Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Pergi


__ADS_3

Masih di rumah Randu. Dengan jamuan se adaya sebagai seorang bujang. Mahesa sangat menikmati kebersamaannya bersama Randu. Setelah sekian lama selalu serius dengan pekerjaan, tidak untuk sore itu. Bahkan Randu kembali melihat tawa Mahesa seperti dulu saat masih remaja. 


"Kata Arum dan Sesil tadi pagi kamu ke makam Bibi dan paman?"


Randu mengangguk tanpa suara. 


"Apa yang kamu keluhkan? Uang?" ejek Mahesa. 


Randu menggeleng. 


"Istri, aku ingin segera menikah, tapi calonnya belum ada."


Jawaban Randu malah membuat Mahesa tertawa. 


"Kamu benar benar serius sama Aya? Kamu mencintainya?"


Kali ini Mahesa adalah orang yang harus mendengar keluh kesah Randu,  kalau bukan dirinya siapa lagi,  mengingat Randu tak mempunyai keluarga lain. Dan tak pernah punya waktu luang untuk curhat. 


"Belum mencintai bukan berarti tidak cinta kan, Mas?"


Hemm


"Buktinya Mas Mahesa bisa mencintai mbak Sabrina.  Dan aku juga ingin seperti itu. Aku ingin belajar mencintai Aya apa adanya. Dan dengan berjalannya waktu aku ingin menjadi imam yang baik yang bisa menuntunnya ke jalan yang lebih baik lagi."


Mahesa mendekati Randu lalu menepuk bahunya tiga kali.


"Siapapun pilihanmu, aku akan dukung.  Asalkan kamu bahagia,  jika kamu sudah menemukan pujaan hati seperti yang kamu inginkan, aku siap  untuk melamarnya."


Randu ikut beranjak lalu memeluk Mahesa. Disaat itu pula Mahesa tersadar akan malam itu,  ia ada janji dengan sang istri. Mahesa mendorong tubuh Randu hingga terhempas di sofa. 


"Ada apa, Mas?" tanya Randu. Mengelus kepalanya yang sempat terbentur.


Mahesa merapikan kemejanya yang sedikit kusut lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. 


"Aku harus pulang,  malam ini aku ada janji dengan Sabrina."


"Janji di atas ranjang?" goda Randu yang sudah hafal dengan watak Mahesa. 


Seketika Mahesa mengangguk dan mengangkat kedua jempolnya. 


"Peka juga kamu."


Setelah punggung Mahesa menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat,  Randu mengerjakan tugas yang sempat terbengkalai.


"Ini harus segera selesai. Malam ini aku akan menemui Aya." Randu mulai bergelut dengan laptop dan dokumen yang menumpuk di hadapannya. 


Hampir setengah jam Randu diam di mobil. Rasa jenuh mulai melanda, Randu terus menatap jam yang melingkar di tangannya, mengetuk-ngetukkan tangannya di lingkaran setir. Harusnya itu waktu Aya masuk kerja,  namun ia tak mendapati wanita yang dicarinya masuk ke dalam klub.

__ADS_1


Apa mungkin malam ini dia nggak masuk? Atau dia sudah di dalam.


Randu mulai cemas. Ia merapikan penampilannya lalu turun, menyandarkan punggungnya di mobil, melipat kedua tangannya dan mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk.


Guratan dingin sudah mulai menusuk kulit. Dan terpaksa Randu memilih masuk ke dalam untuk mendapatkan kepastian. 


Randu membelah kerumunan menghampiri Pongki.


Tak seperti sebelumnya yang selalu ramah, sepatah katapun Pongki tak menyapa Randu. Ia memilih melayani pelanggan dari pada sang sahabat.


"Ky,"


Pongki hanya melirik sekilas tanpa menjawab. 


"Kamu kenapa?" tanya Randu.


Masih tak ada jawaban, Pongki malah tertawa lepas dengan seorang wanita yang ada di sampingnya. 


Bahkan kali ini Randu merasa sangat asing dengan keberadaanya. 


"Apa kamu lihat Aya?" lanjutnya. 


Pongky tersenyum kecut dan menggeser tubuhnya hingga keduanya bersitatap. Menatap manik mata Randu dengan lekat.


"Ada apa kamu mencarinya? Bukankah kamu sudah memutuskannya," ucap Pongky sinis. 


Randu merasa bersalah dan memilih diam karena itu kenyataannya. 


