
Napas Mahesa terdengar ngos-ngosan dan tak beraturan.
"Bawa aku ke apartemen, dan panggilkan dokter," ucap Mahesa dengan mata yang masih terpejam.
Randu memarkirkan mobilnya sejenak lalu melepas seat beltnya dan keluar membuka pintu belakang.
"Mas sakit?" memegang kening Mahesa dengan punggung tangannya lalu membantunya membuka kancing kemejanya.
"Aku hanya lelah saja, dan sepertinya aku butuh istirahat."
Mahesa menghirup udara dalam-dalam saat Randu mengoleskan minyak di dadanya.
Kasihan Mas Mahesa, perjuangannya sangat besar, bahkan dia tidak memikirkan dirinya sendiri demi Mbak Sabrina, dan aku harap setelah ini dia akan Mendapatkan kebahagiaannya.
Sebelum melajukan mobilnya, Randu terlebih dulu menghubungi dokter keluarga untuk datang ke tempat tujuan.
Seperti keinginan Mahesa, Randu membawanya ke apartemen, ternyata Dokter Ridwan sudah ada di sana.
"Kenapa dengan mas Mahesa?" tanya nya mendekati Randu yang nampak panik.
"Mas Mahesa sakit, tolong Dokter periksa dia! "
Randu dan sang dokter memapah Mahesa ke dalam dan tepatnya di kamar.
"Randu," panggil Mahesa setelah berbaring di atas ranjang.
"Iya, Mas."
"Jangan bilang ke siapa pun kalau aku sakit, dan aku tidak mau menerima telepon dari mama dan papa juga Sabrina."
"Baik, Mas."
"Dan satu lagi, kamu urus surat perceraianku dengan Camelia," imbuhnya.
Lagi lagi Randu hanya bisa mengangguk tanpa membantah.
Setelah di periksa beberapa menit, Dokter Ridwan terlihat sedikit cemas.
"Tekanan darah Mas sangat rendah, harusnya Mas di rawat di rumah sakit supaya lebih intensif."
Mahesa tersenyum getir, meremehkan ucapan Dokter yang ada di samping ranjangnya.
"Aku hanya butuh istirahat, ngapain di rumah sakit?"
Dokter Ridwan geleng-geleng dan meraih ponselnya.
"Kalian siapkan peralatannya! Kami akan segera datang."
__ADS_1