
Hampir dua jam Randu berada di rumah Aya, Raisya masih menikmati kebersamaannya dengan Alvino. Tawa canda diciptakan Aya yang terus menemani keduanya, mencairkan rasa canggungnya terhadap Randu.
"Ay, aku pulang dulu. Mas Hardi sudah pulang."
Cici membereskan barang bawaannya dan meraih tasnya yang ada di atas meja. Sebenarnya ia juga masih ingin di sana, tapi bagaimana lagi, ia tak mungkin mengabaikan suaminya yang sudah menelponnya dan menyuruhnya pulang.
Alvino memeluk Aya, pamit. Wanita yang sudah dianggapnya mama dan meninggalkan Raisya yang masih saja diam dan menunduk.
"Sampai jumpa besok." Tiba di ambang pintu, Alvino melambaikan tangannya ke arah Raisya.
Bocah itu pindah posisi duduk di pangkuan Aya. Wajahnya kembali ditekuk kala rumah itu terasa sepi.
"Sayang, kita juga pulang. Sudah hampir malam."
Tadi sudah mampir Sholat Ashar di rumah Aya, dan Randu berharap bisa Sholat Maghrib di rumah.
Randu mendekati Raisya yang masih bergeming dengan kedua tangan memeluk tubuh Aya.
"Tunggu sebentar, biar aku yang bujuk."
Seperti permintaan Aya, Randu duduk kembali sembari menatap Aya yang dengan sabarnya membujuk putrinya.
Aya mengelus rambut pendek Raisya, menepuk bahunya seperti seorang ibu saat putri kandungnya sendiri.
"Raisya, tadi kan sudah main sama Alvino, Raisya pulang dulu, besok main lagi."
Bocah itu menggeleng tanpa suara.
Ternyata tak semudah yang ia kira, Raisya semakin mengeratkan pelukannya mencengkeram baju Aya hingga kusut.
Sampai berbusa pun Aya masih belum berhasil membujuk Raisya, semua cara sudah diluncurkan, dengan berbagai janji Aya ucapkan, namun sedikitpun tak meluluhkan hati Raisya untuk ikut sang ayah. Akhirnya Aya menggendong Raisya dan membawanya menghampiri Randu.
"Bantuin Dong!" Aya menyerah, ini kali pertama ia harus berhadapan dengan Raisya yang sangat keukeuh.
"Katanya aku di suruh diam, tapi sekarang minta bantuan gimana sih?" gerutu Randu sembari cekikikan saat melihat Aya kelimpungan menghadapi anaknya.
"Raisya, kita pulang yuk! Kasihan Onty Aya, pasti dia capek. Bunda Sabrina sudah cariin, Raisya nggak kasihan sama Mbak Inul?"
Entah, Randu tak begitu lihai jika harus membujuk, ucapannya tak meyakinkan, dan ia lebih pintar menggombal seperti Mahesa. Selama ini Randu hanya mengandalkan pengasuh dan bunda lainnya, namun saat ini ia harus menjadi garda terdepan.
Masih tak berhasil, Raisya masih saja merengek dan menendang nendangkan kakinya.
Cara yang terakhir Randu menghubungi Sabrina meminta bantuan. Sabrina menatap Aya lewat video call.
"Malam mbak Aya, kenalkan aku istri mas Mahesa," sapa Sabrina.
__ADS_1
Aya meraih ponsel Randu dan membawanya duduk.
"Namaku Ayana, sahabat Mahesa, itupun kalau masih diakui."
Tiba-tiba wajah yang sangat familiar itu nampak tepat di samping Sabrina.
"Bilang sekali lagi aku pecat kamu," celetuk Mahesa dengan ketus.
"Ayah, jangan marahi Onty Aya, nggak baik!" teriak Raisya menutup layar ponselnya dengan telapak tangannya.
Mahesa ikut tertawa melihat tingkah istrinya yang membela Aya. Padahal pertemuan mereka sangat singkat, namun Aya sudah bisa merebut hati Raisya. Mengalahkan dirinya yang statusnya sebagai ayah.
"Nggak Sayang, Ayah cuma bercanda." Melanjutkan perbincangan lewat layar ponsel.
Seperti tujuannya, Sabrina mengotak atik pikirannya, membujuk dengan cara khasnya. Hingga beberapa kali Sabrina berjanji akan memberikannya adik kembar. Namun nihil, itu dianggap Raisya hanya omong kosong saja. Ia masih tak percaya dengan mulut manis Sabrina.
