Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Aneh


__ADS_3

Hari, tanggal, bulan, bahkan jam dan tempat akad nikah pun sudah ditentukan. Mahesa membaca chat yang dikirimkan Randu, dan seketika Mahesa menghubungi orang orang yang bersangkutan untuk menyiapkan semuanya. Pernikahan Randu harus mewah,  orang yang sudah setia bersamanya itu akan  melepas masa lajangnya bersama Arum. Gadis yang sederhana dari kalangan biasa. 


Tak Hanya Mahesa,  Sabrina pun ikut menyibukkan diri, namun ia juga gelisah kala mendengar curhatan Sesil karena statusnya yang masih jomblo. Semua sudah berubah namun persahabatan yang kental tak akan menyurutkan ketiganya untuk saling curhat dengan isi hati masing-masing. 


Sabrina mendekati Mahesa yang masih sibuk dengan laptop dan dokumennya. Ia memilih duduk di samping Mahesa tanpa menyapa.


"Kenapa manyun gitu," cicit Mahesa tanpa mengalihkan pandangannya. 


Mahesa justru beranjak mendekati lemari buku dan mengambil sesuatu di sana, lalu kembali ke kursi kebesarannya. Hari ini Mahesa memutuskan bekerja di rumah dan itu  membuatnya leluasa untuk bersama Sabrina dan Devan. 


"Sesil, dia sendirian," ucap Sabrina. 


Mahesa memainkan pulpen di tangannya seraya menatap Sabrina yang nampak resah. 


Mahesa menghampiri Sabrina lalu menyeruput kopi yang baru saja di bawanya. 


"Ada pertemuan pasti ada perpisahan, begitulah seterusnya, yakin lah sebentar lagi Sesil akan menemukan jodohnya. Mahesa merangkul pundak Sabrina,  menenangkan istrinya yang akhir-akhir ini lebih sensitif.


Apalagi jika Mahesa menyinggung bikin anak, pasti Sabrina sudah pencak silat menendangnya, dan terkadang harus rela tidur di sofa demi istri tercinta. 


"Tapi kan rasanya nggak adil banget buat Sesil. Aku sudah bahagia,  sebentar lagi Arum mempunyai mas Randu, sedangkan Sesil dia masih harus berkelana."


Sabrina hanya mendengus, bagaimanapun juga itulah takdir yang terjadi. Dan ia hanya bisa menjalani. 


Sabrina membuka ponselnya mengenang kala mereka sekolah bersama hingga sampai lulus pun saling bersama dalam segala suasana. 


Mahesa ikut mengamati gambar yang ada di ponsel Sabrina,  dengan isengnya Mahesa menggeser  tepat di depannya. 


"Kok di antara kalian, kamu yang paling pesek ya," ucap Mahesa asal. 


Sabrina menatap wajah suaminya dengan lekat,  ia tak terima dengan hinaan suaminya meskipun  itu adalah fakta. 


"Wah…bener kata Bi Asih, ternyata hidung kamu tenggelam." 


Ucapan Mahesa semakin membuat dada Sabrina meletup letup,  ia menahan amarah yang tiba tiba membuncah di ubun-ubun. 


"Nanti malam mas harus siap begadang."


Mahesa menelan ludah nya dengan susah payah, jika tidur di luar tak masalah jika makan sebanyak mungkin Mahesa pun masih sanggup, tapi jika untuk melek semalaman Mahesa benar-benar angkat tangan,  menyerah. 


"Sabrina Salsabila yang cantik jelita, oke aku minta maaf,  kamu boleh menghukumku apa saja asalkan jangan yang satu itu,  aku benar benar nggak kuat."

__ADS_1


Sabrina mendengus kesal. Ia sendiri pun tak mengerti dengan dirinya yang sangat aneh. 


"Tapi aku maunya itu," ucap Sabrina melas.


Harusnya yang dikasihani aku,  tapi kenapa aku malah kasihan sama dia, Ya Allah ujian apa ini,  semoga istriku baik baik saja. 


Setelah menggerutu dalam hati, Mahesa meraih tangan Sabrina dan mendudukkan di sampingnya. 


"Baiklah, malam ini aku akan begadang, aku akan nungguin kamu, oke."


Akhirnya Sabrina tersenyum puas kala Mahesa menerima permintaannya. 


"Non, Den, makan malam sudah siap."


Sabrina beranjak lalu menghampiri Bi Asih yang masih menata makanan, sedangkan Mahesa menyusul dari belakang. 


