Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Akhirnya jatuh juga


__ADS_3

Sekarang siapa yang gila? Aya yang mencintai Randu dari dulu, atau Randu yang sudah rela jatuh demi seorang Aya, gadis yang menjadi sahabatnya sejak remaja. Gadis yang selalu membantunya dan Mahesa dalam keadaan yang sulit. 


Aaaa


Rasanya Aya tak percaya jika Randu rela berkorban demi dirinya, sepanjang perjalanan hidupnya, ini kali pertama ia dibuat spesial oleh Randu, pria se kaku sapu lidi akhirnya lentur hanya demi dirinya. Mimpi,  bukan itu nyata. Bahkan saat Randu terhempas di atas rumput Aya ikut menjerit sebelum ia mendekatinya. Ikut merasakan nyeri meskipun hanya menyaksikan.


"Masih sakit kah, Mas?"


Aya terus mengurut kaki Randu yang berbaring diatas kasur. Randu jatuh saat ranting yang diinjaknya itu patah,  beruntung ia masih bisa seimbang dan hanya sedikit cedera di kaki, namun tetap bengkak. Di satu sisi itu adalah musibah baginya karena tak bisa berjalan, namun disisi lain itu adalah berkah karena dengan begitu Aya akan selalu membantunya kemanapun. 


"Sedikit, tapi lebih sakit  kalau kamu tidak menerima lamaranku, Ay."


Kepala Aya panas, sudah tak berdaya masih saja menggombal. Randu benar-benae membuatnya mati kutu, dengan kejadian tadi keangkuhan Aya memudar, pengorbanan Randu sangat luar biasa untuknya. Meski hanya beberapa biji buah yang ia petik, Aya sudah merasa dihargai. 


"Aku bukan perempuan seperti kriteriamu." Aya mengusir rasa gelisahnya, mengingat dulu kala saat Randu memutuskannya secara sepihak, bahkan Randu tak memberinya kesempatan untuk  bicara. 


"Aku perempuan yang penuh dosa, tidak seperti Arum." Aya kembali menghela nafas, menahan matanya yang sudah mulai berkaca. Ia tak bisa diam dan harus menyatakan jati diri yang sebenarnya. Itulah Aya, tidak perlu dusta dan apa adanya,  dan jika dia berubah ingin dari hati, bukan paksaan karena dunia semata. 


"Apa kamu tidak menyesal memiliki istri sepertiku," lanjutnya.


Aya ingin meyakinkan Randu sekali lagi, karena di dalam pernikahan ia tak mau ada olokan nantinya. 


Randu menertawakan dirinya sendiri, ini semua salahnya, ia yang menciptakan luka untuk Aya, wanita yang sudah berani mencintainya tanpa ada balasan. 


"Banyak yang aku petik dari kamu,  Ay."


Randu meraih ujung baju Aya,  hingga wanita itu tetap duduk di samping ranjang.


"Bahwa setiap pasangan itu tak harus sempurna dimata kita, tapi bagaimana cara kita membuatnya lebih baik. Aku minta maaf, karena malam itu aku terlalu egois. Sekarang terimalah aku apa adanya. Kamu mau kan menikah denganku?"


Ya Allah, aku sangat bahagia, akhirnya Mas Randu melamarku, tapi aku takut jika  tidak bisa seperti yang dia inginkan. Arum adalah wanita yang sempurna, sedangkan aku sebaliknya.


Ucapan itu harusnya dari Aya, akan tetapi kali ini Randu lah yang mengatakan, jika seperti ini Aya tak bisa lagi menolak lamaran yang hanya bermodal suara saja, jangan kan cincin emas berlian, dari rumput pun Randu tak ada. Begitu saja sudah mampu meluluhkan hati seorang Aya, kaya tak berkelas, itulah Aya menilainya. 


  Terima terima terima

__ADS_1


Hati Aya bergemuruh, bersorak gembira. Kendati bibirnya masih ragu, hatinya sudah mantap untuk mengabdikan hidupnya pada pria yang ada di depannya. 


Aya mengelus tengkuk lehernya membuang rasa malu yang sudah mewarnai wajahnya,  merona jika dipandang menambah kecantikannya. Ia tak tahu kenapa bisa se gugup itu, padahal hanya bilang iya saja rasanya beratnya per kwintal. 


Randu mendengus, memalingkan wajahnya ke arah jendela, tak sabar mendapat kata singkat dari Aya. 