"Aku hanya ingin minta maaf, aku tahu aku salah, seharusnya aku tidak memaksakan kehendak. dan seharusnya aku lebih paham dengan apa yang diinginkan."


Pongki hanya tersenyum getir.


"Dia sudah nggak kerja di sini lagi." Satu jawaban sudah mewakili semuanya. Dan itu artinya Aya tidak akan hadir kala itu. 


"Apa dia bilang apa alasannya?"


"Tidak, dia hanya bilang kalau kehadirannya memang tidak pernah diharapkan orang lain, dan dia merasa tidak pantas untuk dicintai. Jika kamu masih peduli padanya, aku mohon jangan sakiti dia lagi."


Tanpa pamit Randu beranjak dari duduknya dan keluar. Dengan hati yang semakin gelisah  Randu melajukan mobilnya.


Ruas jalan yang sangat gelap lebih petang hatinya. Rasa bersalah itu mengendap memenuhi dadanya hingga kesulitan untuk sekedar bernafas. 


Maafkan aku Ay, hanya kata itu yang ingin diucapkan Randu pertama kali setelah bertemu Aya. Ntah itu rasa apa, yang pasti hatinya ikut nyeri saat mendengar ucapan Pongki.


Setelah sampai di sebuah rumah sederhana dengan desain kuno,  Randu menghentikan mobilnya. Ia menatap pintu rumah yang tertutup rapat, lampu menyala dengan terang namun suasana sangat sepi. 


Randu turun dari mobilnya melangkah pelan menuju teras rumah. Randu menatap sekelilingnya. Tak ada satu orang yang melintas.  Dan akhirnya Randu mengetuk pintu. 

__ADS_1


"Aya, ini aku," Randu sedikit meninggikan suaranya. 


Masih hening dan tak ada tanda tanda seseorang di dalam. 


Randu kembali mengetuk pintu untuk yang kedua kali. Dan masih sama ia terus memanggil nama Aya. 


"Ya Allah, Aya dimana sih. Aya buka pintunya!" 


Randu semakin gusar dan tak bisa tenang. 


Akhirnya Randu menghubungi Pongki,  entah mau dibilang apa, yang pastinya pria itu yang bisa membantunya. 


"Ada apa lagi?" tanya Pongki dengan nada ketus. 


Randu menghela napas panjang.


"Apa Aya masih tinggal di rumah yang dulu?"  tanya Randu, sembari menatap tulisan yang ada di pagar rumah itu. 


"Setahu aku iya sih,  soalnya dia nggak pernah bilang kalau dia pindah."


Setelah mendapat jawaban dari Pongki, Randu memutus sambungannya. Kebetulan ada seorang pria datang melintasi mobilnya. 


Randu berlari kecil menghampiri orang tersebut.


"Pak,  maaf, saya cuma tanya, apa yang tinggal di rumah itu namanya Ayana?" tanya Randu ramah sembari menunjuk rumah  di depannya. 


"Iya, tapi saya dengar kemarin rumah itu sudah dijual."


Randu membulatkan matanya, "Di jual?" ulang Randu, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. 


Pria tua itu mengangguk, "Dan sekarang dia sudah pindah," imbuhnya. 


"Kemana ya, Pak?"


"Wah, kalau itu saya kurang tahu, Mas. Kemarin mbak Aya cuma pamit dan nggak bilang pindah kemana. Matanya sembab mungkin ada keluarga jauhnya yang kena musibah."


Randu menjambak rambutnya, tak menyangka jika Aya meninggalkannya secepat itu. 


Ay,  aku memang belum mencintai kamu sepenuhnya, tapi bukan berarti kamu harus pergi dariku. Maafkan aku yang sudah mendesak kamu untuk berubah. Jika kamu pergi karena keluarga, aku nggak masalah, tapi aku akan terus merasa bersalah jika kamu pergi karena aku, batin Randu kesal.


"Terimakasih, Pak,"ucap Randu lemah 


Randu kembali masuk ke dalamn mobil sembari menatap rumah itu dari jauh. 


Banyak kenangan yang ia lalui bersama Aya dan Mahesa,  meskipun sekedar sahabat, Randu sangat mengenal Aya,  gadis yang selalu ingin menang sendiri. Dan tak mudah dipengaruhi keadaan sekitar. 


Dimanapun kamu berada semoga kamu baik baik saja. 

__ADS_1


__ADS_2