
Pagi itu harusnya Mahesa bahagia di dampingi istri dan anak serta orang-orang yang peduli padanya. Entah kenapa Mahesa sedikit gusar dan sesekali menatap gerbang.
Sabrina menyiapkan makan, seperti biasa sandwich adalah makanan kesukaan Mahesa untuk menyambut paginya.
"Ini hari libur, tapi Mas masih saja sibuk dengan benda itu."
Sabrina menyungutkan kepalanya ke arah laptop yang ada di hadapan Mahesa, tepatnya di samping segelas susu yang mulai merayap dingin.
"Nungguin Randu, tumben dia belum kasih laporan. Harusnya sudah tadi malam."
"Mungkin dia lagi refreshing, cuci mata."
"Mungkin," Namun wajahnya masih tak rela jika Randu harus mengesampingkan pekerjaan demi urusan pribadinya.
Terpaksa Mahesa menutup laptop. Sepanjang kebersamaan itu kali pertama Randu mengecewakannya.
"Mas memangnya Aya itu siapa?"
Masih masalah kemarin yang membuat Sabrina tak bisa tidur nyenyak.
"Apa dia hanya sekedar sahabat Mas dan Mas Randu?" imbuhnya.
"Hmm, memangnya kenapa?" Mahesa Sedikit melirik wajah Sabrina yang ada di sampingnya.
"Aku rasa tidak hanya sekedar sahabat, buktinya dia marah saat mas Randu dekat dengan Arum. Apa mungkin pacarnya?"
"Mereka memang pacaran," jawab Mahesa singkat.
Terdengar helaan napas panjang lalu decakan dari bibir Sabrina.
"Sayang sekali, padahal Mas Randu itu cocok sama Arum."
Mahesa menelan makanannya lalu menghabiskan susu yang hanya tinggal sedikit.
"Maksud kamu?"
"Arum itu baik, sabar, dan juga cantik, mereka juga ada sedikit kemiripan lho, Mas."
Mahesa menoleh menatap lekat foto yang terpajang.
"Lalu kita mirip di bagian apa ya?" tanya Mahesa.
Sabrina ikut memandang gambarnya lalu garuk-garuk kepala yang berbalut hijab.
Iya ya, perasaan aku juga nggak mirip mas Mahesa, apa kita tidak berjodoh?
"Kalian itu tidak mirip, tapi melengkapi," sahut Bi Asih dari arah dapur.
Dan jawaban itu malah menuai banyak kontroversi dari keduanya.
"Maksud, Bibi?" seru Sabrina dan Mahesa serempak.
"Jangan bully bibi ya."
Belum mengatakan sepatah katapun Bi Asih sudah memasang tameng sebelum terkena amukan keduanya. Khususnya Sabrina.
__ADS_1
Mahesa menggeleng, nggak mungkin kalau ia harus memarahi Bi Asih yang sudah merawatnya dari kecil.
"Den Mahesa mancung, Non Sabrina pesek, pas kan?"
Seketika Sabrina menutup hidungnya, sedangkan Mahesa hanya menahan tawa. Demi menjaga Sabrina untuk tetap percaya diri, sebuah kecupan yang mendarat di pipi sang istri. Fakta banget sih, bahkan Sabrina melirik hidung Mahesa yang sudah seperti bintang bollywood.
"Lalu?" tanya Mahesa antusias.
"Den Mahesa tinggi, Non Sabrina pendek."
Lagi-lagi bi Asih menyanjung anak asuhnya.
Sabrina mengangkat tangannya protes. Semua tercengang menatap Sabrina yang terhenyak dari duduknya.
"Bagaimana bisa mas Mahesa yang unggul, apa karena mas Mahesa yang membayar, Bibi?"
Semua hanya tertawa saat melihat wajah Sabrina, wanita itu meluapkan emosinya di depan Mahesa dan yang lain.
"Sabar Sayang, bukankah sabar pasti subur."
Sabrina mencubit pinggang Mahesa.
"Kok aku yang kalah terus," Sabrina hanya bisa mengeluh, meskipun apa yang dikatakan Bi Asih benar adanya. Sabrina merasa tak sebanding jika berada di samping Mahesa.
"Kompetisinya belum selesai sayang. Kita dengarkan Bi Asih dulu."
Jika tadi kecupan di pipi bagian kiri, kini beralih di bagian kanan.
"2:0," seru mbak Inul yang ada di samping Bi Asih sembari cekikikan.
"Lanjut, Bi!" Mahesa tersenyum tipis kala Sabrina memanyunkan bibirnya.