"Jawab dong, Ay!" pinta Randu menekankan. 


"Iya," ucap Aya lantang, membobol segala ketakutannya dan menyemburkan isi hatinya. 


Akhirnya Randu bisa setenang Raisya yang saat ini sedang sibuk bermain di sampingnya. 


"Itu artinya kamu akan pulang bersamaku?" 


Aya menatap kaki Randu yang sudah mulai membengkak.


"Gimana cara kita pulang, badan kamu berat."


"Kalau begitu malam ini aku akan menginap di sini." Randu menaik turunkan alisnya, entah, hatinya masih terasa ganjil jika belum menggoda Aya. 


Aya berdiri dari duduknya melipat kedua tangan dan memasang wajah istri galak. 


Aya meninggalkan Randu yang terus tersenyum. Jika seharian penuh melayani pria itu, pekerjaan rumah pun tak kelar juga. 


Pintu di ketuk dari luar. Terdengar mobil yang berhenti di depan rumah beberapa detik yang lalu, berarti bukan Cici yang datang, dan kemungkinan besar itu Mahesa. 


Benar, Aya memeluk sang tamu yang mematung di ambang pintu dengan membawa buah-buahan di tangannya. 


"Bagaimana keadaan Mas Randu, Mbak. Apa sudah baikan?" 


"Sudah,  dia hanya manja saja."


Mahesa terus cekikikan,  ini yang ia harapkan, sejak melihat Video Randu bergelantungan di atas pohon, doa jelek sudah meluncur, dan Allah ternyata lebih sayang padanya daripada Randu. 


"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengabulkan doaku."

__ADS_1


Mahesa mengusap wajahnya saat melihat Randu yang terkapar. Saking bahagianya Mahesa sampai tertawa lepas. 


Sabrina menggeleng, ia tak mengerti kenapa dengan dua pria itu yang semakin hari semakin suka bikin rusuh saja. 


Mahesa mendekat, menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuh Randu. 


Itu pemandangan yang sangat indah baginya,  sebagai sahabat Mahesa ikut berduka, tapi juga bahagia di atas penderitaannya. 


"Kok bisa begini, ceritakan kronologi kejadiannya?"


"Mas,  nggak usah bercanda deh,  ini beneran sakit." Randu menampik tangan Mahesa yang hampir saja menyentuh bagian lukanya. 


Akhirnya Mahesa duduk di samping Randu dan sesekali menjawilnya.


"Mas Randu, lain kali hati hati, untung cuma kaki, kalau kepala kan bisa bahaya," Sabrina.


Aya menunduk dengan kedua tangan saling terpaut, di balik kecelakaan yang menimpa Randu, dirinya lah yang menjadi dalangnya. 


"Nggak apa apa, Mbak. Kalau nggak gini kan nggak pernah tahu bagaimana rasanya manjat pohon."


Semua bergelak tawa, ternyata dibalik sikapnya yang dingin kedua pria tampan itu mempunyai kelemahan konyol.


Suasana rumah Aya semakin ramai,  ternyata tak hanya Sabrina dan Mahesa yang datang, Cici pun sudah tiba membawa makanan pesanan Aya.


"Satu lagi yang harus Mas Randu tahu." Semua fokus menatap Aya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan. "kalau aku nggak terlalu bisa memasak, hanya bisa membuat nasi goreng, dan ayam goreng, itu pun bumbunya siap pakai," cetus Aya. 


"Kalau sudah cinta nggak peduli apapun, Ay. Buktinya mati pun Randu siap, asalkan bisa mendapatkan kamu," sahut Mahesa. 


"Iya iya mas, nasi goreng hambar pun bilang sedap,  seperti kamu."


Mahesa mengangkat jempolnya, semua memang terasa aneh, jika menyangkut dengan orang yang dicintainya. 


Sabrina jadi gemes sendiri saat mengingat kejadian pagi beberapa waktu yang lalu, nasi goreng tanpa garam pastilah hambar,  namun Mahesa menghabiskan sepiring nasi itu dan terus memujinya. Setelah Mahesa pergi meninggalkan rumah, Sabrina baru sadar jika makanan yang dimasak tak layak dimakan. itu artinya cinta tak memandang dari apapun, namun dari hati. 


Selamat tahun baru untuk semuanya, Author pun punya karya baru untuk kalian, mohon dukungannya ya, meskipun bukan drama rumah tangga dijamin menarik

__ADS_1


silahkan mampir



__ADS_2