
Sabrina ngomel-ngomel, marah, kecewa saat Arum dan Sesil tiba di rumahnya. Mungkin dengan begitu Ibu satu anak itu bisa lega dan tak merasakan dadanya sesak karena ulah kedua sahabatnya. Bagaimana bisa mereka tidak bilang jika dalam kesulitan saat di jalan, rasanya Sabrina sebagai sahabat tak berguna sekali.
Masih dengan bibirnya yang manyun Sabrina menyodorkan kue dengan berbeda beda varian di depan Arum dan Sesil. Suasana semakin memanas, namun Mahesa hanya menahan tawa melihat istrinya kayak ibu ibu komplek kekurangan uang belanja.
"Lain kali jangan diulangi." Seperti seorang Ibu yang memarahi anak kecil saat berbuat kesalahan, itulah Sabrina saat menunjuk kedua sahabatnya.
Arum dan Sesil mengangguk tanpa suara. Baginya diam lebih baik daripada harus terus ribut masalah yang sudah lewat.
"Tapi ajaib juga sih," kata Arum, gadis itu masih tak percaya dengan kejadian beberapa waktu lalu.
"Ajaib bagaimana?" tanya Sabrina antusias.
Sesil meletakkan cangkir yang dari tadi ditangannya lalu menoleh ke arah Sabrina.
Dari jauh Mahesa sedikit menguping pembicaraan ketiganya, pria itu memang selalu penasaran apa yang dibahas istrinya.
"Setelah aku keluar dari makam tiba tiba aja motorku sudah nyala."
Sesil hanya mengangguk.
Pasti ulah Randu. Ternyata dia ke makam bibi Lasmi dan paman Handoko.
Mahesa kembali fokus pada map di depannya, baginya liburannya sedikit tak asyik karena istrinya kini menyibukkan diri dengan Arum dan Sesil, apalagi Mahesa belum puas berduaan dan itu memicu kedongkolan di hatinya.
"Apa mungkin Mas Randu yang benerin?"
Arum dan Sesil tertawa lepas.
"Mana mungkin," Seratus persen kedua gadis itu tak percaya dengan terkaan Sabrina, yang menurutnya asal.
Sabrina berdecak dan memilih duduk di tengah tengah Arum dan Sesil.
"Lalu menurut kalian mesinnya itu tiba tiba nyala sendiri gitu?"
"Ntah, aku juga bingung sih, nanti aku coba tanya ke pak Randu."
Sabrina menatap suaminya dari jauh, pria itu terlihat murung sembari meliriknya. Itu adalah sebuah kode jika Mahesa perlu dirayu.
"Aku ke kamar sebentar ya," pamit Sabrina.
Setelah Sabrina masuk, Mahesa mengikutinya dengan jarak lima menit.
Sabrina duduk di tepi ranjang, ucapan Camelia masih terngiang ngiang di telinganya, sebagai seorang yang selalu memegang janji, Sabrina tetap akan bicara mengenai permintaan madunya.
Mahesa membaringkan tubuhnya dan menarik tubuh Sabrina hingga kepalanya jatuh tepat di dadanya, detakan jantung Mahesa terdengar sangat jelas, bahkan Sabrina bisa merasakan setiap helaan nafas Mahesa yang keluar masuk dari rongga hidungnya.
"Mas."
Sabrina menyapa wajah Mahesa, tangannya terus menyusuri rahang kokoh suaminya.
"Tadi Camelia kesini," kata Sabrina.
Tak ada reaksi apapun, Mahesa hanya diam dan mengelus pucuk kepala Sabrina yang tertutup hijab.
__ADS_1
"Dia bilang apa?" tanya Mahesa dengan nada rendah.
"Dia ingin mas membatalkan perceraian."
Mahesa terbangun, meletakkan kepala Sabrina di atas pahanya, keduanya bertukar pandangan dengan posisi yang berbeda.
"Tapi aku tidak bisa, dan kamu jangan ikut campur urusan ini."
"Mas," Sabrina menarik kancing baju Mahesa, menelusupkan tangannya hingga menyentuh dada bidang suaminya.
"Jangan menggodaku, aku takut kebablasan."
Mahesa mulai melepas hijab Sabrina dengan pelan, lalu membuka ikat rambut wanita itu hingga terurai. Aroma shampo yang menyeruak membuat Mahesa terhanyut dalam hasrat yang terpendam.
"Aku hanya ingin menepati janjiku, setuju atau tidak yang pasti aku sudah mencoba bilang sama, Mas."
Mahesa tersenyum, kali ini sudah tak menggubris perbincangan, melainkan pindah ke topik lain.
