
Hari ini Randu berkemas, ia yakin akan meninggalkan rumah Mahesa dan akan tinggal di rumahnya sendiri. Dengan begitu Randu bisa membuka lembaran baru bersama dua anaknya. Membesarkan Raisya dan David adalah tujuan utama, urusan menikah ia pasrahkan pada Sang Pencipta yang akan mengurus jodohnya kembali.
Beberapa koper sudah berada di lantai bawah, semua mainan Raisya dan David sudah rapi dan siap angkut. Randu duduk di samping Mahesa yang dari tadi membantunya.
"Mas, berangkat jam berapa?" Setelah mendapat omelan gara-gara semalam yang membuat rencana Mahesa gagal, Randu kembali mencairkan suasana.
"Jam delapan," jawab Mahesa ketus.
Sabrina tak ikut ke rumah sakit, Mahesa mempercayakan Bi Asih untuk mencabut rambut Aida sebagai sampel, sedangkan punya Sabrina sudah Mahesa simpan di kamar.
Selain untuk memastikan status keduanya, Mahesa juga tak ingin istrinya terus berharap dengan sesuatu yang menurutnya misteri.
"Semalam Raisya nanyain Aya, tapi pas aku telpon nomornya nggak aktif, apa kamu tahu dia kerja di mana dan jadi apa?"
Randu menggeleng, sejak pertemuannya Randu belum menanyakan hal itu takut menyinggung hati Aya jika masih bekerja di klub.
"Oh iya, untuk urusan perceraian Aya bagaimana?"
Randu mengeluarkan sebuah flashdisk dan meletakkannya di meja.
"Aku sudah punya bukti yang akurat untuk membantu Aya, ternyata suami Aya bukan hanya selingkuh, tapi dia juga penipu, pantas Aya nggak mau mempertahankan rumah tangganya," jelas Randu.
Sebagai seorang sahabat Randu dan Mahesa sangat peduli pada Aya, mereka juga tidak akan pernah melupakan kebaikan yang pernah dilakukan Aya. Tanpa bantuan wanita itu, Mahesa akan sulit mencari kebenaran tentang Camelia.
"Pokoknya aku mau makan sama onty Aya," teriak Raisya dari meja makan.
Mahesa dan Randu sama sama menoleh menatap Raisya yang terus membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya, mengusir Mbak Inul dan Bundanya dari hadapannya.
Randu beranjak dengan jalan buru-buru menghampiri putrinya.
"Ada apa ini, Mbak?" tanya Randu menarik kursi dan duduk di samping Raisya. Mengambil piring yang ada di tangan mbak Inul.
"Biasa, Mas. maunya sama Onty Aya," ujar Sabrina.
Mahesa Tersenyum jahil dan mengelus rambut Raisya yang sudah rapi.
"Raisya sayang sama Onty Aya, ya?"
Bocah itu mengangguk tanpa suara.
"Nggak mau sama onty Aida?" imbuhnya.
__ADS_1
Pandangan Randu beralih menatap Mahesa yang ada di samping Sabrina, ia mencium bau-bau racun yang siap menyembur dari bibir atasannya.
Raisya menggeleng lagi.
"Kalau begitu jangan panggil Onty dong, panggil Mama," ajar Mahesa dengan jelas.
Sabrina menahan tawa saat melihat ekspresi Randu yang sangat datar. Sebenarnya itu bukan ide dari Mahesa semata, namun juga dirinya yang ikut andil menjodohkannya demi Raisya.
"Apa salahnya? Aya juga baik, kita berdua sudah mengenalnya, tidak ada salahnya kan dia jadi ibu sambung Raisya dan David."
"Tapi aku belum siap berumah tangga, Mas. Dan aku nggak mencintai Aya."
"Ternyata cinta kalah sama jodoh, Ndu."
Ucapan itu sudah meliputi semuanya, perjalanan hidup Mahesa sudah cukup memberinya pelajaran, dikejar sampai ke ujung dunia yang namanya cinta belum tentu bisa bersatu, tapi jodoh. Dengan cara apapun berusaha dihindari pasti akan berada di sisi. Detik detik saat ia merasa kehilangan Sabrina, disaat itulah Mahesa percaya jika manusia bukan apa apa, melainkan ada yang lebih berkuasa menata hatinya.
