Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Menantu idaman


__ADS_3

Waktu terus bergulir, usia kandungan Arum menginjak enam bulan. Hamil pertama mungkin juga menjadi pemicu Arum untuk bermalas malasan, sampai makan pun harus dari tangan Randu. Manja, itulah kata yang tepat untuk Arum saat berada di samping Randu. Bahkan tak kalah dari Sabrina, sama sekali Arum melarang suaminya untuk pergi. Bayi yang ada dalam kandungannya berjenis kelamin perempuan, dan itu seperti yang diinginkan Arum,  meski menolak tentang perjodohan itu, Arum masih berharap penuh Allah mangabulkannya. 


Kasih sayang Randu memang sudah menggantikan kedua orang tuanya, Arum sudah terlalu nyaman dengan sosok yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu itu, dan tiba-tiba keduanya memutuskan untuk menikah lalu berpacaran. Rasanya luar biasa, dan itu adalah keindahan di atas segalanya. 


Randu kembali memperhatikan makanan Arum yang lagi-lagi hanya dimakan seperempatnya saja. 


"Sepertinya tadi siang kamu makan sedikit,  jadi sekarang harus makan banyak." Randu meraih piring Arum dan menyuapinya dengan pelan.


Tak ada jawaban, Arum menerima layanan suaminya itu tanpa protes. Ia pun tahu kalau itu juga yang terbaik bagi diri dan bayinya. 


Merasa kenyang, Arum mengangkat tangannya, memberi kode berhenti. 


Arum meminum susu yang dibuat bi Nori beberapa menit yang lalu itu dengan paksa. Ia pun tak suka dengan minuman itu namun karena sang jabang bayi Arum harus berkorban. 


"Mas,  nanti anak kita namanya Raisya ya?" 


Randu menghentikan aktivitasnya lalu mengernyitkan dahinya. "Boleh, kenapa kamu siapin nama buat anak kita, kan aku juga bisa?" tanya Randu penasaran. 


Arum menerbitkan senyum manis, entah kapan dan dari mana datangnya nama itu, yang pastinya Arum menyukainya. 


"Nggak apa-apa kok, nama itu cantik. Dan aku ingin dia menjadi gadis yang solehah." Sebuah harapan dari seorang ibu, dan itu sangat mulia. 


Sebuah kecupan mendarat di kening Arum. "Pasti, dia akan menjadi seperti kamu, cantik, ramah dan cepat membuat orang jatuh cinta." Kecupan yang kedua kali mendarat di pipi Arum. 


''Dan satu lagi, menantu harapan setiap mertua."


Akhirnya Randu sudah menepati janjinya pada sang Ibu, memberinya menantu yang sesuai keinginannya. Meskipun ibunya tak bisa melihatnya secara langsung Randu sudah bisa hidup dengan tenang dan tak dihantui rasa bersalah lagi.


Tiba tiba saja Arum tersenyum saat menatap wajah Randu yang duduk di sampingnya. Bayangan masa lalu kembali melintas lagi memenuhi otaknya, Arum ingin menggoda suaminya yang dulu sangat kaku, persis sapu lidi. 


"Kenapa si? Apa yang lucu?" Randu Memperhatikan bajunya sendiri. Tak ada yang aneh. Wanginya seperti biasa, baju yang dipakainya juga kesukaan Arum. 


Randu menarik kursinya, mengikis jarak antara keduanya. Arum tak bisa seenaknya menertawakannya, dan ia jauh lebih bisa untuk membuat Arum bertekuk lutut. 


"Mas masih ingat nggak, aku pernah buatin kopi?"


"Yang mana? Bukankah setiap hari kopi itu bikinan kamu?"

__ADS_1


"Yang waktu kita belum menikah, saat di toko," jelas Arum. 


"Yang rasanya asin?"


Ternyata otak Randu masih bisa berpikir dengan jernih mengenai kejadian itu. 


Arum menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Waktu itu aku memang sengaja, ingin lihat ekspresi Mas saat marah."


"Tapi gagal kan?"


Arum memanyunkan bibirnya, meskipun wajahnya sangat datar dan menakutkan, Randu memang tak bisa marah seperti yang diinginkannya. 


Arum meraih tangan Randu dan menggenggamnya dengan erat. 