Disaat Mahesa mulai terjun, tiba-tiba suara tangis Devan manggema, terpaksa Sabrina harus memakai hijabnya kembali.
Gagal lagi, gagal lagi.
Mahesa menghempaskan tubuhnya, rasanya memang sangat kecewa saat hampir melayang tiba tiba saya terjatuh lagi.
"Pokoknya nanti malam aku nggak mau gagal," ancam Mahesa.
Setelah rapi Sabrina menghampiri Mahesa dan menciumnya.
"Sayang."
Panggil Mahesa saat Sabrina berada di ambang pintu. Sabrina menoleh, menatap Mahesa yang meraih jam tangannya. "Aku mau ke rumah Randu, dan kayaknya bakalan pulang sore."
Sabrina mengangkat kedua jempolnya.
"Hati hati ya, Mas! Jangan nyetir sendiri, minta antar pak Udin."
"Masa pamit cuma gitu, nggak ada romantis romantisnya."
Pasti ada saja alasan Mahesa untuk mengekang Sabrina, tapi wanita itu sangat pintar membuat Mahesa puas.
Mahesa mengelus pipinya memberi kode.
Terpaksa Sabrina membalikkan tubuhnya menghampiri Mahesa mencium pipi kiri dan kanan bergantian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rumah yang sangat mewah, meskipun hanya ada satu penghuni, yaitu Randu, rumah itu sangat terawat dan rapi.
Tanpa mengetuk pintu Mahesa nyelonong masuk menuju ruang tamu.
Pintu kamar utama tidak tertutup hingga suara gemericik air dari dalam kamar mandi terdengar jelas oleh Mahesa. Pria itu duduk, matanya menyusuri ruangan yang sangat mewah dan elegan, banyak barang berharga menghiasi ruangan itu hingga sangat nyaman.
Randu yang baru keluar dari kamar mandi terperanjat kaget saat menatap Mahesa yang sudah duduk manis di ruang tamu, pria itu memakai kaos oblong dengan asal dan celana pendek sebelum keluar menemui Mahesa.
__ADS_1
"Mas Mahesa!" seru Randu, untungnya pria itu cepat mengedarkan pandangannya ke arah luar, kalau tidak. Mungkin Mahesa akan menunggu sampai jamuran karena Randu berniat akan tidur setelah mandi.
Mahesa hanya tersenyum kecil melihat kegugupan Randu saat menghampirinya.
"Kamu kenapa sih, biasa saja,"
Randu membersihkan sofa yang kosong dengan telapak tangannya.
"Itu masih kotor, Mas. Disini saja," Menunjuk sofa yang baru saja di lap.
Mahesa berdecak kesal dan tetap bergeming. "Kalau di luar anggap saja kita sahabat, aku ke sini hanya mau menanyakan laporan minggu kemarin."
Randu memejamkan matanya, tiba-tiba saja tak bergairah jika menyangkut pekerjaan.
"Maaf mas, belum aku cek lagi."
"Ada masalah apa?" celetuk Mahesa.
Randu mencoba menghilangkan apa yang terus mengganggunya semalam.
"Tidak ada."
Randu beranjak dari duduknya lalu mengambil laptop yang ada di kamarnya.
"Jangan bohong! Cepat katakan!"
Randu menutup laptopnya kembali, keduanya berada di posisi berlawanan hingga saling berhadapan.
"Aku memutuskan Aya," ujarnya.
"Kenapa?" tanya Mahesa.
Hening sejenak.
"Aku nggak tahu, Mas. Tadi malam aku emosi karena dia sudah mengabaikan permintaanku."
Mahesa diam meresapi setiap inci kalimat Randu.
"Tapi Aya itu baik, dia hanya butuh waktu untuk mengubah sikap dan cara berpakaiannya. Tapi semua tergantung kamu. Aku pun pernah mengalami kesalahan yang sangat fatal, dan aku harap itu tidak terjadi sama kamu."
Entah kenapa, setelah mendengar ucapan Mahesa tiba tiba saja hati Randu tergugah, pria itu meraih ponselnya.
"Mau menelepon siapa?" tanya Mahesa.
"Aya, aku akan minta maaf padanya, semalam aku sudah memarahinya."
"Kok gak aktif sih," gerutu Randu, pria itu mencoba mengulangi panggilannya untuk yang kedua kali.
"Mungkin dia tidur," sahut Mahesa.
Namun lagi-lagi hanya suara operator yang menyapanya.
Apa dia marah padaku, aku harus menemuinya dan meminta maaf.
__ADS_1