Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Kontraksi palsu


__ADS_3

Kini Randu baru menyadari bahwa keimanan manusia tak bisa diukur dari penampilan, tapi dari lubuk hati yang terdalam, perubahan Aya membuatnya bisa menilai tinggi derajat manusia di sisi Allah. 


Sebelum Aya naik mobil, Randu menarik tangannya dari belakang. Wajahnya sendu, bukannya tak ingin diungkapkan, namun semua itu masih tertelan di antara lidah dan kerongkongan. 


"Kenapa sih, Mas? Apa ada yang ketinggalan?"


Aya menggeser tubuh Randu dan melangkah menuju gerbang makam. Menghindari tatapan mata Randu yang dipenuhi penyesalan. 


Aya mengingat apa yang dipikirkan suaminya. Sebenarnya Aya tahu kalau bukan itu yang harus ia tanyakan, hanya alih-alih bodoh saja. 


"Aku minta maaf."


Rasa bersalah itu terus menyerang kala mengingat perlakuannya yang sering merendahkan wanita yang mencintainya bertahun-tahun. Mulai dari masih berteman,  Randu memandangnya sebelah mata,  hingga pacaran atas dasar misi,  Randu mengabaikannya, tak pernah membalas cinta Aya walaupun secuil,  rasanya itu lebih menyiksa batin daripada hukuman cambukan saratus kali dengan cemeti. 


Keduanya saling memunggungi. Randu menatap mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, sedangkan Aya menatap ke dalam makam, tempat dimana ia nanti akan kembali. 


"Untuk apa?" Aya mengusap air matanya yang lolos membasahi pipi, berpura pura bodoh dengan pertanyaan suaminya. 


Tak melanjutkan ucapannya, Randu memutar tubuhnya menatap punggung Aya yang jauh lebih pendek darinya. Memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan menghela napas panjang. 


"Untuk semua yang pernah aku berikan ke kamu."


"Kita pulang, Raisya pasti sudah nungguin di rumah."


Entah, Aya merasa sangat canggung, padahal dari beberapa bulan ini ia sudah mampu meletakkan posisinya dengan baik, tapi mendengar ucapan Randu barusan ia merasa ada yang aneh di diri pria itu. 


Jantung Aya terasa berdegup tidak normal, namun ia berusaha untuk menyembunyikan itu semua, Aya ikut membalikkan tubuhnya dan maju satu langkah. Mengikis jarak antara kedua nya, tempat itu sepi, hanya ada beberapa orang melintas, itu pun sedikit jauh dari posisi keduanya. 


Aya lancang mengecup pipi Randu dan berbisik, "I love you."


Biarpun dikata murahan, ia memang ingin mencurahkan isi hatinya pada laki-laki yang kemarin meng sahkan dirinya menjadi seorang istri. 


Aya langsung masuk mobil tanpa menunggu ajakan dari Randu. Wajahnya yang merona itu bercampur rasa lega sudah  mengatakan isi hatinya. Meskipun jarang sekali dilakukan oleh perempuan, itulah Aya. Namun ia tak pernah menyatakan selain pada suaminya. 


 Randu mengelus pipinya, seagresif itu istrinya, tapi ia sangat suka dengan Aya yang sekarang. 


Randu mengetuk kaca mobil dari luar tepat di samping Aya. Membungkukkan tubuhnya dan  mencondongkan wajahnya ke dalam.

__ADS_1


"Kenapa lagi?" Masih dengan nada malu, Aya sambil merogoh ponsel yang ada di tasnya saat berdering. Ternyata pesan dari Cici.


Beralih Randu yang mendaratkan ciuman di pipi Aya, ini gila, mereka kayak ABG yang baru pertama kali jatuh cinta. Padahal dulu saat bersama Arum tak jauh beda, tapi jantungnya tetap saja tak bisa dikondisikan.


"I love you too."  jika kata itu bisa membuat Aya bahagia. Kenapa tidak? 


"Cepetan nanti Raisya nyariin!" Aya mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malu yang memuncak. 


Aya turun dari mobil,  begitu juga dengan Randu, keduanya berjalan beriringan, suasana sangat sepi, padahal Sabrina dan Mahesa bilang akan kesana. Randu melihat jam yang melingkar di tangannya memutarnya, tatapannya tak salah, tapi tidak ada tanda-tanda Mahesa di rumahnya seperti yang dikatakan lewat pesan. 


Randu mengedarkan pandangannya ke arah halaman dan garasi, benar tak ada mobil lain selain mobilnya sendiri. 