"Mas, sampai bayi kita lahir kamu jangan tinggalin aku ya?"


Deg


Jantung Randu berdetak dengan hebat, entah ia mengartikan apa, yang pastinya seperti ada keganjilan dengan kata Arum.


Arum memegang dada Randu. Benar, ia juga merasakan detakan jantung itu masih berpacu dengan cepat. 


"Apa mas sakit jantung?" 


Inilah yang Randu nggak bisa jauh dari Arum, dengan kepolosannya istrinya mampu menarik dirinya terjun dalam gelembung cintanya. 


"Nggak,  jantungku normal. Tapi hatiku yang rusak bisa jatuh cinta sama kamu. Gadis berkerudung yang sudah berani singgah dihatiku."


Arum jadi tersipu malu mendengar ucapan suaminya. 


Randu menghabiskan makanan Arum yang masih tersisa, dan itu biasa ia lakukan semenjak menikah.


Randu menggendong tubuh Arum dan membawanya ke kamar. Membaringkannya  dengan pelan dan menyelimutinya. Seperti biasa, sebelum tidur Randu terus menggombal dengan kata-kata romantis saat keduanya berada di atas kasur,  dan terkadang berakhir dengan adegan ranjang, namun juga sering berakhir dengan Arum yang merajuk karena ocehan suaminya terdengar tak masuk akal. 


Sepertinya ada yang beda dengan malam Itu. Arum meringsuk tubuhnya hingga keduanya tak ada jarak.


Arum meletakkan tangan Randu di atas perutnya yang mulai bergerak. 

__ADS_1


"Ini apa, Sayang? Kok bisa gerak?" tanya Randu dengan kebodohannya. 


Arum menggigit tangan Randu sekuat  tenaga, berharap otak suaminya cerdas kembali.


"Beneran, aku nggak tahu?"  


Randu mengelus tangannya, nampak dengan jelas bekas gigitan sang istri yang terasa nyeri. 


"Ini anak kita, Mas. Dia sudah mulai aktif, itu artinya Mas harus mengajaknya bicara," jelas Arum. 


Randu manggut-manggut mengerti, sebagai permulaan akhirnya Randu mengucapkan salam, seperti yang dilakukan Mahesa pada Sabrina, Randu pun segera omong kosong, dan sesekali membual dengan bayinya. 


"Jangan mesum ya, Mas," pesan Arum yang mulai memejamkan matanya, ia tak mau Randu bicara aneh-aneh dengan putrinya seperti Mahesa, sang guru dari segala arah. Randu cekikikan, kini Arum sudah lebih peka dan terus mengingatkan dengan bibirnya yang sering keceplosan. 


Randu mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Arum, dan menurutnya yang terakhir itu adalah kode menuju pergulatan.


Randu mendekatkan bibirnya di pipi Arum mencoba mengusik sang istri yang mulai tenggelam dalam mimpi. 


"Sayang, malam ini aku mau jenguk anak kita," bisik Randu dengan suara memelas. 


Arum mendengus kesal,  ia yang maunya dimanja, namun saat malam berganti posisi Randu lah yang lebih manja dan minta  jatah darinya. 


"Tapi anak kita nggak mau di jenguk ayahnya," kilah Arum tanpa membuka mata. 


Arum menahan tawa membayangkan wajah Randu yang pastinya merengut. 


Randu mengerutkan alisnya, mencubit hidung Arum yang bicara asal,  mana ada seperti itu, dan itu pun tak masuk dalam undang undang manapun, termasuk dalam urusan ranjang.


Tapi itu tak menyurutkan Randu yang sudah memendam hasrat, ia terus menjahili Arum, dengan lihainya tangan Randu sudah merayap kemana-mana.


Akhirnya tawa Arum pecah saat Randu menggelitiknya, dengan tidak sopan tangan Randu sudah menerobos masuk ke dalam bajunya. 


"Mas, hentikan! geli," rengek Arum sembari menarik tangan Randu menjauh darinya. 


"Makanya, jangan bikin ulah, kalau kamu kayak gini kan aku makin nggak sabar."


Tanpa aba-aba Randu memulai perannya sebagai suami yang memberi nafkah batin. 

__ADS_1


__ADS_2