Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Rumah baru


__ADS_3

Sabrina menggenggam erat  tangan Mahesa. Keduanya masih berada di dalam mobil  menatap setiap sudut halaman rumah yang sangat luas, bangunan kokoh yang menjulang tinggi, sangat mewah dan besar, namun asing dari pandangan Sabrina.


"Ini rumah siapa, Mas?" Akhirnya Sabrina membuka suara daripada harus menerka-nerka tak jelas.


Mahesa mendekatkan bibirnya tepat di telinga Sabrina, "Ini rumah kita," jawabnya pelan. 


Seperti di film, seluruh pembantu yang bekerja sudah berbaris rapi di teras untuk menyongsong kedatangannya.


Sabrina mengeluh  kapan suaminya berhenti dengan tingkah anehnya, bahkan semakin lama semakin tak di mengerti olehnya. 


Kejutan apa lagi yang akan di berikan Mahesa, bahkan Sabrina sudah menangkap siluet Bi Asih yang berada paling ujung berdampingan dengan Bi Mimi. 


"Bi Asih," Sabrina membuka kaca mobilnya lalu berteriak,  tak peduli dengan Mahesa yang terus mencium pipinya, wanita itu terus melambaikan tangannya. 


"Jangan teriak, kita turun! Keduanya berjalan berjajar menuju rumah. Diikuti Mbak Inul dari belakang membawa Devan yang terlelap. 


Sabrina menatap satu persatu pembantunya, menanyakan kabar masing masing hingga berpelukan  melepas rindu. 


"Den Mahesa sudah sembuh?" tanya Bi Asih.


Mahesa mengangkat kedua bahunya tanpa suara, tangannya masih tak ingin melepaskan jemari Sabrina. 


"Mas Mahesa mah nggak sakit, Bi. Hanya ingin menginap di rumah sakit saja."


Semua tertawa lepas mendengar penuturan Sabrina.


 


Seketika Mahesa merangkul pundak Sabrina dan membawanya masuk daripada menjadi topik di depan yang lain,  malu. 


Melihat kemesraan yang jarang terjadi semuanya hanya bisa tersenyum termasuk Pak Udin yang ada di garasi. 


Setelah puas  menyusuri depan, kini Sabrina beralih menyusuri setiap sudut ruangan, berbeda jauh dengan rumahnya yang dulu, kini dinding itu di hiasi dengan poto keduanya bahkan dengan foto Devan.


"Maaf aku nggak bisa memajang foto pengantin kita."


Sabrina mengelus pipi Mahesa.


 


"Kenapa? Bukankah itu adalah kenangan yang paling berharga, di mana aku resmi menjadi milikmu."


"Bukan,  itu adalah kenangan yang paling pahit, dan aku tidak akan mengingatnya lagi. Dan menurutku momen yang paling berkesan adalah disaat aku jatuh cinta padamu."


"Kapan?"


Sabrina memancing Mahesa untuk meluapkan semuanya, entah akan berakhir dimana arah pembicaraan keduanya. 


Disaat kamu pergi dari rumahku. Disaat itulah aku merasa kehilangan. Siang malam aku tak bisa tidur dan aku tidak pernah makan, kalau kamu tidak percaya tanyakan pada Randu."


Sabrina hanya tertawa. Tak menyangka suaminya merasakan hal yang sedikit mustahil.


Setelah puas diruang tengah, Sabrina menghampiri sebuah kamar, perlahan ia membukanya dan masuk. 

__ADS_1


Mata Sabrina langsung terpana saat melihat desain kamar yang sangat mewah dan luas. 


"Ini kamar siapa, Mas?" tanya Sabrina dengan polosnya. 


"Ini kamar kita."


Tak seperti orang orang yang kagum jika diberi sebuah kemewahan, Sabrina malah mengernyitkan dahinya. 


"Ini buat anak satu panti juga muat," cetusnya, membaringkan tubuhnya mencoba kasur barunya. 


"Mbak Inul."


Mbak Inul segera menghampiri Mahesa Dan Sabrina. "Jaga Devan dengan baik,  aku mau istirahat sebentar."


Mbak Inul membungkuk ramah lalu meninggalkan  Mahesa dan Sabrina.


Hanya tinggal berdua, Mahesa mengunci pintu kamarnya lalu mendekati Sabrina dan ikut membaringkan tubuhnya di sampingnya, keduanya menatap langit-langit kamarnya. 


"Mas, bagaimana dengan surat itu? Apa Camelia menerima keputusanmu." 


Mahesa kembali terbangun dan duduk di tepi ranjang memunggungi Sabrina,  alih-alih kesel.


"Harus berapa kali aku bilang jangan pikirin Camelia," ucap Mahesa sedikit berteriak. 