"Apa mas Mahesa lupa?" gumamnya. 


Aya sudah melewati pintu utama, Randu menyusul setelah tak mendapati apa yang dicari. 


"Selamat menempuh hidup baru,  semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah mawaddah warahmah." Teriakan itu menggema dari balik sudut ruangan bersamaan dengan suara balon meletus. Putri kecilnya menyambut kedatangan Randu dan Aya dengan penuh senyuman. 


"Aku nggak mau lagi Ayah culik mama Aya."


Randu hanya bisa mengernyit, pasti ada dalang di balik ucapan putrinya.


Raisya menunjuk Mahesa yang pura pura sibuk bermain pistol air dengan Devan di ruang tengah. 


Iri, bilang bos. 


Randu meraih tangan Aya dan menggenggamnya erat, sedangkan yang satunya lagi menggendong Raisya  melangkah pelan tapi pasti menghampiri keluarga dua sahabatnya yang sudah berada  memenuhi ruangan tengah. 


Acara itu diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi saling peduli sesama kawan dan seperjuangan dari Mahesa. Masa kuliah bersama hingga mengarungi awal bisnis dan sekarang keduanya mencapai puncak yang juga masih saling bergandengan tangan. 


"Kalian mau denger MP ku nggak?"


Itu ucapan konyol yang masih saja ia lontarkan demi mengguncangkan Iman seorang Mahesa,  yang semakin alim.


Mahesa melirik sekilas, menyunggingkan bibirnya. Meskipun dalam hati sudah meronta ingin mendengar bocoran Randu,  setidaknya masih menahan wibawanya sebagai atasan. 


Randu menghempaskan tubuhnya di sofa, jauh dari kaum wanita yang sibuk menata makanan nya lagi, hanya ada Agung dan Mahesa, anak-anak kembali sibuk dengan mainannya. 

__ADS_1


Agung menyenggol bahu Mahesa menyungutkan kepalanya ke Randu yang nampak lelah. 


"Memangnya apa yang spesial? Bukankah sama saja?"


Mahesa meletakkan pistol milik Devan. Baginya momen itu juga penting. 


Randu celingukan ke kanan dan ke kiri, memastikan kalau tak ada yang dengar selain Agung dan Mahesa. 


"Aya masih perawan," ucap Randu dengan suara lirih. 


"Whaaaattt…." teriak Agung dan Mahesa bersamaan. 


Keduanya tak percaya dengan ucapan Randu, dan menganggap kalau Randu sedang mengigau di siang bolong.


Yang ada di belakang sampai mengernyit mendengar suara Mahesa dan Agung yang sangat nyaring. 


Kedua pria itu menutup mulutnya dengan telapak tangan masing-masing, menarik kaki Randu, mencari tempat duduk se dekat mungkin dengan sang pengantin baru 


"Terus terus?" Agung lebih antusias. 


Randu menggaruk tengkuk lehernya, ia sudah berjanji pada Aya, dan ia tak mau ingkar. "Rahasia."


Mahesa kesel,  ia menoyor kening Randu,  enak saja sudah menggantung ceritanya begitu saja tanpa memikirkan perasaannya. 


Mahesa meninggalkan Randu,  menghampiri istrinya yang sedang duduk di ruang makan sembari memegang perut buncitnya. 


"Kamu kenapa, Sayang?" Mahesa berlutut di depan Sabrina yang mendesis. Wajahnya ikut panik saat kuku Sabrina mencengkram tangannya. 


"Perut aku sakit banget, Mas. Bayi kita gerakannya terlalu kencang, rasanya aku nggak kuat." Bibir Sabrina bergetar hebat, tiga kali mengandung ini kali pertamanya ia sering kesakitan. 


Mahesa memanggil Agung yang ada bersama Randu. 


Sesil dan Aya serta Randu ikut cemas,  mereka hanya bisa menemani tanpa membantu menyangga rasa sakit itu. 


Terpaksa Sabrina membiarkan Agung memeriksanya, ia sudah tak tahan jika  harus menunggu lagi. 


"Apa istriku mau melahirkan?" Mahesa terus mengelus perut Sabrina dan mencium punggung tangannya.  Masih teringat jelas bagaimana saat lahirnya Syakilla. Ia sampai sesenggukan saat bayinya hampir keluar. 

__ADS_1


"Belum,  ini hanya kontraksi palsu, tapi kamu harus siaga, karena dokter hanya bisa memprediksi. Bukan menentukan."


 


__ADS_2