
Flashback
Dalam keadaan sedikit mabuk, Randu terus berlari menyusuri jalanan, sepertinya dewa keberuntungan memang tak berpihak kepadanya, cuaca yang sangat gelap bercampur dengan gumpalan hitam disertai dengan hujan deras mengiringi langkahnya hingga ke rumah sakit.
"Dimana pasien yang bernama Lasmi?" tanya Randu.
Dengan tubuhnya yang basah kuyup Randu memasuki rumah sakit setelah mendapat telepon dari tetangganya jika ibunya masuk rumah sakit.
"Mas lurus saja, nanti belok kiri."
Tanpa mengucapkan terima kasih Randu kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat yang ditunjukkan resepsionis.
Sesampainya di depan ruangan yang ia tuju, Randu langsung ambruk di lantai, sebuah kata maaf terus ia lontarkan, apa lagi sebelum datang ke klub, Bu Lasmi sudah melarangnya, namun dengan teganya Randu tak menghiraukan ucapan sang Ibu.
"Cepat sembuh Ibu, setelah ini aku berjanji aku tidak akan ke klub lagi," cicitnya.
Pintu ruangan terbuka, seorang dokter mendekati Randu.
"Bagaimana keadana ibu saya, Dok?" tanya Randu, seraya mengelus kedua tangannya karena kedinginan.
"Pasien ingin bertemu dengan putranya. Apa kamu anaknya?
Randu mengangguk cepat lalu berlari masuk. Randu mendekati brankar dan menatap wajah keriput ibunya.
"Ibu, Randu ada di sini, ibu bangun."
Mendengar suara yang dirindukan itu, Bu Lasmi membuka mata, meskipun napasnya sedikit tak beraturan Bu Lasmi masih tersenyum dan melepas alat bantu pernapasan.
Bu Lasmi mengelus pipi kokoh Randu. Laki-laki itu masih sangat polos dan belum sepenuhnya dewasa untuk menghadapi kerasnya dunia.
"Jaga dirimu baik baik, ingat kata ibu, jangan pernah mabuk lagi, kamu harus menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab, jangan pernah main-main dengan perempuan. Ibu ingin mempunyai menantu yang solehah. "
Randu terus mengangguk menggenggam tangan Sang Ibu dengan erat. Semburat kesedihannya terus menjalar, rasa penyesalan menyelimutinya saat melihat napas yang terus tersendat.
Seiring keheningan membuat Randu semakin panik saat Bu Lasmi tiba-tiba saja melepaskan tangannya, perlahan matanya mulai terpejam bersamaan dengan sebuah lafadz yang terucap.
Disaat itu Randu berjanji pada dirinya sendiri, akan mengabulkan keinginan ibunya, akan menjadi laki-laki yang baik dan memberikan menantu seperti yang diinginkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Randu mengusap air matanya yang sempat menetes lalu melangkahkan kakinya.
Seorang pria tampan menyambut kedatangannya dengan tawa riuh. Dia adalah Pongki.
"Apa?" tanya randu cuek. Meraih air mineral dari samping Pongki.
"Ngapain kamu ke sini, ngigau?" tanya Pongki seraya menepuk lengan Randu.
Randu mengedarkan pandangannya menyusuri setiap pengunjung yang menikmati alunan musik di bawah lampu remang remang.
__ADS_1
"Apa kamu lihat Aya?"
Pongki menyungutkan kepalanya ke arah belakang.
Randu menoleh dan seketika beranjak dari duduknya lalu mengernyitkan dahinya saat menatap wanita itu sedang bercanda dengan laki-laki lain.
Siapa itu, kelihatannya akrab banget sama Aya.
Randu merapikan rambutnya lalu menghampiri Aya.
"Randu," seru Aya. Wanita itu sangat terkejut saat tiba-tiba saja Randu mematung di sampingnya.
Aya menatap laki-laki yang dari tadi menemaninya lalu terhenyak mendekati Randu.
"Dia siapa, Ay?" tanya pria itu.
Kebingungan melanda, Aya hanya bisa diam saat Randu mengulurkan tangannya seraya menyebut namanya.
"Randu," ucapnya.
"Toni."
"Ay, kamu belum menjawab pertanyaanku. Dia siapa?" tanya Toni untuk yang kedua kali.
Randu hanya mengulas senyum menatap Aya yang masih nampak gugup.
"Dia pacarku."
"Ikut aku!"
"Sakit, kamu mau bawa aku kemana?" Aya terus mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Randu.
Randu terus membelah kerumunan dan tak peduli dengan Aya yang meringis kesakitan.
