
Mahesa terus mengelus perut Sabrina, berinteraksi lewat bacaan sholawat seperti yang dilantunkan istrinya. Mendekatkan bibirnya dan mengecupnya berkali kali. Dari tadi Sabrina merasa geli, hanya saja ia terlalu serius dengan percakapannya lewat sambungan ponsel.
Sabrina mendesis saat bayinya itu menendang dinding perutnya, sepertinya kedua anaknya yang berjenis kelamin laki-laki itu sedang menyahut suara sang ayah yang terus terusan menggodanya.
Mahesa merasa bangga, sebentar lagi pasukannya akan bertambah, itu artinya Sabrina harus siap mengandung lagi untuk yang terakhir demi mempunyai anak perempuan sebagai teman Syakila.
Bu Yumna memberi kabar kalau Alissa dijemput oleh ibunya sehari yang lalu. Juga memberitahu Sabrina, kalau beberapa anak panti sudah ada yang lulus sekolah. Menunggu Mahesa yang akan memasukkan mereka ke jenjang selanjutnya.
"Aku tutup dulu ya, Bu. Nanti aku tanyakan mas Mahesa."
Sabrina meletakkan ponselnya di nakas, wajahnya sedikit redup saat Bu Yumna mengatakan perihal yang mengenai Alissa.
Mahesa mendongak menatap wajah istrinya seperti benang kusut.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah di panti?"
Mahesa membuka kancing baju Sabrina bagian atas, akhir-akhir ini ia jarang menjenguk anaknya karena Sabrina yang sering mengeluh dengan gerakan anak anaknya yang menurutnya beda dari yang dulu.
"Mas, Alissa dijemput ibunya. Sayang ya, padahal aku mau ajak dia tinggal disini, biar sekolah bersama Devan." Dari nada suaranya Sabrina masih belum rela dengan kepergian bocah mungil itu.
Mahesa masih melanjutkan aksinya, membuka kancing baju Sabrina hingga tiga biji. Nampak dengan jelas buah dada yang sebentar lagi akan dikuasai anaknya itu menonjol. Dengan balutan bra warna maroon, berpaduan dengan kulit putih membuah gairah Mahesa semakin memuncak.
"Biarin saja lah, mungkin dia nggak tega membiarkan anaknya hidup di panti." Suara Mahesa semakin parau menahan hasrat yang menggebu.
"Terus anak-anak melanjutkan sekolahnya di mana, Mas?"
Sabrina masih menanggapi suaminya dengan santai, padahal ia sudah merasa risih dengan tangan Mahesa yang sudah ke mana-mana.
"Besok aku akan urus semuanya."
Suasana kamar itu semakin panas, dinginnya Ac sudah tak berpengaruh, padahal pintu balkon terbuka lebar. Mahesa dan Sabrina sengaja pindah ke lantai dua setelah Aida pindah dari rumah itu. Mencari suasana baru untuk lebih tenang.
"Sayang, malam ini aku mau menjenguk anak kita," ucap Mahesa mengiba, ia mau menggunakan kesempatan yang tinggal hitungan hari lagi itu dengan baik sebelum berpuasa sekian bulan. Teringat jelas setelah kelahiran Syakilla, ia harus rela bermain dengan sabun setiap malam karena istrinya tak bisa disentuh.
Kedua pipi Sabrina merona, sebenarnya ia enggan melayani dalam keadaannya yang hamil besar, namun ia tidak ingin suaminya itu menahan hasrat yang entah sampai kapan ia bisa melayaninya lagi.
__ADS_1
Sabrina mengangguk kecil, memberi kode jika ia mengizinkan Mahesa untuk menyentuhnya.
Dengan senang hati Mahesa membuka bajunya dan melemparnya dengan asal, melanjutkan aksinya yang sudah setengah main.
"Apa kamu sudah siap?"
Sabrina mengangguk lagi, membenarkan posisinya senyaman mungkin untuk tidak menyakiti anak anaknya.
Baru saja Mahesa membuka sarung yang dipakainya, tiba tiba saja Sabrina merintih, rasa sakit di perutnya semakin menyeruak dan tak bisa ditahan lagi.
Mahesa panik melihat wajah Sabrina yang dipenuhi keringat.
