Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Penasaran


__ADS_3

Hari masih sangat pagi, namun Sabrina sudah nampak kebingungan. Setelah sadar dari komanya, ia baru sadar akan benda miliknya yang tak nampak, setelah membongkar laci,  Sabrina beralih membongkar baju yang tertata rapi, semua berantakan memenuhi lantai kamarnya, semburat wajahnya terus gelisah dan tak menghiraukan ucapan Mahesa yang terus menyapanya. 


Bukankah waktu itu aku baru beli seminggu,  kalau yang ini mah sudah lama. 


Sabrina membolak balikkan benda pipih di tangannya lalu mendesah.


"Kamu kenapa sih Sayang,  apa yang kamu cari?"


Mahesa melepas peci yang dipakainya, lalu mendekati Sabrina yang duduk tepi ranjang.


"Mas, apa kamu lihat lihat ponsel baruku?" tanya Sabrina antusias.


Mahesa mengernyitkan dahi. Semenjak menikah, ia tak pernah tahu barang pribadi milik Sabrina, apalagi menyentuhnya. Dan yang ia tahu hanya ponsel yang saat itu di laci kamarnya. 


"Aku bawa kok."


Mahesa mengambil ponsel yang paling jadul di antara ponsel yang berjejer di meja kamarnya.


"Bukan yang ini, tapi yang baru," Sabrina hanya menatap tanpa ingin memegang.


"Maksud kamu apa?" tanya Mahesa tak kalah serius. 


Sabrina menghela nafas panjang lalu duduk meringsuk, mengikis jarak antara keduanya. 


Sabrina mengingat ingat kembali masa lalu yang masih tertinggal di benaknya. 


"Aku punya ponsel baru. Tapi aku lupa di mana?"


Mahesa membeku masih terngiang dengan jelas saat Sabrina menceritakan kejadian malam itu, dimana ia kehilangan tas dan seluruh isinya bahkan kartu identitasnya. 


Apa mungkin ponselnya hilang saat perampokan.


Mahesa Mencoba menenangkan Sabrina yang sedikit histeris.


"Nanti aku belikan lagi, barang yang sudah hilang tidak perlu ditangisi, mungkin itu bukan rezeki kita."


Sabrina semakin sesenggukan dan merengkuh erat tubuh kekar Mahesa. 


"Tapi kan sayang, Mas, harganya lumayan mahal."


Masih tak rela dengan sesuatu yang ia beli dengan jerih payahnya namun harus musnah begitu saja tanpa tahu sebabnya. 


Mahesa meraih ponsel pribadinya dan meletakkannya di tangan Sabrina. 


"Pakai ini aja dulu, nanti pulang kerja aku bawakan yang lebih bagus."


Sabrina menggeleng, mengembalikan ponsel milik suaminya lalu meraih miliknya. 

__ADS_1


"Nggak apa-apa pakai yang ini saja, lagipula ini juga masih bagus."


Tidur seranjang di waktu yang singkat, Sabrina merasa lebih nyaman, lebih mengerti karakter Mahesa yang lembut. Apalagi terlepas dari komanya Sabrina merasa sangat dicintai. 


Sabrina  membuka ponselnya dan melihat beberapa foto yang masih disimpannya. 


"Ini foto pernikahan kita?" Sabrina menggeser ponselnya tepat di hadapan Mahesa. 


Mahesa mengangguk tanpa suara.


"Kok kamu nggak menghadap ke kamera ya, Mas?" Sabrina menatap Mahesa curiga. 


Lidah Mahesa kelu, tak ingin menjawab apapun, sudah terlalu banyak ia berbohong di depan Sabrina dan ia tak ingin mengelabui wanita  itu demi mendapatkan peringkat yang baik. Situasi yang rumit seakan membelenggu Mahesa untuk terus terjun ke jurang masalah. 


"Jangan dibahas, itu kan sudah lama." Jawaban Mahesa kali ini tak berbohong, hanya menutupi kejadian buruk di masa lampau. 


"Mas, apa kamu menyembunyikan sesuatu tentang kita?" tanya Sabrina menyelidik. 


Mahesa merasa terpojok namun dengan akalnya yang cerdik ia masih bisa tersenyum renyah. 


Apa Sabrina akan menerimanya jika aku menceritakan semuanya,  tapi kalau dia sok bagaimana?


Mahesa memilih jalan pintas dan tak mau terbelit dengan pertanyaan Sabrina lagi. 


"Hari ini aku berangkat pagi. Nanti kalau ada waktu aku akan ceritakan semuanya."