Sampai di depan klub, Randu melepaskan tangan Aya dan menatap penampilannya dari atas sampai kebawah.
"Kamu kenapa sih?" tanya Aya kikuk. Wanita Itu menarik roknya sedikit ke bawah hingga menutupi lutut.
"Berapa kali aku bilang, kalau pakai baju yang sopan. Bisa nggak sih kamu menghargai permintaanku."
Aya melengos menatap ke arah lain.
"Nggak bisa, apa urusanmu melarangku, kita belum menjadi suami istri, jadi aku bebas."
Randu memutar tubuhnya hingga keduanya bersihadap.
"Sebagai seorang pacar, itu artinya sebagian urusanmu adalah urusanku, dan aku nggak pernah main-main dengan ucapanku."
Aya melirik ke arah Randu, kali ini ia melihat ada guratan kemarahan yang serius dari wajah pria itu, dan nampaknya Randu benar benar tak suka dengan penampilannya.
__ADS_1
"Aku juga tidak suka kamu bertemu perempuan kampungan tadi."
Randu berdecak, "Nggak bisa, dia itu teman Mbak Sabrina, sedangkan aku bekerja sama mas Mahesa. Apalagi Arum bekerja di toko Mas Mahesa, yang artinya kita akan bertemu setiap hari."
Aya menyunggingkan bibirnya dan maju satu langkah lebih mendekat.
"Jangan bohong! Jangan bawa pekerjaan untuk menutupi keburukanmu."
Randu menggeleng. "Terserah, aku sudah berusaha untuk jujur, dan aku sudah menepati janjiku untuk menjadi pacar kamu, sekarang terserah kamu, aku tidak mengekang. Tapi aku hanya ingin kamu menjadi perempuan yang lebih baik lagi, tapi jika tidak bisa silahkan dengan pilihanmu sendiri."
"Apa maksud kamu?"
Aya menatap lekat manik elang Randu.
"Kamu adalah pacar pertamaku."
Jantung Aya tiba-tiba saja berdisko ria saat mendengar ungkapan Randu, wanita itu merasa bangga dengan statusnya. Tak menyangka di balik ketampanannya. Randu bukan tipe laki-laki yang berganti pasangan.
Benarkah, ini benar kan, aku tidak mimpi, bahkan randu mengatakannya dengan serius, batinnya.
Aya nampak kegirangan, matanya berkaca mengingat ucapan Randu yang mengharukan.
"Dan aku berniat menjadikanmu sebagai istri," lanjutnya.
Aya terus tersenyum dan tak mengalihkan pandangannya dari wajah Randu. Meskipun tak ada kata cinta, faktanya ucapan itu sudah membuatnya bahagia.
"Tapi, __
Ucapan Randu mengambang. Pria itu menghela napas panjang dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.
"Tapi apa?" tanya Aya antusias.
"Karena kamu tidak bisa menjadi yang aku inginkan, lebih baik hubungan kita berhenti sampai di sini."
Sejenak ucapan Randu membawanya terbang melayang, namun berakhir dengan menjatuhkannya ke dalam jurang, Aya merasa Randu menusuknya hingga ke relung hati yang paling dalam.
"Ini tidak mungkin." Aya terus manggeleng, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar, bahkan Aya terus menggoyang goyangkan kedua lengan Randu yang masih mematung di hadapannya.
"Kamu bohong kan? Aku yakin kamu hanya bercanda."
Randu menggeleng, "Dalam hidupku tidak ada kata bercanda, dan aku serius," ucapan Randu dengan pelan namun sangat tegas.
"Aku akan mengubah penampilanku, aku akan menjadi perempuan yang kamu inginkan, beri aku kesempatan yang kedua kali," ucap Aya mengiba.
Randu tersenyum lalu melangkahkan kakinya ke arah parkiran, sebelum membuka pintu mobilnya, pria itu menoleh menatap punggung Aya yang bergetar karena tangis.
"Percayalah Ay, jodoh ditangan Allah, dan berdoalah kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku," teriak Randu.
Dan sampai kapanpun aku akan berdoa pada Allah, semoga kita berjodoh, meskipun tidak saat ini, lirih hati Aya.
__ADS_1
Aya hanya bisa meratapi penyesalannya menatap dari jauh mobil yang melaju keluar melaju.
"Kebersaman kita sangat singkat, tapi aku banyak memetik pelajaran, bahwa tidak semua yang kita sukai, itu diinginkan oleh pasangan kita. Dan aku akan menjadi lebih baik seperti yang kamu inginkan."