
Dirumah Arum dan Randu, Sabrina terus mengulas senyum, akhirnya apa yang dicita-citakan keduanya terwujud, menjadi seorang ibu adalah salah satu yang mereka harapkan setelah bersuami, Sabrina tampak bahagia, ia mengelus perut Arum yang tertutup daster bermotif bunga lili.
"Devan ikut bunda Arum ya?"
"Jangan!" tukas Sabrina. "Kamu nggak lihat badan Devan se gendut itu, takutnya nanti dedek bayinya kenapa napa."
Kini semua mata tertuju pada sosok bayi yang ada di gendongan mbak Inul. Tampan, menggemaskan, siapa saja pasti jatuh cinta saat melihatnya.
"Usia kandungan kamu sudah berapa minggu?" tanya Sabrina.
"Aku belum periksa ke dokter, rencananya nungguin mas Randu pulang."
"Dia sudah dalam perjalanan," sahut Mahesa, ia sengaja menghubungi Randu setelah ia dan Sabrina sampai di halaman depan.
Sebagai bumil yang pertama kali, Arum ingin banyak belajar dari Sabrina yang sudah tiga kali hamil, ia ingin menjadi sosok yang kuat seperti sang sahabat.
"Apa keluhan kamu?" tanya Sabrina lagi.
Terkadang Ibu hamil memang nggak sama, dan siapa tahu Arum dan dirinya juga beda.
"Aku nggak selera makan, dan kepalaku sering pusing juga, kalau kamu sendiri gimana?"
"Berbeda sih, Rum. Kalau Devan, dia memang mengajariku menjadi perempuan yang kuat, mungkin dia sadar kalau saat itu bundanya harus berdiri sendiri, tanpa suami. Waktu hamil Devan, aku juga mengerti perjuangan sebagai seorang Ibu dan ayah, dan semoga hanya aku yang merasakannya."
Lagi lagi Sabrina membuat Mahesa itu merasa tersindir dengan obrolannya. Jika membicarakan kala itu, ia bukanlah orang yang berguna. Bahkan dengan sengaja Mahesa terus memuja bayi orang lain dibandingkan bayinya sendiri, namun semua dikembalikan, bahwa ia pun tak tahu fakta yang sesungguhnya.
"Beda dengan yang ini, maunya manja terus, aku larang mas Mahesa kerja, pokoknya aku mau mas Mahesa menemaniku setiap saat."
Mahesa Hanya bisa melirik tanpa berkomentar apapun, baginya saat ini sang ratu yang berkuasa, ia tak mau mengulangi kejadian beberapa jam yang lalu, di mana Sabrina pingsan karena suaranya.
Mahesa menatap Devan yang ada di gendongan Mbak Inul, jika diingat sangat miris sekali nasibnya. Dan selama berada dalam kandungan Mahesa tak pernah memperdulikan bayi itu, bahkan sempat berpikir jika bayi itu meninggal supaya ia bisa menceraikan Sabrina.
"Kamu nggak ngidam? Pengen apa gitu?"
"Aku ingin makan martabak."
Keinginan yang sangat konyol, karena Sabrina tahu kalau makanan itu yang paling Arum benci dari dulu.
Sapaan salam menggema, suara itu sangat familiar di telinga Arum, Sabrina dan Mahesa, setelah menjawab Arum beranjak dari duduknya, seperti biasa Arum menyongsong kedatangan seorang yang ia rindukan seharian ini.
"Rupanya ada Devan juga, pantesan ramai."
__ADS_1
Randu memberikan pesanan yang Arum minta, sekantong keresek martabak siap makan sudah tercium aromanya. Lalu ia menghampiri bayi kecil itu dan menggendongnya. Di usianya yang sudah matang ia juga sudah merindukan sosok makhluk mungil tersebut.
"Sudah lama, Mas?" tanya Randu.
"Sudah tiga jam," seru Mahesa sambil menunjukkan ketiga jarinya di depan Randu.
Arum hanya bergelak tawa, ternyata Mahesa sudah berubah total. Sikap kaku nya sudah lenyap dan tidak menakutkan seperti dulu.
Setelah menyiapkan martabak di meja, Arum menghampiri Randu.
"Mas, aku punya sesuatu untuk kamu."
