
Randu menghentikan mobil di samping taman lalu menghubungi Bi Nori. Kendati pikirannya kacau, ia tidak melupakan untuk mengetahui kabar putra putrinya di rumah. Kabar baik, itulah yang ia dengar dari sang pembantu, keduanya terlelap dalam mimpi masing-masing semenjak ia pergi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kemana aku harus mencari Aya," gumamnya.
Randu mengedarkan pandangannya ke arah jalan, banyak pejalan kaki yang melintas, namun di antara mereka tiada orang yang dicarinya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya, merealisasikan tubuhnya untuk tetap tenang dan berpikir positif. Optimis, jodoh tak akan ke mana.
Baru saja menyalakan mesin, ponsel yang ada di saku celananya berdering, meskipun malas untuk berinteraksi dengan siapapun, Randu tetap mengangkatnya, dan kali ini ia hanya menggeser layar bagian kanan dengan asal.
"Assalamualaikum…" sapa Randu dengan nada ketus.
"Waalaikumsalam…" jawab suara lembut dari seberang sana.
Suara yang tak asing di telinganya, Randu menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap layar nya, memastikan jika ia tidak sedang keadaan mimpi di siang bolong.
Ternyata benar, itu adalah seseorang yang ia cari, Ayana Mira lah yang saat ini menghubunginya.
"Halo mas, tadi ada apa ya menelponku?" tanya Aya.
Lidah Randu kelu, yang ingin ia dengar saat ini adalah suara Aya yang mengoceh seperti setiap hari.
"Mas Randu, kamu masih dengar suaraku, kan?"
Randu masih diam dengan ponsel di tangannya.
Terdengar decakan kecil dari seberang sana, bahkan gerutu demi gerutu pun di lontarkan untuk dirinya. Aya sangat kesal pada Randu yang membisu, mengabaikan beberapa pertanyaan darinya.
"Kalau nggak jawab, aku tutup nih," ancam Aya.
"Jangan, Ay!"
Akhirnya Randu membuka suara disaat Aya hampir saja memencet tombol merah.
"Kamu ada dimana?"
"Di rumah, memangnya kenapa?"
"Jangan bohong, Ay! Tadi aku dari rumah kamu, dan kamu nggak ada."
"Perjalanan macet, belum lagi aku mampir ke toko membelikan mainan untuk Alvino, jadi lambat. Untuk apa kamu mencariku?"
Randu menutup ponselnya dan kembali kulajukan mobilnya.
__ADS_1
"Dasar batu, angkuhnya nggak ketulungan, aku nggak boleh kepedean, mungkin mas Randu hanya ingin menanyakan sesuatu, dan aku nggak boleh terlihat lemah dan terlalu berharap."
Aya melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan ruang tamu yang sangat kotor.
Suara mobil mendesing di depan rumah, namun Aya tak terkejut sedikitpun. Ia tetap mengelap kaca jendela yang dipenuhi dengan debu.
Suara sapaan penggema, itu suara orang yang tadi menelponnya, sedikit heran, kenapa cepat sekali pria itu datang, padahal saat menerima telepon hanya berjarak lima belas menit saja.
Aya menjawabnya malas sembari membuka pintu.
Sontak Randu memeluk Aya dengan erat, ia seperti menemukan benda kesayangannya yang hilang.
Tidak dengan Aya, ia merasa risih dan akhirnya mendorong tubuh Randu hingga terhuyung, meski jantungnya berloncat loncat Aya tetap menunjukan wajah yang sangat datar.
"Kalau bertamu harus yang sopan," cetus Aya. Membalikkan tubuhnya meninggalkan Randu menuju belakang. Aya meletakkan kemoceng beserta kanebo dan pembersih kaca itu di gudang lalu kembali menemui Randu yang sudah duduk di ruang tamu.
Aya duduk di kursi paling ujung, seperti ucapannya tempo, ia akan menjaga jarak dengan Randu.
Randu hanya beristighfar, ia tak sadar sudah lancang menyentuh Aya.
"Aku minta maaf, aku hanya memastikan kalau ini nyata."
"Maaf, aku nggak bisa buatin kopi, gasnya habis, ada air putih, tapi sudah lama belum aku ganti." Aya mengalihkan pembicaraan.
"Tidak apa apa, Ay."