Sabrina hanya menjerit dalam hati. Tak menyangka jika paginya akan terjebak dalam situasi yang terus memojokkannya.
Bi Asih menyorot keduanya dengan lekat.
"Den Mahesa pendiam, sedangkan Non Sabrina cerewet."
Aaaaa
Sabrina menghentak hentakkan kakinya, rasanya ingin meledak saat Bi Asih mengungkapkan fakta yang ketiga.
"Bibi," teriak Sabrina.
Bi Asih hanya menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Mahesa mencium hidung Sabrina yang beberapa menit yang lalu dibilang pesek sama Bi Asih.
"Dan yang terakhir."
Ucapan bi Asih membuyarkan Mahesa yang sibuk memeluk istrinya.
Sabrina semakin penasaran, meskipun sudah merasa terpental dari kata manis setidaknya ia tahu bagaimana pembantunya nilai keduanya.
"Diantara semua itu tak ada artinya, karena tanpa Non Sabrina, Den Mahesa tidak akan seperti saat ini. Non Sabrina adalah bidadari yang dikirim Allah untuk menerangi jalan den Mahesa, dan Non Sabrina dikirimkan untuk selalu membawa Den Mahesa ke jalan yang benar, semoga kalian bahagia."
__ADS_1
Ah Sabrina bisa menangis mendengar ucapan terakhir bi Asih yang mengharukan.
Mahesa merengkuh tubuh istrinya, benar apa kata Bi Asih, jika bentuk rupa tak akan ada artinya, dan hati lah yang menentukan semuanya.
"Kamu menang, di antara kita berdua kamu tetap yang paling utama."
Mahesa menyeka air mata Sabrina yang membasahi pipi.
"Sekarang aku mandi dulu, kita jalan jalan."
Mahesa meninggalkan ruang makan menuju kamarnya, sedangkan Sabrina membantu yang lain membersihkan meja makan.
Sebuah ketukan pintu menggema, Sabrina menatap pembantunya yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan akhirnya ia memilih untuk membuka pintu tanpa mengganggu yang lain.
Sabrina membelalakkan matanya saat menatap wanita cantik yang ada di depannya. Dengan rambut panjang terurai dan memakai dress berwarna marun wanita itu tampak cantik yang luar biasa.
"Camelia."
Sabrina mencoba meredakan hatinya yang bergemuruh lalu menerima tangan Camelia yang menjulur lebih dulu.
Aku nggak boleh suudzon, mungkin Camelia memang mau bersilaturrohmi.
"Aku ingin bicara sama kamu sebentar."
"Baiklah! Silakan masuk!"
Camelia menggeleng dan memilih duduk di kursi yang ada di teras.
"Kamu mau bicara apa?"
Sabrina duduk di depan Camelia.
Sudah lama tak bertemu Sabrina merasa sedikit canggung, apalagi beberapa pertemuan keduanya saling tak akur.
"Kamu pasti tahu, kalau mas Mahesa menceraikan aku."
Sabrina hanya bisa menjadi pendengar yang setia tanpa ingin menjawab.
"Tolong katakan sama mas Mahesa, kalau aku sangat mencintainya, dan aku tidak ingin bercerai darinya," Camelia mulai menitihkan air mata. Dan itulah titik lemah Sabrina yang tak mau melihat orang tersakiti.
Sabrina meremas kedua tangannya. Disatu sisi ia ingin menjadi satu-satunya, namun di sisi lain ia tak ingin ada wanita yang tersakiti akan keegoisannya.
"Tapi Mel, perceraian kamu dan mas Mahesa tidak ada hubungannya denganku," ucap Sabrina.
"Dan aku nggak bisa memaksakan kehendak mas Mahesa," imbuhnya.
"Aku tahu, tapi hanya kamu orang yang saat ini paling didengar mas Mahesa, dam Mas Mahesa pasti akan mengabulkan semua permintaan kamu."
Dalam keadaan serius maupun bercanda Sabrina merasa terpojok dalam situasi yang terus menyulitkannya.
Sabrina menunduk, otaknya terus berkelana mencari jawaban yang tepat.
"Aku akan bicara sama mas Mahesa, tapi aku tidak bisa janji kalau ini akan berhasil."
Camelia beranjak dari duduknya dan memeluk Sabrina dengan erat.
__ADS_1
"Terimakasih, aku tunggu kabar darimu."
Ya Allah, tunjukkan jalan yang terbaik untuk kami bertiga, kasihan Camelia, tapi kasihan juga mas Mahesa yang sudah dihianati.