
Pagi yang indah dengan suasana yang berbeda, Mahesa membantu Sabrina mengeringkan rambutnya yang masih basah. Usai menjalankan kewajibannya, keduanya nampak berseri-seri, apalagi Devan kini sudah diurus seorang baby sitter, jadi sedikit meringankan beban Sabrina dan bisa lebih leluasa bersama dengan Mahesa saat di rumah.
"Hari ini aku akan pulang terlambat, ada yang harus aku urus."
Sabrina hanya mengangguk mengerti.
Setelah memakai hijabnya Sabrina membantu Mahesa merapikan jasnya lalu mengantarkan nya keluar.
Seperti pada umumnya pengantin baru, keduanya hanya bisa menerbitkan senyum saat menyapa seluruh penghuni rumah Sabrina.
Mahesa dan Sabrina menghampiri Devan yang sudah mulai lincah dengan gerakan tangan dan kakinya.
"Ayah kerja dulu ya, Devan jangan rewel, kasihan Bundanya."
Mahesa mencium pipi gembul putranya yang ada di stroller barunya.
''Mbak, jaga Devan dengan baik, jangan biarkan bundanya kelelahan," pesan Mahesa sebelum meninggalkan rumahnya.
"Baik, Pak," jawab seorang wanita yang ada di Depannya.
"Mas, hati hati ya, jangan terlalu lelah, kalau mas mau pulang ke rumah Camelia, telepon aku dulu."
Darah Mahesa terasa berdesir, bagaimana bisa Sabrina menerima dengan lapang saat diduakan, padahal ia sendiri ingin mengakhirinya dengan memilih salah satu di antara mereka, namun hatinya masih di ambang kebingungan dan harus kembali berpikir jernih sebelum memutuskan.
Mahesa yang hampir saja masuk ke dalam mobil itu berlari kecil menghampiri Sabrina lalu memeluknya dengan erat.
"Aku mencintaimu."
Akhirnya itulah yang meluncur dari sudut bibir Mahesa setelah bingung dengan apa yang akan diucapkannya.
"Basi,'' timpal Sabrina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih seputar gelang, Ah, benda itu benar benar tak bisa dihapus dari bayangan Mahesa dan masih nyangkut di keningnya, hingga kemana saja Mahesa selalu mengingatnya.
"Randu…" seru Mahesa.
Seorang asisten yang terkenal dengan garangnya menghampiri Mahesa yang dari tadi hanya melamun.
"Apa gelang yang kemarin masih kamu simpan?" tanya Mahesa dengan serius, bahkan lebih serius untuk memastikan benda itu masih berada di tangannya.
"Masih, Mas, apa perlu aku bawa ke sini?"
__ADS_1
Mahesa mengetuk ngetukkan pulpennya lalu menutup laptop yang ada di hadapannya, sedikitpun Mahesa tak bisa konsentrasi dan masih memikirkan perkara yang menurutnya belum tuntas.
"Setelah kejadian di apartemen waktu itu, apa kamu menemukan tanda-tanda aneh? Maksud aku, apa ada perempuan lain selain Camelia yang datang ke sana?"
Seketika Randu menggeleng, ia datang di waktu pagi, hanya melihat Mahesa dan Camelia.
"Sabrina bilang dia juga punya gelang seperti yang kuberikan, tapi dari mas murahan, dan waktu hilang itu dia nggak tahu kapan dan di mana, bantu aku berpikir. Apa mungkin itu gelang Sabrina? Lalu di mana kami bertemu, sedangkan malam itu aku dari klub."
Mahesa semakin bingung dengan keadaannya, di satu sisi ia percaya dengan Camelia, di sisi lain gelang itu menjadi desas desus kejadian yang menimpanya. Bentuk dan motif gelang pun banyak, namun Mahesa selalu mengarah ke masalah malam yang penuh teka-teki itu dan tak mau menyepelekannya dengan kebetulan.
"Apa perlu aku selidiki Camelia? Siapa tahu dia menyembunyikan sesuatu.
Mahesa menggeleng, "Urusan kantor aku serahkan ke kamu, untuk pribadi, aku ingin mencari tahu sendiri."
Mahesa meraih ponselnya dan menghubungi Camelia. Semenjak terbongkarnya satu fakta, Mahesa cenderung menjauh dan enggan untuk bersama Camelia, namun demi misi selanjutnya, terpaksa pria itu harus memancing istrinya untuk membuka tabir yang terpendam.