Di depan cermin, Mahesa menatap Sabrina yang terus tersenyum seraya menatap layar ponsel.


Aku nggak tahu harus berbuat apa, tapi aku janji aku akan membahagiakanmu dan Devan. 


Beberapa kali Sabrina mengerutkan alisnya saat menatap sebuah nama yang menurutnya asing. Berulang kali Sabrina  mengingat semua sahabatnya yang ia kenal. Namun nihil tak ada satupun sahabatnya yang bernama Camelia. 


Mungkin dia teman mas Mahesa, pikirnya. 


Tak mau larut dengan sesuatu yang belum jelas, Sabrina mengembalikan benda pipihnya dan membantu Mahesa bersiap. 


"Sayang, apa aku boleh minta sesuatu?" tanya mahesa menangkup kedua pipi Sabrina. 


"Boleh, apa itu?" Sabrina merapikan dasi Mahesa yang sedikit melenceng. 


"Aku tidak ingin kamu dekat dengan Imran. Aku sangat cemburu kamu tersenyum di depan laki-laki lain."


Sabrina melepas tangan Mahesa lalu menunduk menatap sepatu suaminya yang sangat mengkilap. 


"Insya Allah mas, aku juga ingin hidup secara normal, dan tak ingin mengingat masa lalu yang tidak ada hubungannya dengan rumah tangga kita." 


Mahesa merengkuh tubuh Sabrina Dengan erat mengecup kepalanya yang tertutup dengan hijab berwarna coklat susu. 

__ADS_1


"Terima kasih."


Setelah berpamitan,  Mahesa bergegas ke mobil yang sudah siap melaju, selain kesibukan di kantor, Mahesa juga ingin ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari Dokter Agung. 


Sabrina kembali masuk, rasa penasarannya dengan nama Camelia semakin tinggi dan itu tak bisa di tundanya lagi. Setelah membaringkan Devan disisinya, Sabrina mengambil ponselnya.


"Dia seperti model,  cantik, tinggi beda jauh sama aku yang kampungan,''  bermonolog sembari tersenyum kecil. Sabrina masih tertawa menggelitik saat melihat ketampanan Mahesa yang terlihat manyun. 


"Kok mas Mahesa mau menikah sama aku, apa pernikahan ini sebuah paksaan dari om Yudi?"


Disaat Sabrina sibuk mengingat masa lalu, tiba-tiba saja ponsel di tangannya berdering, Sabrina terkejut dengan nama yang berkelip di layar. Itu nama yang menjadi tanda tanya  dari tadi, dan nama yang menurutnya misterius. 


"Camelia,  mungkin dengan ini aku tahu siapa dia."


Tanpa berpikir lagi Sabrina menggeser lencana hijau tanda menerima. 


"Assalamualaikum," sapa Sabrina dengan nada halus, masih penasaran dengan siapa orang yang ada di balik telepon. 


Terdengar suara deheman dari seberang tanpa menjawab ucapan salamnya. 


"Ini siapa ya?"  sapa Sabrina lagi, sesekali menatap nama yang tertera.


"Baru juga satu bulan kita berpisah, tapi kamu sudah lupa sama aku."


Sabrina tersenyum lalu minta maaf.


Orang di seberang sana kembali memasang bendera perang, namun Sabrina sangat santai menanggapinya. 


"Aku benar benar tidak tahu siapa kamu?" ucap Sabrina serius.


"Apa kita perlu kenalan lagi, seperti kamu yang berkenalan dengan mas Mahesa?"


Dia tahu nama mas Mahesa, itu artinya dia memang mengenalku. Tapi siapa dia?


Sabrina diam, berusaha meredakan hatinya yang semakin bergemuruh, meski orang yang ada di seberang sana masih teka teki, Sabrina sedikit resah saat mendengar ucapannya yang dipenuhi makna yang tersembunyi. 


"Kayaknya kenalan lagi lebih baik, aku Sabrina istri mas Mahesa."


"Aku sudah tahu, dan aku Camelia,_ _ tiba tiba saja suara Camelia berhenti dan diganti dengan suara tangis seorang bayi. 


Sabrina mendengar suara Camelia menenangkan bayi itu dan tak menghiraukan teleponnya.


"Halo, halo Camelia."


Tak ada respon sama sekali dan tiba tiba saja sambungannya terputus. 


Dia tahu aku istri  Mas Mahesa, tapi dia siapa, sepertinya dia juga punya bayi. Aku harus tanya mas Mahesa, pasti dia tahu semuanya. 

__ADS_1


__ADS_2