Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Peringatan untuk Randu


__ADS_3

Antara bahagia dan sedih,  hari ini Aya resmi menjadi seorang janda. Pagi itu ia datang ke kantor pengadilan sendirian naik motor, ia tak mau merepotkan Randu yang sebentar lagi akan menjadi mantan majikannya. 


Rencana lumayan mulus, semalam Aya sudah berhasil membujuk Raisya, dan akhirnya bocah itu mulai mengerti dengan ucapan Aya. Tak ada beban lagi dalam hidupnya, dan Aya ingin membuka lembaran baru tanpa cinta yang semu dan harapan yang kosong,  baginya saat ini ia harus bangkit dari segala keterpurukan, dan menjalani apa yg  ditakdirkan Allah. 


Setelah menerobos jalanan hampir tiga puluh menit, Aya sudah tiba di depan rumah Randu, meskipun kebersamaannya dengan Raisya sangat singkat, Aya merasa puas sudah membahagiakan dan mewarnai hari-hari bocah itu. 


"Assalamualaikum…" sapa Aya seraya membuka pintu depan. 


Randu menjawabnya dengan lantang, dengan sengaja ia menunggu Aya pulang sebelum pergi lagi dari rumahnya.


Aya menghampiri Randu yang sedang membantu Raisya mewarnai beberapa gambar. 


Aya mendekap surat yang mengubah statusnya saat ini lalu merengkuh tubuh mungil Raisya. 


"Cantik,  mama pergi dulu ya, nanti kalau Isya kangen boleh telepon mama," pesan Aya dengan lembut. 


Raisya mengangguk tanpa suara lalu menyodorkan beberapa gambar hasil karyanya. Entah apa yang ada dalam benak bocah itu, yang pastinya Aya merasa sangat jahat dengan keputusannya saat ini. 


"Ini apa Sayang?" tanya Aya, meletakkan map yang ada di tangannya dan fokus dengan gambar dari Raisya. 


Randu melirik sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Ini hadiah untuk mama Aya, dengan gambar ini Mama Aya akan ingat sama Isya,  pajang di kamar ya, Ma!" Hati Aya merasa tersentuh, ia tak menyangka di saat dirinya ingin pergi, Raisya justru memberikan sebuah kenangan yang sangat indah. 


"Iya sayang, nanti sampai rumah akan mama Aya pajang,  terima kasih Isya."


Hati Aya merasa tersayat, sakit tak berdarah, melihat Raisya yang menjadi korban keegoisan nya.


Raisya mencium kedua pipi Aya secara bergantian.


"Ay,  apa kamu tahu? Ini kedua kalinya Isya memberikan hasil karyanya pada seseorang, dulu ia memberikan pada bundanya  dan sekarang untuk kamu," kata Rindu lirih. Lalu berhenti sejenak menatap Raisya yang ada di pangkuan Aya.

__ADS_1


"Artinya kamu juga orang yang spesial di hatinya," imbuhnya. 


Aya hanya mengulas senyum, lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. 


"Mas, kayaknya aku harus berangkat sekarang, Cici pasti sudah nungguin."


Randu mengangguk dengan berat, menampik hatinya yang terus bergejolak ingin menahan langkah Aya, namun itu tak bisa dilakukannya. 


Saat Aya keluar dari kamarnya dengan membawa koper dan tas di tangannya, Mahesa membuka pintu utama, Sabrina segera berlari kecil menghampiri Aya. Lagi-lagi ia harus kehilangan orang yang terbaik, meskipun mereka hanya terpisah jarak, Sabrina pun tak rela, apalagi perjuangan Aya demi dirinya dan Mahesa sangat besar dan patut diacungi jempol.


"Kenapa Mbak Aya harus pergi? Apa tidak bisa dibicarakan lagi," ucap Sabrina tanpa melepas pelukannya. 


Aya mengendurkan pelukannya dan menggenggam tangan Sabrina.


"Aku hanya pindah rumah saja, dan aku akan sering ke sini kalau lagi nggak ada kerjaan."


Mahesa yang ada di belakang Sabrina hanya bisa diam. Baginya keputusan Aya itu sudah benar setelah melihat keangkuhan Randu.