"Aku akan atur rencana untuk mempertemukan Camelia dengan Aya, dan doakan aku semoga mereka berdua menceritakan semuanya."
Randu meninggalkan Mahesa, meskipun pria itu tak mau dibantu, setidaknya Randu ikut andil supaya masalahnya cepat kelar dan cepat beres.
Diseberang sana, seseorang bersorak kegirangan saat mendapat pesan chat dari Randu, dia adalah Aya, gadis yang menyukai Randu namun sudah beberapa kali ditolak.
"Tak bisa mendapatkan Mahesa, Randu pun bisa, aku akan gunakan cara ini supaya dia tidak lari dariku."
Aya membalas pesan Randu.
Setelah membaca pesan itu, Randu mengernyit, namun demi Mahesa dan Sabrina, pria itu tetap optimis untuk maju.
"Apa itu?" tanya Randu dalam bentuk teks.
"Kamu harus menjadi pacarku, maka aku akan membantumu."
Dia hanya menginginkanku menjadi pacar, bukan suami, gumamnya kecil.
"Baiklah, aku setuju, asalkan misi kita berhasil," jawab Randu.
Aya jadi berpikir keras, tak mungkin Randu meminta bantuannya jika itu bukan masalah yang serius. Gadis itu terus menopang dagunya dengan satu tangannya mengingat apa yang baru saja ia bahas.
Randu segera meninggalkan kantor untuk menemui Aya. Tak mau mengulur waktu, Randu langsung mengirim pesan pada gadis itu bertemu.
Setibanya di sebuah cafe, Randu segera masuk setelah mendapat pesan dari Aya kalau gadis itu sudah berada di dalam.
"Randu…." Suara yang sangat familiar memanggilnya, itu adalah Aya yang berada di pojok paling belakang.
"Sudah lama?" tanya Randu Seraya menarik kursi untuk duduk.
__ADS_1
"Baru lima menit. Ada apa?"
Randu menghela napas panjang, sebelum berangkat ia pun sudah memikirkannya dengan matang apa yang akan dilakukannya.
"Apa kamu ingat, kejadian yang menimpa mas Mahesa saat terakhir di klub?"
Aya hanya menganggukkan kepalanya. Tatapannya menyelidik dan tak dapat diartikan.
"Jangan bilang,__
"Kita sudah sepakat, jadi aku harap kamu bisa membantuku," selak Randu.
Demi sebuah status pacar, akhirnya Aya kembali bersalaman dengan Randu.
"Baiklah, aku akan membantumu. Sekarang katakan! Apa yang harus aku lakukan?"
"Malam itu mas Mahesa mabuk berat, itu sudah biasa tapi kenapa di malam itu mas Mahesa merasa ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya?" tanya Randu seperti apa yang dikatakan Pongky dulu.
Aku cerita nggak ya, demi Randu aku akan menceritakan semuanya.
"Waktu itu Camelia memasukkan obat perangsang di minuman Mahesa."
"Apa?!"
Randu nampak terkejut dengan pengakuan Aya yang baru ia dengar.
"Apa maksudmu?" tanya Randu selanjutnya.
"Camelia berharap bisa memiliki Mahesa secepatnya, dan dia pikir dengan cara itu Mahesa tidak akan bisa meninggalkannya lagi, itu saja sih yang aku dengar."
Aya menyeruput latte yang ada di depannya lalu mengambil sepotong kue yang tersaji.
"Apa Camelia pernah cerita kalau rencananya itu berhasil?"
Aya mengangkat kedua bahunya, "Paginya dia langsung berangkat ke luar kota, dan setelah itu aku nggak pernah bertemu dia sampai sekarang."
"Kalau begitu nanti malam aku akan atur pertemuanmu dengan Camelia, kamu cari tahu, apakah malam itu Camelia benar benar tidur dengan Mas Mahesa, atau ada wanita lain yang sebenarnya ditiduri mas Mahesa."
Aya mengangkat kedua jempolnya menandakan setuju.
"Dan aku pun memenuhi janjiku, hari ini kita jadian."
Aya tersenyum, setelah sekian lama tak bisa mendapatkan Randu, kini pria itu datang dengan sejuta pesonanya dan menjadikannya sebagai seorang pacar.
Aku tidak mencintai Aya, tapi aku percaya dengan jodoh, jika Aya memang jodohku, sejauh apapun aku menghindar dia pasti akan mendekat, begitu juga sebaliknya. Dan semoga ini adalah titik terang bagi mas Mahesa, ucap Randu dalam hati.
__ADS_1