Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Restu


__ADS_3

Pagi yang cerah itu,  Arum terus menatap penampilannya dari pantulan cermin. Meneliti setiap jengkal wajahnya untuk tampil sempurna. Setelah keputusannya menerima lamaran Randu, Arum menyiapkan lahir batin untuk bisa menjadi perempuan seperti yang diinginkan calon suaminya. 


Suara klakson menggema. 


Arum menyambar tas  dan ponselnya lalu keluar dari kamarnya. Kembali merapikan hijabnya sebelum membuka pintu depan. 


Saat membuka pintu, tiba-tiba saja Arum tersentak kaget melihat Randu yang sudah mematung di depannya, keduanya saling pandang tanpa mengedipkan mata. 


Ada yang beda, namun Randu hanya mengungkapkan dalam hati melihat kecantikan Arum yang jarang ia lihat. Begitu juga sebaliknya, Arum pun terpana melihat wajah Randu dari dekat. 


"Apa kita bisa jalan sekarang?" Ucapan Randu membuyarkan lamunan Arum. Gadis itu berpura pura merapikan hijabnya untuk menutupi rasa malunya. 


"Bisa Pak, memangnya kita mau ke mana?" tanya Arum,  menatap punggung Randu yang baru saja membalikan tubuhnya. 


"Ke rumah kakek."


Kakek? Kenapa Pak Randu nggak bilang.


Hati Arum tiba-tiba saja bergemuruh, nyalinya menciut saat mendengar ucapan Randu. 


Randu yang sudah tiba di samping mobil terpaksa harus kembali mendekati Arum yang nampak bengong.


"Rum,  kamu nggak apa apa kan?" Randu melambaikan tangannya tepat di depan Arum yang pucat pasi. 


"Tidak, Pak."


Randu berdecak memegang lengan Arum.


"Sebentar lagi kita akan menikah, nggak enak banget manggilnya."


Randu menarik tangan Arum menuju mobil, tak lupa Randu membukakan pintu untuk calon istrinya. 


"Nanti kalau di depan Kakek, panggil aku mas,  atau kakak,  atau nama juga nggak papa, asalkan jangan bapak," tegas Randu sebelum melajukan mobilnya. 


Arum hanya diam sembari menganggukkan kepalanya.


Hening, Arum merasa canggung untuk mengawali percakapan, padahal banyak yang ingin ia pertanyakan mengenai keluarga Randu. 


"Rum…"


"Mas…" ucap keduanya ******. 


Randu menoleh menatap Arum yang menundukkan kepalanya.


"Kamu Duluan." Lagi lagi keduanya mengucap dengan serempak. 


Randu memelankan laju mobilnya ingin berlama-lama dengan Arum sebelum di introgasi sang kakek. 


"Kamu dulu," pinta Randu. 


Arum menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Mas,  apa ada aturan tertentu untuk menjadi istri kamu?"


Randu mengernyitkan dahinya lalu tertawa terbahak-bahak dan kembali menatap Arum sekilas. 


"Ada."


Deg deg deg


Arum membulatkan matanya, jantungnya berdegup dengan kencang. Tangannya sedikit gemetar dan tiba-tiba saja keringat bercucuran membasahi keningnya. Arum merogoh tissu dari dalam tasnya dan mengusap jidatnya


"Apa itu?" tanya Arum gugup. 


Randu menghentikan mobilnya saat keduanya tiba di depan kedai es krim. 


"Tunggu sebentar!"


Randu melepas seat belt lalu membuka pintu, nampak dengan jelas dari pandangan Arum jika pria itu masuk ke dalamnya. 


"Kenapa mas Randu selalu mengulur jawaban, bikin aku penasaran saja," gerutu Arum. 


Selang beberapa menit, Randu keluar membawa dua cup es krim di tangannya. 


Kenapa aku jadi tegang, kira-kira apa jawaban mas Randu ya? 


Randu kembali masuk dan membuka satu buah Es krim yang dibawanya dan memberikannya untuk Arum. 


"Jika menjadi istriku,  peraturan yang harus dipatuhi, kamu nggak boleh kerja. Kamu hanya boleh melayaniku saja. Kamu harus ada di setiap aku butuh, dan kamu harus tetap berada disisiku dalam keadaan apapun. Setiap manusia pasti mempunyai kekurangan. Aku ingin kamu menerima kekuranganku,  tanpa melihat kelebihan laki-laki lain." Randu menjeda ucapannya sejenak untuk mensuplai oksigen.


