Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Sabrina dan Aida


__ADS_3

Di toko emas yang bernama Gold Ranjana,  suasana sangat ramai, seperti hari hari sebelumnya, pengunjung memenuhi ruangan tersebut. Tidak hanya di kantor ia jarang dilihat, di tempat itu pun semua tak mengenalnya, bahkan salah satu karyawan memanggilnya dengan nama Aida. Mahesa berdehem mendekati salah satu karyawan yang melambaikan tangannya ke arah Sabrina. 


"Dia istriku, bukan Aida," ucap Mahesa singkat. Meskipun wajahnya sangat mirip, Mahesa tak mau kalau istrinya di samakan dengan yang lain, sudah jelas dari perawakan dan tata bahasa keduanya sangat berbeda. Belum lagi penampilan Sabrina lebih berkelas dan pasti pria yang di sampingnya juga berbeda.


Karyawan yang ada di hadapan Mahesa membungkuk minta maaf atas kesalahannya sudah lancang memanggil istrinya dengan nama orang lain. 


Sabrina menghela napas panjang, menarik tangan Mahesa dan membawanya masuk,  jika dibiarkan pasti suaminya akan mengulur waktu dengan  bibirnya yang terus ngomel. Mengolok olok orang lain yang memandangnya biasa.


"Mana Aida? Aku jadi tambah penasaran." Sabrina celingukan menyusuri setiap wajah pengunjung yang berlalu lalang. 


Sejak kejadian tadi,  Sabrina semakin tak sabar ingin bertatap muka langsung dengan Aida. 


"Iya sebentar, mungkin dia sedang sibuk melayani pembeli," ujar Mahesa menggiring Sabrina menuju sofa. 


Sabrina duduk di samping Mahesa,  sedangkan Randu keluar dari ruangannya.


Beberapa menit Randu datang diiringi dengan senyuman.


"Mas Randu, mana Aida?" masih dengan meninggikan suaranya, rasa ingin tahunya semakin menggebu dan ingin segera membuktikannya sendiri. 


Randu menggeser tubuhnya dan berdiri di samping pintu. 


"Masuk!" titah Randu. 


Seorang gadis yang memakai seragam kerja dan berhijab itu mematung di belakang Randu. 


Sama seperti Sabrina yang sangat terkejut,  Aida pun tak berkedip, kedua mata mereka saling bertemu dan saling bertukar pandangan. 


Pertemuan itu bagaikan sebuah bayangan dari pantulan cermin. Ucapan Mahesa dan Randu benar, hanya berbeda tahi lalat kecil dan penampilan saja. Sabrina lebih anggun dengan bajunya yang bagus dan mahal, sedangkan Aida nampak sederhana. Sabrina merasa Aida adalah dirinya yang terbelah, meskipun belum tahu kepribadiannya, Sabrina bisa menilai karakter seorang Aida. 


Aida menyapa Sabrina dengan menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Sebagai seorang karyawan ia tak berani menyentuh Sabrina yang statusnya adalah istri bos. 


"Nama Kamu siapa?" tanya Sabrina seraya mengulurkan tangannya. Meskipun sudah tahu, Sabrina ingin mendengar langsung dari bibir sang empu.


Aida diam tanpa menerima uluran tangan Sabrina. Ia menatap Randu dan Mahesa bergantian, suasana semakin mencengkam, nyalinya menciut dan ragu untuk bersentuhan dengan Sabrina. 


Akhirnya Sabrina melangkah mendekati Aida yang ada di depan meja. Ia bisa membaca ada ketakutan yang mengendap di diri Aida. 

__ADS_1


"Jangan takut! Aku hanya ingin kenalan saja," imbuh Sabrina. 


Aida membuang ragu, mengumpulkan semua keberaniannya, menerima uluran tangan Sabrina dan menyebut nama lengkap. 


"Apa kamu punya saudara kembar atau saudara kandung?" tanya Sabrina menyelidik.


Seperti saat menjawab pertanyaan Mahesa kemarin, Aida menggeleng tanpa suara.


"Kita duduk, yuk!"  Sabrina meraih tangan Aida dan mengajaknya duduk, menyingkirkan Mahesa yang jelas jelas duduk lebih dulu. Terpaksa Mahesa mengalah, ia duduk di kursi kebesarannya dan Randu di depannya. 


Aida merasa kikuk, apalagi Mahesa masih menatapnya sinis. 