Sabrina memeluk tubuh kekar Mahesa dari belakang. 


"Bukan memikirkan dia mas, tapi anaknya, kasihan kan?" 


"Biar saja dia mencari bapaknya,  lagipula dia masih hidup."


"Maksud mas apa?" tanya Sabrina beralih duduk di pangkuan Mahesa. 


Laki laki sejati tak mungkin sanggup jika diam saja disaat harimau betina merayu. 


"Aku sudah tahu siapa ayah dari anak Camelia," tak hanya lidahnya yang kelu menjelaskan namun tangannya sudah mulai merambat ke daerah terlarang. 


"Siapa?" tanya Sabrina antusias. 


"Kamu nggak perlu tahu,  lagi pula nggak penting, itu bukan urusan kita, yang terpenting sekarang, aku akan membina rumah tangga bersamamu dan tidak akan ada orang lain."


Mahesa semakin menuntut, namun Sabrina masih nampak mengabaikannya dan menganggap tangan jahil Mahesa hanya menggodanya. 


Hingga ketukan pintu menggema,  Mahesa yang hampir saja mencapai finish  itu berdecak saat Sabrina beranjak dari duduknya dan membuka pintu.


"Ada apa, Bi?"


Ternyata bi Asih yang datang. 


"Non Arum dan Den Randu datang." 


Sabrina menatap suaminya yanf tak bergairah, senyap, apa lagi lebaynya kumat. Sebelum pulang Mahesa membuang semua obatnya ke tong sampah. 


"Baik, Bi. Sebentar lagi."

__ADS_1


Setelah menutup pintu Sabrina, menghampiri Mahesa merapikan kerah dan mengancingkan baju bagian atas. 


"Randu dan Arum datang, kita harus temui mereka."


Kalau bukan perjuangan Randu yang sangat besar untuknya, Mahesa pun enggan untuk keluar begitu juga dengan Arum,  ah rasanya Mahesa kini terjerat dengan orang lain. Dan tidak bisa pergi begitu saja. 


"Yang ikhlas," sindir Sabrina. 


Akhirnya Mahesa berusaha selapang Sabrina untuk menerima siapapun yang ingin bertemu dengannya tanpa celah. 


Nampak dari belakang punggung Arum masih bergetar seraya menunduk.


"Mas Randu, Arum kenapa?" tanya Sabrina tiba-tiba mendekati keduanya  


Sabrina duduk di samping Arum lalu merengkuhnya. Sedangkan Mahesa berada di samping Randu menatap curiga. 


Tak ada jawaban, Randu hanya menautkan kedua tangannya, masih terlintas jelas kejadian yang tak terduga tadi,  dan Arum menjadi korban kemarahan Aya. 


Randu melirik ke arah Mahesa, dengan tatapannya saja Randu sudah mengerti akan apa yang dipertanyakan. 


"Aya Mas, bukan aku." 


Randu menyodorkan segelas air putih ke arah Arum.


Sabrina meraihnya lalu membantu Arum yang belum juga bicara. 


"Aya siapa?" selak Sabrina. 


Mahesa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana ia menceritakan wanita yang pernah menyukainya dan bagaimana ia harus menjelaskan Aya adalah wanita yang bekerja di klub malam. 


"Aya,  sahabat Randu," jawab Mahesa ragu. 


Sahabat mas Mahesa juga, timpal Randu dalam hati. 


Sabrina menatap Randu dan Mahesa bergantian, menangkap sesuatu yang ganjil dari wajah keduanya. Apalagi Mahesa sesekali menyenggol lutut Randu dengan sikunya. 


"Mas, tolong katakan siapa Aya?" tanya Sabrina lagi. Kali ini dengan nada yang serius. 


"Sayang, kamu nggak perlu tahu siapa Aya, dia sahabatku dan Randu waktu kami masih kuliah."


Sabrina hanya diam dan mencoba menenangkan Arum yang masih terisak. 


"Lalu kenapa Arum sampai menangis apa yang dilakukan Aya?"


Randu menatap Sabrina Dengan lekat. 


"Tadi ada kesalahpahaman sedikit saat di rumah sakit Dan Aya menampar Arum."


"Apa?!" seru Sabrina dan Mahesa serempak. 


Apakah ada perang badar antara Aya dan Arum.


"Kesalahpahaman apa?" lanjut Sabrina yang makin penasaran,  apalagi yang ia tahu Arum tidak pernah punya masalah dengan orang lain.

__ADS_1


"Aya cemburu karena aku dekat dengan Arum," jelas Randu. Meskipun tidak secara gamblang, Mahesa mengerti pokok permasalahan keduanya. 


__ADS_2