"Kamu kenapa, Sayang?" Belum memikirkan sarung yang dilempar kemana, Mahesa mengelus pipi Sabrina, junior yang tadi sudah menegang tegak sempurna dan siap menerobos gawang itu kembali mengerut.
"Perutku sakit, Mas." Sabrina menitihkan air mata membasahi pelipisnya hingga turun ke bantal.
Mahesa panik, perlahan ia memakaikan baju Sabrina, padahal tubuhnya sendiri pun belum tertutup sehelai benang. "Sabar ya, aku akan bawa kamu ke rumah sakit." Mahesa meraih ponsel yang ada di nakas untuk menghubungi Agung. Menghimpit benda pipihnya antara pundak dan di telinganya, tangannya sibuk memakaikan hijab Sabrina yang menurutnya susah.
"Sepertinya istriku mau melahirkan, aku akan bawa dia ke rumah sakit sekarang." Saking gugupnya Mahesa tak mengucap salam.
"Mas, aku nggak kuat," rengek Sabrina.
Mahesa semakin gugup. Sampai tak fokus dengan baju apa yang mau Ia pakai. Mahesa membongkar isi lemarinya, mencari ****** ***** yang ia nggak hafal tata letaknya, karena selama ini Sabrina yang merapikannya.
"Sayang, celana dalamku dimana? Masa aku nggak pakai sih." Hati Mahesa bercampur aduk, ia terus mengeluarkan isi lemari hingga kandas.
Disaat genting seperti itu, masih sempat-sempatnya Mahesa memikirkan ****** *****, padahal Sabrina sendiri sudah tak memakainya. Bukan lupa, Mahesa memang sengaja, toh nanti di rumah sakit juga dilepas, pikirnya.
"Nggak papa mas, ayo cepat! Aku sudah nggak tahan."
Hampir saja Mahesa memakai celana jeans yang sudah ia ambil, nampak benda yang dicari itu di atas lantai, tepatnya berada di atas kaos oblong yang berwarna putih.
Setelah sedemikian rupa tampan dengan balutan baju casual berwarna navy dan jeans hitam, Mahesa berlari membuka pintu kamarnya lalu menghampiri Sabrina yang masih berbaring di atas ranjang.
Mahesa segera meletakkan tangannya di bawah lutut Sabrina dan satu lagi di ceruk lehernya lalu mengangkatnya.
__ADS_1
"Mas, aku bisa jalan sendiri, badan aku berat."
Mahesa menghentikan langkahnya sejenak lalu menatap lekat wajah istrinya yang semakin pucat.
Ia tersenyum lalu membungkuk mengecup hidung istrinya. "Seberat apapun kamu, aku akan tetap menjadi kakimu, diam atau aku jatuhkan."
Sabrina diam lagi, rasa sakit itu kembali datang dengan tiba tiba.
Melihat Mahesa menyusuri tangga dengan buru-buru, Bi Asih menghampiri majikannya.
"Bi, tolong bilang ke yang lain, suruh jaga anak anak dengan baik. Sepertinya istriku mau melahirkan." Mahesa terus berbicara sambil berjalan menuju pintu depan.
"Hati-hati, Den! Semoga non Sabrina dan bayinya selamat."
Dengan sigap pak Udin membuka pintu mobilnya yang sudah siap melaju.
Tubuh Sabrina semakin lemah, ia tak bisa menahan rasa yang terus bergejolak merambat ke seluruh organ tubuhnya.
"Mas, aku nggak kuat."
Mahesa terus menepuk pipi Sabrina, bibirnya terus berbisik di telinga wanita itu, berbagai bacaan terus dia lantunkan untuk menemani sang istri.
"Aku ada disini untuk kamu, tetap buka mata kamu, lihatlah aku." Keduanya saling bertukar pandangan tanpa teralih sedikitpun.
Aku harus kuat demi anak-anak dan Mas Mahesa, aku nggak mau mengecewakan mereka.
Mahesa menggenggam erat tangan Sabrina yang semakin dingin, mengecupnya berulang kali.
"Pak, cepat sedikit!" titah Mahesa menghilangkan rasa gugup yang menyesakkan dada.
Pak Udin terus menerobos jalanan yang dibalut kegelapan malam, dengan bantuan lampu mobil dan penerang jalan, pria tua itu mampu melajukan mobilnya dengan cukup baik.
Silakan mampir! Author bawa novel yang keren habis, punya kak Bubu. id, semoga suka
__ADS_1