Lebih nampak aneh lagi,  Mahesa hanya bisa melongo saat Sabrina terus menyomot makanan sebelum duduk,  dengan sigap Mahesa menarik kursi untuk Sabrina. 


"Lain kali kalau makan nggak boleh berdiri. " Mahesa meraih tangan istrinya dan mencucinya "Jorok."


"Bi, aku mau semuanya," Menunjuk beberapa menu makan malam yang tersaji, apalagi yang ditunjukkan Sabrina hingga seluruh penghuni rumah ikut heran dengan tingkahnya. 


"Non lapar?" tanya Bi Asih. 


"Sayang, kayaknya tadi setelah maghrib kamu sudah makan lo,  nggak takut melar?"


Sabrina menatap ke arah buah dadanya yang tampak menonjol. Benar kata Mahesa, Sabrina merasa ada perubahan dengan bentuk tubuhnya.


"Tapi nggak apa apa juga, lebih baik berisi daripada kurus kayak cicak kesetrum," imbuhnya. 


Bi Asih tertawa sendiri saat menuangkan jus di depan Sabrina.


"Ada ada saja." 


Suara tv begitu nyaring, Sabrina lupa mematikannya. Disaat ia sibuk makan, kebetulan ada sebuah siaran kuliner,  sontak mata Sabrina langsung menoleh ke arah sumber suara. 


Mahesa menggaruk tengkuk lehernya dan memanggil Bi Asih dengan pelan. 


"Matikan tv nya!" bisik Mahesa. 


Namun Sabrina lebih waspada. Ia menatap Bi Asih dengan lekat. 

__ADS_1


"Biarin bi,  aku suka acaranya."


Kalau sudah begini Mahesa harus mengalah daripada debat yang nggak ada tepinya. 


"Kamu kalau nonton lupa makan, jadi aku nggak suka,  dulu aku cuekin kamu mengharapkan perhatian, sekarang di perhatiin nggak mau."


Mahesa hanya bisa mendesah dengan sikap Sabrina yang berubah-ubah. 


Dan tiba tiba saja suara isakan tangis menembus gendang telinga Mahesa. Punggung Sabrina bergetar hebat. Matanya masih fokus ke arah televisi.


Tu kan salah lagi,  aku harus bagaimana?


Mahesa terhenyak dari duduknya dan duduk di samping Sabrina. 


"Aku suapin ya?" Meraih piring milik Sabrina, dengan telaten Mahesa menyuapi istrinya. 


Dalam catatan memory Mahesa ini kali pertama ia dibuat kelimpungan dengan sikap istrinya, kadang manja, kadang marah nggak jelas,  ingin ini ingin itu tapi nggak dimakan, pengen kesana kemari tanpa tujuan. Disaat sudah siap terkadang membatalkan secara sepihak dan itu cukup menguras kesabaran Mahesa sebagai suami.


"Mas,  kok aku kangen Alyssa," Tiba tiba saja dalam otak Sabrina terselip bayi mungil yang kini tinggal di panti. 


"Nanti setelah acara pernikahan Randu kita main ke panti lagi," jawab Mahesa. 


"Tapi aku pinginnya sekarang,  aku  kangen banget sama dia, Mas,"  rengek Sabrina.


Bi Asih yang menatap curiga itu mendekati Sabrina lalu mengelus perut rata Sabrina dengan lembut. 


"Apa Non Sabrina hamil?" tanya Bi Asih. 


Sabrina dan Mahesa saling pandang,  kemudian keduanya menggeleng bersama. 


"Apa Aden sudah memeriksakan ke dokter?" tanya Bi Asih sekali lagi.


Sabrina menggeleng tanpa suara. 


"Kalau menurut bibi sebaiknya Non Sabrina periksa, bibi lihat ada tanda tanda kehamilan, tapi bibi juga nggak yakin, takut salah."


Mata Mahesa berkaca, meskipun belum terbukti, Mahesa merasa mendapat anugerah indah yang sempat hilang.


Pria yang sudah berumur 29 tahun itu membenamkan wajahnya di perut Sabrina lalu menciumnya.


"Apapun yang kamu minta, ayah akan turuti, tetap di sana dan menjadi jagoan ayah seperti abang Devan."

__ADS_1


Setelah puas berinteraksi dengan perut istrinya, Mahesa memberi hadiah kecupan di wajah Sabrina.


"Aku akan jaga kalian. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang lalu."


__ADS_2