
Dalam sehari semalam saja mampu mengubah kondisi Mahesa yang gagah menjadi lemah dan rapuh, pria itu terus menatap brankar dimana istrinya berada, sedikitpun tak ingin mengubah posisi, kursi yang didudukinya adalah tempat ternyaman saat ini untuk bisa menatap wajah pucat Sabrina.
Bangunlah bangunlah, aku sangat merindukanmu, kamu pasti bisa.
Dodol, kelapa muda, keripik jamur merang, dan beraneka makanan yang disebutnya dengan suara manja itu pun masih menghiasi telinganya. Seolah Sabrina sedang menguji cintanya yang baru tumbuh dalam hitungan hari.
Dinyatakan koma oleh sang ahli, artinya Sabrina akan tertidur dengan waktu yang tak tentu. Air mata Mahesa terus mengucur membasahi pipi, tubuhnya ikut kaku, bayangan buruk yang pernah diperbuat itu terus melintasi otaknya tanpa jeda.
Mengelus tangannya, membelai dan sesekali mencium pipinya, itu yang bisa dilakukan Mahesa setiap detik.
Menyesal bukan perkara yang mustahil, namun itu semua percuma dan tak bisa mengembalikan keadaan. Hatinya hancur berkeping keping, lebih baik kehilangan sebuah perusahan besar, meskipun itu dirintisnya dari nol. Merayap hingga merangkak tanpa bantuan pak Yudi. Sedangkan harta yang pernah dijanjikan pak Yudi ia lupakan semenjak melabuhkan hatinya untuk Sabrina.
Pintu ruangan terdengar membuka, namun sedikitpun Mahesa tak ingin mengalihkan pandangannya.
Tiba tiba saja sebuah tangan menarik kemejanya dari belakang mendorong tubuhnya hingga Mahesa jatuh tersungkur dari tempatnya.
"Aku pikir kamu akan membahagiakan putriku. Tapi aku salah, kamu sudah menghancurkan hidupnya." Itu kemarahan seorang ibu yang sudah kehilangan putrinya.
Randu yang ada di ambang pintu berlari masuk dan berjongkok di belakang Mahesa, meraih kedua tangannya dan membantunya untuk berdiri.
Tak ada yang bisa Mahesa ucapkan selain kata maaf, namun itu terlalu enteng untuk menebus dosanya di depan Bu Yumna, selaku mertuanya.
Pak Yudi dan Bu Risma memilih diam dan membawa Mahesa untuk duduk di sofa.
Tangis Bu Yumna pecah, kini wanita paruh baya itu hanya bisa mengusap pipi dan dahi Sabrina berharap bisa membuka matanya kembali.
"Sayang, Ibu datang untuk menjemputmu, jika panti adalah tempat yang kamu inginkan, kita pulang."
Mahesa menggeleng kuat. Ia menyuplai oksigen untuk kembali bisa bernapas, ucapan Bu Yumna sangat mengerikan baginya. Menghentikan aliran darahnya hingga membeku. Pita suaranya seperti putus hingga tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak mau berpisah dengan Sabrina.
Hati Mahesa menantang keras ucapan Bu Yumna.
Mahesa beranjak, namun langkahnya harus berhenti saat sang mama menarik tangannya dari belakang. Mencegahnya untuk membuat ulah di ruangan tersebut.
Hatinya bercampur aduk, amarahnya kembali memuncak mendengar ucapan bu Yumna. Namun saat ini bukan waktu yang tepat mencari celah disaat Sang Ibu sedang tersulut emosi.
Masih dengan suasana hening, detakan jantung sabrina terdengar normal, namun ruangan itu tetap terasa mencekam bagaikan tak berudara. Sesak, itu yang Mahesa rasakan hingga ia memilih untuk diam mendengarkan sapaan Bu Yumna.
Sebuah deringan ponsel menggema dari saku celana Randu mengalihkan perhatian. mahesa menatap asistennya sedang membaca pesan yang diterimanya.
__ADS_1
Dengan wajah yang sedikit suram Randu mendekati Mahesa.
"Mas, Devan nangis terus, kata Arum dia nggak mau diam," ucap Randu sedikit berbisik.
Mahesa hanya mengangguk kecil, hatinya kembali lagi mengingat bayinya yang kini tanpa kehangatan seorang ibu.
Maafkan ayah
Mahesa kembali menghampiri Bu Yumna dan mematung tepat di belakangnya.