"Aku menikah juga atas perjodohan, berulang kali aku berusaha menyingkirkan dia," Mahesa menarik pinggang Sabrina dan mencium perutnya.
"Demi memperjuangkan cinta yang masih aku simpan untuk Camelia." Mahesa mendongak, menatap wajah cantik Sabrina. "Bertahun-tahun kami menjalin hubungan atas dasar cinta, banyak rencana yang aku bangun saat itu, tapi semuanya musnah karena memang kita tidak berjodoh." Hening sejenak, Randu ikut menatap Sabrina yang meneteskan air mata haru.
"Aku yakin, Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk hidup kamu dan Raisya. Dengan siapapun kamu menikah, aku harap dia menyayangi Raisya dan David seperti anak kandungnya sendiri.
"Kita lihat saja nanti!" nada cuek.
"Sabar, ini ujian," Mahesa mengelus dada Randu, menggoda supaya lebih tenang.
"Raisya, maunya disuapin sama siapa?" tanya Mahesa dengan pelan.
"Mama Aya, akhirnya otak Raisya kecantol dengan bujuk rayu Mahesa, dengan gamblangnya Raisya menyambut Aya dengan sebutan mama.
"Kamu dengar kan, Ndu?"
"Dia istri orang, Mas," cetus Randu kesal.
"Kan sebentar lagi pisah, apa salahnya, sebelum dia diambil orang lain. Nanti kamu menyesal."
Lama-lama Randu ikut tak waras jika terus menerus mendengarkan omongan Mahesa yang menurutnya tak penting.
Melihat Raisya yang semakin terisak, akhirnya Randu menghubungi Aya.
Beberapa detik, akhirnya Aya yang ada di seberang sana mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum…." sapa Aya.
Tak hanya Randu, Sabrina dan Mahesa ikut menjawabnya.
"Ada apa ya, apa Raisya ingin bertemu Alvino lagi? Hari ini dia nggak datang ke rumah, kata Cici ia pergi ke rumah mertuanya."
"E----nggak Ay, Raisya ingin bertemu sama kamu," jawab Randu sedikit gugup.
Aya membulatkan matanya, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Entah getaran apa yang memenuhi dadanya, yang pastinya Aya merasa bahagia dengan ucapan Randu.
Aya menyandarkan punggungnya, menahan tubuhnya yang sedikit lemas.
"Tapi maaf, aku nggak bisa datang," ucap Aya pelan, ia merasa tak enak sudah menolak permintaan Raisya.
Seketika Raisya mengencangkan suaranya, bocah itu meraih ponsel yang ada di tangan sang ayah.
"Mama Aya jahat, mama Aya nggak sayang sama Isya," ucap Raisya di sela-sela tangisnya. Apa aku nakal?"
Rengekan Raisya menusuk relung hati Aya, ia merasa bersalah sudah menolak permintaan gadis itu, tapi bagaimana lagi, untuk sekedar berdiri saja Aya tak bisa, apalagi harus naik motor sejauh itu.
Aya mematikan ponselnya, mengikat rambutnya dan beralih menghubungi Randu lewat Video.
Keduanya saling tatap dari balik layar ponsel masing-masing, Aya tersenyum namun tidak dengan Raisya yang masih menangis sesenggukan.
"Raisya, bukan onty Aya tak sayang, tapi onty lagi sibuk, nanti kalau ada waktu pasti onty main ke rumah kamu."
Mahesa menggeser ponselnya. Ia pun tak tega dengan Raisya yang terus menangis.
"Kamu kerja apa Ay? Di mana, aku bisa bantu kamu untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang mahal."
Aya tersenyum, ia merasa semakin pusing, namun demi Raisya, Aya tetap bertahan untuk tidak ambruk.
"Aku nggak butuh bantuan kamu, mana Raisya? Aku mau bicara," ucap Aya ketus.
Berbagai kata Aya rangkai semanis mungkin untuk membujuk Raisya, rayuan demi rayuan terus ia suguhkan untuk bocah itu, dan akhirnya sampai lima belas menit Aya berhasil membujuk Raisya makan di suapi ayahnya.
"Sampai jumpa besok." Aya melambaikan tangannya dengan cepat, lalu mematikan teleponnya.
Setelah sambungan terputus, Aya berlari ke kamar mandi karena merasa mual.
mampir juga yuk ke novel Author kece badai Haryani
__ADS_1