Arum pamit sejenak ingin memberikan kejutan untuk Randu yang memang belum tahu kehamilannya.
Arum meraih tangan Randu dan membawanya ke kamar, dengan membawa Devan pria itu mengikuti langkah istrinya.
Arum berjalan menuju ke arah laci dan mengambil sebuah kotak di sana. Sedangkan Randu masih mematung di samping ranjang
"Apa ini?" tanya Randu antusias.
Arum tersenyum dan sesekali mencium pipi gembul Devan.
"Buka saja!" Arum menyodorkan kotak itu tepat di depan Randu.
"Apa ini?" tanya Randu lagi seraya mengambil benda pipih dan panjang itu dari tempatnya.
Tak ada jawaban, Arum hanya bisa tersenyum menunggu suaminya bisa menebaknya dengan benar. Jantungnya terus deg degan, menanti reaksi Randu.
Randu membolak balikkan benda tersebut, sepertinya benda itu memang tak asing baginya, namun Randu lupa kegunaannya dan di mana ia pernah melihatnya.
Apa ya?
Randu mencoba traveling dengan otak cerdasnya, mengingat dimana ia pernah melihat benda itu.
Selang beberapa Menit Randu membulatkan matanya.
"Ini yang namanya test pack kan? Alat kehamilan."
Arum menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Lalu ini milik siapa? Punya mbak Sabrina?" tanya Randu, masih menatap lekat dua garis merah yang terpampang dengan jelas.
__ADS_1
"Bukan, itu punyaku," jawab Arum dengan lembut.
"Kamu hamil?" pekik Randu.
"Iya, aku hamil."
Randu membuang alat itu lalu memeluk tubuh Arum dengan satu tangannya, akhirnya pernikahannya yang masih seumur jagung itu ia sudah diberi Anugerah terindah. Tak henti hentinya Randu mencium kepala Arum yang tertutup hijab, mencurahkan kasih sayang dan cintanya.
"Devan dengar! Sebentar lagi Devan juga punya adik dari bunda Arum."
Seperti paham dengan ucapan Randu, Devan yang tadinya merengut menggigit jarinya sekarang malah tertawa, memamerkan giginya yang baru tumbuh.
Tak mau lama-lama meninggalkan Sabrina dan Mahesa, Arum dan Randu segera keluar, mereka kembali menemui Sabrina dan Mahesa.
"Apa kado dari Arum?" tanya Mahesa pura-pura tak tahu.
"Sebentar lagi, aku juga seperti kamu, Mas. Ada yang panggil ayah."
Randu duduk disamping Mahesa.
"Aku punya ide." Sabrina mengangkat satu tangannya.
"Apa?" tanya semuanya dengan serempak.
"Jika anak Mas Randu dan Arum perempuan, kita jodohkan dengan Devan, tapi kalau laki-laki tetap mereka menjadi saudara."
"Aku setuju," jawab Arum, namun tidak dengan Mahesa dan Randu yang saling pandang.
Di satu sisi Mahesa suka dengan rencana itu, tapi di sisi lain ia tak bisa mengekang putranya, takut kalau suatu saat semua tak sesuai harapannya.
"Sayang," Mahesa meringsuk duduknya, mengikis jarak antara keduanya. Ia berusaha meracik kata selembut mungkin supaya Sabrina tak tersinggung.
"Nggak apa apa, aku setuju saja. Tapi lebih baik biarkan mereka berkenalan dulu, dan kamu percaya kan, kalau jodoh tidak akan ke mana, takutnya mereka itu nggak jodoh, dan sekuat apapun kita memaksa, kalau Allah tidak berkehendak, pasti akan sia-sia."
Sabrina menunduk mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Mahesa yang benar adanya.
Sabrina menoleh, sedikit melirik ke arah Mahesa yang menaik turunkan kedua alisnya.
"Baiklah, aku tidak akan menjodohkan mereka tapi aku akan berdoa semoga mereka berjodoh."
Mahesa mengangkat kedua jempolnya, sebenarnya rencana Sabrina memang baik, hanya saja Mahesa takut jika Devan akan mengalami seperti dirinya, menyakiti perempuan yang tulus, dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya selain merenggut mahkota Sabrina.
__ADS_1
mampir yuk ke novel teman aku