
Seiring berjalannya waktu, akhirnya masa iddah Aya selesai dengan sempurna. Kesabarannya membuahkan hasil yang indah, hari ini juga Randu siap meminangnya, acara akad nikah akan dimulai beberapa menit lagi, bukan karena saking buru-buru. namun Randu benar benar takut khilaf saat didekat Aya.
Disebuah ruangan yang dipenuhi dengan berbagai bunga hias, Aya duduk di tepi ranjang, ditemani Sesil dan Cici juga Sabrina dengan perutnya yang sudah amat besar.
Sabrina mendekati Aya dan memeluknya.
"Selamat ya, Mbak. Aku titip Raisya dan David padamu, besarkan mereka dengan kasih sayang layaknya anak kandung sendiri."
Aya hanya bisa mengangguk tanpa suara. Bahagia itu pasti. Penantiannya bertepi, ia bisa memiliki orang yang sangat dicintai.
"Mbak jantungnya dikondisikan dong," goda Sesil seraya memegang dada Aya.
"Apaan sih, biasa saja." Aya menyangkal, padahal ucapan Sesil itu benar, apalagi teringat ucapan mesum Randu tadi pagi, bahwa Randu tidak akan menundanya lagi untuk segera memilikinya.
"Sayang, acaranya akan segera dimulai, ajak Aya turun." Mahesa datang bersama beberapa orang yang menjemput Aya.
Aya beranjak dari duduknya dan kembali menatap bayangannya dari pantulan cermin.
Sebentar lagi aku akan melepas semuanya, meskipun mas Randu bukan yang pertama, aku ingin dia menjadi yang terakhir.
Aya membuang jauh rasa resahnya, ia tak mau terlihat gelisah saat di depan Randu.
Didampingi Cici dan Sesil serta pelayan hotel, Aya keluar dari kamarnya menuju ballroom. Banyak tamu yang diundang, karena Randu tak mau membedakan antara pernikahan yang pertama dan saat ini.
Dari jauh Randu menatap Aya, matanya tak berkedip. Ia terpana dengan wajah Aya yang sangat berubah, apalagi calon istrinya itu memilih gaun pengantin Syar'i berwarna putih.
"Ndu, kamu nggak apa apa, kan?" Dokter Agung menepuk bahu Randu dari belakang.
Randu tersenyum, mengusir kegugupannya yang datang mendadak.
"Nggak apa-apa, ini kan sudah yang kedua kali."
Randu kembali ke tempat duduk tepat di depan penghulu.
Aya menyusul di sampingnya, kedua tangannya saling meremas satu sama lain, keringat dingin mulai menembus pori-porinya. Ia tak bisa lagi menyembunyikan kegundahannya kala Randu terus menatapnya dari samping.
Penghulu kembali memastikan jika keduanya adalah pasangan yang saling suka dan bukan dipaksakan.
"Apa kamu grogi?" bisik Mahesa dari dari belakang.
Randu mengusap jidatnya. Dusta jika dia bilang tak gugup, nyatanya bibirnya gemetar saat menjawab pertanyaan penghulu di depannya.
Hening, semua menghormati khutbah yang dilantunkan.
__ADS_1
Air mata Aya luruh membasahi pipinya saat penghulu mulai mengucap lafadz ijab.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aya Mira binti Sutanto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar satu milyar dibayar tunai," jawab Randu dengan satu tarikan nafas.
Sah
Suara itu menggema memenuhi ruangan, semua tamu undangan menengadahkan tangan mengaminkan doa untuk kedua mempelai.
Tak ada yang ganjil dari mas kawin yang Randu berikan, karena itu pun seperti mas kawin yang diberikan untuk Arum.
"Alhamdulillah, selamat ya Mas Randu, semoga mas Randu dan mbak Aya selalu bahagia dan cepat mendapatkan momongan," ucap pak Penghulu.
Wajah Aya merah merona menahan malu, sedikit pun ia belum memikirkan hal itu, yang terpenting baginya saat ini ingin membesarkan kedua anak Arum dengan baik.
Aya mencium punggung tangan Randu, bergantian Randu mencium kening Aya. Seperti pada umumnya, keduanya saling menyematkan cincin kawin.
Raisya lepas dari pangkuan Bi Nori dan berlari menghampiri Aya yang masih duduk di kursi pengantin, bocah itu bergelayut manja di pangkuan ibu tirinya.
"Nanti malam Isya mau tidur sama Mama Aya."
Seluruh tamu yang hadir hanya bisa bergelak tawa mendengar ucapan lucu bocah itu.
