Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Keputusan Aya


__ADS_3

Randu yang ada di meja makan terus menatap Aya yang sedang membacakan cerita untuk Raisya di ruang keluarga. Anaknya yang manja itu tampak nyaman berada di pangkuan Aya. Semenjak dari rumah Bu Risma, Randu merasa Aya banyak perubahan, Aya yang dulu cerewet kini menjadi pendiam, mahal senyum, tidak pernah lagi melayaninya di meja makan, dan  yang lebih menonjol, Aya sering menghindarinya. Sikapnya sangat dingin dan sulit ditebak. 


Hari ini Randu pulang lebih awal dari kemarin, ia ingin bicara mengenai alasan Aya yang tak acuh padanya, namun berkali kali tak ada kesempatan, dan kali ini Aya tak bisa lagi menghindarinya. 


Setelah Raisya terlelap, Randu menghampiri Aya yang sangat kesusahan untuk berdiri.


"Ay, biar aku yang bawa Raisya ke kamar."


Aya hanya mengangguk, menyingkirkan boneka yang ada di pelukan Raisya.


Randu membungkuk, kedua tangannya berada di bawah tubuh Raisya, wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah Aya. Keduanya saling bertukar pandang, namun Aya segera melengos ke arah lain, jantungnya terus berdetak dengan kencang, lagi-lagi hatinya tak bisa menyembunyikan sesuatu yang masih bersemayam di dalam sana. 


"Tunggu aku disini!"


Aya tak menjawab,  ia hanya bergeming saat Randu menggendong tubuh mungil Raisya menuju kamarnya. 


Randu kembali dan duduk di samping Aya, menatap wajah wanita itu dari samping. 


"Kamu kenapa sih, Ay? Beberapa hari ini kamu cuekin aku. Bukankah kamu sudah lega bisa berpisah dari Robi? Seharusnya kamu bahagia." 


Aya menunduk,  seharusnya memang seperti itu, tapi tidak dengan hatinya saat ini. Tanpa Randu sadari, Aya tak sengaja mendengarkan pembicaraannya dengan Pak Yudi dan Bu Risma kala itu, dan itulah yang membuat Aya mengubah sikapnya. 


"Iya, Mas. Aku sangat lega, terima kasih atas bantuannya selama ini. Maaf, aku tidak bisa membalas apa-apa," ucap Aya diiringi senyum paksa. 


Lembut dan ramah, bahkan itu bertolak belakang dengan keseharian Aya selama ini.


Bertepatan saat mengambil surat resmi nanti, itupun bertepatan satu bulan ia bekerja di rumah randu. Itu artinya Aya akan menerima gaji pertamanya sebagai pengasuh Raisya.


Kamu pintar mengelabui orang lain, tapi tidak denganku,  aku yakin ada yang sesuatu yang kamu sembunyikan.


Aya beranjak dari duduknya, "Mas aku ke belakang dulu."

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari Randu, Aya masuk ke kamar belakang, tepatnya kamar yang terletak di samping kamar Bi Nori. 


Aya masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya, ia tak mengerti dengan dirinya sendiri,  semakin hari dadanya semakin sesak saat berada di dekat Randu. 


Aku tidak tahu apa itu cinta,  tapi kenapa aku tidak bisa melupakan rasa ini untuk mas Randu, semakin hari aku semakin tersiksa jika di dekatnya, dan rasanya aku ingin pergi jauh supaya bisa melupakannya.


Aya terbangun dan duduk di tepi ranjang, "Sepertinya aku harus pergi dari sini,  bukan egois dan memikirkan kepentinganku sendiri,  tapi aku tidak kuat untuk menahan rasa ini sendirian. Ya Allah jika ini jalan yang terbaik aku mohon Ridho-Mu."


Tekad Aya sudah bulat, itulah jalan yang ia pilih supaya bisa melenyapkan cintanya untuk Randu.  


Aya keluar dari kamarnya, sebelum menemui Randu yang masih berada di ruang keluarga, Aya merapikan rambutnya dan membersihkan matanya yang sempat berkaca. 


"Mas Randu!" panggil Aya dari arah belakang. 