"Aku mau pulang."
"Alhamdulillah," setelah sekian menit, bahkan hampir satu jam. Akhirnya suara Raisya bagaikan air es yang mengguyur tubuh Randu.
"Tapi Onty Aya harus ikut," imbuhnya.
Mahesa mendekatkan bibirnya di telinga Sabrina, nampak dengan jelas kalau pria itu berbisik.
Apa mereka ngomongin aku? terka Aya dalam hati.
"Baiklah, silahkan Onty Aya ikut. Bunda sudah masak banyak buat makan malam."
Dari seberang sana, Sabrina melambaikan tangannya, setuju dengan ucapan Raisya lalu memutus sambungannya.
Aya semakin kikuk, jantungnya terus berpacu dengan cepat, dan setelah sekian lama, ini pertama kalinya ia kembali dekat dengan dua sahabatnya tersebut.
"Gimana Ay, apa kamu mau ikut?" tanya Randu, tak ada waktu lagi untuk terus di sana.
Tak ada jalan lain selain menyetujui permintaan Raisya, karena dengan begitu ia bisa lepas dari belenggu bocah itu.
"Baiklah, aku akan antar Raisya pulang."
"Hooreee…."
Raisya mengangkat kedua tangannya, wajahnya berseri seri seperti mendapatkan sebuah hadiah istimewa.
"Tapi Onty pakai motor ya?" tawar Aya seraya menyambar jaket dan helm nya.
Raisya menggeleng, melempar jaket Aya hingga terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Raisya, nggak boleh, Nak," tegur Randu membantu Aya mengambil jaket itu dan meletakkannya di atas kursi.
"Raisya, nanti kalau Onty pulang gimana, masa harus jalan, kan gelap." Aya masih berkilah, padahal ia hanya menghindari kedekatannya dengan Randu yang masih sangat canggung.
"Pokoknya harus naik mobil, nggak boleh naik motor," pinta Raisya penuh harap.
Randu mengangguk kecil memberi kode Aya untuk setuju dengan permintaan putrinya.
"Baiklah," jawab Aya pelan.
•
•
•
Seperti malam sebelumnya, rumah Mahesa sangat ramai. Sabrina menyiapkan makanan di meja makan bersama pembantu yang lain. Devan berada di ruang tengah bersama sang Ayah, sedangkan Syakilla duduk di pangkuan Mahesa ikut mendengarkan cerita ambigu tiada arah. Dan ujung-ujung nya menimbulkan banyak tanda tanya bagi Devan yang mulai pintar.
Suara sapaan salam dari pintu depan menggema, Mahesa beranjak dari duduknya, Syakilla masih berada di gendongannya dan menggandeng Devan dengan tangan kanannya.
Setelah menjawab salam, Sabrina mengikuti langkah Mahesa menyambut kedatangan Randu dan Aya yang baru tiba.
Mahesa menatap penampilan Aya dari atas sampai bawah, banyak perubahan dalam diri wanita itu, jika dulu ia selalu memamerkan kulit putihnya, kini Aya tertutup rapat dan baju yang dipakainya juga longgar.
Alhamdulillah, akhirnya Aya berubah juga. Mahesa hanya bicara dalam hati.
"Silahkan Masuk, Mbak!" Sabrina melewati tubuh Mahesa memeluk Aya yang masih mematung di ambang pintu.
Ruang tamu
Aya menatap kedua bocah yang ada di samping Mahesa itu bergantian. "Ini anak kamu?" Aya membelai pipi Syakilla.
Mahesa mengangguk.
"Ini juga," menunjuk Devan yang ada di samping Sabrina, "dan ini juga" mengelus perut Sabrina yang mulai membuncit.
Aya termangu, ia tak menyangka ternyata senjata pamungkas Mahesa yang pernah diejeknya itu sudah menghasilkan anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Ini masih kurang, Ay. Mas Mahesa berniat mau bikin anak setengah lusin, dan aku hanya bisa bantu doa, semoga mbak Sabrina sabar menjadi istrinya."
Semua bergelak tawa mendengar ucapan konyol Randu. Kecuali Sabrina yang menunduk malu.
Mahesa dan Sabrina sangat bahagia. Ya Allah, meskipun aku tidak se bahagia mereka, setidaknya berikan aku jodoh yang baik.
Siapa tahu ada yang berkenan mampir juga ke sini, novel ini juga menguras emosi jiwa
__ADS_1