
Hahahaha
Mahesa bergelak tawa setelah mendengar penjelasan Randu. Beberapa kali mendapat semprotan dari Aya tak membuatnya mundur, malah bagi Randu Aya sudah menantang dirinya untuk terus maju. Pertemuan yang dipenuhi dengan drama keangkuhan itu berlalu, kini Randu mulai menyusun taktik untuk meruntuhkan hati seorang Ayana Mira.
Saat ini Mahesa sekeluarga dan Randu berada di rumah pak Yudi, dan lebih tepatnya keduanya berada di kamar Mahesa.
"Menurutmu aku harus bagaimana, Mas?" Randu melirik Mahesa yang berada di atas pembaringan, sedangkan ia memilih duduk di sofa.
"Kamu harus pintar-pintar cari perhatiannya, kalau perlu belikan apapun yang dia mau."
Mahesa ikut menoleh menatap wajah Randu yang nampak suram.
"Itu pasaran banget, Mas. Aku nggak yakin kalau itu akan berhasil."
Randu hampir kehabisan akal untuk membujuk Aya, berbagai cara sudah didapatkan, namun Randu masih ragu untuk memakainya, takut Aya mengatainya lebay.
Randu meletakkan pecinya dan mengganti bajunya. Sebelum datang ke rumah pak Yudi, Randu dan Mahesa serta Sabrina berkunjung ke makam Arum dan kerabat lainnya. Sedangkan Sesil tak bisa datang karena ikut suaminya seminar di luar kota.
"Semalam Raisya minta ke rumah Aya, dan sekarang aku akan ajak dia ke sana.
Halah, bilang saja kalau bapaknya yang ingin kesana. Pakai alasan anak segala.
Mahesa memicingkan bibirnya, memunggungi Randu yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Yang tampan, pak Duda. Tunjukkan pesonamu!" goda Mahesa, meraih majalah dewasa dan meletakan di wajahnya. Kebetulan sekali yang berada tepat di atas wajahnya adalah gambar seorang model wanita yang hanya memakai baju dalam, dan itu sudah diketahui Randu dari tadi.
Randu membuka sepatunya lalu keluar dari kamarnya. Selang beberapa menit ia kembali bersama Sabrina.
Sabrina berkacak pinggang, ia terus menatap wajah Mahesa yang masih tertutup, nafasnya terdengar teratur, itu artinya Mahesa sudah mulai menikmati alam lain.
"Mas!" teriak Sabrina seraya menarik majalahnya. Dengan lekat ia menatap gambar yang menurutnya tak sopan.
"Apa sih, Sayang?"
Mahesa duduk, mimpinya berantakan gegara teriakan sang istri yang persis emak-emak kompleks.
"Apa ini?" tanya Sabrina antusias.
Randu memilih kabur daripada harus kena imbasnya.
Mahesa membulatkan matanya saat melihat kemontokan dua gunung milik sang artis.
"Aku nggak tahu," jawab Mahesa gugup.
Sabrina melempar majalah itu di atas kasur, lalu meraih bantal dan memukul Mahesa.
"Nggak mungkin kamu nggak tahu, pasti tadi kamu membayangkan bisa berduaan sama dia."
Sabrina mulai menitihkan air mata, di kehamilannya kali ini, Sabrina lebih sensitif dari sebelumnya.
__ADS_1
Mahesa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tak bisa menghadapi kemarahan Sabrina. Apalagi dengan jelas ia yang bersalah.
"Sayang, beneran aku nggak tahu."
Mahesa menarik tubuh Sabrina dan memeluknya, sedikit merenggang di bagian perut yang mulai membuncit.
Ini pasti ulah Randu, nggak mungkin Sabrina tahu kalau nggak ada yang ngadu, lagian kenapa pas gambar itu sih yang ada di wajahku, bikin mual.
Mahesa menepuk-nepuk punggung Sabrina yang bergetar, ia mencoba menenangkan istrinya yang mudah emosi.
"Aku minta maaf ya, nanti aku akan pakaikan baju untuk dia." Mahesa menyungutkan kepalanya ke arah gambar yang terpampang jelas keseksiannya.
Plak
Sebuah pukulan mendarat di lengan mahesa.
"Ngapain kamu harus pakaikan baju, biar saja dia telanjang," ucap Sabrina kesal, melepaskan pelukannya lalu keluar dari kamarnya.
Kacau, kalau kayak gini bisa-bisa ntar malam nggak dapat jatah.
Mahesa berlari kecil mengikuti Sabrina keluar, selain ingin mendapat maaf, Mahesa juga ingin memberi pelajaran pada Randu.