Randu menoleh dan menatap Aya yang tersenyum renyah. Keceriaan wajahnya kembali dengan penuh teka teki. 


Randu menepuk sofa kosong, dan mempersilahkan Aya untuk duduk di sampingnya. 


Tak seperti tadi, Randu menaikkan satu kakinya dan menghadap ke arah Aya. 


"Mas, aku minta maaf. Setelah surat cerai dari pengadilan keluar, aku ingin pergi dari sini. Aku ingin berhenti menjadi pengasuh Raisya," ucap Aya dengan bibir yang bergetar. 


Randu melongo, tak percaya dengan kata-kata Aya yang baru saja meluncur. Dadanya terasa sesak, hingga ia harus menyuplai oksigen untuk bisa bernafas. 


"Apa maksud kamu? Apa bayaran yang aku berikan masih kurang? Jika itu alasannya, aku bisa kasih berapapun yang kamu minta. Atau fasilitas di rumah ini kurang nyaman bagimu? Oke, aku akan ubah sesuai keinginan kamu. Atau Raisya terlalu merepotkan kamu?" tanya Randu bertubi tubi. 


Aya hanya menjawab dengan satu kata, "Tidak."


"Lalu apa?" tanya Randu antusias. Ia tak bisa menerima begitu saja keputusan Aya tanpa sebuah alasan yang jelas. 


Aku harus bilang apa?

__ADS_1


Aya menggigit bibir bawahnya, otaknya terus berkelana mencari alasan yang tepat supaya Randu melepaskannya. Hatinya terus ketar ketir antara maju dan mundur, dan akhirnya ia memilih untuk maju melanjutkan rencananya.


"Cici menawarkan pekerjaan di sebuah pabrik, dan kayaknya itu cocok untuk aku."


Randu menyunggingkan bibirnya, ia bukan orang bodoh yang percaya begitu saja dengan ucapan Aya. Wajahnya  berubah pias, dan menganggap Aya memang mempermainkan hati putrinya.


"Itu artinya kamu akan meninggalkan Raisya untuk selama-lamanya."


Aya menatap Randu. Ia menahan air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk,  sebenarnya ia tak tega pergi dari bocah itu, tapi hatinya sudah terlalu remuk untuk bertahan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. 


"Bukan selamanya, Mas. Aku hanya pindah tempat saja, kalau libur aku bisa kesini untuk melihat mereka. Dan aku harap mas cepat menikah supaya mereka tidak kesepian lagi."


"Sama saja, Ay. Kamu sudah mengecewakan Raisya, dia sudah terlalu sayang sama kamu, dan sekarang kamu akan meninggalkannya."


Lalu apa kabar dengan hatiku yang tak pernah terbalas mas,  apa kamu pernah memikirkan itu, tidak kan? Bahkan kamu tidak pernah peduli padaku, pada cinta dan pengorbananku, Aku juga tidak ingin mencintai orang yang tidak mencintaiku, karena itu sangat menyakitkan, tapi misteri itu datang di tempat yang tidak tepat.


Lagi-lagi Aya tersenyum di atas penderitaannya sendiri. 


Ia menjadi sekuat baja dan sedikitpun tidak menitihkan air mata. 


"Biar nanti aku yang bicara, pasti Raisya ngerti, kok."


Randu melempar koran yang ada di tangannya lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Aya.


Setelah Randu menghilang di balik kamar, Aya berlari menuju kamar Raisya, ia ikut naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh mungil putri Randu dan Arum.  


Aya mencium pipi gembul Raisya. Akhirnya tetes demi tetes air matanya luruh membasahi pipinya. 


"Maafkan mama Aya ya, Nak. Mungkin kebersamaan kita hanya sampai disini, tapi mama janji, mama akan sering menemui kamu," gumamnya.


Sebuah kecupan kembali mendarat di kening Raisya sebelum Aya ikut membaringkan tubuhnya. 

__ADS_1


Sama seperti Aya, Randu pun berbaring di atas sofa kamarnya, menggunakan kedua tangannya sebagai bantal, otaknya terus menelusuri apa yang saat ini terjadi pada Aya.


__ADS_2