"Kata mas Mahesa tak hanya wajah kita yang sama, tapi hari tahun dan tanggal kelahiran kita juga sama."


Apakah itu benar, apa kemungkinan dia adalah saudara kembarku, tapi kenapa ibu nggak pernah cerita?


Aida meremas pucuk bajunya, tubuhnya terasa panas dingin, tatapan Mahesa bagaikan busur panah yang siap meluncur menembus jantungnya jika ia sampai salah bicara. 


Beruntungnya dia, meskipun wajah kami sama, tapi nasib kami sangat berbeda, batin Aida.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Bicaralah!"


Sabrina menepuk punggung tangan Aida yang berada di pangkuannya. 


"Sayang, Aida waktunya kerja, jadi biarkan dia keluar," sergah Mahesa dari tempatnya. 


"Nggak!" tolak Sabrina antusias. "Aku masih mau bicara sama dia," bantah Sabrina. 


Mahesa tak bisa berbuat  apa apa selain menuruti permintaan Sabrina. 


"Sayang, aku mau ke kantor, sebentar lagi ada pertemuan dengan klien, kamu mau disini pa ikut?"


Mahesa menatap jam yang melingkar di tangannya lalu beranjak dari di duduknya, merapikan jas dan rambutnya sebelum pergi.


Masih mikir-mikir, di satu sisi ia belum puas bercakap dengan Aida, di sisi lain, pasti akan merepotkan Randu saat pulang nanti. 


"Biar nanti aku pulang naik taksi, Mas." Sabrina mengambil jalan tengah. Tak semudah itu, Mahesa mematung di depan Sabrina lalu melipat kedua tangannya. 

__ADS_1


"Nggak Bisa,  ikut atau pulang di antar Randu?" tanya Mahesa menekankan. 


"Baiklah, nanti biar di jemput pak Udin." 


Sabrina menghampiri Mahesa dan mencium punggung tangannya. Mahesa memeluknya dan mencium kening Sabrina dengan lembut.


"Ingat! Jangan kemana-mana, nanti kalau sudah mau pulang, hubungi aku."


Mereka sangat romantis, andaikan aku yang ada di posisi Sabrina, pasti kehidupanku tak akan seperti ini. Apa aku salah jika iri sama dia?


Setelah Mahesa keluar dari ruangan itu, Sabrina kembali mendekati Aida yang masih duduk di sofa. 


Randu mengambil laptop dan beralih ke ruang lainnya memberi ruang Sabrina untuk kembali berbincang. 


"Mbak sudah lama menikah sama Pak Mahesa?" tanya Aida dengan nada ragu,  namun sedikit lepas setelah Randu dan Mahesa tak ada di tempat. 


"Santai saja, anggap saja kita ini adalah teman. Kami menikah sudah empat tahun lebih, kamu sendiri gimana,  apa sudah menikah?"


Aida menggeleng, bukan tanpa alasan ia masih menyendiri, jodoh yang diinginkan tak kunjung tiba, beberapa kali menjalin hubungan dengan seorang laki-laki harus kandas ditengah jalan karena perbedaan pendapat,  dan sesekali orang yang niat ingin menikahinya memandang materi.


"Kamu beruntung,  Pak Mahesa sangat mencintaimu, aku hidup sebatang kara. Setelah ibu meninggal, aku tinggal sendiri," ucap Aida melas. 


Ya Allah, ternyata hidup Aida lebih miris daripada aku,  meskipun awal pernikahanku sangat menyakitkan, aku sudah menuai keindahan, tapi di umurnya yang sudah menginjak dua puluh lima tahun dia masih sendiri dan belum punya suami," lirih hati Sabrina. 


Sabrina meraih ponselnya dan menghubungi Mahesa.


"Halo, sayang ada apa? Apa kamu sudah mau pulang?" tanya Mahesa dari seberang sana. 


Sabrina menatap kembali Aida yang masih menunduk. 


"Mas, hari ini aku boleh kan ajak Aida main ke Rumah?"


Terdengar helaan nafas panjang dari seberang sana. 


"Rumahku adalah rumahmu,  jadi terserah, yang penting kamu merasa nyaman sama dia. Tapi satu pesanku, kamu belum terlalu kenal sama dia, jadi aku sarankan lebih hati hati,  meskipun wajah kalian sama, belum tentu  hati kalian itu juga sama. I Love you."


Sabrina memutuskan teleponnya, ia tersipu malu dengan ucapan Mahesa yang terakhir.

__ADS_1


__ADS_2