"Bu, Sabrina adalah istriku, dan bagaimanapun keadaannya dia harus ada disisiku, aku akan membahagiakannya."
Dari lubuk hati yang paling dalam, Mahesa berharap penuh keluasan hati Bu Yumna untuk mengurungkan niatnya membawa Sabrina pergi.
Bu Yumna menegakkan tubuhnya dan menatap Mahesa dengan lekat.
"Jika kamu memang bisa membahagiakan Sabrina, tidak mungkin dia bisa seperti ini."
Masih dengan nada tinggi, Bu Yumna menunjuk tubuh Sabrina yang terbujur lemah.
Mahesa memegang jemari kaki Sabrina yang sangat dingin. Menyalurkan rindu lewat kulitnya yang saling bersentuhan.
"Ini musibah, dan aku harap ibu memberiku kesempatan sekali lagi," pintanya.
Setibanya di parkiran, Randu mengernyitkan dahinya saat melihat wanita yang sangat ia kenal, bahkan gadis itu kini berstatus menjadi pacarnya.
"Aya," Randu berlari kecil menghampiri Aya yang masih mematung di samping mobil.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Randu dengan nada buru-buru. Takut Mahesa menunggunya lama.
"Mau jenguk mbak Sabrina."
Aya mengeluarkan beberapa buah yang ada di bagasi.
"Mbak Sabrina koma, sekarang aku mau mengantar mas Mahesa pulang."
Aya berdecak, tatapannya penuh dengan kerinduan, namun keadaan lagi yang harus memisahkan keduanya.
"Baiklah, aku akan masuk sendiri."
Terpaksa Aya melepaskan Randu pergi.
__ADS_1
Setelah mobil yang ditumpangi Randu menghilang dari pandangannya, Aya menyandarkan punggungnya di mobil. Hatinya sedikit mamang dengan keseriusan sang kekasih.
Sebenarnya Randu serius nggak si pacaran sama aku, kenapa sikapnya masih saja kaku, aku jadi ragu, apa jangan-jangan dia hanya mempermainkanku.
Mahesa berlari masuk. Suara merdu Devan sudah menggema dari balik kamar, terdengar juga suara Sesil dan Arum serta mbak Inul yang sedang berusaha mendiamkannya
"Ayah pulang, Nak."
Setelah mencuci tangan dan kakinya, Mahesa menghampiri ranjang lalu mengambil alih Devan yang ada di gendongan Arum.
"Sejak kapan dia nangis?" tanya Mahesa sedikit panik.
"Setelah Subuh, kayaknya dia kangen sama Bundanya."
Kata itu dengan lugasnya meluncur dari bibir Arum, entahlah, sebagai seorang perempuan, ia merasa jika Devan sedang merindukan sosok Bunda yang selalu memeluknya setiap hari.
"Devan kangen ya sama Bunda, sama, Ayah juga, nanti ayah akan bawa Devan ketemu Bunda, sekarang tidur dulu ya."
Arum dan Sesil saling berpelukan, keduanya menumpahkan air mata, tawa yang dulu diciptakan bersama kini hilang direnggut waktu.
Randu tetap mengikuti kemana Mahesa melangkahkan kakinya dengan Devan didekapannya.
Selayaknya seorang Ibu, Mahesa menepuk lembut bayinya membawanya ke kamar yang biasa ditempati Sabrina.
"Tinggalkan aku dulu!"
Randu menutup pintu dari luar memberi ruang Mahesa sejenak.
Mahesa membuka tirai jendela dan tersenyum. Hatinya kembali tegar saat menatap wajah mungil yang mulai memelankan suaranya.
Selang beberapa menit, akhirnya Devan terlelap, wangi tubuhnya yang khas meninggalkan jejak di kemeja sang ayah.
Mahesa kembali membawanya keluar menghampiri Randu yang duduk di ruang tamu.
"Mulai besok kamu pegang semuanya!"
Randu membelalakkan matanya, tak percaya dengan ucapan Mahesa.
"Mas mau kemana?" tanya Randu antusias.
"Aku akan jaga Sabrina di rumah sakit, aku tidak mau meninggalkannya lagi. Dan aku akan datang ke kantor jika ada yang penting."
__ADS_1
Mahesa menepuk bahu lebar Randu, sepenuhnya percaya dengan pria yang sudah setia bersamanya bertahun-tahun.
Aku akan jaga amanah dari mas Mahesa, tanpa dia aku bukan apa-apa. Semoga Mbak Sabrina cepat pulih dan semua kembali normal.