"Aku dukung kamu, Ay. Dimanapun kamu berada nanti, tidak akan memutus tali persahabatan kita. Jika ada tempat yang lebih nyaman, kenapa harus memaksakan diri tinggal di sebuah gubuk yang penuh dengan duri."


Mendengar ucapan Mahesa, hati Randu tersentil, ia merasa tersindir. Padahal Mahesa mengejek dirinya sendiri yang pernah berbuat kejam pada Sabrina. 


Setelah puas berpamitan dengan Sabrina dan Mahesa, Aya kembali menghampiri Randu yang nampak termenung. 


"Mas, aku pergi dulu, jaga Raisya dan David dengan baik, cara perawatan David dan Raisya sudah aku catat di kamar,  nanti kalau kamu sudah mendapatkan pengasuh yang baru, suruh saja membacanya." 


Randu membisu, kedua tangannya saling meremas,  wajahnya sangat datar dan sedikit pun tak menatap Aya yang berdiri di sampingnya. 


Sabrina dan Mahesa serta Raisya mengantarkan Aya ke depan, sedangkan Randu,  sedikitpun pria itu tak beranjak dari duduknya, ia hanya menatap punggung Aya yang mulai menjauh.


Randu masih bingung dengan hatinya, Entah apa yang ia rasakan saat ini, antara tak ikhlas dan benci karena Aya sudah pergi dari anak-anaknya. 

__ADS_1


"Da….da... Mama Aya," teriak Raisya dari teras. 


Akhirnya Randu terhenyak juga, ia memilih masuk ke kamarnya dan membuka tirai yang menghubungkan ke halaman depan. Matanya terus menatap ke arah Aya yang melambaikan tangannya ke arah Raisya yang ada di gendongan Mahesa. Hingga akhirnya mobil yang ada di depan itu berlalu keluar gerbang.


Randu kembali menutup tirainya dan duduk di tepi ranjang. 


"Ndu, keluar!" teriak Mahesa dari depan kamar. 


Randu merapikan bajunya dan membuka pintu kamarnya. 


"Ada apa, Mas?" tanya Randu pura-pura bodoh. Padahal ia tahu apa yang akan diterimanya.


"Aku nggak ngerti jalan pikiran kamu, Kenapa kamu biarkan Aya pergi?" tanya Mahesa meninggikan suaranya. Mahesa geregetan dengan Randu yang nggak peka dengan keaadaan. 


"Dia mau kerja di pabrik, Mas. Mungkin saja dia memang nggak betah mengurus Raisya dan David."


Dasar batu karang, kulkas, besi, sapu lidi, kaku amat, keangkuhan mas Mahesa masih di kalahkan dia.


Entah, Sabrina menyamakan dengan benda keras apalagi, yang pastinya ia gedeg melihat sikap Randu. Sabrina berkacak pinggang, seandainya ia laki-laki. Mungkin ia pun sama seperti Mahesa, sudah menonjok wajah Randu, sayangnya itu hanya berandai-andai saja. 


Mahesa geram, dengan sengaja ia mencengkeram kerah baju Randu yang ada di depannya. 


"Pikir secara logika! Dia itu sangat menyayangi Raisya dan David, tidak mungkin itu menjadi alasannya. Kita sudah mengenalnya dengan baik,  dia membantu setiap permasalahan kita, dan aku rasa ada alasan lain kenapa dia memilih untuk pergi. Apa kamu nggak lihat matanya sembab, pasti dia juga berat meninggalkan rumah ini, tapi dia juga tidak tahan dengan sesuatu yang mungkin membuatnya tidak nyaman," jelas Mahesa dengan tegas. 


"Sabar, Mas." Sabrina menarik Mahesa ke belakang, takut jika tangannya itu kesurupan dan memukul Randu. 


Randu menghempaskan tubuhnya di dinding kamarnya, ia mencerna setiap kata yang meluncur dari sudut bibir Mahesa. 


Setelah emosinya turun,  Mahesa mendekati Randu yang masih bergelut dengan otaknya. 


"Sekarang pikirkan dengan baik-baik! Aya itu perempuan, meskipun dia terlihat tegar, aku yakin hatinya rapuh. Apalagi dia pernah menjalani pernikahan yang menyakitkan. Sekarang keputusan ada ditanganmu, aku sebagai sahabat hanya mengingatkan saja  jangan sampai kamu menyesal untuk yang kedua kali."

__ADS_1


__ADS_2