"Ma, Randu di mana?" tanya Mahesa.
Bu Risma menunjuk ke arah mobil Randu yang sudah keluar dari gerbang.
Sial, umpat Mahesa dalam hati.
Dari halaman Randu menatap Aya yang berada di samping rumah dengan membawa galah.
"Itu mama Aya, Ayah," kata Raisya yang masih berada di dalam mobil seraya menunjuk Aya.
"Iya sayang, Isya yang pintar, ya. Bujuk Mama Aya supaya mau pulang." Raisya mengangguk diiringi dengan senyuman manis.
Randu menghampiri Aya dengan Raisya yang ada di gendongannya, kali ini Aya tak bisa se ketus kemarin karena ada bocah yang ia pun rindukan.
"Mama Aya," Raisya merosot dan berhamburan memeluk Aya.
"Ma, kita pulang," rengek Raisya.
Aya sudah menangkap bau bau persekongkolan antara Ayah dan anak itu.
Aya menatap Randu yang memalingkan wajahnya, pura-pura menatap ke atas, dimana banyak pohon mangga menggantung.
"Mas, jangan bilang kamu yang nyuruh Raisya?"
Randu menggeleng cepat seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Mas jangan bohong!" ucap Aya menekankan.
Randu menggaruk alisnya, ia memang tak bisa bohong, apalagi di depan Aya yang bisa membaca isi pikirannya.
"Oke, aku memang yang menyuruh Raisya, karena aku nggak tahu harus dengan cara apalagi aku memohon."
Aya menatap Raisya. "Cinta itu butuh perjuangan, Mas. Aku bukan perempuan sholehah seperti yang kamu harapkan, tapi aku butuh bukti jika kamu memang serius padaku."
Randu berlutut menempelkan kakinya di atas rerumputan yang lebat.
"Katakan, Ay! Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya padaku."
Aya tak mengucap, ia hanya mengangkat jari telunjuknya ke arah buah mangga yang hampir masak itu masih berada di atas pohon.
Randu mengerutkan alisnya.
"Apa maksud kamu?" pekik Randu.
"Kamu harus bisa mengambil semua buah mangga itu, dan anggap saja itu cinta, kalau kamu bisa, artinya lamaran kamu aku terima, tapi jika kamu gagal, kita akan tetap sebagai sahabat."
Ayana paling tahu kelemahan seorang Randu, jika pria itu tak bisa memanjat pohon.
Keringat dingin sudah mulai bercucuran, tangan Randu sudah mulai gemetar, namun demi sebuah misi, Randu pun mendekati pohon itu.
"Kamu yakin akan menyuruhku memanjat pohon ini?" Randu masih sangat ragu dan berharap Aya mengurungkan niatnya.
Ayana mengangguk tanpa suara.
"Nanti kalau jatuh lalu meninggal bagaimana? Kasihan anakku Ay, mereka akan menjadi yatim piatu."
"Biar aku yang mengasuh, Mas. Kamu percaya kan sama aku?"
Apa ini balasan karena aku sudah mengerjai mas Mahesa.
Tanpa basa basi, Randu mulai merangkul pohon yang berukuran besar itu lalu menaikan satu kakinya, jantungnya terus berdetak kencang. Namun ia abaikan demi seorang Ayana. Randu menganggap itu adalah uji nyali untuk hubungan selanjutnya.
"Semangat, Mas!" teriak Aya saat Randu mulai menginjakkan kaki di atas batang lalu berpindah ke ranting.
Raisya ikut bertepuk tangan dan terus tertawa melihat perjuangan Ayahnya.
Randu menatap ke bawah, rasa takutnya semakin menjadi saat ia berada di ketinggian yang menurutnya di luar dugaan.
"Ay, kamu dibawah dong, nanti kalau aku jatuh kakiku patah gimana?" Disaat genting Randu masih saja menggombal.
"Tenang mas, nggak akan jatuh, tinggal sedikit lagi, cepetan!"
Randu menatap buah mangga yang tak jauh dari tangannya, namun ia belum bisa menjangkau, akhirnya Randu maju selangkah kedepan, kedua tangannya memegang erat ranting yang ada di atasnya.
Ya Allah, lindungilah aku.
__ADS_1
Perlahan Randu melepas pegangannya dan menjulurkan tangannya ke arah mangga yang berwarna hijau kekuningan. Atas izin Allah, akhirnya Randu bisa meraih buah itu, meskipun hanya satu Ayana sudah menganggap Randu berhasil melewati ujiannya.