Aya menoleh menatap wajah Randu yang nampak merengut, jika biasanya ia tampak santai, kali ini Randu seperti tak setuju dengan permintaan Raisya.
Aya mencium hidung Raisya dan kedua pipinya bergantian.
Resepsi pernikahan akan dilangsungkan empat jam lagi. Suasana ballroom itu mulai sepi, tamu yang datang dari jauh ke kamar masing-masing setelah menikmati jamuan, sedangkan yang jarak rumahnya dekat dari hotel, mereka pulang untuk sementara waktu menunggu acara selanjutnya.
"Selamat icip-icip." Dengan nakalnya Mahesa menepuk bahu Randu. Meraih tangan Sabrina menuju kamarnya.
Randu mengedarkan pandangan ke arah Raisya yang berada di gendongan Bu Risma.
Dengan sigap Randu meninggalkan tempat itu dan berlari menuju kamarnya menyusul Aya yang katanya akan mandi.
Ceklek, pintu kamar terbuka tanpa diketuk.
Aya yang sudah membuka resleting bajunya itu meraih selimut dan menutup bagian dadanya yang terekspos.
Randu mengunci pintunya, mengendurkan dasi yang dari tadi mencekik lehernya.
"Mas, kenapa nggak bilang kalau mau masuk?" Wajah Aya pucat pasi, wanita itu mundur di sudut ruangan saat Randu terus melangkah maju mendekatinya.
"Kita kan sudah suami istri, kenapa kamu harus se takut ini?"
__ADS_1
Randu mengangkat dagu Aya dengan satu jarinya, menyusuri setiap jengkal wajah cantik Aya yang masih dipenuhi make up.
"Aku nggak takut, tapi malu."
Aya melengos, menghindari tatapan Randu yang dipenuhi dengan hasrat.
Bukan Randu namanya jika kehabisan akal. Si duda yang sudah sangat berpengalaman menghadapi wanita, pria itu menarik selimut yang menutupi tubuh Aya.
Melihat sikap Randu, Aya menyilangkan kedua tangannya, ia tak menyerah begitu saja untuk tetap menutupi dadanya.
Randu mengernyit, bahkan sikap Aya seperti perawan yang masih labil saja.
"Kamu buka dengan ikhlas atau aku akan paksa," ancam Randu.
Randu mendekatkan wajahnya hingga berjarak tiga centi dari wajah Aya. Suara Randu semakin parau. Nafasnya menerpa telinga Aya hingga bulu halusnya merinding.
Terpaksa Aya menurunkan tangannya, biar bagaimanapun juga laki-laki yang ada di depannya itu adalah suaminya.
Randu tersenyum melihat kepanikan Aya, ia semakin tak sabar ingin segera menikmati tubuh gemulai istrinya. Sebagai pemanasan Randu menyatukan bibirnya dengan bibir Aya. Kedua tangannya merangkul pinggang Aya hingga keduanya saling menempel.
Aya terlena, ciuman itu membuatnya terbang ke angkasa. Aya menikmatinya dengan mata terpejam.
Hampir saja tangan Randu menelusup ke dalam baju Aya, suara ketukan pintu mengejutkan keduanya, Randu melepas ciumannya dan mengusap bibir Aya dengan jarinya.
Siapa sih, ganggu orang lagi mesra mesraan.
"Kamu ke kamar mandi dulu, biar aku yang buka pintunya."
Randu mengambil selimut yang ada di bawah lalu merapikan bajunya dan membuka pintu, sedangkan Aya berlari ke kamar mandi membawa jantungnya yang sudah berjoget ria.
"Mas Mahesa," seru Randu setelah membuka pintu kamarnya, ternyata sahabatnya yang laknat itu yang datang.
Tak menjawab, Mahesa tertawa seraya menunjuk wajah Randu.
Randu hanya mengernyit dan menggelengkan kepala, bingung dengan Mahesa yang tak jelas.
"Ada apa sih, Mas? Sudah gangguin orang, malah menertawakanku," gerutu Randu.
Mahesa mendekatkan bibirnya tepat di telinga sang Asisten.
"Lipstik Aya masih tertinggal. Lain kali kalau habis ciuman di lap dulu," bisik Mahesa.
Randu mendorong tubuh Mahesa Dan menutup pintunya kembali, ia segera berlari ke depan cermin, dan ternyata benar bibirnya masih dipenuhi dengan warna merah.
__ADS_1
"Sial, kenapa harus mas Mahesa yang lihat si, kalau gini kan akan menjadi trending topik."