Setelah kemarin di buat jengkel, kali ini Arum merasa terenyuh mendengar ucapan Randu,  entah hidayah apa yang turun dari langit hingga membuat hati yang sekeras batu itu lunak. 


Arum memalingkan wajahnya ke arah pintu samping menahan air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk. 


"Rum," panggil Randu.


Arum menoleh dan tersenyum tipis. 


"Sebelum semuanya terlanjur, aku ingin dengar sendiri kalau kamu menerimaku sebagai calon suami kamu." Jika sebelumnya Arum menerimanya lewat ponsel. Kali ini Randu ingin mendengar dari bibir Arum secara langsung.


Es krim yang ada di tangan Arum meleleh sudah, sedangkan yang ada di tangan Randu masih utuh dan belum dibuka sama sekali. 


Randu meletakkan es krim dan mengambil kotak yang ada di saku jasnya. 


"Arum Septiana,  apa kamu mau  menikah denganku?" ucap Randu dengan nada lembut. 


Arum menatap cincin dan wajah Randu bergantian,  momen kemarin siang kembali terulang, namun dengan suasana yang berbeda. Jika kemarin di restoran dengan kata kata yang kaku dan ala kadarnya, di dalam mobil itu ada sebuah ketulusan dan kelembutan. Arum merasa terharu,  dan tak ada alasan untuk menolak niat baik Randu. 


"Aku mau," jawab Arum malu-malu. 


"Mau apa? Dicium?" goda Randu seraya mengambil cincinnya. 


Sebelum Randu menyematkan cincinnya Arum menggenggam tangannya sejenak. 

__ADS_1


"Kenapa sih, apa kamu nggak mau menerima cincin dariku?" 


Arum menggeleng, "Aku hanya ingin bilang ke Mas Randu. Kalau dalam pernikahan kita, aku tidak ingin dikhianati atau di duakan. Aku tidak ingin mas pindah ke lain hati,  kecuali aku sudah tiada."


"Jangan bicara macam macam, pamali. Sedikitpun aku tidak ada niat untuk itu." 


Randu menarik tangan Arum dan menyematkan cincinnya di jari manis. 


Setelah menghabiskan es krim yang sudah cair,  Randu melanjutkan perjalanannya ke rumah sang kakek,  tak butuh waktu lama lima belas menit Randu sudah tiba di depan rumah yang dituju. 


Arum membuka kaca mobil dan menatap rumah yang ada di depannya.


"Ini Rumah kakek?"


Randu mengangguk.


Sebelum membuka pintu mobil, Arum berdoa berharap diberi kelancaran untuk hubungannya ke depan.


"Assalamualaikum…" teriak Randu, seperti biasa ia langsung masuk ke ruangan favorit kakeknya yang bernama Aryo. 


Randu membuka pintu lalu melambaikan tangannya ke arah Arum. Setelah wanita itu mendekat, Randu menggiring Arum untuk masuk. 


"Kek,"  sapa Randu. 


Seorang pria yang sudah sepuh itu menoleh mengalihkan pandangannya ke arah Randu.


"Kamu masih ingat rumah kakek?" celetuk kakek Aryo. 


Randu dan Arum berlutut di depan kakek Aryo dan mencium punggung tangannya.


"Masa Randu lupa,  bukankah Randu di lahirkan di sini?"


Kakek Aryo menatap Arum dengan lekat. 


"Ini siapa?" tanya Kakek Aryo. 


"Calon istri buat kakek," lanjutnya. 


Seketika Randu tertawa lepas mendengar ucapan absurd kakeknya yang tua tua keladi, mata rabun tapi kalau lihat yang bening mata ikut normal. 


Sedangkan Arum hanya menyenggol siku Randu yang juga tak menjawabnya.


"Ini itu calon istri Randu kek, dan aku kesini ingin meminta restu ke kakek," jelas Randu panjang lebar. 


Kakek Aryo hanya manggut-manggut.


"Ternyata kamu pintar cari istri,  cepat halalkan sebelum ada fitnah. Kalau bisa bulan depan. Lebih cepat lebih baik." 


Arum dan Randu saling pandang. Apa kamu siap?" tanya Randu.


"Insya Allah, aku siap." 

__ADS_1


"Alhamdulillah," jawab ketiganya serempak. 


__ADS_2