Kembali ke pokok utama menunjukkan kekejaman seorang Ayana Mira.
"Ada perlu apa Mas Randu menemuiku?" tanya Aya ketus.
"Aku mau menuntutmu."
Aya melongo, otaknya langsung traveling pada kejadian satu bulan saat ia menjadi pengasuh Raisya dan David, namun sesekali pun ia tak menemukan kesalahan yang fatal hingga Randu bisa berbicara seperti itu.
"A----apa maksud kamu?" Aya geram, "selama ini aku bekerja dengan baik, dan aku tidak melakukan apapun selain perintah dari kamu. Wah, Anda salah orang, Tuan. Kalau seperti ini aku juga bisa melapor dengan pencemaran nama baik."
Aya menggebrak meja dengan keras, ia tak terima dengan ucapan Randu yang membuat hatinya berdenyut.
Randu tetap cool, ia menahan tawa yang sudah hampir meledak.
"Aku menuntutmu untuk menjadi istri dan ibu sambung dari anak anakku."
Deg deg deg
__ADS_1
Jantung Aya tak bisa dikondisikan, rasanya hampir melompat keluar, tak dinyana jika itu yang dimaksud Randu saat bertemu. Aya ingin mendengarkan itu sekali lagi, tapi ia tetap dengan prinsipnya, tidak mau luluh dengan mudah dan ingin melihat perjuangan dan keseriusan Randu.
Hening, keduanya saling bergulat dengan pikiran masing-masing, Aya menundukkan kepalanya mencari sebuah kata untuk menolak permintaan Randu.
"Tapi aku tidak bisa menerima permintaanmu," ucap Aya pelan, bahkan hampir tak terdengar di telinga Randu.
Tak sesuai ekspektasinya yang akan diterima dengan kedua telapak tangannya, secara gamblang Aya menolaknya.
"Kenapa? Apa karena aku sudah duda dan punya anak?" Randu baralih lebih mendekat.
Bodoh dipelihara, benar benar lemot kayak anak kebicot. Sudah lah, biarin saja dia dengan caranya, dan aku juga harus dengan caraku, jika kita memang tidak bisa bersama, berarti kita memang tidak berjodoh.
Aya menggeleng, matanya masih menatap lantai.
"Aku ingin sendiri dulu, Mas. Aku tidak mau kecewa untuk yang ke sekian kali. Lebih baik sekarang kamu pulang! Aku mau membereskan rumah."
Aya beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya, ia tak bisa menahan air matanya yang sudah hampir luruh, perasaanya bercampur aduk, meskipun itu dianggap sebuah lamaran yang jauh dari kata romantis, Aya merasa terharu dengan Randu yang berani mengungkapkan keinginannya.
"Maafkan aku, Mas. Jika kamu memang serius, pasti kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
Terdengar dentuman sepatu dan lantai itu mendekati pintu kamarnya, Aya menyeka air matanya dan menyandarkan punggungnya di pintu.
"Tapi aku tidak akan menyerah, Ay. Aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan kamu. Aku minta maaf atas sikapku selama ini," ucap Randu dengan lantang.
Tangis Ayana Pecah, ia merasa tersentuh dengan ucapan Randu. Namun ia juga harus menjaga harga dirinya.
Aya mengusap air matanya dan kembali memakai make up untuk menutupi matanya yang masih berkaca.
Dengan perlahan ia membuka pintu kamarnya. Ternyata Randu masih mematung di depan sana.
"Lebih baik mas pulang, kasihan anak anak, aku mau keluar beli makan, perutku lapar."
Randu meraih tangan Aya yang hampir saja berlalu. "Diam di rumah, aku yang akan membelikan makanan, jika kamu mengkhawatirkan keadaan mereka, pulanglah bersamaku."
Aya menarik tangannya kembali dan tersenyum. "Maaf Mas, aku belum bisa."
Secarik kata dari Aya mampu membuat Randu menerbitkan senyum.
"Tidak apa-apa, tunggu di rumah! Aku akan segera kembali."
Setelah suara mesin mobil itu menjauh, Ayana memegang dadanya.
"Tetap pertahankan angkuhmu, Ay. Kamu nggak mungkin kalah sama dia yang sudah beranak dua, dia egois dan kamu harus melebihinya," ucap Aya pada diri sendiri.
__ADS_1